
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa
๐น๐น๐น
Filzah dan Zaura keluar dari rumah sederhana yang baru saja kemarin ditempati, lebih tepatnya setelah mereka terusir dari rumah sebelumnya, rumah keluarga Azlan bahkan Azlan sendiri yang tega mengusir istri dan anaknya.
"Zaura kita berangkat ke sekolahnya jalan kaki nggak apa-apa ya Sayang, sekalian olahraga pagi." Dengan senyuman tulusnya yang seakan tidak terjadi apa-apa, Filzah mencoba memberikan pengertian kepada putrinya.
Berbeda dengan Filzah, Zaura justru nampak lesu dan gurat kesedihan di wajahnya tidak dapat dipungkiri.
"Bunda, Yandah kenapa tega sih mengusir kita, Yandah sudah nggak sayang lagi ya sama kita?." Tanya Zaura dengan wajah cemberut.
Filzah meringis, ia tidak dapat menahan kesedihannya, namun sebisa mungkin ia menutupi semua itu dengan senyuman tulus di wajahnya.
Filzah duduk berlutut di hadapan Zaura. "Zaura, Yandah sayang kok sama kita, Yandah sayang sama Zaura."
"Tapi kenapa Yandah mengusir kita Bunda?"
"Karena, karena ini kesalahan Bunda, Sayang."
"Kesalahan Bunda?." Tanya Zaura tak mengerti.
Filzah mengangguk lirih. "Iya Sayang, Bunda minta maaf ya, gara-gara Bunda kita diusir sama Yandah."
"Memangnya Bunda salah apa?" Zaura kembali bertanya dengan raut wajah tak menduga.
Sejenak Filzah menghela napas. Ia masih berusaha untuk tetap tegar. Meskipun hatinya telah remuk tak berbentuk.
"Oma masuk rumah sakit gara-garaย Bunda, Bunda sudah lalai menjaga Oma, dan sekarang Oma sedang koma, itu semua gara-gara Bunda, Bunda yang salah." Akhirnya air mata yang menggenang di pelupuk matanya tumpah ruah hingga menetes berkali-kali seperti deraian air hujan yang deras.
Perlahan Zaura mengusap air mata di wajah Bundanya. Sesekali ia menggeleng pelan seakan tidak menyetujui akan pernyataan Bundanya.
"Bunda jangan menangis, Bunda nggak salah, Oma masuk rumah sakit itu bukan karena Bunda, tapi itu karena sudah takdirnya Oma masuk rumah sakit, Bunda kan selalu mengajarkan itu sama Zaura."
Filzah tertegun. Ia tidak menyangka putrinya akan mengatakan hal itu. Mengingatkannya tentang ketetapan Allah untuk semua kejadian yang telah berlaku di dunia ini, tak terkecuali dengan kejadian yang menimpa Hilyah.
"Maa syaa Allah, Zaura." Filzah tak kuasa menahan rasa haru sehingga langsung memeluk buah hatinya yang sholihah.
"Andai saja Mas Azlan juga berpikiran sama seperti Zaura, bahwa apa yang telah terjadi dengan Mama itu semua adalah takdir dari Allah, ketetapan dari Allah." Ucap Filzah dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
๐น๐น๐น
Zaura sudah berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya, di sampingnya ada Bundanya yang dengan senang hati mengantarnya ke sekolah pagi ini.
"Bunda, Zaura sekolah dulu ya, Bunda hati-hati di jalan, ingat lho Bunda di dalam perut Bunda ada Adik bayinya Zaura."
Filzah tersenyum seraya mengelus lembut perut buncitnya yang di dalamnya terdapat Adik bayinya Zaura.
"Iya Sayang, in syaa Allah Bunda akan berhati-hati, Zaura sekolahnya yang rajin ya Sayang, jangan lupa baca doa sebelum belajar." Giliran Filzah yang menasihati putrinya dalam menuntut ilmu.
Zaura mengangguk patuh. Kemudian ia mencium punggung tangan Bundanya. Dan Filzah mencium kening putrinya. Sebelum masuk ke dalam sekolahnya tak lupa Zaura mengucap salam, dan Filzah pun menjawab salamnya seraya melambaikan tangannya kepada Zaura yang sudah memasuki sekolahnya.
Drttt... drttt... drttt...
Handpone milik Filzah bergetar. Ia segera meraih benda pipih tersebut yang berada di dalam saku gamisnya. Terlihat nama "Ibu" tertera di layar handponenya.
Tanpa menunggu waktu lama Filzah segera mengangkat panggilannya. Uzmah yang sedang menelponnya.
"Hallo, assalaamu 'alaikum." Ucap salam Filzah membuka obrolannya.
"Wa'alaikumus salaam, Filzah kamu sedang di mana Nak?" Tanya Uzmah di seberang sana.
"Filzah sedang ada di depan sekolahnya Zaura, ada ya Ibu?"
"Filzah, alhamdulillah Ibu sama Bapak sekarang ada di Jakarta Nak, dan kami sekarang ada di stasiun Jakarta, Ibu minta tolong jemput kami ya Nak." Ucap Uzmah sembari menoleh sesaat ke arah Jasir di sebelahnya. Sementara Jasir memperhatikan kondisi sekitar stasiun yang sedang ramai oleh pengunjung.
"Maa syaa Allah, sekarang Ibu sama Bapak ada di Jakarta?, ya sudah kalau begitu sekarang Filzah akan ke stasiun, Ibu sama Bapak tunggu Filzah di sana ya." Filzah sumringah sekali mendengar kabar bahwa Nenek dan Kakeknya Zaura saat ini sudah menginjaki tanah Ibu kota,ย Jakarta.
__ADS_1
Usai sambungan teleponnya terputus, Filzah langsung bergegas mencari mobil angkutan umum untuk menuju stasiun kota, menjemput Uzmah dan Jasir yang datang ke Jakarta tanpa memberitahu Filzah terlebih dahulu.
Beberapa lama kemudian Filzah sudah sampai di stasiun kota, ia keluar dari mobil angkutan umum dengan hati-hati karena ia masih sadar diri bahwa saat ini ia sedang hamil.
Langkah Filzah terhenti usai melihat sepasang suami istri yang sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Assalaamu 'alaikum." Filzah berucap salam usai mencium punggung tangan Uzmah dan Jasir dengan bergantian.
"Wa 'alaikumus salaam, Filzah."
"Ibu sama Bapak sehat kan?, maa syaa Allah kaki Bapak sudah sembuh?, Bapak sudah bisa berjalan lagi?" Filzah mengamati kedua kaki Jasir yang sudah berdiri tegak tanpa bantuan apapun.
Jasir tersenyum penuh syukur. "Alhamdulillah iya Filzah kaki Bapak sudah sembuh, dan Bapak sudah bisa berjalan lagi."
"Alhamdulillah ya Allah, Filzah senang dengarnya."
"Filzah, kamu, kamu hamil Nak?" Tanya Uzmah ketika melihat ada perubahan di tubuh Filzah, lebih tepatnya di bagian perutnya yang mulai buncit.
Filzah ikut memandangi perutnya sendiri seraya mengelus lembut dengan senyuman yang merekah bagaikan bunga yang indah.
"Iya Bu, alhamdulillah sebentar lagi Ibu dan Bapak akan mempunyai cucu lagi." Ucap Filzah tak hentinya menampilkan seulas senyuman.
"Alhamdulillah, Ibu senang dengarnya."
"Alhamdulillah Bapak juga senang mendengar kabar bahagia ini."
Rasa bahagia kini menular kepada Jasir dan Uzmah. Mereka ikut antusias dengan kehamilan Filzah yang kedua ini, meskipun itu bukan cucu kandung mereka namun mereka akan menganggap sama seperti Zaura, cucu kandung mereka sendiri.
"Sudah berapa bulan usia kandungan kamu Nak?" Tanya Uzmah penasaran.
"Alhamdulillah sudah enam bulan Bu, doakan ya Bu semoga semuanya lancar sampai lahiran."
"Aamiin." Uzmah dan Jasir mengaminkannya.
"Filzah, Azlan suami kamu ke mana?, dia tidak ikut menjemput kami?" Jasir menanyakan keberadaan Azlan yang tidak ikut serta menjemputnya.
Filzah terdiam sejenak. Memori ingatannya kembali mengingat kejadian waktu lalu. Kejadian waktu ia diusir oleh Azlan dari rumahnya. Hatinya masih pilu bila mengingatnya.
Filzah pun tersadar. Namun tiba-tiba perasaannya kalut dan air matanya tidak bisa dibendung lagi. Filzah menangis sesegukan di hadapan Uzmah dan Jasir.
Uzmah terkejut dan langsung menenangkan Filzah di dalan pelukannya. Sejujurnya Filzah tidak ingin menumpahkan kesedihannya di hadapan Jasir dan Uzmah, tetapi entah mengapa tiba-tiba air matanya mengucur begitu saja, tak bisa dikontrol. Mungkin karena keadaannya yang sedang hamil sehingga suasana hatinya amat sensitif.
Melihat Filzah yang tiba-tiba menangis, Jasir merasa bersalah karena secara tidak langsung ia adalah penyebab air mata Ibu dari cucunya itu mengalir deras tiada terhenti.
"Filzah maafkan Bapak ya, Bapak nggak bermaksud membuat kamu jadi seperti ini, ceritakan kepada kami Nak, apa yang telah terjadi?, apa yang telah Azlan perbuat sampai kamu bersedih seperti ini."
Filzah hanya bisa menggelengkan kepala dengan pelan. Ia masih tidak bisa untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya karena kesedihan sudah menguasai suasana hatinya.
Jasir memahaminya. Ia tidak lagi bersuara. Uzmah juga mengisyaratkan kepadanya untuk memberikan waktu kepada Filzah. Setidaknya sampai Filzah benar-benar sudah kembali tenang.
Beberapa menit kemudian suasana hati Filzah sudah kembali pulih. Air matanya juga sudah mengering di wajahnya. Kini ia mendudukan dirinya di kursi taman yang tidak jauh dari stasiun begitu juga dengan Uzmah dan Jasir yang sedang duduk di hadapannya.
"Innalillahi wainna ilahi roojiuun, jadi sekarang Ibu Hilyah keadaannya sedang koma?, dan sekarangย terbaring di rumah sakit?" Uzmah amat terkejut mendengar kabar buruk dari Filzah.
Filzah hanya bisa mengangguk. Ia tidak ingin kembali menangis sehingga akan membuat Kakek dan Neneknya Zaura merisaukan dirinya.
"Dan karena kejadian yang menimpa Ibu Hilyah, kamu dan Zaura jadi diusir oleh Azlan, begitu Nak?" Tanya Jasir ikut sedih mendengarnya.
Lagi, Filzah mengangguk lirih. Kali ini air matanya kembali mengalir, namun secepat mungkin ia menghapusnya, tetapi Jasir dan Uzmah sudah lebih dulu menyaksikan luruhnya air matanya.
Uzmah bergeser tempat. Ia mendekati Filzah dan duduk di sampingnya. ia juga mengelus lembut punggung Filzah untuk menenangkannya.ย
"Yang sabar ya Nak, tidak usah dipikirkan, kamu harus menjaga kesehatan kamu, juga kesehatan bayi yang ada di dalam kandungan kamu."
"Tapi Bu, aku sedih karena disaat aku hamil seperti ini, Mas Azlan malah menjauhiku, aku butuh Mas Azlan di samping aku Ibu, buah hati kami merindukan belaian lembut dari Yandahnya."
Akhirnya air mata Filzah kembali menetes. Ia tidak sanggup lagi menahan kerindukan yang membuncah kepada suaminya padahal hanya beberapa hari ia tidak berada di samping suaminya tetapi rasa rindunya seakan-akan ingin membunuhnya, terlebih lagi saat ini ia sedang hamil, dan membutuhkan kasih sayang serta perhatian dari suaminya.
"Ini yang namanya ujian rumah tangga Nak, kini rumah tangga kalian sedang diuji, kamu yang sabar ya, luaskan hati kamu, in syaa Allah ujian ini akan segera berakhir." Tiada hentinya Uzmah mengingatkan Filzah yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri untuk bersabar dalam menghadapi ujian rumah tangga yang kini sedang menimpanya.
Filzah mengangguk pasrah. "In syaa Allah Bu, aku akan bersabar demi buah hati kami, demi anak kami yang masih berada di dalam kandunganku ini." Filzah mengelus lembut perutnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Jasir dan Uzmah tersenyum penuh syukur karena Filzah sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya serta sudah jauh lebih sabar menghadapi ujian rumah tangganya.
๐น๐น๐น
"Kakekkk, Nenekkk."
Zaura berteriak girang memanggil Kakek dan Neneknya yang kini sedang berdiri di hadapannya bersama Bundanya.
Filzah bersama Jasir dan Uzmah sengaja ke sekolahnya Zaura untuk menjemput Zaura. Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucu tersayang mereka yang selalu mereka rindukan.
"Alhamdulillah, Zaura senang sekali melihat Kakek dan Nenek ada di sini bersama Zaura, Zaura kangen sama Kakek dan Nenek." Ujar Zaura mengungkapkan kerindukannya kepada Jasir dan Uzmah.
"Kakek dan Nenek juga kangen sama Zaura, Zaura sehat kan Nak?"
"Alhamdulillah Zaura sehat Nenek, Nenek sehat kan?, Kakek juga sehat kan?" Pandangan Zaura beralih ke arah Jasir yang sedang tersenyum kearahnya.
"Kaki Kakek sudah sembuh ya?, sekarang Kakek sudah bisa berjalan lagi?" Tanya Zaura takjub melihat Jasir dapat berdiri dengan tegak.
Jasir mengelus lembut kepala Zaura. Sudah lama ia tidak mengelus kepala cucunya itu. "Iya Zaura cucu kesayangannya Kakek, alhamdulillah sekarang Kakek sudah bisa berjalan lagi, bahkan Kakek sudah bisa menggendong Zaura lagi."
"Alhamdulillah Zaura senang sekali dengarnya, oh iya Kakek dan Nenek akan tinggal di Jakarta bersama Zaura dan Bunda kan?, soalnya Zaura kesepian di rumah cuma bersama Bunda saja."
Perlahan Uzmah mengangguk, namun sebelumnya ia dan Jasir saling melempar pandangan satu sama lain.
"Iya Zaura, in syaa Allah mulai sekarang Kakek dan Nenek akan tinggal bersama Zaura dan Bunda di Jakarta."
"Horeee." Zaura bersorak riang bahkan ia berloncat-loncat kegirangan.
"Ibu serius akan tinggal di Jakarta?, dan nggak balik lagi ke Malang?" Tanya Filzah tak percaya.
Jasir tersenyum kemudian berucap "iya Nak, kami akan tinggal di Jakarta bersama kalian, kami tidak sanggup tinggal berjauhan bersama kalian, kamu tidak keberatan kan kalau kami tinggal bersama kalian?"
Filzah langsung menggeleng cepat. Wajahnya pun berseri-seri nampak bahagia. "Aku nggak keberatan kok Pak, Bu, justru aku senang sekali kalau Bapak dan Ibu tinggal bersama kami, seperti dulu lagi."
"Alhamdulillah, terima kasih Filzah."Ucap Jasir berterima kasih kepada Filzah.
"Iya Filzah terima kasih ya Nak." Uzmah ikut berterima kasih.
Filzah menggeleng. Ia tidak suka dengan ucapan terima kasih dari Jasir dan Uzmah.
"Bapak sama Ibu nggak usah berterima kasih sama aku, kita kan keluarga sudah seharusnya kita tinggal bersama."
"Iya Bunda benar, kalau keluarga itu harus tinggal bersama." Timpal Zaura menyetujui ucapan Filzah.
Jasir dan Uzmah tersenyum penuh syukur karena Filzah dan Zaura begitu bahagia mendengar kabar bahwa mereka akan kembali tinggal bersama, seperti dulu lagi. Karena bagi mereka kebahagiaan yang paling berharga adalah hidup bersama orang-orang yang disayanginya.
Begitupun dengan Filzah, tiada hentinya ia berucap syukur, meskipun saat ini ia tidak bisa tinggal bersama suaminya tetapi setidaknya ia tidak merasa kesepian lagi karena Jasir dan Uzmah akan tinggal bersamanya, menemani hari-harinya yang terasa berat sekali karena berjauhan dengan suami yang dicintainya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillahirobbil Aalaamiin
Part Cinta Istiqomah akhirnya bertambah satu
Yeayyyy
๐๐๐
Semoga kalian tetap suka dengan Cinta Istiqomah yaaaa
Dan semoga Cinta Istiqomah tetap menghasilkan manfaat untuk kalian semua yaaa
Aamiin Allahumma Aamiin
Selamat menunggu notip terbaru dari Ukhfiraaa
Tetap stay tune on Cinta Istiqomah yaaa
๐ค๐ค๐ค
__ADS_1
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh