
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
🌹🌹🌹
Pintu berukuran besar dengan ukiran pahatan bunga-bunga yang terkesan indah baru saja dibuka oleh Hilyah. Rumah berlantai dua dengan desain klasik yang terdapat pilar-pilar menjulang tinggi menambahkan kesan mewah serta di dalam rumahnya yang bernuansa putih bercampur keemasan membuat mata yang memandang akan terpanah dan merasa betah. Begitulah yang dirasakan Zaura saat ini. Ia tercengang melihat bangunan besar nan mewah yang akan menjadi tempat tinggalnya yaitu rumah milik keluarga sang Yandah.
"Maa syaa Allah rumahnya besar sekali Yandah, luas lagi." Zaura begitu takjub dengan pemandangan yang menyajikan kemegahan rumah yang diinjakinya.
"Zaura mau kan tinggal di rumah ini sama Oma?" Tanya Hilyah kepada Zaura.
Zaura mengangguk berkali-kali. Mengekpresikan dirinya yang senang sekali jika akan tinggal di rumah Oma barunya.
"Zaura mau Oma, Bunda rumahnya Oma bagus ya?" Zaura meminta persetujuan dari Filzah mengenai rumah Hilyah yang bagus sekali menurutnya.
Filzah mengangguk seraya tersenyum kepada putrinya. "Iya Sayang maa syaa Allah rumahnya bagus sekali." Jawab Filzah ikut memujinya.
Selin memutar bola matanya jengah. Ia memandang sinis kepada Filzah beserta keturunannya. "Dasar perempuan kampungan, mengotori lantai rumah saja, kalau bukan karena Mama menyuruh aku dan Mas Ergin untuk tetap tinggal di sini, mungkin aku sudah keluar dari rumah ini, secara aku nggak sudi satu rumah sama perempuan kampungan seperti dia." Gerutu Selin dalam hati.
"Karena sekarang Azlan sudah menikah, jadi Mama akan membagi rumah ini, di lantai bawah bagiannya Ergin, Selin dan Grizelle sementara di lantai atas bagiannya Mama, Azlan, Filzah dan juga Zaura, tetapi bukan berarti yang di lantai bawah nggak bisa keatas ataupun sebaliknya, Mama sengaja membaginya karena Mama tahu setelah kalian menikah kalian pasti butuh privasi, dan Mama minta maaf ya, Mama bukannya nggak mengizinkan kalian untuk keluar dari rumah ini tetapi Mama hanya nggak ingin berpisah dengan anak-anak Mama, dengan menantu-menantu Mama dan dengan cucu-cucu Mama, Mama berharap kalian mau mengerti Mama ya." Hilyah menjelaskan panjang lebar pembagian rumahnya yang menjadi dua bagian agar kedua putranya yang sudah berkeluarga itu bisa mempunyai privasi masing-masing.
"Ya sudah kalau begitu kalian semua istirahat ya, dan Zaura ayo ikut Oma, Oma akan mengantarkan Zaura ke kamar barunya Zaura."
Tanpa berlama-lama lagi, Selin langsung bergegas menuju kamarnya dengan menggandeng putrinya dan Ergin ikut menyusulnya.
"Azlan, Filzah kalian istirahat ya, kalian pasti lelah karena seharian ini kalian belum istirahat sama sekali."
Azlan dan Filzah saling mengangguk. Lalu Hilyah lebih dulu bergegas menaiki anak tangga bersama Zaura yang digandengnya.
Azlan dan Filzah masih sama-sama canggung. Diantara keduanya belum ada yang memulai untuk membuka suara. Cukup lama suasana hening. Yang terdengar hanya suara detak jarum jam dinding.
"Sudah malam, waktunya istirahat." Akhirnya Azlan yang memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Lalu ia bergegas melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Filzah pun menyusulnya dari belakang.
🌹🌹🌹
"Ini kamar Zaura."
Hilyah dan Zaura memasuki kamar yang di desain dengan motif bunga-bunga berwarna pink. Menandakan bahwa kamar itu adalah kamar untuk anak kecil seperti Zaura. Hilyah memang sudah mempersiapkan kamar untuk Zaura. Untuk cucu tersayangnya.
"Maa syaa Allah kamarnya bagus sekali Oma, Zaura suka sama kamarnya Oma." Ucap Zaura dengan raut wajah bahagia.
Hilyah tersenyum tulus. Ia membelai lembut kepala Zaura. "Alhamdulillah kalau Zaura suka sama kamarnya, kalau begitu sekarang Zaura istirahat ya, sudah malam."
"Iya Oma."
Zaura pun menaiki tempat tidurnya. Lalu membaringkan tubuhnya. Dan Hilyah membantu Zaura untuk mengeratkan selimutnya.
"Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut." Sebelum memejamkan matanya tidak lupa Zaura melafadzkan doa sebelum tidur. Seperti yang dilakukannya setiap mau tidur. Filzah yang membiasakannya sejak kecil.
"Anak pintar." Puji Hilyah seraya mengecup kening Zaura.
Hilyah pun bergegas keluar dari kamar cucunya, setelah Zaura benar-benar memejamkan kedua matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
🌹🌹🌹
Kreggg
Azlan membuka pintu kamarnya. Ia pun masuk ke dalam kamarnya. Walau ragu akhirnya Filzah memberanikan diri untuk ikut masuk ke dalam kamar suaminya yang mulai detik ini akan menjadi kamarnya juga. Kamar mereka berdua.
Azlan mengeluarkan setelan baju piyama dari lemari pakaiannya. Kemudian ia bergegas menuju kamar mandi dan menutup pintu kamar mandinya dengan rapat.
Perlahan Filzah melangkah menuju ranjang. Ia memberanikan diri untuk duduk di sisi ranjang. Filzah kebingungan. Ia tidak tahu harus menaruh tas pakaiannya di mana. Hingga akhirnya ia menaruhnya di samping ranjang tempat tidurnya.
"Ya Allah semoga ini awal yang baik, ridhoi pernikahan kami dan izinkan kami bahagia diatas ridhoMu. Aamiin."
Akhirnya Filzah memilih untuk merebahkan tubuhnya di sisi kanan ranjang. Awalnya Filzah hanya berniat untuk membaringkan tubuhnya namun pada detik berikutnya rasa kantul tiba-tiba menyerangnya. Dan perlahan kedua matanya pun terpejam.
Disaat Filzah baru saja merajut mimpi indahnya, Azlan baru keluar dari kamar mandi. Ia sudah mengenakan baju piyamanya. Wajahnya sudah nampak segar karena baru saja mengguyur seluruh badannya dengan air hangat.
Tanpa sengaja Azlan menoleh ke arah sisi ranjangnya. Ia melihat Filzah sudah tertidur. Azlan pun menghela napas dengan lega. Setidaknya rasa canggung itu tidak muncul lagi.
"Syukurlah kalau dia sudah tidur, setidaknya aku nggak merasa canggung lagi, dan bisa langsung istirahat karena besok aku sudah harus kembali bekerja."
Tanpa berpikir panjang Azlan langsung menaiki ranjangnya. Di sisi sebelah Filzah. Azlan membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Filzah. Sementara Filzah tertidur menghadap ke arahnya.
🌹🌹🌹
Filzah terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam kecil yang berada di atas nakas meja tepat di samping ranjangnya. Jam menunjukkan pukul 03.03 dini hari. Sudah waktunya Filzah mendirikan shalat malam.
Filzah mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu. Tak lupa ia membaca doa setelah bangun tidur. Dan Filzah baru tersadar bahwa tadi malam ia ketiduran saat menunggu Azlan yang sedang mandi. Filzah langsung menoleh ke samping ia melihat Azlan sedang terbaring dengan memunggunginya.
"Maaf Pak Azlan tadi malam aku ketiduran, semoga kamu nggak marah ya sama aku karena aku tidur duluan." Ucap Filzah meminta maaf kepada Azlan namun hanya di dalam hatinya.
Filzah pun bergegas turun dari ranjang. Lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia mengambil air wudhu untuk mendirikan sholat malam yang biasa juga disebut dengan sholat tahajjud.
Selang beberapa menit kemudian Filzah sudah siap dengan mukenah yang sudah membaluti seluruh tubuhnya kecuali wajahnya. Bekas air wudhu yang masih melekat di wajah senduhnya menambahkan kesan berseri-seri.
Filzah menoleh ke arah Azlan. Ia ragu untuk membangunkannya. Namun ia harus membangunkan suaminya untuk mendirikan sholat tahajjud dengan berjama'ah.
Perlahan akhirnya Filzah memberanikan diri untuk membangunkan Azlan. "Bismillahirrohmaanirrohiim." Filzah mengucapkan bismillah terlebih dahulu sebelum ia benar-benar membangunkan Azlan, sang suami.
__ADS_1
"Pa-Pak Azlan, Pak Azlan bangun." Ucap Filzah dengan lirih.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Filzah untuk membangunkan Azlan karena hanya dua kali saja Filzah memanggilnya serta mengguncang pelan tubuhnya kedua kelopak mata Azlan mulai terbuka. Matanya memerah menandakan bahwa ia baru bangun tidur.
Azlan menatap Filzah. Cukup lama hingga akhirnya ia tersadar dan langsung mendudukkan dirinya. "Ada apa?" Tanya Azlan dengan suara serak, khas bangun tidur.
"Mohon maaf Pak sebelumnya karena saya sudah mengganggu tidur Bapak, tapi sekarang sudah waktunya sholat tahajjud." Filzah formal sekali bicara dengan Azlan, layaknya percakapan seorang karyawan dengan Bosnya. Filzah memang masih menghormati Azlan sebagai Bosnya, anak dari Hilyah, pemilik kedai tempatnya bekerja.
Tok... tok... tok...
"Yandah, Bunda."
Azlan belum sempat bersuara karena keduluan suara ketokan pintu dan suara Zaura yang memanggil Yandah dan Bundanya.
"Zaura." Ujar Azlan mengenali suara Zaura.
Azlan langsung bergegas membukakan pintu kamarnya dengan disusul Filzah di belakangnya.
"Eh Zaura putri Yandah sudah bangun ya." Azlan mengelus kepala sang putri yang sudah terbalut mukenah kecil seukuran tubuhnya.
"Iya Yandah, Yandah belum pakai baju sholat?, ayo Yandah, Bunda kita sholat tahajjud berjama'ah."
Azlan beralih menatap Filzah. Begitupun sebaliknya. Namun keduanya kembali menatap Zaura.
"Ayo, tapi Yandah ambil wudhu dulu sekaligus ganti baju ya." Azlan bersemangat sekali untuk menunaikan sholat tahajjud bersama istri dan anaknya padahal kemarin-kemarin ia tidak pernah sholat tahajjud bahkan sholat fardhunya saja kalau ia sempat.
"Oke Yandah." Jawab Zaura.
"Ya sudah kalau begitu Zaura tunggu Yandah di dalam ya, Bunda tolong siapkan baju sholat Yandah ya." Azlan tersenyum kepada Filzah. Sekaligus meminta tolong Filzah untuk menyiapkan pakaian sholatnya yang berupa baju taqwa, sarung, dan peci.
Filzah hanya mengangguk tanpa kata. Kemudian ia bersama Zaura masuk ke dalam kamarnya usai Azlan masuk terlebih dahulu.
Selang beberapa menit kemudian keluarga kecil itu mendirikan sholat tahajjud dengan berjama'ah. Khusu' sekali. Dan sholat mereka pun mencapai salam. Azlan menoleh ke belakang dan dengan sigap Zaura mencium tangannya. Filzah juga ikut mencium tangannya.
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya aku merasakan juga sholat tahajjud berjama'ah bersama anak dan suamiku, izinkan kami menjadi keluarga yang bahagia. Aamiin." Filzah menyelipkan rasa syukur dalam doanya di dalam hati.
"Alhamdulillah Zaura senang sekali bisa sholat tahajjud bersama Yandah dan Bunda, besok-besok kita sholat lagi ya." Zaura senang sekali karena bisa melaksanakan sholat sunnah tahajjud bersama Yandah dan Bundanya.
"Iya Sayang, besok kita sholat lagi ya." Jawab Azlan meyakinkan Zaura.
"Yandah nggak pergi ke masjid?, sebentar lagi sudah waktunya sholat subuh Yandah."
"Ke masjid?" Tanya Azlan kebingungan.
Zaura mengangguk. "Iya Yandah, ke masjid, kata Bunda kalau laki-laki itu sholat fardhunya di masjid, kalau perempuan baru sholatnya di rumah." Zaura menjelaskan apa yang ia dapat dari sang Bunda tentang sholat.
Azlan beralih menatap ke arah Filzah. Filzah juga menatapnya namun hanya sekilas. Entah mengapa Filzah masih belum bisa menatap suaminya dengan lama. Mungkin karena mereka masih belum dekat satu sama lain. Jangankan dekat berkomunikasi saja hanya seperlunya.
"Ya sudah kalau begitu sekarang Yandah mau berangkat ke masjid dulu ya." Mau tidak mau Azlan harus mengikuti perintah sang putri yang menyuruhnya untuk sholat subuh berjama'ah di masjid. Ini pertama kalinya ia sholat di masjid. Semua ia lakukan demi Zaura. Demi menjadi Ayah yang baik untuk Zaura.
"Bunda ayo kita siap-siap untuk sholat subuh berjama'ah." Zaura mengajak Filzah untuk melaksanakan sholat subuh berjama'ah seperti waktu subuh-subuh sebelumnya.
"Zaura Sayang, sebelum kita sholat subuh berjama'ah, kita ke kamar Oma dulu ya, kita ajak Oma sholat subuh berjama'ah." Filzah teringat akan Hilyah yang kini sudah menjadi Ibu mertuanya.
"Baik Bunda, kalau begitu ayo Bunda sekarang kita ke kamar Oma." Dengan senang hati kini Zaura yang mengajak Filzah untuk segera ke kamar Hilyah.
"Iya Sayang, ayo kita ke kamar Oma."
Filzah dan Zaura pun bergegas keluar dari kamar Azlan dan Filzah untuk menuju kamar Hilyah dan mengajaknya untuk sholat subuh berjama'ah.
Tok... tok... tok...
"Oma, assalaamu 'alaikum." Zaura memanggil Hilyah seraya mengucap salam.
Tak berapa lama kemudian pintu pun terbuka. Dan sosok Hilyah kini berdiri di hadapan mereka.
"Wa 'alaikumus salaam, eh Zaura, Filzah." Hilyah menjawab salam Zaura seraya memperhatikan menantu dan cucunya yang sudah rapi dengan balutan mukenahnya. Bahkan wajah keduanya nampak bersinar indah layaknya sinar rembulan.
"Oma ayo kita sholat subuh berjama'ah, Zaura sama Bunda sudah siap." Ajak Zaura kepada Hilyah dengan ajakan yang lembut serta bersemangat.
"Hah?" Hilyah sedikit bingung. Namun ia langsung kembali tersadar. Dan tersenyum ke arah cucu dan menantunya yang sudah lebih dulu mengulas senyumannya masing-masing.
"Kalau begitu Oma ambil wudhu dulu ya."
Filzah dan Zaura mengangguk. Sembari menunggu Hilyah yang sedang mengambil wudhu, Filzah dan Zaura menggelar tiga sajadah di ruang tengah lantai atas. Karena di rumah mewah itu tidak terdapat musholla jadinya mereka akan sholat berjama'ah di ruang tengah, ruangan yang cukup luas untuk dijadikan mushollah dadakan.
Beberapa menit kemudian Hilyah sudah selesai berwudhu dan bergabung bersama Filzah dan Zaura. Hilyah juga sudah rapi dengan mukenahnya.
"Ma, Ibu Selin belum kita ajak untuk sholat berjama'ah bersama kita." Filzah teringat dengan kakak iparnya yang belum ia ajak untuk sholat subuh bersama-sama. Sebagai seorang muslimah Filzah berkewajiban untuk mengajak orang disekitarnya untuk menunaikan kewajibannya, yaitu mendirikan sholat.
"Filzah kamu panggil Selin dengan sebutan Kakak saja ya sekarang kalian kan sudah menjadi saudara ipar."
Filzah mengangguk. Ia akan memanggil Selin dengan sebutan Kakak sesuai dengan yang disuruh oleh Hilyah.
"Oh iya Selin belum kita ajak untuk sholat bersama kita, ya sudah kalau begitu biar Mama saja yang mengajak Selin, tunggu sebentar ya."
Hilyah berinisiatif untuk mengajak Selin sholat subuh bersama. Ini pertama kalinya karena kemarin-kemarin di rumah megah mereka jika waktu subuh mereka sibuk di kamar masing-masing. Bukan melaksanakan sholat subuh melainkan merajut mimpi dalam tidur nyenyaknya masing-masing.
Tok... tok... tok...
"Selin, Selin buka pintunya."
"Selin buka pintunya ini Mama."
__ADS_1
Berkali-kali Hilyah menggedor pintu kamar Selin namun tak kunjung terdengar suara Selin atau suara pintu terbuka. Hilyah mengeraskan gedorannya. Dan pintunya pun terbuka berkat gedoran pintunya yang dikeraskan.
"Mama, ada apa sih, ganggu tidur aku saja."
Selin menggerutu hebat lantaran Mama mertuanya menganggu tidur nyenyaknya. Selin paling tidak suka jika diganggu tidurnya.
"Selin ayo kita sholat subuh, Filzah dan Zaura sudah menunggu di atas."
Selin tercengang. Kemudian ia malah terkekeh. "Mama nggak salah mengajak aku sholat?, memangnya Mama mimpi apa semalam?" Selin tidak sopan sekali dengan terang-terangan ia mengejek Hilyah. Namun memang benar baru kali ini Hilyah mengajak Selin untuk sholat jadi aneh sekali menurut Selin.
"Mama nggak mimpi apa-apa, kalau kamu nggak mau sholat nggak apa-apa, Mama nggak maksa." Hilyah salah tingkah. Ia malu mendengar ejekan menantunya yang memang benar adanya.
"Ya sudah kalau Mama mau sholat, sholat saja nggak usah ajak aku, aku mau tidur, masih gantuk."
"Ya sudah kalau begitu."
Tanpa berlama-lama lagi Hilyah berlalu dari hadapan Selin dan Selin kembali masuk ke dalam kamarnya sebelum itu ia masih sempat-sempatnya menggerutu kesal karena Hilyah.
"Untuk apa Mama bangunkan Mommy?" Ergin ikut terbangun karena gedoran dan suara sang Mama yang terdengar berisik di telinganya.
"Mama mengajak aku sholat."
"Hah?, mengajak sholat?, tumben-tumbenan." Ergin merasa aneh dengan Mamanya yang katanya mengajak Selin sholat.
"Nggak tahu tuh, ya sudahlah aku mengantuk mau tidur lagi."
Selin menghempaskan dirinya di kasur empuknya serta kembali menarik selimutnya. Menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya. Ergin pun demikian ia masa bodoh dengan sikap Mamanya yang terlihat aneh.
Kini Hilyah sudah kembali ke hadapan Filzah dan Zaura yang sudah menunggunya.
"Lho Ma, Mbak Selinnya ke mana Ma?" Tanya Filzah dengan sopan.
"Selin..., Selin nggak sholat." Jawab Hilyah beralasan.
Filzah pun mengangguk. Ia dapat menerima alasan yang masuk akal atas ketidakhadiran Selin untuk sholat subuh berjama'ah bersama mereka. Filzah menyimpulkan maksud dari ucapan Hilyah itu adalah bahwa saat ini Selin sedang kedatangan tamu bulanan sehingga ia tidak bisa menunaikan sholat.
"Kalau Grizelle ke mana Oma?" Tanya Zaura yang baru teringat dengan sepupu sambungnya.
Hilyah menepuk jidatnya. Ia lupa untuk membangunkan cucunya yang tidur di kamarnya sendiri.
"Oma lupa Sayang, ya sudah kalau begitu kita sholat sekarang saja ya takut waktunya keburu habis." Hilyah mengajak untuk segera sholat subuh takut waktunya lebih dulu habis.
"Iya Ma, kalau begitu Mama yang jadi imamnya ya Ma." Filzah mempersilakan Hilyah sebagai mertuanya untuk menjadi imam sholat subuh mereka. Filzah ingin menghormati mertuanya yang lebih tua darinya untuk memberikannya kesempatan menjadi imam di sholat subuh kali ini.
Hilyah tercekat. Ia tidak menyangka bahwa sang menantu menyuruhnya untuk menjadi imam sholat. Hilyah bukannya tidak mau tetapi ia belum pernah menjadi imam sholat bahkan ia jarang melaksanakan sholat. Sama seperti anak dan menantunya bahkan cucunya juga tidak dibiasakan untuk mendirikan sholat sejak kecil.
"Kamu saja yang jadi imam ya, bacaan sholat Mama belum begitu lancar." Ujar Hilyah berterus terang.
Filzah mengangguk patuh. Lalu ia berdiri di tempat imam dan bersiap-siap memulai sholat subuh berjama'ahnya.
"Allahu akbar."
Sholat subuh pun dimulai dengan Filzah memulainya dari mengangkat tangannya, bertakbiratul ihram. Filzah, Zaura dan Hilyah begitu khusu' dalam sholat mereka. Bahkan hati Hilyah merasa adem dan tenang ketika mendengar suara merdu Filzah yang sedang melantunkan surah alfatihah dan surah pendek di dalam sholat berjama'ahnya.
Beberapa menit kemudian sholat subuh berjama'anya telah selesai. Zaura mencium tangan Filzah dan Filzah mencium tangan Hilyah.
"Maa syaa Allah hatiku tenang sekali setelah melaksanakan sholat subuh bersama Filzah dan Zaura, mereka memang orang-orang yang baik, aku harus bersyukur karena mereka sudah menjadi bagian dari keluargaku, bagian dari hidupku juga." Hilyah bersyukur di dalam hatinya. Ia bersyukur karena Filzah dan Zaura yang merupakan orang-orang yang baik telah menjadi anggota keluarganya. Yang mengajaknya kepada kebaikan serta kembali kepada Allah subhanahu wata 'ala.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Selamat sowwe readers
Selamat hari jum'at para pejuang akad
Jangan lupa sama alkahfinya yaaa
🤗🤗🤗
Alhamdulillah nih Cinta Istiqomah sudah menginjak part ke 13
Siapa yang sudah baca???
Yuk absen dulu
Yuk sapa Ukhfira dulu
👉👉👉
Btw sudah ada penggemarnya Azlan❤Filzah belum ya???
Kok sepi-sepi sajaaa
Mana nih suara penggemar si pengantin baru
Keluarkan jempolmu guysss
👍👍👍
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
😎😎😎
__ADS_1
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh