
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
๐น๐น๐น
Azlan menggandeng tangan kedua bidadarinya, Filzah dan Zaura. Kini mereka sudah memasuki pekarangan rumah keluarga besar Azlan. Tinggal satu langkah lagi mereka masuk ke dalam rumah mewah yang sudah beberapa hari mereka tinggalkan.
Tiba-tiba saja kaki Filzah terhenti. Ia mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah milik keluarga besar suaminya.
Azlan pun menyadarinya. Pandangannya langsung beralih ke arah Filzah. "Ada apa Dinda?, kenapa berhenti?." Tanya Azlan tak mengerti.
Filzah hanya menatap lekat sepasang bola mata milik Azlan. Ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Dinda jangan takut ya, percaya sama aku, aku kan sudah berjanji akan membahagiakan Dinda sama Zaura." Azlan seakan mengetahui isi hati Filzah. Ia pun meyakinkan Filzah agar tidak merasa ketakutan dan ragu untuk masuk ke dalam rumah mereka.
"Dinda, ayo kita masuk ya."
Akhirnya Filzah kembali melangkahkan kakinya. Beriringan dengan langkah kaki Azlan juga Zaura.
Kreggg
Pintu berukuran besar yang menjulang cukup tinggi berhasil dibuka oleh Azlan. Dan Azlan beserta Filzah juga Zaura mulai memasuki rumah itu. Rumah yang sudah menjadi tempat tinggal mereka.
"Assalamu 'alaikum." Azlan berucap salam dengan lantang. Berbeda dengan Filzah yang berucap pelan sekali.
"Mama, Ma, Azlan pulang." Azlan sedikit berteriak agar bisa sampai ke telinga Hilyah.
Beberapa detik kemudian akhirnya Hilyah keluar dan langsung disusul oleh Ergin, Selin dan Grizelle. Kini semua mata tertuju kepada Filzah.
Filzah tidak berani mengangkat wajahnya sehingga ia memilih menundukkan wajahnya agar tidak berhadapan langsung dengan tatapan-tatapan tajam yang siap menerkamnya.
"Azlan kamu sudah pulang." Hilyah menyambut Azlan dengan senyuman bahagianya, namun saat menoleh ke arah Filzah ia memudarkan senyumannya itu.
"Iya Ma, alhamdulillah, Azlan, Filzah dan Zaura sudah kembali lagi ke rumah ini. Filzah bawa oleh-oleh buat Mama lho. Dinda, oleh-oleh buat Mama mana Sayang?"
Dengan ragu Filzah menyerahkan bingkisan serba buah apel yang ia bawa sebagai bentuk buah tangan untuk Mama mertuanya.
"Ini oleh-oleh untuk Mama."
Hilyah pun menerimanya dengan setengah hati. Ia masih menyimpan kekesalan kepada Filzah atas kejadian beberapa hari yang lalu.
"Cari muka banget." Gerutu Selin secara terang-terangan.
"Mama, ada yang ingin aku bicarakan sama Mama, tapi aku mau antar Filzah dan Zaura ke kamar dulu ya Ma."
Hilyah hanya mengangguk. Entah apa yang ingin putranya itu bicarakan kepadanya. Yang jelas Hilyah akan setia mendengarkan apapun yang ingin putra bungsunya itu sampaikan kepadanya.
"Dinda, Zaura ayo kita ke kamar." Ajak Azlan kepada Filzah dan Zaura.
"Mama, Selin minta sama Mama, Mama nggak usah bersikap baik sama perempuan kampungan itu, Mama masih ingat kan sama apa yang sudah menimpa Grizelle cucu kesayangan Mama, perempuan kampungan itu orang yang jahat, dia bersembunyi dibalik wajah polosnya, jadi Mama nggak usah percaya lagi sama dia." Ujar Selin berapi-api
"Iya Ma, apa yang Selin katakan benar, Grizelle hampir mati gara-gara dia, masih untung kita nggak laporkan dia ke polisi." Sambung Ergin yang ikut mau meledak menahan amarah.
"Iya-iya kalian tenang saja, Mama tahu harus bersikap seperti apa sama Filzah, yang jelas dia sudah membuat Mama kecewa."
Selin dan Ergin saling tersenyum licik. Mereka seakan puas karena Hilyah benar-benar membenci menantu bungsunya, Filzah.
"Ya sudah, lebih baik kalian berangkat saja ke kedai, ini sudah mau siang, urusan Filzah biar Mama yang atur."
"Oke Ma, kita berangkat ke kedai dulu ya, ayo Daddy."
"Ayo Grizelle."
Setelah kepergian keluarga kecil putra sulung Hilyah, tak berapa lama putra bungsunya datang menemuinya.
"Mama, kita duduk dulu ya." Azlan mengajak Hilyah untuk duduk di sofa ruang tengah.
"Kamu mau bicara apa Azlan?." Hilyah sudah tidak sabar ingin mendengar pembicaraan Azlan yang sepertinya penting sekali.
"Ma, Mama masih ingat sama Fahril?, Fahril sahabat aku waktu SMA dulu."
"Fahril?" Hilyah mencoba mengingat-ingat nama serta kenangan di masa lalu yang menyangkut tentang Fahril, sahabat lama dari putra bungsunya.
"Iya, Mama ingat, sekarang Mama ingat sama Fahril, Fahril sahabat kamu yang orangnya sabar itu kan?, yang dari Malang?"
"Iya Ma, benar sekali."
"Terus ada apa dengan Fahril?." Tanya Hilyah tak mengerti.
"Alhamdulillah waktu di Malang aku bertemu dengan kedua orang tuanya Fahril Ma, dan aku juga bertemu dengan Fahril." Tiba-tiba kedua mata Azlan berkaca-kaca diakhir ucapannya.
"Alhamdulillah kalau kalian sudah bertemu lagi, terus sekarang Fahril masih di Malang?"
Azlan menggeleng. "Fahril sudah nggak ada di Malang Ma."
__ADS_1
"Terus Fahril sekarang di mana?"
"Fahril sudah meninggal Ma." Air mata Azlan berhasil lolos dan terjatuh di punggung tangannya.
Hilyah sangat terkejut. Tubuhnya bergetar hebat. Dadanya terasa sesak mendengar kabar duka itu.
"Inna lillahi wa inna ilaihi roojiun, Fahril sudah meninggal?, kapan Fahril yang meninggal Azlan?."
"Fahril sudah meninggal tujuh tahun yang lalu Ma. Dan ada satu hal yang sangat mengejutkan sekali Ma, awalnya aku juga kaget dan sempat nggak percaya."
"Apa itu Azlan?." Tanya Hilyah yang sudah sangat penasaran ingin mendengarkan kelanjutan pembicaraan Azlan.
"Ternyata Fahril adalah...suaminya Filzah Ma, Ayahnya Zaura."
Untuk yang kedua kalinya Hilyah terkejut bahkan lebih terkejut dari sebelumnya. Bahkan kedua matanya sampai terbelalak. Mengekspresikan keterkejutannya yang berlebih.
"Jadi, Filzah itu istrinya Fahril?, dan Zaura anaknya Fahril?"
Azlan mengangguk yakin. "Iya Ma, Filzah adalah istrinya Fahril dan Zaura adalah anaknya Fahril. Aku juga nggak menyangka, tapi memang itu kenyataannya. Sekarang setelah aku tahu siapa Filzah dan Zaura sebenarnya, aku akan berusaha untuk membahagiakan mereka, karena mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Fahril, sahabat aku sendiri."
"Mama benar-benar nggak menyangka kalau kamu akan bertemu dengan istri dan anaknya sahabat kamu, bahkan sekarang mereka menjadi bagian dari anggota keluarga kita."
"Ma, Mama masih ingat kan kalau Fahril itu orang baik, orang yang sabar, bahkan dulu dia begitu baik sama aku, sama Mama juga."
Hilyah setuju akan ucapan Azlan akan kebaikan Fahril semasa hidupnya dulu.
"Iya, Mama masih ingat sama kebaikan Fahril dulu, dia itu orang baik, sangat baik."
"Aku minta sama Mama, tolong Mama bersikap baik sama Filzah dan Zaura ya Ma, hitung-hitung untuk membalas kebaikan Fahril dulu sama kita."
"Tapi Azlan-" Hilyah keberatan dengan permintaan Azlan yang satu itu.
"Ma, sudahlah Mama lupakan apa yang sudah terjadi beberapa hari yang lalu, lagi pula Grizelle kan sudah sembuh dan sehat seperti sedia kala, dan Filzah juga sudah meminta maaf sampai bersujud di kaki Selin, itu sudah cukup Ma untuk menebus kesalahan Filzah."
"Iya sih kamu benar, tapi nggak semudah itu Azlan, Mama takut Filzah akan mengulangi kesalahannya lagi."
"Ma, Filzah itu orang yang baik, Mama harus percaya sama aku, aku yakin Filzah nggak akan mengulangi kesalahannya lagi. Dan Filzah adalah istri yang baik, aku sudah bisa membuka hati aku untuk Filzah karena Filzah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik, hati aku terketuk untuk menerimanya bahkan aku akan berusaha untuk mencintainya."
Hilyah terdiam sejenak. Ia menimbang kata demi kata yang terlontar dari mulut Azlan. Tentang Filzah.
"Baik kalau memang Filzah orang yang baik dan dia sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik, maka tidak ada alasan untuk Mama tidak memaafkan Filzah. Kesalahan Filzah sudah termaafkan, dan Mama akan mencoba untuk bersikap baik lagi sama dia."
"Alhamdulillah terima kasih Ma. Nah ini baru Mamanya Azlan, mudah memaafkan dan tidak menyimpan dendam, dan satu lagi sayang sama menantunya."
"Iya dong."
๐น๐น๐น
Di dalam kamar Filzah merasa tidak tenang. Ia masih kepikiran dengan tatapan tajam dari Hilyah, Selin dan Ergin. Mereka bertiga masih menyimpan amarah kepada dirinya. Ingin rasanya Filzah kembali ke Malang saja. Hidup dengan tenang dan damai bersama Jasir dan Uzmah.
"Ya Allah, ternyata Mama, Mbak Selin dan Mas Ergin masih marah sama aku, mereka belum bisa memaafkan aku. Ya Allah berilah hambaMu ini kesabaran yang berlipat-lipat agar hamba bisa menghadapi ujian dariMu yang belum kunjung selesai." Ucap Filzah dari lubuk hati yang terdalam.
Kreggg
Terdengar suara pintu terbuka. Pandangan Filzah langsung ke arah pintu kamarnya. Dan Azlan mulai memasuki kamarnya.
"Lho Dinda ada apa?, kok kelihatannya Dinda sedang memikirkan sesuatu, ada apa Dinda?, ayo cerita sama aku." Azlan seakan bisa menebak keadaan Filzah yang memang sedang kepikiran akan sesuatu hal.
Filzah menggeleng pelan. Ia masih belum bisa terbuka dengan Azlan, meskipun Azlan adalah suaminya sendiri.
Azlan yakin sekali bahwa istrinya memang sedang kepikiran akan sesuatu hal.
"Dinda, aku ini suami kamu, jadi kalau ada apa-apa cerita sama aku, jangan dipendam sendiri ya."
"Kanda, sebenarnya..."
Akhirnya Azlan berhasil membuat Filzah secara perlahan mulai mengeluarkan isi hatinya.
"Iya teruskan Dinda, sebenarnya ada apa?"
"Sebenarnya aku, aku masih nggak enak sama Mama, Mbak Selin dan Mas Ergin. Sepertinya mereka masih belum bisa memaafkan aku Kanda."
Azlan tersenyum tenang. "Dinda, mungkin itu hanya perasaan Dinda saja, kejadian itu kan sudah berlalu, mana mungkin Mama sama yang lainnya masih belum memaafkan Dinda."
"Tapi aku bisa merasakannya Kanda, tadi itu mereka menatap aku..., tatapan mereka itu seperti tatapan marah."
Azlan kembali tersenyum tenang. "Dinda, sudah ya ini hanya perasaan Dinda saja, ingat ya, Dinda nggak boleh suudzon seperti ini. Dinda itu harus banyak-banyak berhusnudzon, ya."
Seketika Filzah langsung beristighfar. Ia menyesali sikapnya yang sejak tadi suudzon. Untung saja Azlan sebagai suaminya dengan sigap mengingatkannya jika tidak Filzah akan terus menerus bersuudzon dan syeitan pasti akan tertawa karena sudah berhasil menyeretnya ke lembah dosa. Nauzdubillah.
"Kanda, terima kasih sudah mengingatkan aku, aku khilaf Kanda. Ya Allah sejak tadi aku sudah bersuudzon."
"Iya Dinda, nggak apa-apa, tapi sekarang Dinda sudah nggak bersuudzon lagi kan?"
Perlahan Filzah menganggukkan kepalanya. Ia sudah tidak bersuudzon lagi dan itu berkat Azlan yang secepat mungkin mengingatkannya.
"Alhamdulillah, ya sudah sekarang aku mau mandi dulu ya Dinda, sudah banjir keringat nih."
__ADS_1
Azlan pun bergegas menuju kamar mandi dan memasukinya. Namun beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Azlan memunculkan separuh badannya yang sudah bertelanjang dan basah.
"Dinda."
Filzah menoleh ke arah kamar mandi karena Azlan sedang memanggilnya.
"Iya Kanda." Ujar Filzah sembari melangkah menghampiri Azlan.
Filzah sedikit gugup ketika tidak sengaja ia melihat suaminya dalam keadaan setengah tubuhnya keatas sudah bertelanjang. Meskipun Azlan bersembunyi dibalik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka namun Filzah masih bisa melihatnya.
"Dinda, shamponya habis, tolong ambilkan di laci dekat lemari pakaian kita ya." Azlan menyengir kuda. Ia lupa mengecek perlengkapan alat mandinya sebelum benar-benar sekujur tubuhnya diguyur oleh air.
"Oh, iya Kanda, kalau begitu aku ambil dulu ya."
Dengan sigap Filzah langsung mengambilkan shampo di tempat yang diberitahu oleh Azlan. Setelah mengambil shampo yang dimaksud akhirnya Filzah kembali lagi menghampiri Azlan untuk menyerahkan shampo itu.
"Ini Kanda shamponya." Ucap Filzah menyerahkan shamponya.
Azlan pun meraihnya. Namun yang ia raih bukan shamponya melainkan tangan Filzah. Kedua pasang bola mata mereka pun akhirnya saling bertemu. Cukup lama hingga akhirnya Filzah tersadar lebih dulu dan segera menyerahkan shamponya tepat di tangan Azlan.
Azlan tersenyum geli melihat tingkah lucu istrinya yang sedang gugup dan malah salah tingkah padahal sama suaminya sendiri.
"Kanda lanjutkan saja mandinya ya, aku mau menyiapkan baju ganti untuk Yandah dulu."
"Tunggu Dinda." Azlan kembali meraih pergelangan tangan Filzah.
"Mau mandi bersama?" Ajak Azlan sedikit ragu namun sudah terlanjur keluar dari mulutnya.
Seketika Filzah langsung terkejut. Ia terperanjat di tempat. jantungnya berdebar tidak teratur. Perlahan keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.
"Mandi bersama itu sunnah kan Dinda?"
Perlahan Filzah mengangguk. Ia tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipinya akibat menahan rasa malu yang membuncah.
"Ya sudah kalau Dinda belum siap, mandi bersamanya lain waktu saja ya." Azlan menggaruk kepalanya yang tidak gatal namun itu bentuk peralihan kesalahtingkahannya saat ini.ย
"Kanda."
"Iya?" Azlan menunggu ucapan Filzah selanjutnya.
Filzah tidak kunjung melanjutkan ucapannya. Ia malah tertunduk malu. Azlan yang memergokinya malah terkekeh. Ia seakan dapat membaca isyarat tubuh yang ditampilkan oleh istrinya.
"Dinda mau mandi bersama Kanda?" Ujar Azlan kembali menanyakan dengan nada ajakan.
Perlahan tapi pasti akhirnya Filzah menganggukkan kepalanya pertanda ia menerima ajakan Azlan untuk mandi bersamanya.
Azlan langsung tersenyum penuh kebahagiaan yang tiada tara. Dalam hatinya ia bersorak kegirangan. Ajakannya yang tadinya hanya sebuah ajakan belaka saja nyatanya diterima dengan suka cita oleh Filzah, sang istri.
"Ya sudah ayo masuk Dinda."
Azlan pun meraih tangan Filzah. Menariknya dengan lembut sekali. Perlahan Filzah pun mulai masuk ke dalam kamar mandi. Menyusul suaminya yang sudah masuk lebih dulu. Dan pintu kamar mandinya pun tertutup rapat. Beberapa menit kemudian guyuran air mulai terdenger. Itu artinya mereka benar-benar melakukan kegiatan mandi bersama. seperti yang disunnahkan oleh Rasulullah.
Ibnu Abbas berkata,
ุนููู ุงุจูู ุนูุจููุงุณู : ุฃูููู ุงููููุจููู ุตููููู ุงููู ุนููููููู ูู ุณููููู ู ููู ูููู ูููููุฉู ููุงููุง ููุบูุชูุณูููุงูู ู ููู ุฅูููุงุกู ููุงุญูุฏู
"Sesungguhnya Nabi Shallallahu โalaihi wa Sallam dan Maimunah keduanya pernah mandi bersama dalam suatu wadah yang sama" (HR. Bukhari no. 250, Muslim no. 322.)
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Mana nih yang senyam-senyum sendiri part ini???
๐ค๐ค๐ค
Btw semoga cerita cintanya Azlan & Filzah ini bukan hanya membuat kalian pada Baper tingkat dewa dewi tetapi semoga ada sepercik manfaat yang bisa menjadi amal jariyah untuk Ukhfira
Aamiin Allahumma Aamiin
๐๐๐
Karena sejujurnya Ukhfira meluangkan waktu untuk menyalurkan hobi menulis ini bukan hanya sekedar oret-oretan saja melainkan diniatkan untuk menabung amal jariyah kelak
Jika apa yang Ukhfira tulis ini benar-benar menghasilkan manfaat
๐ค๐ค๐ค
Yuk hayuk langsung scroll ke atas untuk baca part selanjutnya
๐๐๐
Eittt
Tapi kalau ada bacaan "anda berada diakhir cerita" berarti Ukhfira belum publish lagi
๐๐๐
__ADS_1
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh