
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
๐น๐น๐น
"Apa?!"
Selin dan Ergin langsung terkejut usai mendengar pernyataan Hilyah mengenai Azlan yang sudah melamar Filzah tadi malam. Secara mendadak dan dirasa sangat aneh sekali.
Selin meletakkan sendok dan garpunya. Ia menyudahi sarapan paginya. Rasanya selera makannya sudah hilang. Lebih tepatnya saat Hilyah mengatakan bahwa Azlan telah melamar seorang perempuan yang tidak lain adalah pelayan di kedai milik keluarga mereka. Selin benar-benar tidak menyangka. Ini diluar dugaannya.
"Ini serius?, Azlan melamar pelayan baru itu?, demi apa coba?"
"Demi Zaura." Sahut Azlan.
"Demi Zaura?, maksudnya?" Selin tidak mengerti akan jawaban dari Azlan.
"Aku ingin menikahi Filzah karena aku ingin menjadi Ayahnya Zaura, ada yang salah?"
"Ya ada lah, Filzah itu perempuan miskin yang nggak pantas sama kamu, dari pada kamu menikah sama dia lebih baik kamu menikah sama perempuan yang sederajat sama kamu, sederajat sama keluarga kita, aku punya banyak teman kok, kamu tinggal pilih saja mana yang cocok sama kamu." Selin terang-terangan menyalahkan keputusan Azlan bahkan dengan percaya dirinya ia menawarkan teman-temannya yang mau dijodohkan dengan Azlan.
Azlan menghela napas jengah. Ia malas sekali untuk beradu mulut dengan Kakak iparnya yang tidak tahu diri. Tidak pernah mau berkaca terlebih dahulu sebelum menghina orang lain.
"Filzah memang perempuan kampungan, tapi Filzah adalah perempuan pekerja keras, dia mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia nggak bergantung sama orang lain, dan yang jelas dia nggak hobi menghambur-hamburkan uang." Azlan langsung menyindir Selin terang-terangan, tepat di hadapannya.ย
"Ma, Azlan berangkat kerja dulu ya."
Azlan beranjak dari tempat duduknya. Ia berpamitan kepada Hilyah untuk berangkat ke kantor.
"Tuh lihat anak Mama, nggak sopan banget sama yang lebih tua, diajak bicara malah pergi." Selin kesal dengan sikap Azlan, namun malah Hilyah yang kena semprot. Selin memang benar-benar tidak berkaca kepada dirinya sendiri sudah jelas-jelas ia juga tidak sopan kepada Ibu mertuanya. Sesuka hatinya ia mengomeli Hilyah.
Seperti yang sudah-sudah, Hilyah hanya meresponnya dengan senyuman singkatnya. Ia sama sekali tidak berminat untuk membalasnya. Ia hanya tidak habis pikir saja karena Putra sulungnya sebagai suami dari menantunya tidak bereraksi apapun.ย Ergin hanya berdiam diri saja saat melihat Hilyah, Mamanya sendiri menjadi bahan omelan istrinya.
"Sudah Selin, biarkan Azlan memilih pendamping hidupnya sendiri, dia yang mau menjalaninya jadi dia yang berhak menentukan pilihannya." Ucap Hilyah dengan nada lembut tapi tegas.
"Oh jadi Mama setuju punya menantu kampungan dan miskin seperti pelayan baru itu?, perempuan kampungan seperti pelayan baru itu hanya memanfaatkan kepolosan Azlan saja Ma, aku yakin dia pasti mengincar uang Azlan, harta kekayaan keluarga kita, perempuan kampungan model pelayan baru itu sudah bisa ditebak isi pikirannya."
"Selin, nggak baik berburuk sangka dengan Filzah, belum tentu apa yang kamu katakan itu benar, dan bisa jadi itu fitnah, lagi pula menurut Mama, Filzah itu perempuan yang baik, dia perempuan pekerja keras jadi nggak mungkin kalau Filzah seperti yang kamu katakan itu."
Selin menghela napas jengah. Kini ia juga kesal dengan Ibu mertuanya. Selalu saja membela Azlan dan tidak pernah sependapat dengannya. Selin menyenggol sikut Ergin. Menyuruhnya untuk membela dirinya.
Ergin dengan cepatnya mengerti akan isyarat yang diberikan oleh Selin kepadanya. "Ma, apa yang dikatakan Selin benar, dari pada nantinya Mama dan Azlan menyesal sebaiknya dibatalkan saja lamarannya, pelayan baru itu bukan perempuan satu-satunya di dunia ini, masih banyak yang lebih baik dari pelayan baru itu."
Hilyah hanya bisa menggelengkan kepalanya. Menantu dan anaknya sama saja. Sama-sama dipenuhi dengan pikiran yang negatif. Selalu berburuk sangka kepada orang lain.
"Selin, Ergin sudah ya kalian nggak usah ikut campur dengan kehidupan adik kalian, biarkan Azlan memilih jalan kehidupannya sendiri, dia sudah dewasa, dia tahu mana yang terbaik untuk hidupnya." Kali ini Hilyah bertindak dengan tegas agar anak dan menantunya berhenti untuk mengoceh tentang pilihan Azlan yang menurut mereka adalah pilihan yang salah.
"Kalau begitu Mama berangkat ke kedai dulu ya, Grizelle cucu Oma yang rajin sekolahnya ya Nak."
Hilyah langsung bergegas keluar dari rumahnya usai mendapat anggukan kepala dari cucunya, Grizelle.
"Nggak Mama nggak anak sama saja, seleranya rendah sekali, Daddy beruntung mendapatkan Mommy, secara Mommy perempuan modern nggak seperti pelayan baru itu, perempuan kampungan." Selin semakin kesal dengan sikap tegas Hilyah yang menyuruhnya untuk tidak mencampuri urusan Azlan.
Ergin menyetujui ucapan istrinya "Ya iyalah Mommy, Daddy beruntung sekali mendapatkan Mommy, Daddy nggak habis pikir juga sama Mama dan Azlan, kok bisa-bisanya melamar pelayan baru itu seperti nggak ada stok perempuan lagi, tapi ya sudahlah yang penting kita sudah mengingatkan, kita tunggu saja penyesalan Mama dan Azlan nanti."
"Benar Daddy, Mommy jadi nggak sabar ingin bertepuk tangan diatas penyesalan Mama dan Azlan karena sudah salah pilih."
Mungkin ini yang dinamakan jodoh adalah cerminan diri. Selin dan Ergin sama-sama memiliki perangai yang tidak terpuji. Hobinya menghina dan mengolok-olokkan orang. Dan saat ini yang menjadi bahan hinaan mereka adalah Filzah.
๐น๐น๐น
Seperti hari-hari biasanya Filzah saat ini sudah menuju kedai Hilyah, tempatnya bekerja. Namun ia tidak sendirian melainkan bersama Zaura dan mereka sama-sama membawa tas. Seperti pertama kali mereka sampai di kota ini.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam, Nak Filzah, Zaura kalian mau pergi ke mana?, kok sambil membawa tas besar?" Hilyah kebingungan melihat Ibu dan anak yang kini sedang berdiri di hadapannya sambil membawa tas.
__ADS_1
"Ibu, mohon maaf sebelumnya, saya ke sini ingin meminta izin sama Ibu, saya ingin pulang kampung Bu." Filzah menjelaskan kepada Hilyah bahwa hari ini ia akan pulang kampung ke malang.
Seketika Hilyah terkejut mendengarnya. "Apa?, kalian mau pulang kampung?, tapi kalian akan kembali ke sini lagi kan?" Hilyah berharap Filzah dan Zaura akan kembali lagi ke kota ini.
Filzah mengangguk seraya tersenyum. "In syaa Allah Bu, kami akan kembali lagi ke sini, kami ingin pulang kampung karena Zaura sudah rindu sama Kakek dan Neneknya, sekaligus saya ingin meminta pendapat dari Kakek dan Neneknya Zaura mengenai lamarannya Pak Azlan tadi malam."
Hilyah pun dapat bernapas lega karena Filzah dan Zaura pulang kampung hanya sebentar saja dan akan kembali lagi ke kota ini.
"Kalian hati-hati ya, jaga diri kalian baik-baik, Zaura jangan lama-lama ya di kampung, nanti Oma kangen sama Zaura."
"Iya Oma, in syaa Allah Zaura nggak lama kok soalnya Zaura kan sekolah, jadi izinnya nggak bisa lama-lama, iya kan Bunda?" Ujar Zaura sembari meminta persetujuan dari Filzah.
Filzah mengangguk sembari tersenyum untuk menyetujui ucapannya Zaura.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Bu, Zaura Sayang ayo cium tangan Oma."
Zaura mengikuti arahan Filzah untuk mencium tangan Hilyah dengan hormat. Setelah itu Filzah dan Zaura melangkahkan kakinya untuk keluar dari kedai dan memasuki mobil online yang Filzah pesan. Mengantarkan mereka ke stasiun kereta terdekat.
๐น๐น๐น
"Assalaamu 'alaikum Kakek Nenek."
Zaura masuk ke dalam rumah sederhana yang sudah satu bulan ia tinggalkan. Filzah menyusulnya dari belakang sembari membawa tas besarnya yang berisi baju-bajunya dan baju-baju Zaura juga.
"Wa 'alaikumus salaam, Zaura." Uzmah menoleh kearah ambang pintu. Ia terkejut ketika melihat sang cucu berdiri di sana.
"Assalaamu 'alaikum, Ibu Bapak."
"Wa 'alaikumus salaam, Filzah." Jasir tersenyum bahagia melihat menantu dan cucunya sudah kembali lagi ke rumah mereka. Dan kini mereka sudah berada di hadapan dirinya dan istrinya.ย
"Nenek, Zaura kangen banget sama Nenek."
"Nenek juga kangen sama Zaura."
Uzmah dan Zaura saling berpelukan. Mengikis rasa rindu mereka satu sama lain. Begitu juga dengan Filzah yang mencium tangan Jasir dengan hormat. Lalu juga mencium tangan Uzmah usai mereka berpelukan singkat.
"Bapak sama Ibu sehat-sehat saja kan?" Ucap Filzah yang menanyakan kesehatan Jasir dan Uzmah.
"Iya Oma, alhamdulillah Zaura sama Bunda sehat-sehat saja." Sahut Zaura seakan mewakilkan jawaban dari sang Bunda.
"Zaura sekarang mandi dulu ya Sayang."
Zaura mengangguk patuh. "Siap Bunda." Lalu gadis kecil itu bergegas keluar dari kamar Kakek dan Neneknya untuk menuju kamar mandi.
"Ibu, Bapak, alhamdulillah Filzah sudah mendapatkan gaji selama satu bulan bekerja." Filzah mengeluarkan amplop cokelat yang tersimpan di dalam tas kecilnya. "Dan ini ada sedikit uang untuk biaya pengobatan Bapak, meskipun belum cukup tolong disimpan dulu ya Bu, Pak."
Filzah memberikan amplop cokelatnya kepada Uzmah. Awalnya Uzmah ragu untuk menerimanya tetapi Filzah memberikan isyarat kepadanya agar mau menerimanya.
"Terima kasih Filzah, kamu adalah perempuan yang sangat baik, Ibu sama Bapak bersyukur mempunyai menantu seperti kamu." Puji Uzmah kepada menantunya.
"Iya Filzah, terima kasih ya Nak kamu sudah mau menyayangi Bapak dan Ibu, kamu dalah malaikat penolong kami, semoga kebaikan kamu dibalas oleh Allah dengan kebaikan pula." Sambung Jasir yang ikut berterima kasih kepada Filzah serta mendoakan Filzah semoga kebaikannya dibalas oleh Allah berupa kebaikan pula.
"Aamiin, Ibu sama Bapak nggak usah berterima kasih sama Filzah karena ini sudah menjadi kewajiban Filzah untuk membantu Ibu dan Bapak."
Tiada henti-hentinya Uzmah dan Jasir mensyukuri anugerah dari Allah yaitu berupa menantu yang sholihah dan baik hati.
"Oh iya Ibu, Bapak, ada yang ingin Filzah bicarakan sama Ibu dan Bapak."
"Mau bicara apa Nak?, kamu ada masalah?" Tanya Uzmah yang langsung mengkhawatirkan Filzah.
Filzah menggeleng pelan. "Alhamdulillah Filzah nggak ada masalah Bu, hanya saja." Filzah menghentikan ucapannya sejenak. Kemudian ia memperhatikan wajah Uzmah dan Jasir secara bergantian.
"Hanya saja apa Nak?" Uzmah sudah tidak sabar ingin mendengar kelanjutan ucapan dari Filzah yang sempat terhenti.
"Hanya saja..., ada yang melamar Filzah Bu, Pak." Sambung Filzah kemudian.
Seketika Uzmah dan Jazir terkejut. Mereka saling memandang satu sama lain hingga akhirnya mereka kembali memandangi Filzah.
"Ada yang melamar kamu Nak?" Tanya Uzmah memperjelas apa yang ia dengar tadi.
__ADS_1
Filzah mengangguk pelan. "Iya Bu, namanya Pak Azlan."
"Terus apakah kamu menerima lamaran itu Nak?" Uzmah kembali bertanya.
Filzah menggeleng. Namun bukan berarti artinya ia tidak menerima lamaran dari Azlan. "Filzah belum memberikan jawaban Bu, Filzah meminta waktu, dan alhamdulillah Pak Azlan nggak keberatan untuk memberikan Filzah waktu."
"Filzah ingin meminta pendapat Ibu dan Bapak, jujur Filzah dilema, Filzah nggak tahu akan menerima atau menolak lamaran itu, Zaura memang membutuhkan sosok Ayah dalam hidupnya, tapi Filzah nggak kepikiran untuk menikah lagi, Filzah belum bisa melupakan Mas Fahril, Sampai saat ini Filzah masih mencintai Mas Fahril."
"Kalau boleh Bapak tahu siapa Pak Azlan itu Nak?" Tanya Jasir ingin mengetahui indentitas laki-laki yang telah melamar Filzah.
"Pak Azlan adalah anak dari pemilik kedai tempat Filzah bekerja Pak, Filzah juga sebelumnya nggak menyangka kalau Pak Azlan akan melamar Filzah, karena kami berdua nggak saling kenal, kami hanya saling tahu nama saja, karena waktu itu Ibu Hilyah pemilik kedai sekaligus Ibunya Pak Azlan memperkenalkan kami berdua." Filzah mencoba menjelaskan tentang Azlan kepada Jasir yang bertanya kepadanya.
"Kalau kalian tidak saling mengenal, lalu kenapa Pak Alzan melamar kamu Nak?" Tanya Uzmah.
"Pak Azlan melamar Filzah karena beliau ingin menjadi Ayah untuk Zaura, beliau juga menyayangi Zaura, dan Zaura juga dekat dengan beliau."
"Maa syaa Allah sungguh mulai sekali hati Pak Azlan, beliau bersedia ingin menjadi Ayah untuk Zaura, tidak diragukan lagi kalau Pak Azlan itu orang yang baik, Ibu setuju Filzah kalauย kamu mau menerima lamarannya Pak Azlan." Tanpa berpikir panjang lagi Uzmah sudah menyetujui Filzah untuk menerima lamaran itu. Terlebih lagi setelah ia mendengar betapa baiknya Azlan kepada cucunya bahkan sudah menyayanginya.
"Iya Filzah, Bapak juga setuju, Pak Azlan adalah orang yang baik, dia begitu tulus menyayangi Zaura, sampai-sampai dia bersedia menjadi Ayah untuk Zaura." Jasir juga menyetujuinya. Namun tidak lantas membuat Filzah ikut menyetujuinya untuk menerima lamaran Azlan.
"Tapi Bu, Pak, bagaimana dengan Mas Fahril?" Tanya Filzah yang masih kepikiran dengan Fahril.
Uzmah tersenyum tenang. "Filzah, Fahril pasti juga setuju apalagi ini menyangkut kebahagiaan Zaura, mungkin kamu sama Fahril tidak berjodoh panjang, dan mungkin jodoh kamu yang sesungguhnya adalah Pak Azlan, tapi semuanya tergantung kamu Nak, karena kamu yang akan menjalaninya." Meskipun Uzmah sudah memberikan restu kepada Filzah agar mau menerima lamaran dari Azlan namun tidak serta merta Uzmah akan memaksa Filzah untuk menerima lamaran itu, karena Filzah yang akan menjalaninya.
"Iya Filzah, Bapak sama Ibu akan selalu mendukung apapun keputusan kamu, yang terpenting bagi kami, kamu dan Zaura bahagia."
Hati dan pikiran Filzah sedikit tenang. Ibu dan Bapak mertuanya telah memberikan pendapat mereka masing-masing. Namun Filzah juga belum bisa memberikan keputusan untuk menerima atau menolak lamaran Azlan. Tetapi setidaknya Filzah sudah mengetahui pendapat Jasir dan Uzmah yang mendukung apapun keputusannya. Namun mereka juga menyetujui apabila Filzah menerima lamaran dari Azlan yang menurut mereka adalah orang yang baik dan berhati mulia.
๐น๐น๐น
Filzah menyentuh lembut batu nisan yang bertuliskan nama lengkap pelengkap hidupnya yang sudah meninggal sejak tujuh tahun yang lalu. Laki-laki yang pernah membuatnya tersenyum bahagia namun juga pernah membuatnya menangis sampai lupa bagaimana caranya untuk tersenyum bahagia.
"Mas Fahril, alhamdulilah Mas aku bisa berziarah ke sini lagi, tapi maaf Mas aku datang nggak bersama Zaura, karena aku datang kesini untuk meminta izin sama kamu, jika Allah menghendaki dan jika memang aku dan Pak Azlan berjodoh aku akan menikah dengannya, dan Zaura akan mempunyai seorang Ayah, maafkan aku Mas jika nantinya aku nggak setia lagi sama kamu, aku lakukan itu semua demi Zaura, demi kebahagiaan putri kita Mas." Filzah sudah tidak dapat menahan kesedihannya. Ia terisak dalam kesendiriannya di samping pusara sang suami yang dulunya selalu berada di sampingnya.ย
"Aku pulang dulu ya Mas, selamat tinggal Mas dan semoga kamu tenang di sisi Allah. Aamiin."
Perlahan Filzah bergegas meninggalkan tempat peristirahatan terakhir suaminya, belahan jiwanya di masa lalu namun belum tahu apakah akan menjadi belahan jiwanya untuk selamanya.
๐น๐น๐น
"Assalaamualaikum warohmatullah wabarokaatuh." Ucap lirih Filzah di ujung sholatnya.
Filzah menengadahkan kedua tangannya ke langit usai menunaikan sholat istirahah, meminta petunjuk kepada Allah dalam menentukan pilihannya. Antara tetap setia dengan pernikahan pertamanya atau membangun pernikahan untuk yang kedua kalinya.
"Ya Allah ya Tuhanku, yang Maha pengasih dan Maha penyayang, malam ini aku bersimpuh di hadapanMu, aku meminta pertolonganMu ya Allah dalam memecahkan dilemaku ini, berilah aku petunjuk untuk memilih diantara dua pilihan, apakah aku akan tetap setia dengan pernikahanku bersama Mas Fahril sampai nanti kami disatukan kembali di syurgaMu atau aku akan menerima lamaran dari Pak Azlan untuk menikah dengannya sehingga Zaura bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah, ya Allah apapun pilihan dariMu aku yakin pasti terbaik karena hanya Engkau yang tahu maa yang terbaik untukku dan untuk putriku. Aamiin Allahumma aamiin."
Usai bermunajat kepada sang Maha cinta mengenai kedilemaan yang sedang menyapanya perlahan Filzah sedikit jauh lebih tenang. Seketika tatapannya beralih kepada Zaura yang sedang terlelap dalam mimpi indahnya. Filzah mengelus lembut uraian rambut Zaura yang cukup lebat. Ia mencium kening sang putri dengan penuh cinta, kasih dan sayang yang tulus.
"Apapun akan Bunda lakukan untuk kebahagiaan kamu Sayang, karena kamu adalah sumber kebahagiaan Bunda, semoga keputusan Bunda nantinya adalah yang terbaik untuk kita semua, untuk kebahagiaan Bunda dan untuk kebahagiaan kamu juga, Bunda menyayangimu Sayang"
Filzah merengkuh tubuh mungil sang putri dengan keharuan serta isak tangis. Tak henti-hentinya Filzah bersyukur karena Allah telah berbaik hati kepadanya. Menganugerahkan seorang putri yang menyejukkan hati dan jiwanya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah part 11 sudah bisa dibaca dengan sesuka hati kalian Readers
Bagimana nih dengan jalan ceritanya Cinta Istiqomah
Menarik dan asyik nggakkk???
Kalau nggak dua-duanya nggak apa-apa kok
yang terpenting semoga bermanfaat ya untuk kita semua
Aamiin Allahumma Aamiin
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
__ADS_1
๐๐๐
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh