
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
🤗🤗🤗
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.20 pagi. Filzah sudah selesai dengan rutinitas paginya. Dengan ditemani Zaura ia menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga besar suaminya. Namun baik Azlan maupun Hilyah belum kunjung memunculkan diri mereka di ruang makan. Grizelle belum pulang dari rumah sakit sehingga Selin dan Ergin menemani putri sematawayang mereka di rumah sakit.
Hilyah baru saja turun dari anak tangga. Suara tapak kakinya yang menuruni anak tangga terdengar sampai ke telinga Filzah. Namun Hilyah tidak kunjung menuju ruang makan sehingga Filzah bertanya-tanya dan akhirnya keluar dari ruang makan. Dan benar saja Hilyah memang tidak menuju ruang makan melainkan ia bergegas untuk keluar dari rumahnya dengan pakaian yang sudah rapi. Sepertinya ia akan ke rumah sakit untuk mengunjungi cucunya yang sejak kemarin di rawat karena alerginya sedang kambuh.
"Ma-Mama." Panggil Filzah dengan sedikit ragu.
Langkah Hilyah terhenti. Mendengar suara yang ia kenal membuatnya tidak sudi untuk menoleh ke arah pemilik suara tersebut.
Filzah mendekati Hilyah. Namun ia tidak berani menatap mata tajam Hilyah yang siap sedia menerkamnya.
"Ma-Mama, mau ke mana?"
"Mau ke rumah sakit." Jawab Hilyah tegas.
"Ma-Mama tidak sarapan dulu?, Filzah sudah membuatkan sarapan untuk Ma-Mama."
Hilyah langsung menoleh ke arah Filzah. Tatapan tajamnya mengisyaratkan bahwa amarahnya masih berkobar kepada Filzah.
"Saya nggak mau makan masakan kamu, dari pada saya masuk rumah sakit, lebih baik saya tidak makan sama sekali!"
Hilyah berlalu begitu saja. Meninggalkan Filzah yang kedua matanya sudah berkaca-kaca. Nama baik Filzah sudah buruk di hadapan Hilyah. Ia sudah tidak mempercayai Filzah yang dulu bersikap baik dan manis di hadapannya, namun ternyata kepolosannya adalah kedok untuk menutup sifat aslinya yang buruk.
"Astaghfirullahal adzim, ya Allah kuatkan hamba dalam menghadapi ujianMu ini, berilah hamba kesabaran yang tidak akan pernah ada habisnya, dan tunjukkanlah kebenaran yang sesungguhnya atas permasalahan ini. Aamiin." Tutur Filzah dalam hati.
Disaat Filzah ingin kembali ke ruang makan, ia sempat menoleh ke arah anak tangga paling atas. Ia melihat Azlan, suaminya mulai menuruni anak tangga. Secepat mungkin Filzah mengusap air matanya yang sempat mengalir karena sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia mencoba menutupi tabir kesedihannya dengan senyuman tulus yang terpancar di wajahnya.
Kini Azlan sudah sampai di lantai bawah. Ia juga sudah berada di hadapan Filzah. Sorot matanya begitu tajam sampai Filzah takut untuk menatapnya.
"M-Mas, sebelum Mas berangkat kerja, kita sarapan dulu ya Mas, Zaura juga sudah menunggu Mas di ruang makan." Filzah menampilkan senyuman terbaiknya.
Azlan menatapnya sekilas. Ia lebih memilih memandang pintu rumah yang terbuka lebar dari pada harus memandang wajah Filzah yang menurutnya penuh dengan kepalsuan.
"Aku harus ke kantor sekarang juga, kalian kalau mau sarapan, sarapan saja."
Sama halnya dengan Hilyah, sesuka hati Azlan meninggalkan Filzah yang belum selesai mengajaknya berbicara. Lagi-lagi Filzah hanya bisa bersabar dan bersabar karena hanya sabarlah kuncinya.
"Ya Allah, sakit sekali rasanya jika tidak dipercayai oleh orang-orang terdekat, terlebih lagi suami sendiri, bagaimana hubungan aku dan Mas Azlan bisa terjalin dengan baik jika saat ini ada masalah ditengah-tengah kami, dan Mas Azlan tidak mempercayaiku."
Filzah beristighfar dalam hati seraya mengelus dadanya untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak termakan bujuk rayuan setan untuk melapiaskan kesedihannya dengan amarahnya yang sia-sia.
"Bunda."
Filzah sedikit terkejut karena suara Zaura yang menyadarkan dirinya. Secepat mungkin ia membuang jauh-jauh rasa sedihnya. Menggantikannya dengan pancaran kebahagiaan walau hanya sebuah topeng belaka.
"Zaura."
"Bunda kok lama sekali, Bunda sedang apa di sini?, oh iya Yandah sama Oma mana Bunda?, Zaura sudah lapar nih." Zaura mengoceh sembari memegangi perutnya yang keroncongan karena sudah kelaparan.
"Zaura, maaf ya Bunda lama, ya sudah kalau begitu kita sarapan sama-sama ya."
"Tapi Yandah sama Oma kan belum keluar Bunda." Zaura masih menanyakan keberadaan Azlan dan Hilyah.
"Zaura, untuk hari ini kita sarapan berdua saja ya, soalnya Yandah sama Oma nggak bisa sarapan bersama kita, in syaa Allah besok kita sarapan bersama-sama lagi, ya."
Filzah mencoba memberikan pengertian sebaik-baiknya kepada Zaura agar Zaura tidak berpikiran yang macam-macam tentang Yandah dan Omanya yang sedang tidak baik hubungannya dengan Bundanya.
"Oke Bunda, ayo Bunda kita sarapan."
"Ayo Sayang."
Filzah dan Zaura bergandengan tangan menuju ruang makan. Disaat melihat senyuman bahagia terpancar di wajah polos Zaura seakan menghilangkan kesedihan yang sedang dahsyatnya Filzah rasakan.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Suara mesin mobil terdengar di luar rumah, Filzah langsung bergegas membuka pintu rumahnya. Ia sudah hafal dengan jadwal kepulangan suaminya dari kantor. Tepat pukul 20.00 malam. Filzah sedikit terkejut karena ada satu mobil lagi yang terparkir di samping mobil suaminya.
Azlan keluar dari mobilnya dan tak beberapa lama kemudian pemilik mobil di samping mobilnya juga keluar mereka adalah Hilyah, Ergin, Selin serta Grizelle yang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Filzah tersenyum bahagia melihat gadis kecil baru keluar dari mobil dan keadaannya sudah sehat seperti sedia kala.
"Alhamdulillah Grizelle sudah sehat kembali, aku lega melihatnya." Ucap Filzah dalam hati.
Kini anggota keluarga Azlan termasuk Azlan sudah sampai di hadapan Filzah. Senyuman Filzah masih terulas dengan setia namun tidak ada satu orang pun yang membalas senyuman tulusnya itu, tak terkecuali Azlan, suaminya.
"Ayo kita masuk ke dalam." Ajak Hilyah kepada semua anggota keluarganya namun tidak kepada Filzah.
Sebelum ikut masuk ke dalam Filzah tidak lupa untuk mencium tangan suaminya dengan hormat. Ia bahkan menawarkan diri untuk membawakan tas suaminya namun Azlan tidak menggubrisnya bahkan ia juga ikut masuk ke dalam rumahnya.
"Tunggu."
Sesampainya di dalam rumah Filzah menghentikan langkah semua anggota keluarganya yang hendak menuju kamar masing-masing. Dan tanpa sepengetahuan mereka, Zaura sedang berdiri di balik dinding usai turun dari anak tangga. Zaura memperhatikan dengan seksama apa yang sedang terjadi di ruang tamu.
"Grizelle, Tante Filzah minta maaf ya, Tante Filzah mengaku salah, Grizelle mau kan memaafkan Tante Filzah?"
Filzah sudah tidak bisa berdiam diri lagi. Perlakuan Azlan tadi kepadanya mengisyaratkan bahwa suaminya itu marah kepadanya karena masalah Grizelle yang masuk rumah sakit disebabkan alerginya yang kambuh dan semua orang menyalahkan dirinya. Dan Filzah tidak segan untuk meminta maaf kepada Grizelle meskipun itu bukan kesalahannya. Tetapi Filzah ingin masalahnya segera selesai dengan saat ini ia meminta maaf kepada Grizelle.
Cukup lama suasana hening. Grizelle juga tidak segera menjawabnya. ia malah menoleh ke arah Mommy dan Daddynya, seakan meminta pendapat atas jawaban yang akan ia berikan kepada Filzah.
"Enak saja kamu hanya meminta maaf, gara-gara kamu, anak aku hampir mati." Selin kesal setengah mati. Ia tidak terima karena Filzah hanya meminta maaf saja kepadanya. Selin menginginkan lebih dari itu.
"Saya minta maaf Mbak Selin, saya nggak sengaja-"
"Apa kamu bilang?, nggak sengaja?, hei perempuan kampungan, anak aku hampir mati, kamu tuh ya, argghh." Amarah Selin sudah di puncak. Hatinya mendidih usai mendengar jawaban Filzah yang katanya tidak sengaja membuat Grizelle masuk rumah sakit.
"Saya benar-benar tidak sengaja Mbak Selin, sekali lagi saya minta maaf, saya mengaku salah." Filzah berucap kata maaf lagi. Ia sudah tidak memikirkan harga dirinya. Yang ia pikirkan saat ini adalah suaminya. Filzah berharap semoga dengan ia meminta maaf kepada Grizelle, Azlan tidak marah kepada dirinya karena Allah pasti akan marah kepadanya jika Azlan yang berstatus sebagai suaminya sedang marah kepadanya.
"Oke, kita akan memaafkan kamu, tapi dengan syarat, kamu harus bersujud di kaki Grizelle, sebagai bentuk permintamaafan kamu."
Filzah terkejut. Ia tersentak tak menyangka atas syarat yang diajukan Selin kepada dirinya. Namun Filzah tidak ada pilihan lain, Azlan juga tidak ada reaksi sama sekali. Itu artinya Filzah harus menerima syarat dari Selin untuk bersujud di kaki Grizelle agar ia mendapatkan kata maaf dan masalahnya pun selesai.
Perlahan Filzah mulai melangkahkan kakinya. Ia menghampiri Grizelle lalu duduk berlutut. Dan ia membungkukkan tubuhnya. Zaura yang melihatnya sudah banjir air mata.
"Bunda."
"Bunda untuk apa bersujud di kaki Grizelle?, Bunda kan nggak bersalah, Yandah juga kenapa diam saja, kenapa Yandah nggak melarang Bunda, Bunda nggak boleh bersujud di hadapan Grizelle, cuma Allah yang boleh kita sujud."
"Mommy, Grizelle mau ke kamar." Grizelle merengek kepada Selin. Ia ingin segera menuju kamarnya. Otomatis Filzah tidak jadi sujud di kakinya.
"Sebentar ya Sayang, Tante Filzah mau bersujud dulu di kaki Grizelle."
Grizelle menggeleng berkali-kali. "Grizelle mau ke kamar Mommy, Grizelle capek."
"Ya sudah kalau begitu Grizelle ke kamar sama Oma ya, Mommy masih ada urusan sama Tante Filzah." Ujar Selin sembari melayangkan tatapan tajam ke arah Filzah.
"Ayo Grizelle kita ke kamar sama Oma ya." Hilyah mengajak cucu kesayangannya untuk ke kamarnya. Grizelle pun menurut saja untuk menuju kamarnya bersama Hilyah.
"Karena Grizelle harus istirahat, jadi kamu nggak usah bersujud di kaki Grizelle, tapi kamu harus bersujud di kaki aku."
Filzah kembali terkejut. Ia pikir Selin akan langsung memaafkannya dan melupakan syarat yang diajukan Selin kepadanya namun nyatanya Selin malah menggantikan posisi putrinya untuk Filzah bersujud di kakinya.
"Bunda jangan, Bunda nggak boleh bersujud di kaki Tante Selin." Zaura memohon dengan sangat agar Filzah tidak menuruti perintah Selin untuk bersujud di kakinya.
Filzah hanya bisa tersenyum pahit. Ia tidak punya pilihan lain. Ia menganggukkan kepala pertanda ia tidak apa-apa untuk menuruti perintah dari Selin.
Dan Filzah benar-benar bersujud di kaki Selin. Deraian air mata mengiringinya. Zaura pun demikian. Isak tangis Zaura semakin menjadi.Â
Selin tersenyum puas. Filzah menuruti perintahnya untuk bersujud di kakinya. Ia sudah puas melihat Filzah terlihat rendah di matanya. Selin pun berlalu meninggalkan Filzah disusul oleh Ergin yang ikut tersenyum puas.
"Bunda."
Zaura langsung memeluk Filzah dengan isak tangis yang tiada hentinya. Filzah hanya bisa mengelus puncak kepala Zaura untuk menenangkannya.
Sejujurnya hati Azlan terasa perih melihat pemandangan memilukan di hadapannya. Ingin sekali ia membawa Zaura ke dalam pelukannya namun ini bukan saatnya karena ia sadar setelah kejadian tadi pasti Zaura kecewa dan marah kepadanya karena telah membiarkan Filzah bersujud di kaki Selin.
Akhirnya Azlan meninggalkan Filzah dan Zaura yang saling mencurahkan kesedihannya. Azlan berat sekali untuk melangkahkan kakinya namun ia juga tidak kuat melihat Zaura menangis histeris dipelukan Filzah.
__ADS_1
"Bunda, kenapa semua orang di rumah ini jahat sama Bunda, Yandah juga jahat sama Bunda, Yandah membiarkan Bunda bersujud di kaki Tante Selin, padahal Bunda nggak bersalah, Zaura sayang sama Bunda, Zaura nggak mau melihat Bunda menangis." Zaura mengusap air mata Filzah yang terjatuh di pipinya. Filzah mencoba menutupi kesedihannya namun hatinya rapuh ketika melihat putrinya sudah bersimbah air mata. Ia tidak dapat menahan air matanya sehingga terjatuh begitu saja.
"Zaura, semua orang di rumah ini nggak jahat Sayang, Yandah juga nggak jahat, mereka hanya salah paham saja, Bunda nggak apa-apa kok, Bunda menangis karena melihat Zaura menangis seperti ini, Zaura jangan menangis lagi ya."
"Maaf Bunda, Zaura menangis karena Zaura sedih melihat Bunda disalahkan, padahal Bunda nggak bersalah, dan kenapa Bunda meminta maaf, seharusnya mereka yang meminta maaf sama Bunda karena sudah memfitnah Bunda."
Filzah mengulas senyuman. Ia mencoba menenangkan hati putrinya yang ikut terbawa perasaan.
"Zaura, Bunda nggak apa-apa kok Sayang, meskipun Bunda nggak bersalah tapi nggak apa-apa kalau Bunda meminta maaf duluan, dan alhamdulillah setelah Bunda meminta maaf sekarang masalahnya sudah selesai." Filzah mengulas senyuman leganya karena masalahnya sudah berakhir.
"Tapi Zaura nggak akan memaafkan Grizelle, dia sudah berbohong sampai Bunda disalahkan oleh semua orang, termasuk disalahkan sama Yandah." Zaura berdecak kesal.
"Zaura dengarkan Bunda, apa manfaatnya Zaura menyimpan dendam kepada Grizelle?"
Zaura berpikir sejenak. Dan akhirnya ia malah menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada manfaatnya Bunda, tapi Zaura kesal sama Grizelle."
"Sayang, kesalnya Zaura itu dari setan, Zaura mau berteman sama setan?"
Zaura menggeleng. Ia tidak ingin menjadi temannya setan, makhluk Allah yang terkutuk.
"Kalau Zaura nggak mau berteman sama setan, Zaura maafkan Grizelle ya, dan lupakan semua yang sudah terjadi."
"Ta-tapi Bunda."
"Zaura, Allah itu sayang sama hambanya yang mau memaafkan kesalahan orang lain, Zaura mau kan disayang Allah?"
Zaura mengangguk. "Iya Bunda, Zaura mau disayang sama Allah."
"Ya sudah kalau begitu Zaura harus memaafkan kesalahan Grizelle dan yang lainnya ya Sayang."
Perlahan Zaura menganggukkan kepalanya. Jika hal yang berkaitan dengan Allah, Tuhannya Zaura tidak akan berpikir-pikir lama. Zaura ingin menjadi hamba yang disayang oleh Allah maka dari itu Zaura harus memaafkan Grizelle dan yang lainnya yang sudah menuduh Bundanya bersalah atas kejadian yang menimpa Grizelle.
"Alhamdulillah, ini baru putri kesayangan Bunda, hatinya lembut dan pemaaf, sama seperti Tuhan kita, Allah yang maha pemaaf."
"Iya Bunda, Zaura sayang sama Bunda."
"Bunda juga sayang sama Zaura."
Zaura kembali ke dalam pelukan Filzah. Dengan senang hati Filzah membalas pelukan putrinya. Namun air mata kembali membasahi pipinya. Hatinya masih rapuh dan sejak tadi ia bersusah payah kuat di hadapan Zaura.
"Ya Allah kuatkan hamba dalam menghadapi semua ujianMu ini, sabarkan hamba diatas kesabaran yang tiada batasnya." Ucap Filzah dalam hati.
"Zaura memang sudah memaafkan Grizelle dan Yandah, tapi Zaura sedih karena Yandah nggak percaya sama Bunda, Yandah bukannya mendukung Bunda tapi Yandah malah ikut menyalahkan Bunda, Zaura kecewa sama Yandah, Zaura kecewa." Ujar Zaura membatin.
Zaura tidak dapat menyembunyikan rasa kecewa terdalamnya kepada Yandahnya yang sama sekali tidak mempercayai Bundanya bahkan membiarkan Bundanya bersujud kepada selain Allah.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Selamat malam rabu
Para pemburu rindu
Alhamdulillah Cinta Istiqomah kembali update part terbaru
🤗🤗🤗
Alhamdulillah Ukhfira kembali hadir menyapa kalian semua readers
Dengan part terbaru cinta istiqomah
Semoga kalian suka dan ada secarik manfaat yang bisa diambil ya
Aamiin Allahumma Aamiin
Doakan Ukhfira semoga bisa menyapa kalian di part-part selanjutnya ya
🤗🤗🤗
__ADS_1
Wassalamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh