
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
πΉπΉπΉ
"Kakek, Nenek, Zaura kangen sama Kakek dan Nenek." Ucap Zaura yang sedang mengigau dalam tidurnya.
Filzah yang sedang tertidur di samping Zaura perlahan terbangun. Dengan separuh kesadarannya ia membuka kedua matanya. Dan langsung terkejut ketika melihat Zaura sedang mengigau-ngigau.
"Astaghfirullah, Zaura, badan kamu panas Sayang." Filzah panik ketika menyentuh dahi Zaura yang terasa panas.
"Kakek, Nenek, Zaura kangen sama Kakek dan Nenek." Ucap Zaura kembali mengigau.
"Ya Allah, Zaura tunggu sebentar ya Sayang, Bunda ambil kompresan dulu."
Tanpa berlama-lama lagi Filzah langsung keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil air kompresan.
Disaat Filzah sedang mengambil air kompresan di dapur, Azlan masuk ke dapur juga. Ia hendak mengambil air di kulkas namun ia urungkan usai melihat keberadaan Filzah.
"Filzah ada apa?, air kompresan itu untuk apa?" Tanya Azlan penasaran melihat Filzah membawa air kompresan lengkap dengan kain kompresan.
"Mas, ini, Zaura, Zaura tiba-tiba panas, ini aku mau mengompresnya." Jawab Filzah dengan kepanikan yang semakin memuncak.
"Apa?, Zaura panas?." Azlan terkejut bukan main.
Filzah mengangguk. "Iya Mas, kalau begitu aku ke kamar Zaura dulu ya Mas, mau mengompres Zaura supaya panasnya turun."
Tanpa berlama-lama lagi Filzah langsung keluar dari dapur dan menuju kamar Zaura untuk mengompresnya. Azlan tidak tinggal diam, ia ikut serta menyusul Filzah untuk melihat keadaan sang putri sambung.
"Bismillah." Filzah pun meletakkan kain kompresan ke dahi Zaura. Berharap panasnya segera turun.
"Zaura."
Azlan baru saja masuk ke dalam kamar Zaura. Ia langsung menghampiri Zaura dan memeriksa suhu badan Zaura. Dan benar saja suhu badan Zaura panas sekali.
"Badan Zaura panas sekali, kita harus bawa Zaura ke rumah sakit." Titah Azlan kepada Filzah.
Zaura terbangun. Ia membuka kedua matanya setelah mendengar suara Yandahnya. Dan benar saja Yandahnya kini sudah berada di hadapannya.
"Nggak, Zaura nggak mau ke rumah sakit." Zaura menolak keras untuk dibawa ke rumah sakit.
"Tapi Zaura sedang sakit, Zaura harus ke rumah sakit biar cepat sembuh ya." Azlan dengan halus memberikan pengertian kepada Zaura.
Zaura menggeleng keras. "Zaura nggak mau ke rumah sakit." Ujar Zaura dengan keras.
"Zaura, benar kata Yandah, kita ke rumah sakit ya, Zaura harus ditangani sama Dokter supaya Zaura cepat sembuh." Filzah mencoba memberikan pengertian kepada Zaura agar mau dibawa ke rumah sakit.
Namun keputusan Zaura tetap sama. Ia tidak mau dibawa kerumah sakit.
"Bunda, Zaura nggak mau ke rumah sakit, Zaura nggak butuh Dokter, Zaura butuh Kakek dan Nenek. Bunda ayo kita pulang ke kampung, Zaura ingin bertemu sama Kakek dan Nenek, Zaura kangen sama Kakek dan Nenek." Rengek Zaura sambil berlinang air mata.
Filzah menenangkannya. Ia dapat mengerti akan perasaan buah hatinya saat ini yang sedang merindukan Kakek dan Neneknya.
"Iya Sayang, kita akan pulang ke kampung untuk bertemu Kakek dan Nenek, tapi Zaura harus sembuh dulu ya, Zaura harus sehat dulu."
"Nggak mau, Zaura maunya pulang sekarang Bunda, Zaura sudah nggak betah tinggal di sini, cuma Kakek dan Nenek yang sayang sama Zaura dan Bunda."
"Ayo Bunda, kita pulang."
"Ayo Bunda."
Filzah hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa memberikan jawaban kepada Zaura. Di sisi lain Filzah ingin sekali menuruti keinginan Zaura namun ia tidak memiliki uang untuk pulang kampung ke Malang dan ia juga harus izin kepada Azlan terlebih dahulu dan belum tentu Azlan mengizinkannya.
__ADS_1
"Zaura mau pulang ke kampung?" Tanya Azlan kepada Zaura.
Zaura mengangguk penuh harap. Ia sakit karena merindukan Kakek dan Neneknya. Obatnya hanya satu yaitu harus bertemu dengan Kakek dan Neneknya.
"Baiklah, kalau begitu, besok Zaura sama Bunda bisa pulang kampung untuk bertemu sama Kakek dan Neneknya Zaura ya, Yandah yang akan pesan tiket pesawatnya."
"Terima kasih Mas, tapi-"
"Kamu tenang saja, tiket pesawatnya aku yang bayar, ini tanggung jawabku."
Filzah pun mengangguk. Ia dapat bernapas lega karena keinginan Zaura akan terwujud dan Azlan juga sudah membelikan tiket pesawat untuk mereka. Saat ini Filzah memang tidak memegang uang sepeserpun. Semenjak menikah Filzah sudah tidak bekerja di kedai milik Ibu mertuanya karena ia sudah tidak diperbolehkan bekerja lagi sehingga ia tidak ada pemasukan sama sekali dan Azlan juga belum pernah memberikan uang kepadanya karena kebutuhan rumah tangga sudah Hilyah yang menanggungnya.Β Sementara Filzah juga tidak enak untuk meminta uang kepada Azlan untuk sekedar pegangan saja.Β
"Terima kasih Mas." Tak lupa Filzah mengucapkan terima kasih kepada Azlan karena sudah berbaik hati mengizinkannya pulang kampung serta menanggung biaya tiket pesawatnya.
Azlan hanya mengangguk. Ia tak banyak bicara karena Filzah dan Zaura sudah menjadi tanggung jawabnya saat ini.
πΉπΉπΉ
Pagi-pagi sekali Filzah dan Zaura berangkat menuju bandara karena pesawat yang mereka pesan akan segera take off. Azlan sengaja memesan pesawat yang jadwal penerbangannya pagi agar mereka cepat sampai ke kampung halamannya dan Zaura bisa segera bertemu dengan Kakek dan Neneknya.
Penerbangan dari Jakarta ke malang, jawa timur memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Filzah dan Zaura sudah sampai di bandara Abdurrahman Saleh. Kemudian mereka menaiki angkot untuk menuju ke kediaman Jasir dan Uzmah.
"Bunda, kita nggak usah kembali lagi ke Jakarta ya, kita tinggal di sini saja sama Kakek dan Nenek, seperti dulu lagi."
"Zaura, kita akan kembali lagi ke Jakarta Sayang, sekarang Zaura kan sudah mempunyai keluarga di Jakarta, Zaura juga sudah punya Yandah kan."
"Tapi Yandah nggak sayang sama kita Bunda."
Filzah mengulas senyuman. "Zaura, Yandah sayang kok sama kita, buktinya Yandah mengizinkan Zaura sama Bunda pulang ke Malang, bahkan Yandah yang memesan tiketnya."
Zaura akhirnya terdiam. Ia tidak mengoceh lagi seperti tadi. Sepertinya hati Zaura mulai luluh dan rasa kesal kepada Azlan juga mulai memudar seiring Filzah memberikan nasihat lembut kepadanya.
"Nanti sesampainya di rumah Kakek dan Nenek, Zaura janji ya sama Bunda untuk tidak menceritakan apapun yang sudah terjadi sama kita, kalau Kakek dan Nenek sampai tahu, kasihan Sayang, takutnya Kakek dan Nenek jadi kepikiran dan nanti malah sakit."
Perlahan Zaura mengangguk. "Iya Bunda, in syaa Allah Zaura nggak akan menceritakan apapun sama Kakek dan Nenek, Zaura nggak mau Kakek dan Nenek nanti sakit."
πΉπΉπΉ
"Asalaamu 'alaikum, Kakek, Nenek."
Sesampainya di depan rumah Jasir dan Uzmah, Zaura tidak berlama-lama lagi dan langsung masuk ke dalam rumah Kakek dan Neneknya untuk bertemu dengan mereka. Filzah hanya bisa tersenyum dan menyusulnya dari belakang.
"Zaura."
Jasir dan Uzmah terkejut melihat kedatangan Zaura yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka kemudian disusul Filzah yang ikut masuk ke dalam juga.
"Kakek."
Zaura langsung berhambur kepelukan Jasir. Sementara Filzah meenghampiri Uzmah dan mencium tangannya dengan hormat.
"Zaura kangen sama Kakek, Kakek baik-baik saja kan?"
Jasir tersenyum. "Alhamdulillah Kakek baik-baik saja, cucu Kakek yang sholihah ini sehat juga kan?" Jasir balik bertanya tentang keadaan cucunya.
Zaura mengangguk dengan bersemangat. "Alhamdulillah Zaura sehat wal 'afiat Kek."
"Ibu sehat juga kan Bu?" Tanya Filzah ikut menanyakan keadaan Ibu mertuanya.
Uzmah tersenyum tenang. "Alhamdulillah Ibu Sehat, kamu juga sehat kan Nak?"
Filzah mengangguk seraya tersenyum. "Alhamdulillah Filzah juga sehat Bu."
"Nenek."
Kini giliran Uzmah yang Zaura peluk. Tak lupa Uzmah mendaratkan ciuman kasih sayang di kening cucu sang sematawayang.
__ADS_1
"Nenek, Zaura kangen sama Nenek, tapi sekarang sudah nggak, karena Zaura sudah bisa memeluk Nenek dengan erat lagi."
"Nenek juga kangen sama Zaura, alhamdulillah sekarang Nenek juga sudah bisa memeluk Zaura lagi."
"Oh iya, Ayah baru Zaura nggak ikut ke sini juga?, padahal Nenek sama Kakek ingin berkenalan sama Ayah barunya Zaura."
Zaura terdiam. Ia hanya bisa menoleh ke arah Filzah. Dan Filzah juga terdiam. Namun pada detik berikutnya ia tersenyum. "Yandahnya Zaura nggak bisa ikut ke sini Ibu, Bapak, karena ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggalkan."
"Oh, iya nggak apa-apa, lain kali saja Nenek dan Kakek berkenalannya sama Ayah barunya Zaura ya." ucap Uzmah tidak keberatan.
πΉπΉπΉ
Langit mulai menghitam. Rembulan dan bintang mulai bermunculan. Para pemburu rupiah mulai kembali ke rumahnya karena hari sudah mulai malam dan sudah waktunya pulang. Begitu juga dengan Azlan. Ia baru saja pulang dari kantor. Mobilnya sudah ia parkir dengan rapi di garasi rumahnya.
Azlan pun masuk ke dalam rumahnya. Namun ia merasa ada yang aneh. Ia merasa berbeda dari biasanya. Ia merasa ada yang mengganjal. Rasa lelah yang bertumpu di wajahnya kian terlihat.
"Biasanya saat aku pulang kerja, Filzah dan Zaura berdiri di ambang pintu, menyambut kepulanganku, senyuman manis mereka seakan membayar rasa lelahku, tapi sekarang mereka nggak ada di sini, rasanya ada yang kurang, dan seketika seperti sepi." Ucap Azlan yang mencurahkan perasaannya dengan jujur.
Sesampainya di kamar, Azlan menghela napas panjang. Rasa lelahnya semakin terasa. Ia langsung melempar tubuhnya ke atas ranjangnya yang empuk. Ia memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Ya Allah, sepi banget rasanya, biasanya sesampainya di kamar, Filzah langsung membantu aku menyiapkan baju gantiku, dan membuatkan aku teh hangat, tapi sekarang, aku seperti kembali bujang, apa-apa harus dilakukan sendiri." Azlan mengusap wajahnya gusar.
"Filzah memang istri yang baik, dia melayani aku dengan baik, sampai-sampai sekarang aku merasa bergantung sama dia dan nggak bisa apa-apa tanpa dia." Ucap Azlan mengakui kelemahannya saat ini yang tidak bisa apa-apa tanpa Filzah.
"Semoga Filzah dan Zaura cepat pulang supaya aku nggak merasa kesepian lagi, dan aku nggak uring-uringan seperti ini lagi, aku akui kehadiran Filzah dan Zaura membuat hidupku menjadi lebih berwarna dan aku menjadi lebih bersemangat dalam menjalani hidup ini."
Berat sekali rasanya kaki Azlan untuk melangkah menuju kamar mandi namun ia harus segera mandi agar tubuhnya kembali segar dan bugar. Dengan sekuat tenaga Azlan melawan rasa malas geraknya dan akhirnya ia berhasil masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang bisa membuat tubuhnya segar kembali.
πΉπΉπΉ
Kreggg...
Azlan membuka kenop pintu kamar Zaura yang sepi dan sunyi. Biasanya ia masuk langsung disambut penuh suka cita oleh Zaura. Namun saat ini hanya keheningan yang menyambutnya.
"Kamar ini seperti nggak bernyawa kalau ditinggal Zaura, ya Allah, sepi sekali rasanya, sehari nggak melihat senyuman manisnya membuat aku jadi rindu sama Zaura, cepat pulang ya Nak, Yandah sudah rindu sama kamu, dan rasanya nggak ingin berjauhan lagi sama kamu, Yandah sudah kapok menahan rindu sama kamu Nak."
Azlan menduduki kursi belajar milik Zaura. Ia tersenyum melihat koleksi gambar-gambar hasil karya Zaura yang terpanjang rapi.
"Ternyata Zaura suka menggambar dan hasil gambarnya bagus sekali, lucu seperti orangnya, jadi semakin rindu sama putriku yang lucu itu, cepat pulang ya Nak, Yandah benar-benar sudah rindu sama kamu."
Dari banyaknya gambar yang terpanjang entah mengapa tiba-tiba saja Alzan terhenti di salah satu gambar, yaitu sebuah rumah sederhana yang ada tulisan "rumah Kakek dan Nenek di Malang".
"Pasti Zaura sekarang sedang ada di rumah ini, kamu sedang apa Nak?, kamu sudah makan apa belum?" Azlan mengelus lembut gambar rumah yang menurutnya adalah rumah Kakek dan Neneknya Zaura di Malang.
Pada gambar tersebut rupanya bukan hanya tertulis "Rumah Kakek dan Nenek di Malang" namun juga terdapat tulisan alamat lengkap dari rumah tersebut.
"Mungkin ini alamat rumah Kakek dan Neneknya Zaura, Zaura pasti sayang sekali sama Kakek dan Neneknya sampai dia tulis alamat lengkap rumahnya karena takut lupa." Azlan tersenyum sembari menatap gambar rumah tersebut seolah ia sedang menatap wajah imut Zaura ketika sedang tersenyum.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Masih pada setia di lapak ini kan???
Masih pada kepoin perjalanan cintanya Azlan dan Filzah
kan???
Semoga iya yaaa
π€π€π€
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
πππ
__ADS_1
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh