
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
๐น๐น๐น
Sebuah mobil terhenti di halaman rumah sederhana milik keluarga Jasir. Seorang laki-laki yang mengemudikan mobil itu keluar dari mobilnya. Dia adalah Azlan yang sengaja datang ke Malang untuk menyusul istri dan putrinya. Azlan memperhatikan dengan seksama rumah di hadapannya. Kemudian ia melirik kepada secarik kertas yang bertuliskan alamat rumah yang ia salin dari gambar yang terpajang di kamar Zaura.
"Dari alamatnya benar, ini rumahnya."
Tanpa berlama-lama lagi Azlan langsung melangkahkan kakinya. Ia berhenti di depan pintu yang tertutup rapat.
Tok... tok... tok...
Azlan mengetuk pelan pintu rumah itu. Ia berharap yang membuka pintunya adalah Zaura karena ia sudah tidak tahan menahan rindu yang bergejolak kepada gadis kecil yang sudah mewarnai hidupnya belakangan ini.
Sementara di dalam rumah, Uzmah baru saja keluar dari dapur usaiย sarapan pagi bersama Jasir. Uzmah mendengar bunyi ketokan pintu tanpa berlama-lama lagi ia langsung menuju ruang tamu untuk membuka pintu rumahnya.
Kreggg...
Uzmah membuka pintu rumahnya. Ia dan Azlan secara tidak sengaja saling bertatap muka. Tiba-tiba saja keduanya terkejut satu sama lain. Mereka sepertin sudah saling bertemu sebelumnya.
"Ibu Uzmah?"
"Nak Alan?"
Keduanya saling tercekat. Baik Azlan maupun Uzmah rupanya memang sudah saling mengenal. Dan mereka tidak menyangka kini dipertemukan kembali.
"Ibu apa kabar?"
"Alhamdulillah Ibu baik, Nak Alan sendiri bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah saya baik juga Bu."
"Oh iya Nak Alan tahu dari mana alamat rumah Ibu?" Uzmah tersadar dan mulai menanyakan dari mana Azlan tahu rumahnya di Malang.
Tiba-tiba saja Azlan terdiam. Ia bungkam seribu bahasa. Ia kembali tersadar bahwa kedatangannya ke rumah ini adalah untuk bertemu dengan Zaura namun ia malah bertemu dengan Uzmah.
Itu artinya...
"Saya ke sini ingin bertemu dengan Zaura."
"Nak Alan kenal dengan Zaura, cucu Ibu?"
"Cu-cucu?." Tanya Azlan tak menduga.ย
Uzmah menganggukkan kepala. Ia kebingungan dengan ekspresi wajah Azlan yang terkejut.
"Iya Nak Alan, Zaura cucu Ibu, anaknya Fahril."
"Ibu, Ibu saya Ayah barunya Zaura, dan berarti Ayah Zaura yang meninggal adalah...."
"Aril." Azlan lemas seketika.
Tidak dapat dipungkiri Uzmah juga terkejut mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa Azlan adalah Ayah barunya Zaura, pengganti Fahril, putranya.
"Ja-jadi Nak Alan Ayah barunya Zaura?, ya Allah Ibu tidak menyangka ternyata yang menggantikan sosok Aril sebagai Ayahnya Zaura adalah Nak Alan, maa syaa Allah."
"Bu, Aril sudah meninggal?" Kedua mata Azlan mulai berkaca-kaca.
Uzmah menganggukkan kepalanya. Ia ikut terbawa suasana dan air matanya sudah jatuh lebih dulu.
"Iya Nak Alan, Aril sudah meninggalkan dunia ini, tepatnya tujuh tahun yang lalu, ia meninggal karena terjadi kecelakaan di tempat kerjanya."
"Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun, Aril." Azlan tak kuasa menahan air matanya.
"Aril kerja apa Bu?"
__ADS_1
"Aril bekerja sebagai kuli bangunan, salah satu pekerjaan yang memiliki resiko tinggi, tapi ini sudah takdir, Allah lebih sayang kepadanya makanya Allah mengambilnya dari kita."
"Ternyata sahabat yang selama ini aku cari sudah nggak ada, dia sudah pergi lama, tapi aku baru mengetahuinya, ya Allah, kuatkan hambaMu ini."
Azlan mengusap wajahnya kasar. Ia dirundung duka karena telah kehilangan sahabat yang selama ini ia cari-cari. Kini ia sudah menemukan keberadaannya namun hanya tertinggal namanya saja.
"Nak Alan yang sabar ya, ikhlaskan kepergian Aril, memang ini tidak mudah, tetapi tidak ada jalan lain selain kita bersabar untuk menghadapi ujian yang berat ini."
Sebagai seorang Ibu yang menyayangi putranya, Uzmah tidak bisa menutupi kesedihannya. Ia tidak akan terlepas dari air mata apabila mengingat Fahril, putra sematawayangnya yang telah lama pergi meninggalkannya.
"Ibu, saya ingin berziarah ke makam Aril Bu, saya ingin menemuinya,ย meskipun yang saya temui hanya batu nisannya saja."
Uzmah mengangguk. Ia bersedia mengantarkan Azlan ke tempat peristirahatan terakhir putranya sekaligus sahabat lama dari Azlan.
๐น๐น๐น
Langkah Azlan terhenti. Ia terlunglai lemas di samping pusara bertuliskan "Fahril Ramadhan binti Jasir Muzaffar". Matanya berkaca-kaca seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Aril, alhamdulillah ya kita bertemu lagi, tapi dengan keadaan yang berbeda." Sekuat tenaga Azlan menahan isak tangisnya yang hampir pecah. "Aku hanya bisa bertatap muka dengan batu nisan yang berukir namamu, aku sudah nggak bisa lagi melihat wajah kamu yang polos tak bercorak itu." Azlan masih sempatnya terkekeh ketika ia mengingat wajah polos dan tenang milik Fahril, sahabat karibnya.
Uzmah hanya bisa mengelus pundak Azlan. Ia mencoba untuk menguatkan sahabat lama putranya yang sudah ia anggap sebagai putranya juga, saudaranya Fahril. Disela-sela itu Uzmah juga terus menguatkan dirinya yang mudah lemah jika sedang berziarah ke makam putranya.
Azlan menjadi teringat akan masa-masa dulu. Kenangan bersama Fahril disaat mereka masih duduk di bangku SMA.
10 tahun yang lalu...
Kedua pemuda yang sedang memakai seragam putih abu-abu yang tidak lain adalah Azlan dan Fahril baru saja keluar dari kelas mereka. Ini hari kelulusan mereka dan mereka beserta teman-teman seangkatannya telah dinyatakan lulus.
"Alhamdulillah akhirnya kita lulus juga ya." Ucap syukur Fahril.
"Ya iyalah Bro pasti kita lulus, kita kan sudah berjuang otak dan tenaga kita selama ini, dan ini hasilnya, kita lulus." Azlan dengan bangganya melangitkan kertas pernyataan kelulusannya.
"Ini juga berkat Allah Lan, sekuat apapun kita berusaha kalau Allah nggak berkehendak, kita nggak akan lulus."
Azlan memutar bola matanya jengah. "Iya iya pak ustadz, oh iya ngomong-ngomong lo mau lanjutkan ke mana nih?, bareng gue saja deh, di universitas Indonesia."
Fahril hanya tersenyum. "Aku sepertinya pulang ke Malang, kedua orang tuaku mau pindah lagi ke Malang, mereka mau melanjutkan hidupnya di Malang, di tanah kelahirannya." Ucap Azlan dengan yakin.
"Yah lo nggak asyik nih, masa persahabatan kita cuma tiga tahun saja, ya sudahlah kalau kedua orang tua lo mau tinggal di kampung ya lo di sini saja, kita kuliah bareng-bareng." Azlan sedikit kecewa dengan keputusan Fahril yang katanya akan ikut pulang kampung bersama kedua orang tuanya.
"Lan, meskipun nanti kita nggak satu kota lagi bukan berarti persahabatan kita berakhir, dan aku nggak berniat untuk lanjut kuliah, aku mau membantu orang tuaku untuk mencukupi kebutuhan hidup kami, aku mau cari kerja."
"Oh, ya sudah kalau begitu lo cari kerja di sini saja, di ibu kota Jakarta ini banyak kok lowongan pekerjaan."
"Nggak bisa Ril, aku sudah membuat keputusan untuk pulang ke kampung halamanku, kedua orang tuaku sudah saatnya mereka menikmati masa tuanya dengan istirahat di rumah, ini saatnya aku membahagiakan mereka, selain bekerja aku ingin menemani mereka hidup di kampung, aku minta maaf ya Ril aku nggak bisa tinggal di Jakarta lagi."
Azlan bisa apa jika memang itu sudah keputusan Fahril. Lagi pula ia tidak punya wewenang untuk melarang Fahril pulang ke kampung halamannya. Namun sebagai seorang sahabat sudah dipastikan Azlan merasa berat hati ditinggal Fahril.
"Ya sudah kalau memang itu keputusan lo, gue hargai, tapi ingat ya Ril, meskipun kita sudah nggak bisa bertemu lagi bukan berarti kita putus hubungan, pokoknya lo harus tetap hubungi gue, persahabatan kita nggak boleh putus, meskipun kita nggak bisa hang out bareng lagi."
Fahril hanya bisa tersenyum. Sahabatnya yang satu ini posesif sekali. Padahal Fahril hanya sahabatnya bukan kekasihnya. Mungkin jika Azlan mempunyai kekasih ia akan posesif sekali. Seperti yang dilakukannya kepada Fahril saat ini.
*****
"Lo sahabat terbaik gue Ril, sampai kapanpun lo nggak akan tergantikan, gue mencari lo selama ini, berkali-kali gue hubungi lo tapi lo susah sekali dihubungi." Ujar Azlan ketika tersadar dari lamunan ingatannya di masa lalu bersama Fahril.
"Maaf Nak Alan, waktu itu saat kami perjalanan pulang ke kampung, Aril kecopetan, dia kehilangan handponenya, makanya dia nggak bisa dihubungi, dan Aril juga nggak bisa hubungi kamu." Uzmah mencoba menjelaskan penyebab Fahril susah dihubungi waktu itu.
Azlan tersenyum. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya kini ia cukup bersyukur karena sudah dipertemukan kembali dengan sahabat terbaik yang pernah mengisi hari-harinya di kala waktu masa SMA dulu. Azlan sangat bersyukur karena memiliki sahabat yang baik seperti Fahril. Mungkin jika Azlan tidak bertemu dan bersahabat dengan Fahril, Azlan tidak akan menjadi orang yang baik. Namun dengan hadirnya Fahril, Azlan bisa tertular menjadi orang yang lebih baik.
Nabiย shallallahu โalaihi wa sallamย mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita.
ู ูุซููู ุงููุฌููููุณู ุงูุตููุงููุญู ููุงููุฌููููุณู ุงูุณููููุกู ููู ูุซููู ุตูุงุญูุจู ุงููู ูุณููู ุ ูููููุฑู ุงููุญูุฏููุงุฏู ุ ูุงู ููุนูุฏูู ููู ู ููู ุตูุงุญูุจู ุงููู ูุณููู ุฅูู ููุง ุชูุดูุชูุฑูููู ุ ุฃููู ุชูุฌูุฏู ุฑููุญููู ุ ูููููุฑู ุงููุญูุฏููุงุฏู ููุญูุฑููู ุจูุฏููููู ุฃููู ุซูููุจููู ุฃููู ุชูุฌูุฏู ู ููููู ุฑููุญูุง ุฎูุจููุซูุฉู
โSeseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.โ (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, โHadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.โ (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Maโrifah, Beirut, 1379).
"Sekarang aku mendapatkan jawabannya." Azlan teringat akan sesuatu hal. "Ril, waktu itu saat pertama kali gue bertemu dengan Zaura, gue merasa nggak asing sama bola mata Zaura, gue seperti pernah melihatnya sebelumnya, dan ternyata sepasang mata Zaura mirip sama mata lo Ril, dan ternyatanya lagi, Zaura adalah anak lo, darah daging lo, gue sama sekali nggak menyangka kalau gue akan disatukan dengan istri dan anak lo Ril."
__ADS_1
Uzmah tersenyum. "Allah yang menakdirkan Nak Alan bertemu dengan Filzah dan Zaura yang tidak lain adalah istri dan anaknya Aril, menantu dan cucu Ibu."
Azlan beralih memandang Uzmah. Ia membalas senyuman tulus dari Uzmah. "Iya Bu, Allah yang menakdirkan kami bersatu, bagiku Filzah dan Zaura adalah pengganti Aril yang dulu pernah menjadi bagian hidupku."
Seketika Azlan terdiam. Dan isak tangisnya pecah. Ia menangis sembari memegang kuat pusara Fahril.
"Maafkan gue Ril, maafkan gue." Azlan berkata dalam hatinya. Tiba-tiba ia merasa bersalah. Bersalah kepada Filzah, istrinya.
"Selama ini gue sudah mencoba menjadi Ayah yang baik untuk Zaura."
"Tapi..."
"Tapi gue nggak mencoba menjadi suami yang baik untuk Filzah."
"*Maafkan gue Ril, maafkan perlakuan buruk gue terhadap Filzah, istri lo, gue yakin lo pasti marah dan kecewa sama gue, karena gue sudah menyia-nyiakan Filzah, perempuan yang pasti sangat lo cintai."
"Gue nggak bermaksud seperti itu, tapi gue belum bisa, menerima Filzah menjadi istri gue, gue belum mencintainya"
"Tapi..."
"Tapi setelah gue tahu ternyata Filzah adalah istri lo, gue janji, gue janji sama lo Ril, gue akan berusaha menjadi suami yang baik, bahkan gue akan berusaha untuk mencintai Filzah*."
Azlan menghela napas panjang. Ia menyeka air matanya. Di hadapan pusara Fahril ia telah mengikrar janji. Ia berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Filzah, mantan istri dari sahabatnya sendiri.
"Fahril, Ibu yakin sekarang kamu sudah tidak khawatir lagi, karena Filzah telah menemukan laki-laki yang baik, yang menggantikan posisimu untuk menjadi suaminya,ย dan Zaura juga sudah menemukan Ayah yang baik yang menggantikan posisimu untuk menjadi Ayahnya, laki-laki baik itu adalah Alan, sahabat kamu sendiri Nak."
Uzmah tersenyum kepada Azlan. Ia dapat bernapas lega karena menantu dan cucunya berada di tangan laki-laki yang tepat. Uzmah mengenal betul siapa Azlan. Menurutnya Azlan adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Ia juga yakin bahwa Azlan bisa membahagiakan Filzah dan Zaura.ย
Azlan hanya dapat tersenyum pahit. Ia merasa tidak pantas mendapatkan pujian dari Uzmah. Karena selama menikah ia tidak menjadi sosok suami yang baik untuk Filzah. Ia telah berdosa karena telah mendzolimi Filzah, istriya sendiri.ย
ุฎูููุฑูููู ู ุฎูููุฑูููู ู ููุฃููููููู ููุฃูููุง ุฎูููุฑูููู ู ููุฃูููููู
โSebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istrikuโย (HR At-Thirmidzi no 3895 dari hadits Aisyah dan Ibnu Majah no 1977 dari hadits Ibnu Abbas dan dishahihakan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 285))
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Selamat hari kamis
Reders yang manis
๐ค๐ค๐ค
Btw ada yang sudah nungguin part terbaru ini kah???
Mana nih para pemburu updatetan part terbaru
๐ค๐ค๐ค
Alhamdulillah cinta istiqomah sudah mencapai 20 part/bagian
Bagaimana sudah ada manis-manisnya belum???
๐๐๐
Terus doakan Ukhfira ya semoga bisa meneruskan part-part selanjutnya bahkan sampai tamat
Supaya kalian nggak penasaran dan Ukhfira bisa bernapas dengan tenang
๐๐๐
Penasaran dengan part selanjutnya???
๐ค๐ค๐ค
Mohon ditunggu yakk
๐ค๐ค๐ค
__ADS_1
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh