
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa
πΉπΉπΉ
Di sepertiga malam, Azlan bersama keluarga kecilnya menunaikan rutinitas spiritualnya yaitu mendirikan sholat tahajjud secara berjamaah.
Zaura menengadahkan kedua tangannya ke atas. Kedua matanyaΒ fokus menatap sepasang telapak tangannya yang menyatu.
"Ya Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, Zaura ingin meminta sesuatu kepadaMu. Ya Allah yang Maha pencipta ciptakan Adik bayi untuk Zaura, Zaura ingin mempunyai Adik bayi yang lucu dan menggemaskan, kabulkan doa Zaura ya Allah. Aamiin."
Awalnya Azlan dan Filzah fokus dengan doa masing-masing namun seketika mereka tertegun dan menoleh ke arah Zaura yang sedang khusu' dalam berdoanya.
Zaura tersenyum menggemaskan ketika Bunda dan Yandahnya kompak memandanginya seraya menampilkan senyumannya masing-masing.
"Zaura ingin punya Adik?." Tanya Filzah kepada Zaura.
Zaura mengangguk pelan. Kilatan matanya menyiratkan harapan yang besar.
"Iya Bunda, Zaura ingin punya Adik bayi yang lucu dan imut seperti Zaura." Zaura menempelkan kedua ujung jari telunjuknya di tengah kedua pipinya, gemas.
"Zaura terus meminta sama Allah ya Sayang, karena Allah yang menciptakan Adik bayi."
"Iya Bunda, Zaura akan terus berdoa sama Allah, Bunda dan Yandah juga berdoa ya, supaya Allah cepat mengabulkan karena banyak yang mendoakan."
"In syaa Allah Sayang."
Azlan dan Filzah saling melempar pandangan serta senyuman. Harapan mereka satu, semoga Allah mengabulkan doa Zaura yang begitu tulus.
πΉπΉπΉ
"Oma." Zaura memanggil Hilyah seraya berlari kecil menghampirinya.
Dibelakangnya ada Azlan dan Filzah yang ikut bergabung di meja makan untuk sarapan bersama sebelum memulai aktivitas hari ini.
Di ruang makan sudah berkumpul Ergin berserta keluarga kecilnya yang menempati tempat duduknya masing-masing.
"Oma, Zaura ingin punya Adik bayi, Oma tolong bantu doa ya, supaya doanya cepat terkabul."
Garis-garis kecil menghiasi kening Hilyah. Ia terkesiap akan ucapan Zaura yang tak terduga.
"Zaura ingin punya Adik bayi?" Tatapan Hilyah kini beralih ke arah Azlan dan Filzah dengan bergantian.
"Iya Ma, katanya Zaura ingin punya Adik, Mama bantu doa ya." Ujar Azlan menguatkan ucapan Zaura.
Hilyah menarik kedua ujung sudut bibirnya ke atas, membentuk senyuman.
"Oh pasti, Mama akan mendoakan siang dan malam, supaya cucu Mama cepat bertambah." Jawab Hilyah sangat antusias.
Sejak tadi Ergin dan Selin abai saja. Mereka tidak berminat sama sekali untuk ikut masuk dalam percakapan. Bahkan keduanya memasang wajah masa bodoh.
πΉπΉπΉ
Di sepanjang perjalanan Ergin dan Selin sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ergin menatap lurus ke depan sembari mengendalikan kemudinya, sementara Selin menatap lurus layar handponenya yang sedang menampilkan koleksi tas-tas bermerek yang harganya amat fantastis. Dan si gadis kecil Grizelle mengamati pemandangan indah di luar dari samping kaca mobil.
Pelan-pelan Grizelle mengamati kedua orang tuanya bergantian. Tiba-tiba ia teringat akan ucapan Zaura tadi saat sarapan.
"Mommy, Daddy, Grizelle mau punya Adik." Ucapnya lirih.
Grizelle berhasil mengalihkan kesibukan kedua orang tuanya. Dengan serentak Ergin dan Selin menoleh ke arahnya.
"Grizelle mau punya Adik?, kalau Daddy sih mau-mau saja."
"Mommy nggak." Timpal Selin tegas.
__ADS_1
Ergin dan Grizelle serentak menoleh ke arah Selin. Ergin menyerngitkan dahi. Sementara Grizelle terkejut sampai terbelalak.
"Ini pasti gara-gara Zaura tadi. Grizelle kamu nggak usah minta yang aneh-aneh, jangan ikut-ikutan Zaura!" Ujar Selin menegur Grizelle dengan ketus.
Grizelle tertunduk lusuh. Ekspresi wajahnya tampak sedih. Harapannya pun sirna seketika, dihancur-leburkan oleh Mommynya sendiri.
"Mommy, apa salahnya sih turuti keinginan Grizelle, lagi pula Grizelle kan sudah besar-"
"Daddy!" Pekik Selin menyela pembicaraan Ergin. "Daddy enak ya cuma ngomong, sedangkan yang menderita Mommy nantinya."
"Menderita?, maksud Mommy?"
"Iya, bagi Mommy hamil itu menderita, mual-mual, kepala pusing, mudah lelah dan yang paling parah berat badan jadi naik, Mommy nggak mau ya tubuh Mommy yang sudah ideal ini malah jadi gendut seperti badut. Apalagi kalau sudah lahir, mengurus bayi tuh menguras tenaga, begadang setiap hari, sakit kepala mendengar tangisannya, pokoknya punya bayi itu ribet, yang ada nanti wajah Mommy berkerut sebelum waktunya." Gerutu Selin menolak mentah-mentah keinginan Grizelle, putrinya sendiri.
Ergin bungkam seribu kata. Ia diskakmat habis oleh istrinya sendiri. Ergin beralih menoleh ke belakang, melihat Grizelle yang tertunduk sedih. Bahkan kedua matanya mulai berkaca-kaca. Namun apa mau dikata jika istrinya sudah mengeluarkan sabda.
πΉπΉπΉ
"Assalaamu 'alaikum."
Filzah memasuki kedai milik Hilyah yang sudah jarang ia kunjungi dan kini ia bertandang untuk mengusir kejenuhan akibat di rumah terus menerus sekaligus untuk membantu Mama mertuanya mengelola kedainya.
"Wa 'alaikumus salaam." Hilyah menjawab salam Filzah sembari menemuinya.
"Mama, Filzah boleh ya bantu-bantu untuk melayani para pelanggan." Ucap Filzah meminta izin.
"Eh jangan Filzah."
"Lho kenapa Ma?." Tanya Filzah bingung.
"Kamu kan sedang program hamil, jadi badan kamu nggak boleh lelah, harus tetap fit."
Filzah menghela napas lirih. Ia mengukir senyumannya. "Mama, melayani pelanggan itu bukan pekerjaan yang berat, jadi Filzah nggak akan merasa lelah." Filzah memberikan pengertian kepada Hilyah.
Hilyah sedang menimbang penjelasan dari Filzah. Ia masih berat hati untuk mengizinkannya.
Hilyah tak kuasa melihat Filzah begitu ingin sekali membantunya untuk mengelola kedai. Hingga akhirnya ia pun mengizinkannya.
"Ya sudah Mama izinkan, tapi ingat ya Filzah, kamu jangan sampai lelah, kalau kamu sampai kelelahan Azlan bisa mengomeli Mama."
Filzah terkekeh. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi suaminya ketika mengomel layaknya perempuan.
"Iya Ma, in syaa Allah Filzah nggak akan sampai lelah."
"Iya Mama pegang ya ucapan kamu." Hilyah benar-benar takut terjadi apa-apa dengan menantu bungsunya, terlebih lagi ia tidak sabar ingin menimang cucu dari putra bungsunya, Azlan.
Tanpa disadari sejak tadi ada sorot mata yang memperhatikan keduanya, terutama Filzah. Sorot mata tajam itu milik Selin yang saat ini sedang memegang kendali di kursi kasir.
"Sialan tuh perempuan kampungan, pintar sekali cari muka di depan Mama. Mama juga berlebihan, belum hamil saja perhatiannya sudah dilebih-lebihkan apalagi nanti kalau sudah hamil, bisa keenakan itu perempuan kampungan, bisa minta yang macam-macam." Gerutu Selin yang otaknya mendidih seketika.
"Tapi tenang, selagi masih ada aku, kamu nggak akan bisa macam-macam, apalagi sampai berani mau menguras harta kekayaannya Mama Hilyah." Amarah Selin terkumpul di kepalan tangannya yang bergetar hebat. Kilatan matanya menyiratkan kedengkian kepada perempuan di ujung sana yang tak lain adalah saudara iparnya sendiri.
Selin beranjak dari tempat duduknya. Sorot matanya masih tertuju kepada Filzah, tak beralih sedikitpun.
Bruggg
Filzah terperanjat di tempat. Ia baru saja menabrak seseorang saat berbalik badan. Piring kotor yang berada dalam genggamannya terjun bebas ke lantai dan pecah berkeping-keping.
"Astaghfirullah." Pekik Filzah, terkejut.
"Filzah?!." Jerit Selin sambil menyentakkan kedua tanggannya, marah.
"Ma-maaf Mbak Selin, sa-saya nggak sengaja." Filzah meminta maaf kepada Selin dengan nada terbata-bata.
"Kamu bisa nggak sih hati-hati, kalau kamu nggak tulus untuk membantu di sini, mending nggak usah, bisanya cuma buat semua ya berantakan!" Maki Selin dengan nada bicara yang keras.
Para pelanggan yang tadinya asyik mencicipi pesanan masing-masing langsung menoleh ke arah di mana kegaduhan sedang terjadi. Kini Filzah dan Selin menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
Hilyah datang menemui kedua menantunya. Ia terkejut mendapati pecahan piring berserakan di lantai.
"Astaghfirullah ada apa ini?." Tanya Hilyah panik.
"Ini Ma, menantu bungsu Mama kerjanya nggak becus, dia tadi menabrak aku dan piringnya jadi pecah seperti ini." Adu Selin sembari memperlihatkan pecahan piring yang berserakan di lantai.
"Filzah minta maaf Ma, Filzah nggak sengaja, tadi saat Filzah mau berbalik badan, Mbak Selin sudah ada di belakang."
"Oh jadi kamu menyalahkan saya?, iya?!" Bentak Selin tak terima atas tuduhan Filzah.
"Maaf Mbak Selin saya bukannya menyalahkan Mbak, tapi-"
"Sudah jelas-jelas kamu yang salah,Β malah menyalahkan orang!" Omel Selin semakin menyudutkan Filzah.
"Maaf Mbak Selin saya nggak bermaksud menyalahkan Mbak-"
"Itu tadi-"
"Sudah-sudah, nggak usah diperpanjang, ini cuma masalah kecil, nanti pecahan piringnya kan bisa dibereskan." Hilyah langsung bertindak. Ia melerai perdebatan sengit para menantunya.
"Tapi Ma aku nggak terima disalahkan seperti ini, dia yang salah kok malah aku yang disalahkan, ini nggak adil." Selin masih tidak terima. Ia menatap tajam kedua mata Filzah, seakan hendak membunuhnya saat ini juga.
"Mbak saya minta maaf, saya benar-benar nggak bermaksud untuk menyalahkan Mbak Selin, saya hanya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Ya tapi kamu menyalahkan aku, kalimat kamu itu jelas tadi menuduh aku yang salah."
Filzah menggeleng cepat. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk menyalahkan orang lain. Tetapi entah mengapa Selin malah menuduh dirinya yang telah menyalahkannya atas kejadian itu.
"Selin sudah nggak usah diperpanjang lagi, nggak enak sama para pelanggan yang melihat kita." Hilyah menebarkan pandangannya ke sekitar dan ia melihat para pelanggan sedang memperhatikannya lebih tepatnya memperhatikan kedua menantunya yang sedang beradu mulut, membela diri sendiri.
"Menantu bungsu Mama tuh cari masalah duluan, dasar perempuan kampungan, sukanya buat onar." Oceh Selin sembari mengangkat kaki dari hadapan Filzah dan Hilyah.
"Filzah, jangan diambil hati ya ucapannya Selin, Selin itu sifatnya memang seperti itu, suka meledak-meledak, dia nggak bisa santai orangnya." Hilyah memberi pengertian kepada Filzah tentang sisi buruk Selin.
Filzah sedikit tersenyum. Ia memang tidak mengambil hati ucapannya Selin. Tetapi Filzah merasa sedih karena sampai saat ini antara ia dan Selin tidak memiliki hubungan yang baik.
"Ya Allah kenapa sampai detik ini Mbak Selin masih marah ya sama aku, padahal aku sudah meminta maaf, apakah kesalahanku tidak termaafkan?, ya Allah lembutkanlah hati Mbak Selin agar dia bisa memaafkan aku, aamiin."
Di dalam lubuk hatinya yang terdalam Filzah menyelipkan doa untuk Selin. Ia berharap Selin bisa berdamai dengannya dan menjadi menantu-menantu Mama mertuanya yang saling menyayangi satu sama lain.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah Cinta Istiqomah sudah berpart baru
Semoga kalian suka
Dan semoga memberi manfaat
π€π€π€
Jangan lupa bahagia
Jangan lupa tersenyum
Dan jangan lupa tetap stay tuned
Yaaaa
πππ
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
πππ
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1