Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 25. Debaran Cinta


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa ya


🌹🌹🌹


Seorang Ibu muda yang anggun dengan pakaian syarinya sedang sibuk beraktivitas di pagi harinya di dalam dapur dengan senjata perang khas dapur alias peralatan memasak.


Filzah fokus sekali menggoreng telur ia sampai tidak sadar bahwa kini ia tidak seorang diri. Beberapa detik yang lalu Hilyah memasuki dapur dan kini sedang berdiri di belakang Filzah.


"Filzah, ada yang bisa Mama bantu?" Tanya Hilyah menawarkan diri untuk membantu Filzah.


Filzah sedikit terkejut. Perlahan ia menoleh ke belakang. Ia melihat Mama mertuanya sedang tersenyum ramah kepadanya. Filzah pun membalasnya dengan ragu dan senyumannya juga tidak selebar Hilyah.


"Ma-ma."


"Piringnya belum ada ya, Mama bantu siapkan piringnya ya."


Hilyah pun berinisiatif untuk menyiapkan piring yang diletakkan di meja makan. Ia menyiapkannya dengan maksud untuk membantu Filzah.


"Filzah, piring-piringnya sudah Mama siapkan, kamu masaknya sudah selesai?, atau perlu Mama bantu?" Hilyah kembali menawarkan bantuan kepada Filzah. Hilyah ramah sekali. Sikapnya sama seperti sebelum kejadian Grizelle masuk rumah sakit.


"Filzah?" Hilyah kebingungan melihat Filzah sejak tadi hanya diam saja. Tidak merespon ucapannya.


"I-iya Ma." Ucap Filzah sempat terbata-bata.


"Sini Mama bantu ya." Hilyah pun bergegas mendekati Filzah lalu mengambil alih sepiring telur yang sudah siap disajikan.


"Terima kasih Ma."


"Iya Filzah sama-sama."


"Mama."


Tiba-tiba Selin, Ergin dan Grizelle masuk ke dalam dapur. Selin terkejut melihat Hilyah bersikap ramah dengan Filzah padahal kemarin Hilyah berjanji untuk tidak bersikap baik kepada Filzah tetapi nyatanya ia mengingkari janji tersebut.


"Eh Selin, Ergin, Grizelle, ayo kita sarapan bersama, tapi tunggu Azlan sama Zaura dulu ya."


"Mama, Selin mau bicara sama Mama." Ujar Selin dengan wajah bertopeng amarah.


"Filzah tunggu sebentar ya."


"Iya Ma."


Selin dan Hilyah mulai melangkah menjauhi Filzah. Ada yang ingin Selin bicarakan dengan Hilyah dan ini pasti menyangkut Filzah makanya mereka sengaja menjauh dari Filzah.


"Mama ini bagaimana sih, bukannya kemarin Mama bilang nggak mau bersikap baik sama Filzah, tapi sekarang apa?, nggak konsisten banget sih sama ucapan sendiri." Gerutu Selin yang berani sekali memaki Mama mertuanya sendiri.


Hilyah menanggapinya hanya dengan senyuman. "Selin, Mama berubah pikiran, Mama rasa sudahlah ya nggak usah menyimpan dendam sama Filzah, lagi pula Filzah kan sudah meminta maaf dan Grizelle juga sudah sehat seperti sedia kala, jadi untuk apa membenci Filzah. Masalahnya kan sudah selesai, kita ini keluarga, jadi harus rukun dan saling menyayangi."


"Sudah ya kita nggak usah bahas ini lagi, sekarang lebih baik kita sarapan karena sarapannya sudah siap di meja makan."


Hilyah kembali masuk ke dalam dapur yang terhubung langsung dengan ruang makan. Sementara Selin malah semakin bertambah amarahnya.


"Ishhh Mama, bisa-bisanya berubah pikiran, tapi jangan harap aku juga berubah pikiran, Filzah itu adalah musuhku dan seterusnya akan seperti itu." Ujar Selin dengan kilat mata yang berapi-api.


🌹🌹🌹


Senyuman termanis mulai menghias wajah karisma Azlan ketika mobil yang dikendarainya sudah memasuki garasi rumah. Dengan gerakan yang cepat Azlan keluar dari mobilnya untuk menemui dua bidadari cantik yang sedang menunggu kepulangannya.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam."


Seperti biasanya Filzah dan Zaura mencium tangan Azlan secara bergantian. Kemudian Filzah meraih tas kantor Azlan yang berada di tangan kanan Azlan. Dan Filzah beralih melihat tangan kiri Azlan yang sedang menenteng dua buah goodybag yang satu berukuran sedang yang satunya berukuran besar.


"Kanda itu apa?." Tanya Filzah ingin tahu.


Azlan menoleh sekilas kearah goodybag yang dipegangnya.


"Ini yang satu untuk Zaura."


"Maa syaa Allah, jazakallah khoiron Yandah."


"Wa jazakillah khoiron Sayang. Ya sudah kalau begitu Zaura masuk duluan ya."


"Oke Yandah."


Setelah Zaura masuk ke dalam rumah. Azlan memberikan satu buah goodybag yang berukuran besar kepada Filzah. Ia memberikannya dengan kedua tangannya.


"Dan ini untuk Dinda."


"Maa syaa Allah, jazakallah khoiron Kanda."


"Wa jazakillah khoiron Dinda."


"Itu isinya gamis, khimar, sepatu dan tas, Dinda pakai sekarang ya, sebentar lagi kita akan pergi."


"Lho, mau pergi ke mana Kanda?." Tanya Filzah tak mengerti.


"Sudah ya Dinda nggak usah banyak tanya, sekarang Dinda langsung siap-siap ya, aku juga mau siap-siap tapi di kamar tamu. Nanti kalau Dinda sudah siap langsung ke luar ya, aku tunggu di luar, oke?."


Azlan pun masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Filzah yang masih berdiri mematung. Ia belum sepenuhnya mengerti akan perkataan yang baru saja dijelaskan oleh Azlan. Namun intinya Filzah mengerti bahwa ia disuruh bersiap-siap untuk mengenakan gamis serta khimar yang baru saja diberikan oleh Azlan.


🌹🌹🌹


Satu jam kemudian...


Azlan keluar dari rumahnya. Ia sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana berwarna hitam yang dipadukan dengan tuxedo berwarna navy. Dengan setelan baju yang dikenakannya itu membuat Azlan nampak semakin berkarisma ditambah lagi jika senyuman manisnya yang memabukkan itu menghiasi wajahnya.


Azlan melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 19.30 malam. Sang istri belum kunjung terlihat. Namun Azlan akan setia menunggunya.


Beberapa menit kemudian terlihat seorang perempuan keluar dari rumah dengan mengenakan balutan gamis elegan berwarna navy dengan dipadu-padankan khimar syar'i yang menutupi dadanya berwarna hitam serta tas dan sepatu yang senada dengan khimarnya. Dialah Filzah, kekasih halalnya Azlan.


Azlan seakan terpanah menatap bidadari berhijabnya yang malam ini nampak begitu cantik dan anggun. Polesan make up yang natural di wajah Filzah membuat Azlan terpesona sampai ke ubun-ubun. Dan jangan lupakan senyuman manis yang menghiasi wajah Filzah, sungguh mengalihkan dunia dan Azlan langsung dimabuk kepayang.

__ADS_1


"Maa syaa Allah, Bidadari syurgaku." Ucap Azlan spontan.


Filzah tersipu malu dibuatnya. Bahkan Filzah sampai salah tingkah sendiri.


"Kanda, aku sudah siap. Jadi sebenarnya kita mau ke mana Kanda?." Tanya Filzah yang sudah penasaran sejak tadi.


Azlan pun langsung tersadar. Ia memperbaiki kerah tuxedonya untuk mengalihkan salah tingkahnya akibat terpanah akan kecantikan istrinya yang sungguh menyejukkan matanya.


"Oh, iya aku juga sudah siap, ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat sekarang Dinda." Azlan menyodorkan lengannya kepada Filzah.


Seakan mengerti akan isyarat yang diberikan oleh Azlan, perlahan Filzah mengamit lengan Azlan. Kemudian Azlan mengelus lembut tangan Filzah yang berada dalam apitannya.


Azlan membukakan pintu untuk Filzah. Ia membentangkan salah satu tangannya untuk mempersilakan Filzah masuk ke dalam mobilnya. Azlan pun ikut masuk ke dalam mobilnya setelah memastikan bahwa sang bidadari syurganya sudah duduk dengan nyaman di tempat duduknya yang berada di sebelah tempat duduk Azlan yang akan mengemudikan mobilnya.


"Kanda, Zaura nggak ikut juga?"


"Nggak Dinda, kita perginya berdua saja ya. Selama ini kan kita belum pernah pergi berdua saja tanpa Zaura. Dinda nggak keberatan kan?"


Filzah mengangguk seraya tersenyum. "Iya Kanda, aku nggak keberatan." Jawabnya lembut.


"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang ya Dinda."


"Iya Kanda."


"Dinda seatbeltnya."


"Oh iya Kanda."


Filzah hendak meraih seatbeltnya namun Azlan lebih dulu mengambilnya serta memasangkannya otomatis kedua wajah mereka sangat dekat. Dan sepasang bola mata mereka kini saling beradu. Namun tak berapa lama kemudian Azlan memundurkan wajahnya dan kembali ke tempat duduknya.


"Pandang-pandangannya lanjutkan nanti saja ya Dinda, takut malah kemalaman."


Filzah pun tersenyum. "Iya Kanda."


Akhirnya Azlan melajukan mobilnya. Perlahan mobil yang dikemudikannya keluar dari garasi sekaligus pekarangan rumahnya dan melintasi jalan raya yang cukup ramai dipadati oleh beberapa kendaraan lainnya.


Setelah menghabiskan waktu dua puluh menit lamanya, akhirnya mobil yang Azlan kemudikan terhenti di tempat parkir yang telah disediakan. Dengan langkah cepat Azlan keluar dari mobilnya lalu ia membukakan pintu untuk sang istri.


Kini Azlan dan Filzah berjalan beriringan dengan tangan Filzah merangkul lengan Azlan. Mereka mulai memasuki sebuah restaurant mewah yang seluruh pelayannya sedang berbaris rapi di pintu masuk. Dengan tujuan menyambut kedatangan Azlan dan Filzah.


"Selamat datang Bapak Azlan dan Ibu Filzah." Ucap seluruh pelayan dengan kompak dan ramah.


Filzah sempat tercekat. Ia merasa seperti Ibu pejabat yang sedang disambut para rakyat.


"Terima kasih."


"Mari silakan masuk Bapak Azlan dan Ibu Filzah." Ucap salah satu pelayan sembari mengisyaratkannya melalui bahasa tubuhnya.


Azlan dan Filzah memasuki restaurant mewah tersebut dengan diikuti oleh salah satu pelayan yang berjalan di belakang mereka.


Azlan dan Filzah menduduki tempat duduk yang telah disediakan khusus untuk mereka. Sejenak Filzah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan besar nan luas tersebut. Namun tak ada satupun pelanggan yang mengisi tempat duduk yang banyak itu. Hanya Azlan dan Filzah saja yang menjadi pelanggan di restaurant mahal itu.


Beberapa makanan mulai tersaji dan memenuhi meja tempat Azlan dan Filzah duduk. Usai menyajikan makanan pesanan pelanggan istimewanya, beberapa pelayan yang bertugas melayani Azlan dan Filzah memundurkan langkahnya. Meninggalkan Azlan dan Filzah yang akan memulai makan malamnya.


"Jadi Kanda mengajak aku makan malam di sini?, tapi ini kan restaurant mahal Kanda, pasti makanannya mahal-mahal, sayang duitnya Kanda."


"Kanda, tapi kok restaurantnya sepi?, kenapa nggak ada pelanggan yang lainnya?, apa restaurantnya sudah tutup?, tapi kok kita diperbolehkan masuk?." Tanya Filzah dengan kebingungan.


Lagi-lagi Azlan terkekeh. Pertanyaan dari istrinya itu cukup menggelitik perutnya.


"Dinda, aku sengaja menyewa restaurant ini hanya untuk kita berdua saja. Biar kesannya romantis."


Filzah sedikit terkejut. Ia tidak menyangka bahwa suaminya sengaja menyewa restaurant hanya untuk makan malam mereka berdua saja.


"Ya Allah Kanda, untuk apa sampai menyewa restaurant ini. Apa nggak bisa dibatalkan saja Kanda. Lebih baik kita makan malam di rumah saja, menurut aku itu juga romantis kok."


"Ya nggak bisa Dinda, aku kan sudah terlanjur menyewa, ya sudahlah Dinda kan cuma hanya untuk satu malam saja. Dinda tenang saja isi ATM aku masih banyak kok Dinda."


"Iya Kanda, nggak apa-apa."


"Dinda nggak marah kan?"


"Marah, tapi sedikit."


Azlan dapat bernapas lega lantaran Filzah tidak memperpanjang urusan sewa menyewa restaurant.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita makan Dinda, aku sudah lapar nih."


"Iya Kanda."


Tanpa berlama-lama lagi Azlan dan Filzah langsung mencicipi makanan yang tersaji untuknya. Namun sebelum itu mereka berdoa terlebih dahulu.


"Maa syaa Allah, makanannya enak sekali Kanda, makanan mahal ya pasti enak." Celetuk Filzah sembari menutup mulutnya karena takut sampai terdengar ke telinga para pelayan di restaurant tersebut.


"Dinda ini ada-ada saja. Ya sudah dilanjut lagi makannya Dinda."


"Iya Kanda."


Beberapa menit kemudian Azlan dan Filzah mengakhiri makan malam romantis mereka yang saling bersuap-suapan ria.


"Dinda, aku punya sesuatu untuk Dinda."


"Apa itu Kanda?." Tanya Filzah yang kembali dibuat penasaran oleh Azlan.


Perlahan Azlan mengambil sesuatu dari dalam kantong tuxedonya. Sebuah kotak berbentuk love berwarna merah kini berada dalam genggaman tangan Azlan.


"Ini untuk Dinda."


"Apa ini Kanda?."


"Dinda buka saja." Ujar Azlan menyuruh Filzah untuk segera membuka kotaknya


Filzah pun menuruti arahan Azlan untuk membuka kotak love tersebut. Dan ternyata isinya adalah sebuah gelang emas dengan ukiran yang cantik nan indah.


"Maa syaa Allah, gelangnya cantik sekali Kanda."


"Dan akan bertambah cantik kalau dipasangkan di tangan Dinda. Aku pasangkan ya."

__ADS_1


Tanpa ba bi bu lagi Azlan langsung memasangkan gelang emas yang dulunya ia berikan kepada sang Mama namun Hilyah malah menyuruh Azlan untuk memberikan kepada istrinya jika sudah menikah dan sekarang Azlan telah menunaikan permintaan Hilyah.


Dan benar saja apa yang dikatakan Azlan, gelang emas itu terlihat lebih cantik ketika mengalung dipergelangan tangan Filzah.


"Tuh kan benar, gelangnya menjadi makin cantik kalau dipakaikan di tangan Dinda."


"Jazakallah khoiron Kanda."


"Wa jazakillah khoiron Dinda."


Terlihat jelas dari pancaran matanya, Filzah nampak bahagia sekali. Bukan karena ia mendapatkan gelang emas yang mahal harganya namun pujian manis dari suaminya.


Perlahan Azlan meraih tangan Filzah yang terpatri gelang emas pemberian darinya. Kemudian Azlan mendekatkan tangan Filzah ke wajahnya. Dan Azlan mengecup tangan Filzah dengan lembut.


Filzah tersipu malu. Rona merah di wajahnya mulai menyala. Filzah tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ia merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu yang memenuhi relung hatinya.


Tiba-tiba saja Azlan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian ia melangkah menghampiri tempat duduk istrinya. Filzah terkejut. Ia hanya bisa duduk mematung sembari memperhatikan pergerakan tubuh Azlan.


"Dinda, aku mencintaimu."


Deg


Seketika Filzah terdiam. Ia seperti sedang diterbangkan ke atas langit bersama burung-burung yang berbulu lebat nan indah.


Azlan tersenyum bahagia. Sepasang matanya memancarkan binar-binar cinta. Azlan sudah tidak dapat membohongi perasannya lagi. Azlan mengakui bahwa kini benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Cinta yang berasal dari Allah subhanahu wata 'ala.


Filzah ikut beranjak dari tempat duduknya. Ia mulai mendekati suaminya dengan mengembangkan senyumannya.


"Aku juga mencintaimu Kanda." Ucap Filzah seraya menampilkan senyuman terbaiknya.


Kedua mata Azlan membulat sempurna. Hatinya langsung berbunga-bunga. Akhirnya ia dan Filzah berhasil membangun cinta yang dilandaskan cinta kepada Allah, sang Maha cinta.


"Alhamdulillah." Ucap syukur Azlan.


Dengan perlahan Azlan mulai menghapus jarak diantara mereka. Ia juga merentangkan kedua tangannya. Bersiap-siap membawa Filzah ke dalam pelukannya.


Filzah menahannya. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Ia mendapati seluruh pelayan di sana sedang tersenyum ramah ke arahnya juga ke arah Azlan. Mereka menjadi pusat perhatian para pelayan restaurant tersebut.


Azlan ikut mengedarkan pandangannya. Kemudian ia sedikit terkekeh dan seketika dapat mengerti akan kode yang diberikan oleh sang istri.


"Saya minta untuk kalian semua balik badan ya, sekarang." Titah Azlan dengan mengeraskan suaranya.


Seluruh pelayan serentak mengikuti instruksi dari Azlan. Mereka membalikkan tubuh ke belakang. Kini pandangan mereka tertuju ke arah dinding bukan ke arah Azlan dan Filzah lagi.


Azlan tersenyum ke arah Filzah. Ia berisyarat bahwa saat ini mereka sudah bebas untuk berpelukan. Dan Filzah tidak akan merasa malu dan risih karena tidak akan ada yang melihat mereka yang akan segera berpelukan.


Akhirnya Filzah pun menyerahkan dirinya. Ia membalas pelukan hangat suaminya. Dan Filzah mulai membenamkan wajahnya yang merona di dada bidang suaminya.


Filzah dapat merasakan debaran cinta di dada Azlan. Filzah juga meletakkan telapak tangannya di dada Azlan. Dan debaran cinta itu semakin nyata.


Sekujur tubuh Filzah juga menghasilkan getaran cinta ketika Azlan mencium puncak kepalanya dengan penuh cinta. Kini benih-benih cinta di hati mereka telah menyatu. Menyatu karena Allah.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Assalaamu 'aikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Pagi-pagi sudah baver laver nih


Hayo ngaku mblowan dan mbowati


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Ups padahal yang nulis juga Mblowati, baver laver pulaaa


πŸ€“πŸ€“πŸ€“


Seuneng polll nih melihat pasangan halal yang sedang dimabuk cinta sampai ke ubun-ubun tuh


Doakan semoga perjalanan cinta mereka lurus-lurus saja ya nggak belok-belok


πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Siapa nih yang seuneng melihat Azlan dan Filzah telah berhasil membangun cinta mereka???


☝☝☝


Cinta yang halal dan cinta berlandaskan cinta kepada Allah


❀❀❀


Untuk para Singlelillah yang semangat ya mendekatkan diri kepada Allah


Cintai Allah sedalam-dalamnya ya


In syaa Allah nanti pada waktu yang tepat Allah akan mendatangkan laki-laki yang mencintaimu karena Allah


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Jika ingin membangun rumah tangga jangan dahulukan cinta


Alangkah lebih baiknya dahulukan Allah


Dengan tujuan ingin menjalankan ibadah kepada Allah dan ingin mengikuti sunnah Rasulullah


In Syaa Allah


benih-benih cinta perlahan akan hadir dengan atas ridho Allah hingga akhirnya saling mencintai diatas cinta kepada Allah


Seperti cinta Azlan dan Filzah


Maa syaa Allah


Tabarakalallah


❀❀❀


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

__ADS_1


__ADS_2