Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 29. Hadiah Terindah


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hari ini Filzah sudah tampak sehat kembali, meskipun sisa-sisa pening dan mual masih ada tetapi tidak separah kemarin. Dan Filzah bisa menjalankan kegiatannya seperti sedia kala, seperti saat ini ia sedang mengantarkan suami dan putrinya ke depan rumah.


"Dinda sungguh sudah nggak apa-apa?" Tanya Azlan memastikannya.


Filzah menarik kedua ujung sudut bibirnya ke atas. Ia berusaha meyakinkan suaminya bahwa ia sudah kembali sehat seperti sedia kala.


"Alhamdulillah aku sudah sehat kembali Kanda, Kanda nggak usah khawatir lagi, Kanda fokus saja bekerja, semangat mencari nafkah untuk keluarga kita."


Azlan nampak bernapas lega pasalnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa istrinya benar-benar sudah pulih bahkan wajahnya tidak sepucat kemarin.


"Alhamdulillah kalau begitu, sekarang aku sudah tenang dan siap untuk berangkat kerja."


"Aku juga sudah siap untuk berangkat sekolah." Sambung Zaura yang ikut masuk ke dalam percakapan kedua orang tuanya.


Azlan dan Filzah terkekeh. Pandangan mereka pun beralih ke arah Zaura. Zaura menampilkan senyuman terbaiknya untuk kedua orang tuanya.


"Aku berangkat dulu ya Dinda, assalaamu 'alaikum."


"Iya Kanda, hati-hati ya, wa 'alaikumus salaam."


"Assalaamu 'alaikum Bunda."


"Wa 'alaikumus salaam Sayang."


Filzah melambaikan tangannya sebagai bentuk perpisahan sementara kepada suami dan putrinya. Dan mobilnya pelan-pelan mulai menjauhi dan keluar dari pekarangan rumah. Usai memastikan bahwa suami dan putrinya sudah pergi, Filzah pun berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Filzah sudah sampai di dalam kamarnya. Ia menuju salah satu nakas di sebelah ranjangnya. Ia membukanya dan merogoh satu buah benda dengan bentuk persegi panjang yang dikemas rapi.


"Nggak ada salahnya aku mengecek." Ucapnya seraya mengangguk dan memegang lebih erat benda tersebut.


Tanpa berpikir panjang Filzah langsung menuju kamar mandi. Ia menutup rapat pintu kamar mandi usai memasukinya. Beberapa menit kemudian Filzah keluar dari kamar mandi dengan membawa benda tersebut yang sudah lepas dari kemasannya. Benda tersebut dapat terlihat jelas bahwa itu adalah alat pengecek kehamilan atau biasa disebut dengan tespack.


Jantung Filzah berdebar tidak karuan. Ia menggigit bibir bawahnya seraya memandangi alat tersebut yang belum menunjukkan hasil karena membutuhkan waktu beberapa menit lagi untuk dapat dilihat hasilnya.


"Aduh kok aku jadi dag dig dug ya." Tangan Filzah yang satunya memegangi dadanya yang merasakan jantungnya sedang berpacu cepat.ย 


Tangan Filzah bergetar tak kuasa memegangi alat tespacknya hingga akhirnya ia meletakkannya di atas laci.


"Dari pada aku dag dig dug menunggu hasilnya, lebih baik aku ambil air minum dulu, tenggorokanku jadi haus."ย ย 


Filzah meninggalkan alat tespacknya sejenak dan ia mulai keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum dan meneguknya di dapur. Beberapa saat kemudian Filzah kembali lagi ke dalam kamarnya. Ia masih memegangi dadanya. Langkahnya pun sedikit lamban.


"Bismillah, apapun hasilnya itu adalah takdir dari Allah, aku harus menerimanya." Filzah berucap kepada dirinya sendiri untuk menerima apapun hasil yang akan ditujukkan oleh benda pipih tersebut.


Dan kedua bola matanya sudah menangkap alat tespacknya kembali. Seketika Filzah terbelalak dibuatnya. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya seakan tidak percaya dengan hasil tespacknya.


Dua garis merah


Tanpa sadar mulutnya menganga begitu saja. Filzah langsung mengambil alat tespacknya dan mengamatinya dengan seksama.


"A-aku hamil?" Tanyanya tak percaya. Nyatanya dua garis merah menjadi bukti bahwa saat ini ia sedang mengandung buah cintanya dengan suaminya.


"Maa syaa Allah." Kedua matanya berkaca-kaca. Filzah tidak mampu berkata-kata lagi. Hanya kalimat pujian kepada Allah yang dapat ia ucapkan.


Beberapa detik kemudian senyuman manis tersungging di kedua bibirnya. Filzah memasang wajah bahagianya setelah tadi ia tutupi dengan ekspresi tak percaya.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Engkau telah mempercayai hamba untuk hamil kembali." Perlahan Filzah mengelus perutnya yang masih rata.


"Nak... kamu baik-baik di dalam sana ya, semoga kamu dapat bertahan di rahim Bunda sampai nanti waktunya tiba untuk kamu dilahirkan, aamiin."


Filzah memandangi perutnya dari balik gamis maroon yang ia kenakan. Tiada henti-hentinya ia bersyukur atas amanah yang kembali Allah percayakan kepadanya. Kini ia dapat mengetahui penyebab dari mual-mualnya kemarin yaitu karena ia sedang hamil, anak kedua.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Filzah mengikat sepasang tali celemek dibagian belakang tubuhnya. Kemudian ia merapikan celemek yang sudah menempel di bagian depan tubuhnya.


"Hari ini aku mau memasak makanan kesukaan Mas Azlan, dan nanti setelah dia pulang kerja aku akan memberikan kejutan sama dia." Filzah tersenyum seraya menyiapkan rencana membuat kejutan untuk suaminya nanti.


Keadaan rumah sedang sepi, Hilyah sedang berada di kedai dan Selin memang jarang ada di rumah sementara si gadi-gadis kecil, Zaura dan Grizelle usai pulang sekolah langsung ke kedai untuk menemani Oma mereka.


Filzah memanfaatkan waktu kesendiriannya di rumah untuk berkutat di dapur. Dan dengan keadaan rumah yang sepi ia dapat menjadi lebih fokus memasak. Untungnya ia sudah tidak terlalu mual-mual lagi sehingga pekerjaannya dapat berjalan dengan lancar tanpa ada drama-drama gejala Ibu hamil.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Langit mulai menggelap. Para gugus bintang memancarkan sinarnya. Filzah sedang tersenyum menanti kedatangan Pangeran penguasa hatinya.


Terlihat sebuah mobil mulai memasuki pekarangan rumahnya. Filzah semakin melebarkan senyumannya. Ia mengenali mobil tersebut, mobil itu milik suaminya.


Perlahan pintu mobil terbuka dan bersamaan dengan itu Azlan memunculkan dirinya. Ia membalas senyuman itu ketika sepasang matanya beradu pandang dengan sepasang mata indah milik istrinya.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam."


"Tumben Dinda sendirian, Zaura ke mana?" Tak biasanya Filzah menunggu dirinya seorang diri biasanya selalu bersama Zaura, namun malam ini putrinya tak menampakkan diri di hadapannya.ย 


"Zaura ada di dalam, dia sedang makan malam." Jawab Filzah santai.


"Lho, kok sudah makan malam duluan?, tumben nggak menunggu aku datang." Tanya Azlan heran.


"Nggak apa-apa Kanda, ya sudah ayo masuk, oh iya Kanda jangan langsung ke kamar ya."


"Lho kenapa Dinda?"


Filzah tidak menjawabnya, melainkan ia malah meraih lengan suaminya dan menggandengnya masuk ke dalam rumah.


"Kita kau ke mana Dinda?" Tanya Azlan penasaran.


Filzah hanya tersenyum. Ia terus saja menggandeng tangan suaminya tanpa ingin memberitahu tujuannya ke mana.


Kini Filzah sudah menghentikan langkahnya otomatis langkah Azlan ikut terhenti. Seketika kedua mata Azlan terbelalak. Ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali.


Azlan memandangi pemandangan taman di belakang rumahnya yang kini telah dirombak menjadi ruang makan outdoor yang dihiasi dengan lampuย taman yang berkilaukan cahaya.


Filzah telah menyiapkan semuanya. Ia sengaja menghias taman belakang menjadi tempat makan malam dirinya bersama suaminya. Inilah kejutan yang sejak tadi memenuhi otaknya.


Tidak berhenti disitu Filzah juga telah menyiapkan menu makan malam kesukaan Azlan. Kini sudah tersaji di meja makan yang berada di tengah-tengah taman.


"Ini, ini Dinda yang menyiapkan semuanya?" Tanya Azlan tak percaya.


Filzah mengangguk. "Iya Kanda, aku menyiapkan ini semua untuk Kanda, untuk makan malam kita berdua. Ayo kita duduk di sana Kanda." Filzah merangkul tangan suaminya lalu membawanya ke tempat duduk yang telah ia sediakan hanya untuk mereka berdua.


"Dalam rangka apa Dinda menyiapkan ini semua?, makan malam romantis di taman rumah." Tanya Azlan yang masih penasaran.


Filzah mengisi nasi beserta lauk pauk kesukaan suaminya di piring yang kemudian ia suguhkan untuk suaminya. Kemudian ia mengambil untuk dirinya sendiri.


"Dalam rangka, kejutan. Waktu itu Kanda kan juga memberikan kejutan makan malam romantis di restaurant mahal, sekarang giliran aku yang memberikan kejutan makan malam romantis di taman rumah. Bagaimana Kanda suka nggak?"


Azlan menggangguk cepat. Ia bukan hanya suka tetapi senang sekali karena diluar dugaannya diam-diam istrinya memberikan kejutan manis untuknya. Romantis sekali.


"Bukan hanya suka Dinda tapi langsung cinta." Ujar Azlan mengungkapkan isi hatinya usai mendapatkan kejutan yang tak terduga.


"Kalau begitu sekarang kita mulai ya makan malam romantisnya Kanda, aku sudah lapar nih."


"Ayo." Jawab Azlan bersemangat.


Secara bersamaan Azlan dan Filzah merapatkan kedua telapak tangannya. Berdoa sebelum memulai acara makan malamnya.


Azlan lahap sekali menyantapnya. Ia memakan habis semua makanan yang telah tersaji, namanya juga makanan kesukaan bahkan Azlan sampai tidak sadar bahwa makanannya sudah habis tak tersisa.


"Maa syaa Allah, Kanda lahap sekali makannya." Ucap Filzah yang riang gembira melihat masakannya sudah habis dan hanya piring-piring kotor yang tersisa.


Azlan menyengir kuda. Ia membersihkan mulutnya sehabis makan. Perutnya terasa penuh akan makanan. Namun ia sangat bahagia karena makanan kesukaannya terasa lebih enak karena buatan tangan istrinya sendiri.ย 


"Iya Dinda, makanannya enak sekali, pasti tadi Dinda masaknya pakai cinta, makanya makanannya bisa seenak ini." Puji Azlan bertubi-tubi. Ia bukannya ingin membuat istrinya melayang namun memang itu kenyatannya.

__ADS_1


Filzah tersenyum bahagia. Wajahnya langsung berseri-seri. Istri mana yang tidak senang tingkat bidadari jika masakannya dipuji oleh suaminya sendiri. Begitulah yang kini sedang Filzah rasakan. Ia merasa sedang melayang-layang di udara sampai menembus langit ke tujuh.


"Alhamdulillah kalau makanannya enak sekali. Oh iya aku juga punya hadiah untuk Kanda, sama seperti waktu itu, Kanda juga memberikan aku hadiah."


Filzah menyerahkan kotak kecil persegi panjang kepada suaminya. Inilah inti dari kejutannya malam ini. Ia berharap suaminya menyukai kejutan inti yang berada dibalik kotak persegi panjang yang kini sudah berada di tangannya.


"Ini apa Dinda?" Tanya Azlan mulai penasaran.


"Kanda buka saja."


Perlahan Azlan mulai membukanya. Pertama ia membuka pita yang melilit pada kotak itu. Kemudian ia membuka penutup kotaknya. Lalu ditemukan satu buah alat tespack di dalam kotak itu.


Awalnya Azlan kebingungan. Ia tidak mengerti maksud dari istrinya memberikannya satu buah alat tespack sebagai hadiah untuknya. Azlan pun mengambil alat tespacknya dan ia mengamatinya dengan seksama.


Dan seketika sepasang matanya membulat sempurna. Mulutnya ikut menganga tak percaya.


"Dua garis merah?" Tanya Azlan menatap istrinya.


Filzah mengangguk dan tersenyum. Kedua matanya pun berkaca-kaca.


"Selamat ya Kanda, sebentar lagi Kanda akan mempunyai anak, anak pertama kita."


Senyuman manis mulai menghiasi wajahnya. Azlan tidak dapat berkata-kata. Ia bahagia luar biasa. Rasa harus mulai menyergapnya.


"Dinda, kita, kita akan punya anak lagi?" Tanya Azlan masih tidak percaya.


Filzah kembali mengangguk. Ia membelai lembut wajah suaminya,ย  dengan senyuman yang kian merekah.


"Iya Kanda, di dalam rahim aku ada calon anak kita." Filzah memegang perutnya untuk memberitahu keberadaan buah hatinya kepada suaminya.


"Alhamdulillah ya Allah." Azlan berucap syukur kepada Allah, Tuhan yang telah berbaik hati menciptakan janin di dalam rahim istrinya, calon anaknya.


"Ini adalah hadiah terindah yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya, terima kasih Dinda, terima kasih." Azlan mengecup lembut punggung tangan istrinya.


"Ini hadiah terindah dari Allah, untuk kita berdua Kanda, untuk Zaura juga."


"Dan untuk keluarga kita." Sambung Azlan melengkapinya.


Tanpa berlama-lama lagi Azlan langsung membawa istrinya ke dalam pelukannya. Berkali-kali ia mencium puncak kepalanya.


Filzah tersenyum penuh syukur. Ia membalas pelukan suaminya dan membenamkan wajahnya di tempat ternyaman yang selalu membuatnya ketagihan, di dada bidang suami tercinta.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Assalaamu 'alaikum Warohamatullah Wabarokaatuh


Siapa nih yang sudah antuasias menunggu part ini???


Cungg


โ˜โ˜โ˜


Bagaimana komen kalian di part ini



Ikut senang mendengar kabar kehamilan Filzah


Ikut bahagia mendengar kabar kehamilan Filzah


Ikut baper seperti Ukhfira melihat Azlan & Filzah bahagia


๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚



Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers


๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

__ADS_1


__ADS_2