Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 9. Menyayangi


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa ya


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hari libur akhir pekan tidak dihabiskan dengan percuma oleh Azlan. Ia berniat pergi ke kedai untuk membantu Hilyah mengurusi kedainya sekaligus ia ingin bertemu dengan gadis kecil yang telah berhasil membuat hatinya tergugah untuk membantunya, siapa lagi jika bukan, Zaura. Dengan takdir hidupnya yang memiliki persamaan dengan Zaura, Azlan merasa hatinya terketuk ketika melihat Zaura yang membutuhkan sosok Ayah dalam hidupnya, sama seperti dirinya waktu kecil hingga saat ini.ย 


Sementara di kedai sudah cukup ramai dengan pelanggan yang mulai memenuhi kursi yang kosong. Di hari libur ini banyak juga yang memilih untuk sarapan pagi di kedai dengan menu nasi goreng topping seafood yang menjadi menu andalan disaat sarapan pagi.


Zaura sangat semangat memulai paginya yang cerah dengan semangat yang luar biasa. Saat ini Zaura sedang mengelap meja namun tanpa disengaja Zaura menoleh ke arah meja yang ditempati oleh pelanggan yang sedang asyik menyantap pesanannya. Pelanggan tersebut ialah sepasang ayah dan anak. Zaura yang melihatnya langsung terdiam. Dari tatapan matanya terlihat jelas bahwa ia iri melihat seorang anak perempuan yang seumuran dengannya sedang disuapkan oleh ayahnya.


"Beruntung sekali dia bisa disuapkan makan sama Ayahnya, sementara aku, aku sudah nggak punya Ayah, Ayahku sudah meninggal." Zaura berucap dalam hati.


"Ayah... aku rindu sama Ayah, aku ingin bertemu Ayah." Seketika isak tangis Zaura pecah. Ia tidak sanggup lagi menahan air matanya yang berderai membasahi wajahnya.


Filzah terkejut ketika melihat sang putri sedang menangis sesegukan. Filzah langsung menghampiri Zaura usai melayani pelanggannya.


"Zaura."


"Zaura kenapa Sayang?" Filzah panik melihat buah hatinya sudah berderai air mata.


Zaura beralih menatap Filzah. "Bunda, Zaura rindu sama Ayah." Ucapnya dengan sesegukan.


Filzah tercekat. Dadanya sesak. Ia langsung membawa putrinya ke dalam pelukannya. Filzah tidak sanggup untuk berkata-kata. Ia hanya bisa mengelus kepala sang putri untuk menenangkannya.


Zaura masih terus menatap pemandangan indah sekaligus memilukan di hadapannya. Filzah menyadarinya dan perlahan ikut menatap ke arah sepasang ayah dan anak yang berada tepat di hadapannya.


"Jika Zaura rindu sama... Ayah, Zaura berdoa kepada Allah, doakan Ayah agar Ayah tenang di sisi Allah, dan semoga nanti Zaura bisa bertemu dengan Ayah." Suara Filzah terdengar bergetar. Susah payah ia menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh Zaura.


Zaura mengangguk. Ia hanya bisa mendoakan sang Ayah untuk mengobati rasa rindunya yang kini sedang menyelimutinya.


"Iya Bunda, Zaura akan selalu mendoakan Ayah, Zaura ingin bertemu Ayah di syurga."


"Aamiin." Filzah melampiaskan kesedihannya dengan linangan air matanya. Ia menangis sembari bersusah payah menahan isak tangisnya agar tidak terdengar sampai di telinga Zaura.


"Ya Allah kuatkan aku, kuatkan juga putriku, Zaura, aku nggak sanggup harus melihat putriku menangis seperti ini, kuatkan kami dalam menjalani hidup di atas takdirmu ya Allah. Aamiin Allahumma aamiin." Filzah berdoa di dalam hatinya untuk diberikan kekuatan dalam menghadapi kehidupan yang sangat pahit bagi dirinya juga putrinya.ย 


Sementara mobil Azlan baru saja tiba di halaman kedai. Azlan pun keluar dari mobilnya dan langsung melangkahkan kakinya memasuki kedai milik keluarganya.


Tiba-tiba langkah Azlan terhenti tepat di ambang pintu. Pandangannya tertuju ke arah ibu dan anak yang sedang berpelukan dengan deraian air mata. Hati Azlan tersayat perih melihat pemandangan di hadapannya itu. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak sanggup melihat gadis kecil yang sedang menangis sesegukan.


"Zaura."


"Zaura kenapa menangis seperti itu?, apa yang terjadi." Dalam diamnya Azlan mencaritahu penyebab air mata Zaura terjatuh begitu saja.


Azlan mengalihkan pandangan ke arah tatapan mata Zaura yang tertuju ke arah sepasang ayah dan anak yang sedang asyik makan bersama.


"Jadi itu penyebabnya, pantas saja Zaura sampai menangis seperti itu." Akhirnya Azlan menemukan penyebab Zaura menangis sampai tersedu-sedu.


Lima menit kemudian, Filzah dan Zaura sudah kembali tenang. Tangisan mereka sudah mereda. Zaura juga sudah menyeka air matanya.


"Sekarang Zaura sudah tenang kan?"


Zaura menganggukkan kepalanya. Filzah dapat bernapas lega karena sang putri sudah tidak menangis lagi.ย 


"Kalau begitu Bunda kembali kerja dulu ya Sayang, Zaura main di taman saja dulu ya supaya Zaura nggak sedih lagi." Filzah menyarankan sang putri agar bermain di taman karena takutnya Zaura kembali bersedih jika berdiam diri di kedai apalagi sepasang ayah dan anak itu masih berada di hadapan mereka.

__ADS_1


Azlan keluar dari kedai dan langsung bersembunyi ketika Zaura melangkahkan kakinya keluar dari kedai dan menuju taman.


Azlan langsung menyusul Zaura dari belakang. Ia melihat Zaura sudah duduk termenung di taman. Tanpa berlama-lama lagi Azlan langsung menghampiri Zaura dan duduk di sampingnya.


"Zaura." Azlan memanggil Zaura dengan lembut.


Zaura menoleh. Ia sedikit terkejut melihat Azlan sudah duduk di sampingnya sembari memanggil namanya.


"Om baik."


"Zaura sedang apa di sini?" Tanya Azlan mengawali obrolannya.


"Zaura sedang duduk saja Om, kalau Om Baik sedang apa di sini?" Zaura balik bertanya kepada Azlan.


Azlan tersentak. Ia buru-buru mencari jawaban atas pertanyaan Zaura. Jangan sampai Zaura mengetahui bahwa dirinya sengaja ke taman untuk menemani Zaura.


"Om, Om sedang ingin ke taman saja, soalnya udaranya masih sejuk."


"Oh." Perlahan Zaura menundukkan wajahnya. Tatapannya tertuju ke arah sepasang sandal berwarna pink yang membalut sepasang kakinya.


"Zaura kenapa?, kok kelihatannya sedang bersedih?" Tanya Azlan pura-pura tidak mengetahui apa yang telah terjadi dengan Zaura. Rasanya Azlan sudah tidak tahan ingin memeluk Zaura namun ia harus mengurungkan niatnya terlebih dahulu agar Zaura tidak kembali menangis seperti tadi.


Perlahan Zaura mendongakkan wajahnya. Ia beralih menatap Azlan. Tatapan matanya yang berkaca-kaca membuat Azlan tercekat dan tidak bisa berkutik. Hatinya seakan teriris melihat sepasang mata indah itu berkaca-kaca.


"Zaura rindu sama Ayah." Ucap Zaura terbata-bata. Genangan air mata akhirnya mengalir begitu saja. Isak tangis mulai memecahkan ketenangan hati Azlan.


Azlan langsung membawa Zaura ke dalam pelukannya. Menenangkan Zaura yang kembali menangis karena merindukan Ayahnya yang sudah meninggalkan dunia sebelum ia dilahirkan ke dunia.


Azlan membelai lembut kepala Zaura yang terbalut hijab mininya. Tanpa terasa air mata Azlan ikut terjatuh. Hatinya melunak dan ikut terbawa arus kesedihan Zaura, seorang anak perempuan yang merindukan sosok Ayahnya. Azlan tahu betul bagaimana perasaan Zaura saat ini karena Azlan sudah pernah merasakannya sewaktu kecil bahkan masih terbawa sampai sekarang.


"Zaura."


"Zaura jangan menangis lagi ya, sekarang kan sudah ada Om, anggap saja Om ini adalah Ayahnya Zaura,ย Zaura mau kan?"


Zaura terkejut. Ia mengangkat dagunya untuk menatap wajah berkarismanya Azlan yang masih terlihat ada sisa air mata yang menempel.


"Om baik serius?, Zaura boleh menganggap Om Baik sebagai Ayahnya Zaura?" Zaura masih tidak percaya dengan ucapan Azlan yang bersedia untuk Zaura menganggapnya sebagai Ayahnya.


Azlan mengangguk penuh keyakinan. "Iya Zaura, Om serius." Azlan meyakinkan Zaura sekali lagi.


Seketika raut wajah Zaura langsung berubah. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Bahkan tanpa ragu Zaura langsung berhambur ke dalam pelukan Azlan yang dipanggilnya dengan sebutan Om baik.


"Jazakillah khoiron Om baik, Zaura senang meskipun Om baik bukan Ayah Zaura tapi Om baik bersedia Zaura anggap sebagai Ayah Zaura, Zaura senang, senang sekali."


"Iya Zaura, Om juga senang, mulai sekarang Zaura nggak usah bersedih lagi ya, kan sudah ada Om."


Zaura mengangguk penuh kebahagiaan. "Iya Om baik, Zaura nggak akan bersedih lagi, Zaura sayang sama Om baik karena Om baik sudah baik sama Zaura." Dengan kebaikan Azlan kepadanya tidak diragukan lagi jika Zaura langsung menyayanginya.


Azlan ikut senang. Ia dapat tersenyum lega melihat gadis kecil yang tadi menangis sesegukan kini dapat tersenyum lepas penuh kebahagiaan.


"Om juga sayang sama Zaura, Zaura harus kuat ya, Zaura nggak boleh bersedih lagi, kalau Zaura bersedih nanti hidung Zaura panjang seperti wortel."


Zaura terkekeh. Ia tertawa lepas karena candaan Azlan yang menggelitikkan. Azlan ikut tertawa lepas melihat Zaura kini sudah melupakan kesedihannya dan sudah bisa tersenyum bahkan tertawa bahagia.


"Entah kenapa melihat Zaura tertawa bahagia seperti ini aku merasa ikut bahagia, dan aku memang benar-benar menyayanginya, rasa sayang ini muncul begitu saja bahkan tanpa aku sadari, mungkin ini karena status Zaura yang sama denganku, yaitu anak yatim yang sudah kehilangan sosok Ayahnya dari kecil." Tutur Azlan membatin. Serta mengakui bahwa ia benar-benar sudah menyayangi Zaura, gadis kecil yang sudah menjadi anak yatim sejak kecil, sama seperti dirinya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Makan malam sudah selesai sepuluh menit yang lalu. Azlan menyeruput teh hangatnya dengan disuguhkan panorama keindahan langit yang gelap namun masih bercahaya dengan kilauan cahaya bulan dan gugusan para bintang.

__ADS_1


"Eh dicari-cari ternyata di sini."


Azlan dikejutkan dengan kedatangan Ergin yang secara tiba-tiba. Bahkan Ergin langsung main duduk saja di kursi tepat di sebelah Azlan.


"Ada apa Bang?" Azlan tidak mau berbasa-basi lagi. Ia langsung menanyakan kepentingan sang Abang yang katanya sedang mencarinya.


"Gue cuma mau tanya, benar nggak sih kalau lo membelikan sepeda baru untuk anak pelayan di kedainya Mama?"


Azlan mengangguk. "Iya benar." Jawab Azlan dengan santai.


Ergin langsung menggeleng-gelengkan kepala. Raut wajahnya menyiratkan kekecewaan kepada adiknya.


"Memangnya ada hubungan apa lo sama anak pelayan itu?, sehingga lo ringan tangan sekali mengeluarkan uang untuk membelikan anak pelayan itu sepeda baru."


Kini giliran Azlan yang menggelengkan kepalanya. "Gue dan Zaura nggak ada hubungan apa-apa, gue hanya kasihan melihat dia yang ingin memiliki sepeda baru, jadi gue belikan sepeda baru, ada yang salah?"


"Ya nggak ada yang salah sih, cuma lo jangan terlalu baik sama orang, takutnya nanti lo malah dimanfaatkan, dari pada uang lo habis untuk diberikan kepada orang lain lebih baik lo berikan kepada Grizelle yang jelas-jelas statusnya adalah keponakan lo, anak dari Abang lo sendiri."


Azlan tersenyum sinis. Ia tidak menyangka dengan jalan pikiran sang Abang yang terlalu berburuk sangka kepada orang yang bahkan belum pernah dikenalnya.


"Abang itu nggak boleh berburuk sangka seperti itu, Zaura anak yang baik dia bahkan rajin membantu Ibunya bekerja di kedai, dan mana mungkin anak sekecil dia mau memanfaatkan kebaikan gue."


"Ya mungkin anak kecil itu nggak akan memanfaatkan lo, tapi bisa jadi Ibunya akan memanfaatkan kebaikan lo." Ergin berucap seenaknya saja. Ia bahkan sudah melampau batas dengan menjelek-jelekkan Filzah di depan Azlan.


Azlan menghela napas jengah. "Lo kenapa sih Bang dari tadi berburuk sangka sama orang terus, lagi pula gue sudah dewasa, gue bisa kok membedakan mana orang yang memanfaatkan gue dan mana orang yang benar-benar tulus, nggak seperti Abang, nggak bisa membedakan." Azlan berani menyindir Ergin dengan terang-terangan. Namun ia berbicara fakta sehingga Ergin tidak bisa berkutik sedikitpun.


"Ya sudahlah terserah lo, gua itu cuma mau mengingatkan lo agar lebih berhati-hati sama orang." Ergin akhirnya menyerah begitu saja. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Bang, Zaura itu bukan anak biasa, dia adalah anak yatim yang sudah seharusnya kita bantu dan kita sayangi, seperti kita dulu Bang, menjadi anak yatim yang disayangi oleh orang-orang, gue berharap Abang bisa membalas budi dengan menyayangi anak yatim, bukan anak Abang doang yang Abang sayangi."


Azlan sedikit menyelipkan nasihat disela-sela ia mengingatkan sang Abang tentang kehidupannya di waktu kecil. Menjadi anak yatim yang disayangi oleh orang-orang sekitar. Azlan berharap Ergin dapat menyayangi anak yatim yang ada di sekitarnya sama seperti dirinya yang menyayangi anak yatim seperti Zaura.


Ergin langsung terdiam. Ia sedang mencerna nasihat dari sang adik. Ergin masih ingat betul dengan masa kecilnya yang sudah kehilangan sosok Ayah namun masih banyak yang menyayanginya. Ergin ingin sekali membantu Zaura yang nasibnya sama seperti dirinya di masa kecil, namun apa daya istri dan anaknya selalu kehausan akan uang sehingga ia tidak bisa menyisihkan uang hasil kerjanya untuk ia berikan kepada anak yatim seperti Zaura.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Selamat hari ahad


para pejuang akad


Selamat hari weekend


para readers


๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Alhamdulillah Ukhfira bisa kembali menyapa kalian di part ke 9 ini


Semoga selalu bermanfaat untuk kita semua ya


Aamiin Allahumma Aamiin


Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers


๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

__ADS_1


__ADS_2