Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 32. Berlebihan


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Astaghfirullahal adzim, Dinda."


Azlan terkejut setengah mati. Pasalnya ketika ia baru sampai di rumah usai pulang dari masjid ia mendapati istrinya sedang menyapu lantai di ruang tamu.


Aktivitas Filzah terhenti usai melihat kedatangan suaminya. Filzah sempat kebingungan dan tidak tahu maksud dari kalimat istighfar serta wajah panik suaminya.


"Kanda, datang-datang kok beristighfar, memangnya ada apa?" Tanya Filzah merasa aneh.


"Bagaimana aku nggak istighfar, itu kamu sedang apa Dinda?"


Filzah mengikuti arah ke mana tatapan suaminya, ke arah sapu yang ia pegang.


"Lho, aku sedang menyapu Kanda, memangnya ada yang salah ya?" Filzah tak mengerti dibuatnya.


Azlan menghela napas jengah. "Iya ada Dinda, Dinda itu kan sedang hamil, nggak boleh kerja yang berat-berat, sini sapunya." Tanpa meminta persetujuan Filzah, Azlan main mengambil alih alat sapunya dari genggaman tangan Filzah.


"Lho kok diambil Kanda?." Tanya Filzah mulai cemberut.


"Dinda nggak boleh. Enyapu lagi, ini pekerjaan berat, ingat dong Dinda sedang hamil, aku nggak mau terjadi apa-apa sama anak kita."


"Ya tapi tanggung Kanda, ini sudah mau selesai, lagi pula aku nggak merasa capek, menyapu juga bukan pekerjaan yang berat, Kanda tolong percaya ya aku akan menjaga anak kita yang masih di perut ini dengan baik."


Rasanya percuma Filzah menjelaskan panjang lebar, toh Azlan sepertinya tetap dengan pendiriannya, tidak berubah sama sekali.


"Sudah ya Dinda menurut saja apa kata aku." Ucap Azlan tegas.


Filzah semakin cemberut. Namun ia tidak berani untuk melawan, karena tugasnya sebagai seorang istri ialah menuruti perintah suami, selagi perintah itu baik dan tidak bertentangan dengan agama. Ya meskipun perintah kali ini bisa masuk kategori perintah yang berlebihan. Tapi tak apalah Filzah akan tetap patuh menurutinya.


"Ma, Mama." Teriak Azlan memanggil Hilyah.


Tak berapa lama Hilyah datang. Kedua matanya menyipit, ia menguap berkali-kali, rasa kantuk belum juga sirna meskipun matahari mulai menduduki singgasananya.


"Iya Azlan ada apa?." Tanya Hilyah lembut.


"Ma Azlan minta tolong sama Mama untuk melanjutkan Filzah menyapu, soalnya Filzah kan sedang hamil, dia nggak boleh kerja yang berat-berat." Titah Azlan dengan tidak mengurangi rasa hormatnya kepada perempuan yang telah mengandungnya selama sembilan bulan.


"Lho memangnya tadi Filzah menyapu?" Tanya Hilyah shock.


"Iya Ma tadi Filzah menyapu."


"Ya Allah Filzah kamu kenapa menyapu, kamu kan sedang hamil, ya sudah sini sapunya, biar Mama yang menyapu saja."


Filzah menyengir kuda. Ia layaknya anak kecil yang ketahuan sudah menumpahkan segelas susu.


"Ya sudah Ma kalau begitu Azlan sama Filzah ke kamar dulu ya."

__ADS_1


Hilyah mengangguk. "Iya, Filzah kamu nggak usah kerja yang berat-berat lagi ya, urusan rumah biar Mama saja yang tangani, Mama nggak mau kamu dan calon cucu Mama sampai terjadi apa-apa." Ujar Hilyah memperingatkan Filzah.


Nyatanya bukan hanya suaminya yang berlebihan menyikapi kehamilannya namun Mama mertuanya ikut berlebihan sampai tidak memperbolehkannya untuk menyentuh alat-alat rumah tangga yang biasanya selalu menemaninya setiap hari.


"Tuh Dinda bukan cuma aku yang nggak memperbolehkan Dinda untuk kerja yang berat-berat tapi Mama juga, ini semua demi kebaikan kamu dan calon anak kita, jadi kamu nggak usah badel ya."


Filzah menghela napas pelan. Ia hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Namun di sisi lain ia kasihan apabila melihat Hilyah mengurusi semua pekerjaan rumah terlebih saat ini di rumah mereka sudah tidak ada asisten rumah tangga karena dulu ia yang memecatnya dengan halus karena alasan ia bisa mengurusi semua pekerjaan rumah yang tidak begitu berat. Alhasil ketika saat ini sedang hamil Hilyah yang menggantikannya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Selin keluar dari kamarnya sambil memperbaiki riasan rambutnya yang rapi dan stylish. Ia melangkah menuju ruang makan untuk mengisi perutnya di pagi hari atau lebih dikenal dengan istilah sarapan.


"Lho, Mama." Pekik Selin terkejut.


Jantung Hilyah nyaris copot. Bagaimana tidak, Selin tiba-tiba datang dengan nada bicara yang keras seperti kilatan petir yang datang mendadak dan bersuara menggelegar.


"Astaghfirullah Selin, kamu mengagetkan Mama saja." Oceh Hilyah dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Lho kok Mama yang menyiapkan sarapan, memang si Filzah ke mana?" Tanya Selin sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Filzah kan sedang hamil, dia nggak boleh kerja yang berat-berat, jadi Mama yang menyiapkan sarapan." Papar Hilyah tanpa menatap wajah menantu sulungnya. Ia fokus menyiapkan menu sarapan karena sebentar lagi anggota keluarga yang lainnya akan segera datang juga.


"Halah manja banget, ini juga bukan kehamilannya yang pertama, dia kan sudah pernah hamil, jadi pasti sudah tahu bagaimana caranya menjaga dirinya dengan baik, atau dengan kehamilannya ini malah dijadikan sebagai alasan untuk dia bermalas-malasan." Tuduh Selin seenaknya.


Hilyah menggeleng pelan. Rasanya ia tidak berminat untuk beradu mulut dengan menantu sulungnya. Namun ia harus meluruskannya agar menantu bungsunya tidak dituduh yang bukan-bukan.


"Filzah bukan manja, tapi Mama yang menyuruhnya untuk bermanja ria dikehamilannya ini, lagi pula dulu waktu kamu hamil kan juga dimanja sama Ergin dan Mama, jadi sekarang Filzah juga dimanja sama Mama dan Azlan, wajar kan?!"


Selin memutar bola matanya jengah. Ia seakan tutup telinga. Tidak mau mendengar apapun alasannya, karena baginya Filzah selalu salah di matanya.


"Kalau begitu kenapa nggak Kak Selin saja yang bantu Mama untuk mengurusi pekerjaan rumah."


Tiba-tiba datang suara lain masuk ke dalam obrolan mereka. Suara itu milik Azlan yang kini sudah menginjakkan kaki di ruang makan beserta Filzah dan Zaura.


"Azlan." Pekik Selin malas.


"Tadi kamu bilang apa?, aku bantu Mama mengurusi pekerjaan rumah?" Ia tersenyum sinis. "Yang benar saja, kamu kan tahu sendiri dari dulu aku nggak pernah mengurusi pekerjaan rumah alias pekerjaan pembantu, jadi ya nggak mungkin lah sekarang aku mengurusi pekerjaan rumah, mending ke mall saja, belanja."


Azlan meneguk salivanya kasar. Ia benar-benar sudah muak atas perangai sok Tuan putri dari Kakak iparnya. Padahal dulu sebelun ia menikah dengan Abangnya, Ergin, Selin bukanlah orang berada alias orang kaya melainkan sebaliknya orang yang tak punya apa-apa. Selin pantas dijuluki sebagai kacang lupa kulitnya, ia lupa akan siapa jati dirinya di masa lalu.


"Memangnya kenapa kalau mengurusi pekerjaan rumah?, lagi pula dulu sebelum Kak Selin menikah dengan Abang Ergin, Kak Selin kan maaf bukan orang kaya, jadi sebelumnya pasti sudah pernah mengurusi pekerjaan rumah."


Pupil mata Selin membesar. Ia marah besar akan sindiran keras dari Azlan. Terlebih lagi Azlan mengatakannya di hadapan Filzah, sungguh Selin rasanya sudah tidak punya muka lagi saat ini.


"Ya-ya tapi itu kan dulu, sekarang aku sudah nggak pernah lagi mengurusi hal yang berhubungan dengan pekerjaan rumah." Ujar Selin sempat terbata-bata.


"Lagi pula ini semua gara-gara istri kamu yang sok-sokan mau mengurusi semua pekerjaan rumah pakai acara memecat Bibik Itha segala, seharusnya dia dong yang bertanggung jawab bukan Mama, ya paling tidak carikan Asisten rumah tangga bukan malah Mama yang dijadikan Asisten rumah tangga." Omel Selin tidak ada habis-habisnya menyudutkan Filzah.


Azlan sudah bersiap diri untuk kembali beradu mulut dengan Selin, namun Filzah berhasil menahannya.


"Kanda, sudah, jangan berdebat seperti ini, nggak baik." Ucap Filzah menasihati Azlan dengan halus agar tidak terdengar menggurui.


"Halah cari muka banget sih kamu Filzah, aku sudah muak melihat wajah kamu yang sok baik itu, sudahlah kamu nggak usah bersembunyi dibalik topeng, kamu keluarkan saja sifat aslimu yang seperti apa."

__ADS_1


"Memangnya Kak Selin tahu bagaimana sifat asli istri saya?, Kak Selin ini sudah keterlaluan ya, masalah kecil dibesar-besarkan, kalau Kak Slein bukan istri dari Abang saya mungkin saya akan-"


"Akan apa?" Tanya Selin menantang Azlan.


Mata Azlan menajam ia sudah siap menelan Selin mentah-mentah. Namun Filzah kembali mencegahnya.


"Kanda sudah."


"Tapi Dinda Kak Selin itu sudah keterlaluan, aku nggak bisa diam saja melihat istriku dicaci maki di hadapan wajahku sendiri." Azlan menatap Selin tajam, menusuk bagaikan runcing pisau.


"Kanda berdebat itu nggak baik, lagi pula ini hanya kesalahpahaman saja. Ingat Kanda walau bagaimanapun Kak Selin adalah Kakak kita yang harus kita hormati." Tiada henti-hentinya Filzah melembutkan hati suaminya yang mulai mengeras.


"Aku heran sama Dinda, terbuat dari apa sih hati Dinda ini, masih saja sabar menghadapi Kak Selin yang pedas sekali mulutnya."


"Kanda sabar itu nggak ada batasnya, lagi pula ini masalah kecil nggak usah dibesar-besarkan, ya."


Azlan sudah tidak tahu lagi harus bicara seperti apa kepada istrinya. Hati istrinya ini begitu lembut, berbanding terbalik dengan hatinya yang keras, mungkin ini yang dinamakan jodoh, yaitu saling melengkapi satu sama lain.


"Mbak Selin saya minta maaf ya, ini memang kesalahan saya Mbak, saya mengaku salah." Filzah tidak keberatan untuk mengakui kesalahannya.


Selin bungkam seribu kata. Ia sudah tidak membesar-besarkan masalahnya lagi. Kata maaf dari Filzah membuatnya tak berkutik dan malah pergi begitu saja.


Filzah dapat bernapas lega karena suasana sudah kembali tenang, aman dan damai.


"Alhamdulillah akhirnya suasana kembali tenang lagi, maaf ya Filzah tadi Mama tidak membela kamu, Mama lebih memilih diam karena Mama takut nanti Selin menganggap Mama tidak adil dengan menantu-menantu Mama, ya meskipun kamu yang benar." Hilyah menjelaskan alasannya yang tidak ikut campur dengan perdebatan yang cukup panas tadi.


Filzah memakluminya. Justru ia berterima kasih karena dengan sikap diamnya sang Mama mertua tidak semakin memanaskan keadaan. Dan ia menyayangkan sikap perlawanan suaminya tadi sehingga keadaan menjadi panas mendidih.


"Kanda, jika api dilawan dengan api maka kobaran apinya akan semakin membesar, dan jika api dilawan dengan air maka kobaran apinya akan meredup."


Filzah mengistilahkan kejadian tadi dengan perumpaan kobaran api. Dengan perlahan Azlan mulai memahami dan menerimanya. Ia tidak akan lagi beradu mulut dengan Selin, bukan hanya tenaga yang ia kuras tapi yang lainnya juga termasuk perasannya.


ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุชูŽุฑู’ููŽุนูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจู’ุบูŽุถู ุงู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽู„ูŽุฏู‘ู ุงู„ู’ุฎูŽุตูู…ู [ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ].


Dari Aisyah (diriwayatkan) secara marfuโ€™ dia berkata, orang yang paling Allah benci adalah orang yang suka membantah lagi sengitย [HR. al-Bukhari, no. 4523].


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Alhamdulillah part 32 sudah bisa kalian baca dengan sesuka hati


Dan semoga selalu menghasilkan manfaat ya


Aamiin Allahumma Aamiin


Tetap pantengin lapak ini ya supaya kalau ada notip dari Cinta Istiqomah


kalian tidak ketinggalan dan langsung stand by bacaaa


๐Ÿค“๐Ÿค“๐Ÿค“


Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers

__ADS_1


๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2