Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 22. Membangun Cinta


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa ya


🌹🌹🌹


Hari ini Azlan menepati janjinya untuk membawa Jasir ke rumah sakit. Kini keluarga mereka sedang menemani Jasir yang baru saja duduk di kursi roda usai diperiksa oleh Dokter ahli syaraf.


"Dokter bagaimana keadaan Bapak kami, Bapak kami bisa sembuh seperti sedia kala kan Dok?, kakinya tidak lumpuh permanen kan Dok?." Tanya Azlan seakan mewakilkan Uzmah dan Filzah.


Dokter laki-laki yang baru saja memeriksa Jasir mengulas senyuman penuh ketenangan. "Bapak dan Ibu tidak usah khawatir ya, alhamdulillah kaki Pak Jasir tidak lumpuh permanen dan bisa disembuhkan dengan jalan terapi."


"Alhamdulillah." Semua dapat berucap syukur karena Jasir mempunyai peluang besar untuk sembuh.


"Nanti saya akan atur jadwal terapi ya Pak. Dan saya harap Bapak Jasir harus semangat, karena percuma jika Bapak Jasir melakukan terapi tetapi Bapak Jasir tidak mempunyai semangat untuk sembuh." Dokter memberikan sedikit suntikan semangat kepada Jasir.


Jasir mengangguk patuh. "Iya Dok, in syaa Allah saya akan semangat, karena keluarga saya menginginkan saya untuk sembuh, dan laki-laki hebat ini sudah berbaik hati membiayai terapi saya. Jadi saya harus sembuh." Ungkap Jasir sambil menepuk punggung Azlan disaat ia memuji Azlan.


"Dokter, kami percayakan sama Dokter, tolong Dok, berikan pelayanan yang terbaik untuk Bapak kami. Masalah biaya Dokter tidak usah khawatir, dan saya akan membayar penuh biaya terapi Bapak kami sampai Bapak kami benar-benar sembuh." Azlan berharap agar Dokter di hadapannya ini benar-benar melakukan tugasnya dengan baik, sebaik mungkin.


"Bapak tenang saja, kami akan melakukan tugas kami dengan baik, tetapi semuanya kembali kepada Allah, Allah yang maha menyembuhkan, kami hanya bisa mengikhtiarkan."


Azlan mengangguk. Ia setuju sekali dengan perkataan Dokter tersebut. "Maa syaa Allah, Dokter benar sekali, kami menjadi yakin bahwa Dokter adalah perantara dari Allah untuk menyembuhkan Bapak kami."


"In syaa Allah." Balas Dokter laki-laki tersebut dengan membalas senyuman ramah dari Azlan.


🌹🌹🌹


Usai mengurusi biaya pengobatan terapi Jasir di tempat administrasi, mereka keluar dari rumah sakit tersebut dan kini mereka berada di tempat parkir.


"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan, Bapak pasti sudah rindu menghirup udara segar kan Pak?" Tawar Azlan kepada Jasir.


"Iya Yandah, ayo kita jalan-jalan."


"Lho kok malah Zaura yang jawab, memangnya Zaura, Kakek Jasir?, Yandah kan menawarkan kepada Kakek Jasir."


Suasana pun dibuat riuh dengan gelak tawa yang terdengar renyah. Candaan Azlan berhasil mencairkan suasana sekaligus membuat Zaura hanya menyengir kuda.


"Oh iya, maaf Yandah, Zaura pikir Zaura boleh jawab untuk mewakilkan jawaban Kakek, lagi pula pasti Kakek mau kok Yandah, Kakek kan sudah lama nggak jalan-jalan, iya kan Kek?." Kini giliran Zaura yang bertanya kepada Jasir.


"Kakek ikut apa kata Zaura saja, kalau Zaura mau jalan-jalan Kakek ikut juga dong." Jawab Jasir dengan kocaknya kepada Zaura.


"Horeeee kita jalan-jalan. Ya sudah kalau begitu ayo Yandah kita langsung berangkat, Zaura sudah nggak sabar ingin jalan-jalan naik mobil." Ajak Zaura dengan girang.


"Tunggu dulu Sayang, Bunda sama Nenek belum ditanya tuh, kira-kira Bunda sama Nenek mau juga nggak jalan-jalan?." Kini tatapan Azlan tertuju ke arah dua perempuan yang sejak tadi hanya tersenyum saja.


"Nenek mau kok jalan-jalan, apalagi sama cucu Nenek yang sholihah ini." Ucap Uzmah yang mau juga diajak jalan-jalan.


"Kalau Bunda mau ikut juga kan?" Tanya Zaura penuh harap.


"Sepertinya Bunda nggak mau tuh jalan-jalan, ya sudah kalau Bunda nggak mau ikut jalan-jalan kita tinggal di sini saja ya."


Filzah terperanjat. "Mau kok, Bunda mau ikut jalan-jalan juga." Jawab Filzah dengan cepat.


Azlan malah terkekeh melihat Filzah terperanjat karena ulahnya. Padahal ia hanya bergurau saja dan tidak benar-benar serius.


"Iya-iya Bunda jawabnya santai saja ya, Bunda juga ikut jalan-jalan kok, masa Bunda ditinggal di sini sendirian."


"Ya habisnya Mas tadi bilang mau meninggalkan aku di sini sendirian." Oceh Filzah sedikit kesal.


"Mas bercanda Sayang." Ujar Azlan yang tanpa sungkan langsung merengkuh tubuh Filzah alhasil Filzah terperanjat sampai kedua matanya terbelalak.


"Hmmm." Zaura berdehem dengan raut wajah cemberut melihat Yandahnya hanya merangkul Bundanya saja, dan ia tidak diikutsertakan.


Jasir dan Uzmah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum karena sang cucu cemburu melihat kedua orang tuanya berpelukan berdua saja seakan melupakan Zaura.


"Lho Tuan putri yang cantik ini kenapa wajahnya cemberut?, katanya mau jalan-jalan?." Tanya Azlan yang kini beralih mendekati Zaura.


"Habisnya Yandah sama Bunda berpelukan nggak ajak Zaura, Zaura kesal deh jadinya." Oceh Zaura memperlihatkan kekesalannya kepada Yandahnya.


"Oh karena itu." Azlan terkekeh melihat sang putri mulai menampakkan rasa cemburunya.


"Ya sudah kalau Zaura kesal, Zaura nggak usah ikut jalan-jalan, Zaura pulang sendiri ke rumah ya. Ayo Bunda kita berangkat sekarang, Zaura nggak usah dibawa."


"Yandahhhh." Teriak Zaura.


Suasana kembali pecah dengan gelak tawa yang terdengar dari Jasir dan Uzmah. Mereka tiada henti-hentinya tertawa melihat keusilan Azlan. Namun di sisi lain mereka bersyukur melihat kedekatan Azlan dengan Filzah dan Zaura. Mereka ikut bahagia melihatnya.


🌹🌹🌹


Setelah menyusuri sepanjang jalan dengan mengendarai mobil, akhirnya mobil yang Azlan kendalikan berhenti di parkiran wisata salah satu pantai yang ada di Malang.


Angin semilir dan udara yang sejuk serta suara deruan ombak yang menghantam ketenangan air pantai membuat siapa saja yang berkunjung di pantai ini akan merasakan kesejukan dan ketenangan seperti keluarga besar Azlan yang kini sudah menggelar tikar di tepi pantai, tidak lupa mereka membawa makanan dan minuman sebagai pelengkap rekreasi dadakan mereka.

__ADS_1


"Yandah ayo kita ke pantainya, Zaura mau main air." Ajak Zaura yang tidak sabar ingin menyentuh dinginnya air pantai.


"Zaura izin dulu ya sama Bunda, takutnya nggak dibolehkan lho." Azlan menyuruh Zaura untuk meminta izin terlebih dahulu kepada Filzah.


Perhatian Zaura langsung beralih ke arah Filzah. "Bunda boleh ya Zaura main air, Zaura kan belum pernah main air di pantai Bunda." Ucap Zaura dengan penuh permohonan.


Filzah hendak membuka suaranya namun Azlan mendahuluinya. "Apa?, jadi Zaura belum pernah main ke pantai?." Tanya Azlan tak menyangka.


Zaura mengangguk dengan wajah tertunduk lesu.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita main air, Bunda boleh ya Zaura main air, kasihan dia katanya belum pernah ke pantai." Ucap Azlan yang kasihan dengan Zaura karena belum pernah ke pantai sama sekali.


Filzah bermurah senyum. Wajah tenangnya mengisyaratkan bahwa ia mengizinkan Zaura untuk main air di pantai. "Iya Sayang, Bunda izinkan Zaura main air di pantai."


"Horeee."


"Tapi, Zaura hati-hati ya, jangan ke tengah."


"Iya Bunda."


"Bunda Sayang tenang saja ya, kan ada Yandah, Yandah akan menjaga putri tercinta kita dengan baik."


Filzah tersenyum manis. Hanya dengan kata-kata seperti itu saja sudah membuat hatinya tersentuh. Azlan memang begitu menyayangi putrinya, Filzah bersyukur sekali karena sampai detik ini rasa sayang Azlan kepada Zaura masih tetap menyala, tidak ada alasan bagi Filzah untuk tidak menyayangi laki-laki yang sudah tulus menyayangi putrinya, terlebih lagi laki-laki itu adalah suaminya sendiri.


Zaura begitu riangnya bermain air di pantai bersama Azlan. Gelak tawanya yang sampai terdengar di telinga Jasir dan Uzmah membuat keduanya tertular juga. Mereka ikut tertawa bahagia melihat cucu kesayangan mereka sedang tertawa bersama Ayah sambungnya. Filzah pun ikut bahagia melihat suami dan putrinya asyik tertawa bahagia.


"Maa syaa Allah, Zaura senang sekali ya bermain air." Ucap Uzmah yang perhatiannya tidak lepas dari Zaura.


"Iya Bu, cucu kita kelihatannya senang sekali tuh main air di pantai, Bapak jadi ingin main air juga nih." Sambung Jasir yang malah ingin bergabung bersama Zaura main air di pantai.


"Bapak, Bapak kan masih sakit, kok malah mau menyebur di pantai." Getutu Uzmah.


Jasir pun terkekeh melihat istrinya menekuk wajah cemberutnya. "Bapak bercanda Bu, mana mungkin Bapak main air sambil duduk di kursi roda seperti ini, maksud Bapak, Bapak jadi nggak sabar ingin cepat sembuh biar bisa main sama Zaura, seperti itu Bu."


"Oh jadi seperti itu, aamiin, semoga Bapak cepat sembuh ya."


"Aamiin, Bapak harus semangat ya Pak." Ucap Filzah ikut mengaminkan serta menyemangati Jasir.


"Iya Filzah, Bapak akan semangat agar Bapak cepat sembuh."


"Oh iya kalau begitu Filzah mau ke Mas Azlan sama Zaura dulu ya Bu, Pak, mau suruh mereka untuk makan dulu, Ibu sama Bapak pasti juga sudah lapar kan?"


"Iya nih Nak, Ibu sama Bapak juga sudah lapar."


"Mas, Zaura ayo kita makan dulu ya, mainnya nanti lagi soalnya Kakek sama Nenek sudah lapar tuh."


Azlan dan Zaura bukannya memberikan jawaban atas ucapan Filzah mereka malah justru saling memandang satu sama lain kemudian saling tertuju ke arah Filzah. Sementara Filzah masih menunggu jawaban dari suami dan putrinya itu.


Byurrr...


Azlan dan Zaura dengan kompaknya langsung menyiram air keBarah Filzah alhasil Filzah terkejut dan sebagian tubuhnya serta wajahnya terkena cipratan air.


"Astaghfirullah, Mas, Zaura." Oceh Filzah nampak sedikit kesal.


Kedua pelaku bukannya meminta maaf dan merasa bersalah, mereka justru saling tertawa tanpa dosa.


Filzah tidak tinggal diam saja ia pun membalasnya dengan menyiramkan air juga kepada Azlan dan Zaura secara bersamaan. Dan mereka malah saling bermain air bukannya segera bergabung bersama Jasir dan Uzmah.


Jasir dan Uzmah yang melihat pemandangan menyenangkan di hadapan mereka ikut tertular tawa bahagia.


"Maa syaa Allah, ini pertama kalianya Bapak melihat Zaura sebahagia itu, dia tertawa bahagia sekali."


"Iya Pak, Ibu juga bahagia melihat Filzah bisa tertawa lepas lagi, setelah bertahun-tahun lamanya Ibu tidak melihat Filzah sebahagia itu."


"Azlan memang sumber kebahagiaan Filzah dan Zaura ya Bu, dan sumber kebahagiaan kita juga."


Uzmah menyetujui ucapan Jasir. "Iya Pak, Nak Alan adalah malaikat penolong di kehidupan kita. Ibu bersyukur sekali bisa bertemu kembali dengan Nak Alan. Apalagi Nak Alan sudah Ibu anggap sebagai anak sendiri, rasanya melihat Nak Alan Ibu seperti melihat Fahril, anak kita Pak." Tak terasa air mata Uzmah menetes begitu saja. Ia teringat akan putra sematawayangnya.


"Iya Bu, kita doakan ya semoga Filzah dan Zaura hidup bahagia bersama Azlan."


"Aamiin." Uzmah mengaminkannya.


🌹🌹🌹


Hembusan angin malam seakan menampar lembut wajah berkarismanya Azlan yang sedang duduk seorang diri di depan teras rumah keluarga Jasir. Tak berapa lama Filzah datang dari dalam rumah dengan membawa secangkir teh untuk Azlan, suaminya.


"Mas, ini tehnya." Ucap Filzah lembut.


Azlan menolehkan pandangannya ke arah pemik mata indah yang menenangkan hatinya. "Terima kasih ya Dinda." Ucap Azlan sembari menerima teh yang disodorkan kepadanya.


"Dinda ayo duduk sini." Azlan mempersilakan Filzah untuk duduk di sampingnya. Menikmati panorama keindahan alam ciptaan Tuhan di waktu malam.


Filzah menurutinya. Ia duduk tepat di samping suaminya.


"Maa syaa Allah tehnya enak, terima kasih ya Dinda."

__ADS_1


"I-iya Mas, sama-sama." Filzah merasa ada yang aneh dengan panggilan Azlan kepadanya. Siapa yang dimaksud dengan Dinda?, apakah suaminya salah menyebutkan nama?.


"Maaf Mas sebelumnya, apa Mas nggak salah memanggil nama orang?, aku bukan Dinda Mas."


Azlan terkekeh kemudian. "Oh iya, maaf ya, aku sadar kok nama istriku ini Filzah bukan Dinda, tapi mulai sekarang aku akan memanggil kamu dengan panggilan Dinda, yang artinya panggilan sayang, kamu nggak keberatan kan?"


Sejujurnya Filzah sama sekali tidak keberatan. Namun ada satu hal yang membuatnya sangat keberatan sampai ia tidak bisa mengeluarkan satu katapun.


Filzah terhipnotis akan tatapan mata Azlan yang mengeluarkan binar-binar indah. Dan wajah penuh akan cahaya keindahan yang saat ini begitu dekat dengan wajahnya membuat Filzah terperdaya dan tidak bisa berpaling dari keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini.


Azlan mengangkat sebelah alisnya karena Filzah tak kunjung memberikan respon kepadanya.


"Filzah?"


Tanpa ragu Azlan langsung melambaikan tangannya di hadapan Filzah. Seketika Filzah pun tersadar. Ia mengalihkan pandangannya ke sembarangan arah.


"Bagaimana kamu nggak keberatan kan?, kalau aku panggil kamu dengan sebutan Dinda?" Tanya Azlan untuk kedua kalinya.


Senyuman manis kini terpatri di wajah meneduhkannya Filzah. "Aku ngga keberatan kok Mas." Jawab Filzah lembut.


"Alhamdulillah, kalau begitu Dinda manggil aku dengan sebutan Kanda ya, karena Dinda pasangannya sama Kanda."


Lagi-lagi Filzah tersenyum manis dengan diiringi anggukan kecil.


"Iya Kanda." Filzah pun langsung menuruti permintaan sang suami.


Azlan tersenyum penuh kebahagiaan. "Alhamdulillah, terima kasih Dinda."


"Iya Kanda." Balas Filzah lagi.


Perlahan Azlan meraih kedua tangan Filzah. Ia juga memposisikan dirinya berhadapan dengan Filzah. Awalnya Filzah terperanjat karena ia akui masih belum terbiasa dengan hal sederhana namun berkesan manis bahkan bisa menghasilkan pahala dari Allah.


"Dinda, maafkan aku ya, sampai saat ini aku belum bisa mencintai kamu. Tapi..."


"Tapi aku akan berusaha untuk bisa mencintai kamu, karena kamu adalah istriku yang wajib aku cintai."


Filzah hanya menanggapinya dengan seulas senyuman. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Memang sedih jika mengetahui bahwa suami sendiri belum bisa mencintainya, tetapi sejujurnya Filzah juga belum bisa sepenuhnya mencintai Azlan, namun sampai saat ini ia terus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mencintai suaminya, karena suaminya berhak mendapatkan cintanya.


"Kanda, nggak apa-apa, cinta itu nggak bisa dipaksakan, biarkan cinta itu hadir dengan sendirinya. Tapi, kalau boleh, aku ingin meminta satu hal dari Kanda."


"Apa itu?." Tanya Azlan penasaran.


"Kanda, tolong cintai Allah sepenuh hati Kanda ya, karena yang berhak Kanda cintai sebelum aku adalah Allah, Allah subhanahu wa ta 'ala."


Azlan tersenyum tenang. Ia mengangguk penuh kemantapan hati. "Iya Dinda, aku akan selalu mencintai Allah sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan semoga nantinya kita saling mencintai karena Allah, agar keluarga kecil kita diberkahi oleh Allah."


"Aamiin." Filzah mengaminkannya dari lubuk hatinya yang terdalam.


"Apakah Dinda bersedia untuk membangun cinta bersamaku?, kita bangun cinta kita bersama-sama, tentunya membangun cinta karena Allah, juga karena ikatan suci pernikahan kita."


Tidak ada alasan bagi Filzah untuk tidak menyetujui ajakan Azlan untuk membangun cinta bersama. Cinta yang dilandaskan karena Allah, karena Allah telah menyatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan.


"Aku mau Kanda, aku mau membangun cinta bersamamu, karena Allah, juga karena ikatan suci pernikahan kita."


Rasa bahagia langsung membuncah di hati keduanya, Bahkan tanpa ragu Azlan langsung membawa Filzah ke dalam pelukan hangatnya. Tanpa terasa air mata Filzah ikut terjatuh. Tentunya air mata kebahagiaan yang tiada terhingga.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Siapa nih yang sudah menunggu part ini???


Pasti kalian senang sekali nih karena langsung tertular virus kebahagiaannya Azlan dan Filzah yang saat ini sedang bahagia-bahagianya


Iya kannnn????


Ayo ngaku???


😂😂😂


Mau tau kelanjutannya seperti apa???


Yuk hayuk di tabung dulu kesabarannya yaaa


🤗🤗🤗


Nantikan part berikutnya


In syaa Allah kalau banyak yang komen


Ukhfira ngebut nih


🤓🤓🤓


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

__ADS_1


__ADS_2