
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
🌹🌹🌹
Mobil yang selalu dikendarai oleh Azlan mulai memasuki pekarangan rumahnya. Lalu terparkir dengan rapi di garasi rumah mewahnya.
"Horeee Yandah sudah pulang." Teriak Zaura dengan kegirangan.
Azlan baru saja turun dari mobilnya. Pandangannya tertuju kepada Zaura yang sedang berdiri di ambang pintu. Menyambutnya yang baru saja pulang dari kerja.
Zaura tidak sendirian, di sampingnya ada Filzah yang juga sedang menyambut kepulangan Azlan. Filzah juga mengulas senyuman kepada Azlan yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Assalaamu 'alaikum." Ucap Azlan memberi salam kepada istri dan putrinya.
"Wa 'alaikumus salaam." Filzah dan Zaura menjawab salamnya dengan beriringan.
Zaura mencium tangan Yandahnya dan Filzah juga mencium tangan suaminya. Azlan masih merasa asing karena ia belum terbiasa dengan hal itu tetapi ia mau membiasakannya demi Zaura. Apapun akan ia lakukan asal Zaura bahagia karena itulah tujuannya saat ini.
"Yandah ayo kita masuk ke dalam." Ajak Zaura sembari menggandeng tangan Azlan.
"Ayo Sayang." Balas Azlan menyetujuinya.
"Mas biar aku yang bawakan tasnya ya." Filzah menawarkan diri untuk membawakan tas yang sering Azlan bawa saat bekerja.
Azlan tercekat. Ia sedikit bingung lantaran Filzah menawarkan diri untuk membawakan tas miliknya.
"Yandah ayo kita masuk." Zaura sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam rumahnya.
Alhasil Azlan pun merelakan tasnya untuk dibawakan oleh Filzah dan ia masuk ke dalam rumahnya dengan digandeng Zaura. Dan Filzah menyusulnya di belakang.
Di dalam rumah mereka berpapasan dengan Hilyah tepatnya di ruang tengah.
"Zaura main sama Oma dulu ya, Yandah mau ke kamar dulu Sayang, Yandah mau mandi sama mau ganti baju dulu."
"Yahhh, Zaura mau mengerjakan tugas sama Yandah." Zaura memanyunkan bibirnya.
"Nanti Yandah akan temani Zaura mengerjakan tugas, tapi Yandah mandi dulu ya, Yandah sudah bau asyem nih." Azlan mengendus bau badannya sendiri dan ia merasakan kebauan dengan aroma semerbak keringat bercampur polusi yang berasal dari badannya.
Zaura terkekeh geli. Ia menertawakan Yandahnya yang katanya sedang bau badan karena baru pulang kerja.
"Kalau begitu Yandah mandi dulu ya, Zaura mau main sama Oma dulu."
"Ayo Zaura kita ke ruang tengah ya." Ajak Hilyah yang langsung dianggukkan kepala oleh Zaura.
Setelah Hilyah dan Zaura melenggang pergi menuju ruang tengah, Azlan dan Filzah pun menaiki anak tangga untuk menuju kamar mereka yang berada di lantai atas.
Sesampainya di kamar, Azlan langsung bergegas mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi namun sebelum itu ia sempat memperhatikan Filzah yang sedang menaruh tas kantornya ke tempatnya semula.
"Mas, aku ke dapur dulu ya." Ucap Filzah meminta izin kepada Azlan.
Azlan hanya mengangguk. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya sekaligus menyegarkannya dengan guyuran air hangat.
Selang beberapa menit kemudian Filzah sudah kembali ke kamarnya, ia kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh untuk dihidangkan kepada Azlan.
Kreggg
Pintu kamar terbuka. Azlan pun keluar dari kamar mandi sembari mengusap-usap kepalanya dengan handuk sementara tubuhnya dibaluti dengan jubah handuk miliknya.
Azlan merasa risih karena Filzah masih di kamarnya sementara ia akan berganti baju. Namun tidak mungkin Azlan mengusirnya.
"Mas aku sudah buatkan teh hangat untuk Mas, silakan diminum Mas."
Azlan mengangguk. Lalu ia menuju meja tempat di mana Filzah menaruh teh hangatnya.
__ADS_1
Azlan langsung segar dengan seduhan teh hangat yang hangat. Ia kembali fresh karena selesai mandi dan ditambah ia menyeruput teh hangat buatan Filzah.
"Mas ini aku sudah siapkan pakaian untuk Mas, tapi kalau Mas kurang suka Mas ganti saja ya." Filzah akan terus mencoba untuk menjadi istri yang baik bagi suaminya yaitu dengan ia melayani suaminya dengan baik, bahkan dari hal yang terkecil pun. Namun Filzah malah menjadi teringat akan moment dulu bersama suami pertamanya, Fahril. Filzah selalu menyiapkan apa saja untuk Fahril. Tetapi sesegera mungkin Filzah langsung tersadar dan ia langsung mengubur ingatannya dalam-dalam. Masa indah bersama Fahril sudah terlewati dan tidak bisa terulang kembali. Filzah sudah menikah lagi dan ia harus menerima takdirnya hidup bersama Azlan, suami keduanya.
Tanpa sepengetahuan Azlan rupanya Filzah sudah menyiapkan pakaian santai yang biasa Azlan pakai saat bersantai ria di rumah.
"Terima kasih." Azlan mengangguk sembari mengucapkan terima kasih atas kebaikan Filzah yang telah menyiapkan baju untuknya.
"Kalau begitu aku keluar dulu ya Mas, Mas segera berganti baju takutnya nanti Mas masuk angin."
Filzah perhatian sekali kepada Azlan. Ia mengkhawatirkan kesehatan Azlan jika tidak segera mengenakan pakaian yang telah disiapkan olehnya.
Azlan mengizinkan Filzah untuk keluar dari kamarnya. Entah ingin ke mana Azlan tidak menanyakannya. Yang terpenting dengan Filzah keluar dari kamarnya ia bisa segera berganti baju dan menemui Zaura yang pasti sudah menunggunya.
Namun seketika Azlan terdiam. Ia menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Filzah. Azlan masih teringat akan perlakuan baik Filzah kepadanya. Membawakan tas kantornya ke kamarnya setelah itu membuatkan teh untuknya bahkan menyiapkan pakaian yang akan dikenakan olehnya.
"Filzah bukan hanya menantu idaman, tapi..., dia juga istri yang baik, dia melayani aku sebagai suaminya dengan baik." Gumam Azlan dalam hati. Dan tanpa tersadar seulas senyuman terpatri di wajah berkarismanya.
🌹🌹🌹
"Yandah, lihat gambar Zaura bagus nggak?"
Zaura memperlihatkan hasil gambarnya kepada Azlan. Ia sedang mengerjakan tugas rumahnya dengan ditemani sekaligus dibantu oleh Azlan.
"Wah bagus sekali gambar kamu, Sayang." Azlan memuji hasil karya putrinya yang sedang menggambar 3 orang saling bergandengan tangan. Dapat dipastikan bahwa gambar tersebut ialah keluarga kecil mereka, Azlan, Zaura dan Filzah. Zaura ditengah-tengah Yandah dan Bundanya.
"Ini Yandah, ini Zaura dan ini Bunda." Zaura menjelaskan satu persatu gambar orang yang ia gambar sembari menyebutkan nama Yandah, dirinya dan Bundanya.
"Yandah, kita bergandengan tangan sampai ke syurga ya, Yandah mau kan menggandeng Zaura dan Bunda sampai ke syurga?"
Azlan tersentak. Ia terdiam usai mendengar permintaan mulia dari gadis kecil yang berada di hadapannya. Permintaan Zaura menggetarkan hatinya. Ia tidak menyangka gadis sekecil Zaura sudah berpikir sejauh itu. Azlan sampai tidak sanggup untuk berkata-kata. Kedua bola matanya malah berkaca-kaca.
"Yandah kok diam saja?, Yandah mau kan kita ke syurga sama-sama?" Zaura mengulang kembali keinginannya.
Perlahan Azlan mengangguk. Ia menyetujui keinginan mulia dari Zaura. Namun Azlan berat untuk menyetujuinya bukan karena apa namun ia sadar bahwa ia bukan hamba yang baik, ia beribadah kepada Allah hanya seingatnya saja belum dijadikan prioritasnya. Lalu bagaimana ia bisa membawa istri dan anaknya ke syurga. Azlan merasa ditampar sampai sadar oleh putrinya sendiri. Ia tersadar bahwa selama ini ia menjadi hamba yang biasa saja. Ibadahnya pun hanya sekadarnya saja lalu ia ingin membawa istri dan anaknya ke syurga?. Itu tidak akan bisa terjadi. Azlan meringis. Ia sadar diri bahwa jika ia hanya menjadi hamba yang biasa saja istri dan anaknya tidak akan bisa ia gandeng menuju syurga. Maka yang harus Azlan lakukan hanya berubah. Berubah menjadi lebih baik. Menjadi hamba terbaik.
"Yandah?" Karena Azlan terlalu lama diam Zaura kembali memanggilnya.
"Yandah kenapa? Yandah sedang memikirkan apa?" Tanya Zaura penasaran.
Azlan menggeleng. Meyakinkan sang putri bahwa ia sedang tidak memikirkan apa-apa.
Azlan ingin menjawab pertanyaan Zaura yang tadi namun ia urungkan karena ia melihat Filzah sedang berjalan ke arahnya dengan membawa sepiring buah apel yang sudah dikupas.
"Bunda." Zaura menyambut kedatangan Bundanya dengan riang.
"Zaura, Bunda bawa apel buah kesukaan Zaura, tapi Zaura sudah selesai belum pr-nya?"
Filzah mendudukkan dirinya tepat di samping Azlan agar ia lebih dekat dengan Zaura yang sedang duduk di bawa karpet di depan meja yang ia jadikan tempat untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya.
"Sudah Bunda, ini gambarnya Bunda, bagus kan Bunda?" Zaura menunjukkan hasil gambarnya kepada Bundanya. Dapat dipastikan Filzah akan memuji dengan manis hasil karya tangan putrinya.
"Maa syaa Allah bagus sekali Sayang, ya sudah ini dimakan dulu ya apelnya, Bunda suapin ya."
Zaura menganguk senang. Ia membuka mulutnya untuk menerima suapan sepotong apel kecil dari Bundanya.
"Enak Bunda." Sahut Zaura menikmati buah apel yang sudah memanjakan lidahnya.
"Alhamdulillah." Ucap syukur Filzah.
"Lho Yandah nggak disuapkan juga Bunda?" Zaura terheran-heran melihat Bunda dan Yandahnya saling terdiam padahal ekspetasi Zaura ialah Bundanya menyuapkan Yandahnya juga. Maka dari itu Zaura mengingatkan Bundanya akan hal itu.
Filzah kebingungan. Ia salah tingkah dalam diamnya. Sesekali ia menatap wajah suaminya namun saat mata mereka saling bertemu buru-buru Filzah menundukkan pandangannya. Mengubur salah tingkahnya agar tidak tampak di hadapan Azlan.
Awalnya Azlan juga ikut terdiam. Tetapi secepat mungkin ia bertindak. Ia langsung memasang topeng kearakrabannya bersama istrinya, Filzah, tentunya karena di hadapannya ada Zaura.
"Iya nih Bunda, kok Yandah nggak disuapkan juga, Yandah juga mau buah apelnya lho Bunda." Rengek Azlan layaknya anak kecil yang sedang bermanja ria dengan Ibunya.
__ADS_1
Seketika debaran jantung Filzah tidak beraturan. Salah tingkahnya juga kian terpampang dengan nyata.
"Bunda, a."
Azlan membuka mulutnya. Menyuruh Filzah untuk menyuapkan dirinya juga. Sama seperti yang dilakukan Filzah tadi kepada Zaura.Â
"Ayo Bunda suapkan Yandah juga dong." Zaura ikut meminta Bundanya untuk menyuapkan Yandahnya yang sudah membuka mulut selebar-lebarnya.
Perlahan Filzah mulai mengangkat tangannya. Bersiap-siap untuk menyuapkan sepotong kecil apel ke mulut suaminya. Namun pergerakan Filzah lambat sekali. Tetapi Azlan dengan sabar menunggunya.
Dan akhirnya Filzah berhasil menyuapkan sepotong apel kepada Azlan. Dan tanpa sengaja keduanya saling melempar tatapan satu sama lain. Seperti yang sudah-sudah kedunya hanya saling menatap tanpa ada satu kata yang terungkap.
"Hm." Zaura berdehem dengan centilnya. Kemudian ia terkekeh melihat Yandah dan Bundanya saling salah tingkah karena sudah ketangkap basah sedang tatap-tatapan di hadapannya.
"Em, sekarang giliran Yandah yang suapkan Bunda." Zaura menginstruksikan kepada Azlan agar menyuapkan Filzah juga.
Awalnya Azlan terkejut. Ia tidak menduga bahwa putrinya menyuruhnya bersikap romantis kepada Filzah. Entah dari mana Zaura mengetahuinya yang jelas cukup membuat Azlan seperti mendapatkan kejutan. Namun ini suatu hal baik karena secara tidak langsung jika mereka bersikap romantis seperti itu terus, hubungan antara dirinya dengan istrinya akan lebih baik dan bisa akrab seperti pasangan suami istri pada umumnya.
"Oke, sekarang giliran Yandah yang suapkan Bunda ya, ayo Bunda buka mulut, pesawat terbang penuh cinta akan meluncur."
Filzah sedikit tersenyum. Ia terhibur akan kata-kata lucu Azlan sebelum menyuapkan dirinya.
Akhirnya Azlan juga sudah berhasil menyuapkan sepotong apel kepada Filzah. Dan Zaura bertepuk tangan dengan ria melihat keromantisan Yandah dan Bundanya. Zaura begitu bahagia bila melihat Yandah dan Bundanya beromantis ria di depan matanya. Tentunya keromantisan yang masih dalam batas wajar.
Tanpa mereka sadari, adegan romantis nan manis yang disuguhkan oleh pasangan pengantin baru, yakni Azlan dan Filzah disaksikan juga oleh Hilyah yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai dua.
Senyuman manis terulas di wajahnya. Hilyah ikut terpapar virus kebahagiaan yang ditularkan oleh keluarga kecil putra bungsunya.
"Sejuk sekali ketika melihat keluarga kecil putra bungsuku yang terlihat harmonis. Alhamdulillah Azlan sudah menemukan kebahagiaannya, aku ikut bahagia melihatnya." Ucap syukur Hilyah dalam hatinya.
"Tetapi..."
Raut kebahagiaan di wajah Hilyah tiba-tiba meredup. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke lantai bawah. Melihat keluarga kecil putra pertamanya yang juga sedang berkumpul di ruang tengah. Namun mereka sibuk dengan alat canggihnya masing-masing. Istilahnya raga mereka sedang berkumpul bersama-sama namun jiwa mereka melayang ke mana-mana.
"Tetapi tidak dengan keluarga kecil putra sulungku, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, mereka tidak menggunakan waktu berkumpul dengan sebaik mungkin, mereka tidak menyadari bahwa berkumpul dan tertawa bersama orang-orang yang dicintai adalah suatu kebahagiaan yang harus disyukuri." Tutur Hilyah dalam hati yang menyayangkan kebersamaan Ergin, Selin dan Grizelle yang dilakukannya dengan sia-sia.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Selamat hari ahad para pejuang akad
Selamat siang para readers tersayang
🤗🤓🙈
Alhamdulillah Ukhfira dapat oret-oretan lagi di lapak ini
Dengan part ke 15
Bagaimana kesan dan pesannya di part 15 ini???
Semoga kalian suka
Dan semoga selalu ada selipan manfaat untuk kita semua
Aamiin Allahumma Aamiin
In syaa Allah kalau Ukhfira setiap hari Ukhfira akan update jika tidak ada pilar yang menghalang
🤓🤓🤓
Doakan ya semoga Ukhfira bisa menyapa kalian setiap hari dengan menyuguhkan part-part selanjutnya
🤗🤗🤗
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
__ADS_1
😎😎😎
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh