Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 38. Terancam


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa


🌹🌹🌹


Satu Bulan Kemudian...


Bruggg


Azlan membuka pintu dengan cukup keras. Ia langsung masuk ke dalam ruang rawat inap. Seketika kedua pupil matanya melebar.


"Mama."


Azlan melihat Hilyah yang sedang terbaring di brankarnya, namun kedua matanya sudah terbuka bahkan menatap lekat ke arah Azlan.


"Azlan." Ucap lirih Hilyah memanggil Putranya.


"Mama sudah sadar?" Tanya Azlan tak percaya. Akhirnya setelah satu bulan lamanya terbaring koma, Hilyah sudah tersadar dan lolos dari maut.


Seorang Dokter yang baru selesai memeriksa keadaan Hilyah langsung tersenyum ke arah Azlan. "Alhamdulillah, ini keajaiban dari Allah, Ibu Hilyah sudah sadar dari komanya dan seluruh organ tubuhnya sudah kembali berfungsi dengan baik, tetapi Ibu Hilyah harus tetap istirahat yang banyak, untuk pemulihannya." Terang Dokter menjelaskan.


"Alhamdulillah terima kasih banyak Dokter." Jawab Azlan berterima kasih kepada Dokter yang telah menangani Mamanya.


"Kalau begitu kami permisi ya, mari Suster."


Dokter berserta Suster yang tadi memenuhi ruangan Hilyah kini telah meninggalkan ruangan itu karena tugas mereka untuk memeriksakan keadaan Hilyah telah selesai.


"Mama." Azlan sudah tidak sabar ingin merengkuh tubuh Hilyah yang cukup lama terbujur kaku di atas ranjang. Air mata bahagia tidak dapat ia sembunyikan lagi.


Begitu juga dengan Selin dan Ergin serta Grizelle yang sudah lebih dulu berada di ruangan Hilyah dirawat, mereka ikut bahagia karena Hilyah sudah sadar dari komanya.


"Oma." Grizelle ikut memeluk Omanya dengan suka cita.


"Kita senang melihat Mama sudah sadar, dan semoga Mama cepat sembuh, supaya bisa pulang lagi ke rumah, Mama pasti sudah kangen sama rumah, ya kan Ma?"


Hilyah mengangguk sembari tersenyum. "Iya Selin kamu benar, Mama sudah kangen sama suasana di rumah, memangnya Mama berada di rumah sakit ini sudah berapa lama ya?" Tanya Hilyah yang merasa seperti sudah lama sekali berada di rumah sakit.


"Mama sudah satu bulan di rumah sakit, dan Azlan kangen sekali sama Mama, Mama jangan sakit lagi ya Ma, Azlan nggak mau kehilangan Mama." Azlan masih saja menempel di tubuh Hilyah. Ia seakan enggan untuk berjauhan dengan perempuan yang ia cintai melebihi apapun di dunia ini.


Hilyah mengelus lengan Putranya berkali-kali. "Azlan, sudah nggak usah berlebihan, sekarang Mama kan sudah baik-baik saja, lagi pula kamu kok seperti anak kecil saja, malu sama anak kamu Zau-ra." Ucapan Hilyah terhenti. Ia menoleh ke arah sekitar dan ia tidak melihat keberadaan Zaura maupun Filzah, di mana mereka berada?, mengapa tidak berada di sekitarnya untuk menyambutnya yang baru saja tersadar dari koma?


"Lho Azlan, Zaura sama Filzah ke mana?, kok mereka nggak ada di sini?" Tanya Hilyah yang langsung dilanda kebingungan, pasalnya menantu dan cucunya Bungsunya tak tertangkap di pandangan matanya.


Seketika wajah Azlan berubah. Ia juga melepaskan diri dari pelukan nyaman dari tubuh Mamanya. Rasanya ia tidak berminat untuk membahas tentang Filzah dan Zaura lagi.


"Azlan, ke mana menantu dan cucu Mama?, kenapa mereka tidak ada di sini?" Hilyah mulai panik terlebih lagi Azlan tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Mama mereka sudah diusir sama Azlan dari rumah kita." Timpal Selin mewakilkan jawaban dari Azlan.


Hilyah terkejut bukan main. Ia mencoba bangkit dari posisi baringnya. "A-apa?!, Azlan benar kamu mengusir Filzah dan Zaura?"


Azlan mengangguk tanpa merasa bersalah. "Iya Ma, benar, aku mengusir mereka dari rumah, karena Filzah sudah menyebabkan Mama celaka bahkan sampai koma."


Hilyah menggeleng-geleng tak percaya. Ia teramat kecewa akan pernyataan yang diutarakan oleh Azlan tanpa rasa penyesalan sedikitpun.


"Astaghfirullah Azlan, kenapa kamu tega mengusir istri dan anak kamu, apalagi sekarang Filzah sedang hamil anak kamu, kamu benar-benar keterlaluan Azlan, Mama kecewa sama kamu."


"Ma, aku melakukan itu semua karena aku sayang sama Mama, aku benci sama orang yang sudah membuat Mama celaka, meskipun itu istriku sendiri." Kilatan mata Azlan menyambar-nyambar seperti kobaran api yang siap membakar apa saja yang berada di sekitarnya.


Hilyah sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dadanya sesak mendengar alasan Azlan yang sungguh tega mengusir istri dan anaknya sendiri.


"Istighfar Azlan, apa yang kamu lakukan itu nggak benar, Filzah nggak bersalah, dan kamu nggak berhak mengusir Filzah dan Zaura dari rumah Mama."


"Tapi Ma-"


"Cukup Azlan, sekarang Mama tanya sama kamu, di mana iman kamu Nak?, apa yang sudah terjadi sama Mama itu semua sudah takdir dari Allah, itu semua sudah menjadi takdir hidup Mama, bukan gara-gara Filzah."

__ADS_1


"Tapi kalau Filzah nggak teledor menjaga Mama, pasti Mama nggak akan sampai koma." Selin membuka suara. Ia tetap menyalahkan Filzah atas apa yang telah terjadi kepada Hilyah.


"Selin, Filzah nggak teledor menjaga Mama, justru Filzah begitu perhatian sama Mama, Mama masih ingat, waktu itu Mama sendiri yang berinisiatif untuk ke dapur mengambil air, Mama sengaja nggak meminta tolong Filzah, karena Mama nggak ingin Filzah sampai lelah gara-gara mengurusi Mama. Mama sampai jatuh dari tangga itu bukan kesalahan Filzah, tapi itu kesalahan Mama sendiri. Sekarang sudah cukup ya kalian menyalahkan menantu Mama, Filzah adalah menantu yang baik, Mama sayang sama Filzah."


Azlan sedikit terperanjat di tempatnya. Rasa bersalah sedikit demi sedikit mulai bermunculan di hatinya. Sementara Selin langsung mengunci mulutnya. Tidak bisa mencari alasan lagi untuk menyalahkan Filzah.


"Azlan sekarang Mama minta sama kamu, tolong kamu cari Filzah dan Zaura sampai ketemu, Mama ingin sekali bertemu dengan mereka, Mama nggak ingin sampai terjadi apa-apa dengan menantu dan cucu Mama, apalagi sekarang Filzah sedang hamil, hamil anak kamu Azlan. Cepat kamu cari mereka, kalau sampai terjadi apa-apa sama mereka, Mama nggak akan pernah mau memaafkan kamu!" Hilyah meluapkan rasa kecewanya kepada Putranya sendiri. Sungguh ia tidak menyangka Putranya tega sekali menelantarkan istri dan anaknya. Di mana hatinya?, di mana keimanannya selama ia terbaring koma?.


Azlan langsung bergerak cepat. Ia tidak membuang-buang waktu lagi dan langsung keluar dari ruangan itu untuk segera mencari istri dan anaknya. Sampai ketemu.


🌹🌹🌹


Filzah sedang duduk di teras rumah kontrakannya. Ia memandangi wajah Azlan yang terlihat tampan di layar handponenya. Air matanya pun mulai berjatuhan karena merasakan kerinduan yang begitu dalam di hatinya.


"Kanda, aku rindu sama Kanda, aku nggak bisa berjauh-jauhan terus seperti ini, sudah satu bulan kita nggak bertemu Kanda"


"Kanda, aku sudah nggak bisa menahan rindu ini sama Kanda, aku ingin dipeluk Kanda, bayi kita juga ingin dibelai sama Yandahnya"


"Kanda, jemput aku di sini, kita bersama-sama lagi seperti dulu."


Tangis Filzah semakin menjadi. Ia terisak dalam kerinduannya kepada suaminya. Ia teramat rindu akan pelukan hangat suaminya yang sudah tidak ia rasakan selama berpuluh-puluh hari belakangan ini.


Disaat ia masih menangis tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa menjalar di perutnya. Rasa sakit yang dahsyat seakan menghatam perutnya tanpa ampun.


"Astaghfirullah ya Allah perutku sakit sekali, ada apa ini ya Allah, selamatkanlah bayiku ya Allah."


Filzah semakin kesakitan. Rasa sakit yang mendera perutnya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia takut terjadi apa-apa dengan bayi yang berada dalam kandungannya.


"I-Ibu,,, Ba-Bapak,,," Filzah memanggil Uzmah dan Jasir untuk menolongnya dari rasa sakitnya.


Syukur sekali, Uzmah dan Jasir langsung bergerak cepat untuk keluar dari rumah setelah mendengar suara rintihan Filzah yang sedang memanggil-manggil mereka.


"Astaghfirullah Filzah kamu kenapa Nak?" Tanya Uzmah panik.


"Ibu, lihat itu ada darah, jangan-jangan Filzah pendaharan Bu." Ujar Jasir terkejut melihat darah segar keluar dari balik gamis yang Filzah kenakan.


"Bapak, tolong jemput Zaura di sekolahnya, ini sudah waktunya pulang sekolah." Dalam keadaan gawat dadurat seperti ini Filzah masih teringat akan putrinya yang masih berada di sekolahnya.


"Iya Filzah, Bapak akan menjemput Zaura, tapi Bapak telepon ambulans dulu ya, agar kamu segera dibawa ke rumah sakit."


Jasir bergerak cepat untuk menghubungi pihak ambulans agar segera membawa Filzah ke rumah sakit untuk segera ditangani.


"Ya Allah selamatkanlah bayiku, aku nggak ingin terjadi apa-apa dengan bayiku, biarkan aku saja yang terjadi apa-apa, tetapi jangan bayiku ya Allah, izinkan bayiku bisa terlahir ke dunia ini dengan selamat, aamiin Allahumma aamiin." Tutur Filzah dalam hati.


🌹🌹🌹


Sesampainya di rumah sakit Filzah langsung dibawa ke ruang operasi untuk segera ditangani karena Filzah sudah mengalami pendaharan yang hebat. Dokter dan para Suster sudah bersiap-siap mengambil tindakan untuk menyelamatkan dua nyawa yang sedang terancam. Tetapi sebelumnya mereka harus meminta pihak keluarga pasien untuk memberikan keputusan untuk dilakukannya tindakan operasi.


"Maaf Ibu, pasien harus segera di operasi untuk menyelamatkan nyawa ibu beserta bayinya, namun pihak keluarga harus menandatangi surat persetujuannya terlebih dahulu."


"Dokter tolong lakukan apapun yang terbaik untuk anak dan cucu saya Dok, tolong selamatkan mereka berdua, saya mohon Dok."


"Ini Ibu, tolong ditandatangani terlebih dahulu, agar kami segera mengambil tindakan untuk melakukan operasi kepada pasien karena keadaan pasien sudah sangat parah." Dokter menyerahkan sebuah map yang diberikan oleh Suster yang berdiri di sampingnya.


Awalnya Uzmah ragu untuk menandatangi surat persetujuan tersebut tetapi ia tidak punya waktu lagi untuk menunggu kedatangan Azlan yang lebih berhak untuk mengambil keputusan. Saat ini keselamatan Filzah dan bayinya adalah yang terpenting.


Akhirnya dengan mengucap basmallah, Uzmah membubuhkan tanda tangan di surat persetujan tersebut. Lalu menyerahkannya kepada Dokter. Dan Dokter pun menyerahkannya kepada Suster.


"Kalau begitu kami masuk dulu, tolong jangan berhenti untuk mendoakan keselamatan pasien ya Bu, karena saat ini pasien sangat membutuhkan doa dari orang-orang terdekatnya."


Uzmah mengangguk cepat. Ia akan selalu mendoakan keselamatan Filzah juga keselamatan bayi yang berada di dalam kandungannya.


"Ya Allah tolong selamatkan Filzah dan bayinya, izinkan mereka berdua selamat ya Allah. Aamiin."


"Assalaamu 'alaikum Ibu, bagaimana keadaan Filzah?, Dokter bilang apa Bu?"


Jasir datang dengan langkah yang terburu-buru. Ia pun menurunkan Zaura dari gendongannya.


"Wa 'alaikumus salaam, alhamdulillah Bapak sama Zaura sudah datang, tadi Dokter menyuruh Ibu mentandatangani surat persetujuan untuk melakukan operasi kepada Filzah, dan Dokter juga berpesan agar kita tidak berhenti untuk mendoakan kesalamatan Filzah dan bayinya."

__ADS_1


"Ya Allah, Zaura mohon selamatkanlah Bunda dan Adik bayi, izinkan Bunda dan Adik bayi sehat-sehat saja, Zaura sayang sama Bunda dan Adik bayi Ya Allah." Zaura mendoakan untuk keselamatan Bunda dan Adik bayinya yang saat ini nyawa mereka sedang terancam.


"Ibu, coba Ibu hubungi Nak Azlan, dia harus diberitahu tentang keadaan Filzah sama ini." Jasir teringat akan Azlan yang berhak diberitahu tentang keadaan Filzah saat ini.


Uzmah mengangguk patuh. Ia sangat setuju dengan saran dari suaminya untuk menghubungi Azlan. Syukur sekali Uzmah menyimpan nomor handpone Azlan sehingga ia dapat dengan mudah menghubungi Azlan.


Dring... dring... dring...


Handpone Azlan berdering. Ia menoleh sejenak ke arah handponenya kemudian ia menepikan mobilnya untuk mengangkat panggilan yang masuk ke handponenya.


"Ibu Uzmah?" Azlan sedikit bingung karena ia mendapatkan panggilan telepon dari Ibu Uzmah. Tidak seperti biasanya.


Untuk menghapus rasa kebingungannya, Azlan langsung mengangkat teleponnya.


"Hallo Assalaamu 'alaikum." Salam Azlan dengan lirih dan tenang.


"Wa 'alaikumus salaam, Alan ini Ibu, Ibu ingin memberitahu kalau, kalau saat ini Filzah masuk rumah sakit, dan sekarang Filzah sedang dioperasi oleh Dokter."


"Apa???!!!" Azlan terkejut bukan main. Handponenya pun terlepas dari genggamannya.


"Halo Alan?, Alan tolong secepatnya kamu ke rumah sakit ya, Filzah membutuhkan doa dari kamu, kami ada di rumah sakit pelita Ibu."


Azlan langsung menancapkan gasnya. Pikirannya langsung dipenuhi oleh Filzah. Ia ingin segera sampai di rumah sakit Pelita Ibu tepat istrinya ditangani untuk mengetahui kondisi terkini dari istri yang dicintainya.


"Filzah." Pekiknya lirih.


🌹🌹🌹


Dokter beserta para Suster sudah bersiap-siap untuk melaksanakan tugasnya di sebuah ruangan yang serba peralatan medis. Di brankar terdapat Filzah yang terbaring tak berdaya. Namun ia masih setengah sadar dan memandangi beberapa Dokter yang akan menolongnya dari bahaya yang mengancam nyawanya.


"Dok,,, Dokter." Panggil lirih Filzah kepada Dokter yang berada di dekatnya.


"Iya Ibu ada apa?"


"Dok-ter to-tolong selamatkan bayi sa-sa-ya Dok." Pinta Filzah dengan susah payah berucap.


Dokter mengangguk. "Ibu tenang saja, in syaa Allah kami akan menyelamatkan Ibu dan bayi Ibu, tapi saya mohon Ibu harus punya semangat yang tinggi untuk tetap bertahan hidup, karena keadaan Ibu saat ini sedang dalam keadaan bahaya."


"Dok-ter, kalau nan-tinya ter-jadi apa-apa, dan Dok-ter ha-nya bi-bisa me-nye-lamatkan sa-satu nya-wa sa-ja, to-long selamat-kan ba-yi sa-saya Dok, saya mo-mohon Dok."


Dokter tersentak mendengar keinginan Filzah yang tidak diduga olehnya. Para Suster ikut tersentak mendengarnya.


"Ibu yang tenang ya, in syaa Allah kami akan berusaha sekuat tenaga kami untuk menyelamatkan Ibu dan bayi Ibu." Ujar Dokter dengan penuh keseriusannya.


"Ya Allah jika memang ajalku sudah dekat, aku ikhlas,,, karena sesungguhnya semua yang berada di dunia ini pasti akan kembali kepadaMu, Tuhan yang Maha Pemilik dunia dan seisinya." Ucap Filzah dalam hati yang memasrahkan hidup dan matinya kepada pemilik dirinya, Allah subhanahu wata 'ala.


Tiba-tiba saja pandangan Filzah mulai mengabur. Dan kesadarannya pun perlahan-lahan mulai menghilang. Dokter yang melihatnya langsung bertindak cepat untuk segera memulai operasinya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Astaghfirullahal adzim nyawa Filzah sedang dalam bahaya


Keselamatan Filzah terancam


😩😩😩


Bantu doa ya Readers semoga Filzah dan bayinya dapat diselamatkan karena Azlan sudah mulai sadar akan kesalahannya dan ia ingin sekali bertemu dengan istri dan buah hatinya


Dari lubuk hatinya yang terdalam Azlan juga merindukan istrinya tercinta dan ia juga ingin membelai lembut buah hatinya tersayang


😔😔😔


Nantikan kelanjutan ceritanya dipart selanjutnya yaaa


Yang penasaran syekaly langsung pantengin terus cerita Cinta Istiqomah ini yaaa


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

__ADS_1


__ADS_2