
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang
di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa
๐น๐น๐น
Seorang laki-laki dengan pakaian serba putih sedang tersesat di sebuah taman yang indah dengan taburan bunga-bunga mawar yang berwarna senada. Laki-laki itu tidak lain adalah Azlan. Ia kebingungan melihat suasana sekitar.
"Aku di mana ini?, kenapa tempat ini asing sekali?" Tanya Azlan kepada dirinya sendiri.
Tiba-tiba pandangan Azlan terhenti pada satu titik. Sepasang matanya menatap ke arah seorang perempuan cantik dengan balutan gamis dan khimar syari berwarna putih bersih. Perempuan bak Bidadari syurga itu sedang duduk di kursi taman dengan pancaran senyuman ia tebarkan kepada Azlan.
"Dindaaa." Panggil Azlan seraya langsung berlari untuk menghampirinya.
Setelah sampai di hadapan perempuan cantik itu Azlan langsung memeluknya dengan begitu erat dan enggan untuk melepaskannya. Kerinduan yang ia pendam kini telah terobati. Azlan bahagia sekali karena bisa memeluk sang istri yang ia cintai dengan sepenuh hati.
"Dinda, aku rindu sama Dinda, Dinda ke mana saja?, Dinda jangan pergi lagi ya?" Pinta Azlan dengan penuh permohonan usai melepas sejenak pelukannya.
"Kanda, maafkan aku ya, aku nggak bisa menemani Kanda lagi, waktuku di dunia sudah habis. Aku harap Kanda bisa menerima ini semua dengan lapan dada." Ucap lirih Filzah dengan senyuman yang terus terpancar di wajahnya yang bersinar.
Azlan menggeleng cepat. Ia tidak setuju dengan ucapan sang istri tercinta. "Nggak Dinda, Dinda nggak boleh perg, aku nggak akan lepaskan Dinda lagi." Dengan cepat Azlan kembali merengkuh tubuh istrinya agar ia tidak ditinggal pergi lagi.
Filzah terkekeh. Ia sangat bahagia melihat suaminya begitu tulus mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya. Namun takdir yang telah memisahkan raga mereka namun hati mereka akan tetap terpaut satu sama lain.
"Kanda, aku mencintai Kanda, sangat mencintai Kanda." Tutur Filzah dengan setulus hatinya.
Azlan mencium pundak istrinya dengan mesra. "Aku juga saaangat mencintai Dinda, dan aku nggak inginย kita berpisah, tetaplah bersamaku, bersama anak-anak kita."
Azlan meletakkan kepalanya di pundak sang istri. Ia merasakan ketenangan serta kenyamanan bahkan tak terasa ia hanyut dalam tidurnya.
"Azlan"
"Azlan bangun Nak."
Sayup-sayup Azlan mendengar seseorang sedang memanggilnya. Perlahan sepasang matanya terbuka. Dan Azlan sangat terkejut mendapati dirinya sedang berada di dalam kamarnya. Seketika Azlan tersadar bahwa ia baru saja memimpikan istri yang teramat dirindukannya.
"Ya Allah ternyata aku hanya bermimpi." Ucap Azlan dengan wajah gusar dan kecewa.
Azlan pun mengedarkan pandangannya dan ia menatap wajah senduh sang Mama yang sejak tadi hanya terdiam memperhatikannya.
"Mamaaa." Pekik Azlan dengan air mata yang mulai menetes.
Azlan beringsut ke bawah. Ia membenamkan wajahnya di pangkuan sang Mama dan menangis sesegukan.
"Mama, Filzah sudah pergi Ma, Filzah pergi meninggalkan Azlan, Ma."
Hilyah mengusap air matanya. Ia tidak dapat menahan buliran-buliran air mata yang mengalir begitu saja. Kepergian Filzah bukan hanya menjadi kesedihan Azlan seorang tetapi juga kesedihan semua orang termasuk Hilyah. Ibu mertua mana yang tidak terpukul atas kepergian menantunya, terlebih menantu yang berhati mulia dan sebaik Filzah.
"Sabarkan hatimu Nak, kuatkan jiwamu, Mama tahu apa yang kamu rasakan, tapi ini sudah ketetapan dari Allah, dan kita nggak bisa mengubahnya. Saat ini Filzah membutuhkan doa dari kamu. Dan semoga kalian berjodoh sampai syurga."
"Aamiin."
__ADS_1
Usai menumpahkan kesedihannya yang tiada habisnya, Azlan mencoba untuk tegar meskipun hatinya luka tak berdarah akibat ditinggal kekasih hati yang takkan pernah bisa untuk kembali lagi, kecuali apabila nanti Allah perkenankan untuk bersatu kembali di JannahNya.
"Ma, Azlan nggak tahu apa Azlan bisa menjalani hidup ini tanpa Filzah, rasanya Azlan nggak mampu Ma, Azlan nggak kuat."
Hilyah meraih tengkuk sang Putra. Ia ingin memberikan Putranya kekuatan dalam menghadapi ujian terberat ini.
"Azlan dengarkan Mama, in syaa Allah kamu mampu, kamu mampu menjalani ujian terberat ini, karena Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan kamu. Luaskan hati kamu ya, perbanyak rasa sabar agar kamu bisa tegar menghadapi semua ini."
Azlan meletakkan kepalanya di pangkuan sang Mama. Air mata terus saja mengalir tanpa jeda. Ia benar-benar rapuh usai ditinggal Filzah untuk selama-lamanya.
Hilyah membelai lembut kepala sang Putra untuk menguatkannya. "Azlan, kamu adalah anak Mama yang hebat, meskipun Filzah telah pergi, kamu tetap harus ingat, kalian masih memiliki anak, ada Zaura dan bayi kalian yang baru saja terlahir ke dunia, mereka membutuhkan kamu, Yandahnya, mereka membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya. Kamu harus tetap kuat ya, demi anak-anak kamu, buah hati kamu dan Filzah."
Azlan pun tersadar. Ia teringat akan Zaura dan bayi yang kemarin masih berada di dalam kandungan istrinya. Kini ia punya alasan untuk tetap kuat diatas terpaan ujian yang menghadang. Benar kata sang Mama bahwa anak-anaknya membutuhkan dirinya. Membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya. Tetapi jika dipikir lagi Azlan tidak akan sanggup membesarkan anak-anak mereka seorang diri. Azlan membutuhkan istri di sampingnya. Ia tidak bisa berdiri sendiri. Anak-anaknya membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya yang lengkap. Namun takdir tidak memihak kepada mereka. Masih kecil mereka harus terpisahkan dengan Bunda mereka. Tragis sekali.
"Azlan."
Suara seseorang dari ambang pintu menyadarkan Azlan. Ia pun mendongakkan kepalanya. Ia melihat Selin dan Ergin sedang berdiri di hadapannya.
"Azlan aku minta maaf, selama ini aku banyak salah sama Filzah." Tiba-tiba Selin langsung bersimpuh di hadapan Azlan diikuti juga oleh Ergin.
"Iya Azlan kami minta maaf, selama ini kami sudah menyakiti hati istri kamu, Filzah. Kami pantas diberikan hukuman atas perbuatan jahat yang selama ini kami perbuat kepada Filzah." Ucap Ergin ikut mengakui kesalahannya.
Azlan menggeleng pelan. "Kak Selin, Abang, aku nggak punya hak untuk memaafkan kalian, karena kalian punya salah sama Filzah, bukan sama aku."
Selin semakin berderai air mata. Ia tidak mendapatkan kata maaf dari Filzah karena ia sudah terlambat untuk meminta maaf. Filzah sudah pergi dan takkan kembali, lalu bagaimana ia bisa mendapatkan kata maaf dari orang yang telah pergi dari dunia ini?, sungguh mustahil.
"Tapi aku yakin, Filzah pasti sudah memaafkan kalian, Filzah memiliki hati yang mulia, dia bukan orang yang pendendam. In syaa Allah kesalahan Abang Ergin dan Kak Selin sudah termaafkan." Timpal Azlan melanjutkan ucapannya.
Selin sangat lega mendengarnya. "Alhamdulillah, aamiin semoga Filzah sudah memaafkan kesalahan kami." Tutur Selin dengan penuh harap.
"Abang, Kak Selin, tolong doakan istriku Filzah, semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah dan semoga menjadi penghuni syurga."
"Abang, aku minta sama Abang, apapun yang terjadi diantara kalian jangan pernah Abang menyakiti hati Kak Selin apalagi sampai tega mengusirnya. Cukup aku yang menyesal karena kesalahan aku kepada istriku, cukup aku yang menjadi suami yang dzolim kepada istriku sendiri."
Ergin mengangguk pasrah. Ia akan selalu mengingat nasihat penting dari Adiknya. Di sisi lain Ergin ikut hanyut dalam kesedihan sang Adik. Belum tentu ia bisa kuat dan tegar seperti Azlan jika berada di posisinya. Ia harus banyak-banyak bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan kepada dirinya untuk tetap bersama istrinya hingga detik ini.
๐น๐น๐น
Di keheningan Malam Azlan seorang diri di dalam kamarnya. Ia mendekap erat sebuah gamis berwarna navy milik istrinya. Ia memeluk erat gamis itu seakan ia sedang memeluk tubuh istrinya, Filzah.
"Dinda, aku merindukanmu Sayang, aku sangat merindukan kamu, kembalilah Sayang, kembali kepelukanku." Ucapnya dengan isak tangis yang kembali hadir mengiringi keterpurukannya.
Masa-masa indah bersama Filzah yang terekam di memori ingatannya kini bermunculan kembali. Azlan tersenyum penuh cinta ketika mengingatnya kembali.
"Dinda, sekarang Dinda sedang apa?, aku kesepian di sini tanpa Dinda, aku nggak bisa tidur tanpa Dinda, aku terus kepikiran sama Dinda."
Azlan mengeluarkan keluh kesahnya seakan ia sedang berbincang hangat dengan istrinya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kini ia harus hidup sendiri lagi, tanpa pendamping di sisi. Semuanya terasa hambar tak ada kemanisan lagi yang ia rasakan dalam hidupnya.ย
"Aku adalah orang yang nggak pernah mau bersyukur. Seharusnya dulu aku menjaga dan menyayangi istriku apapun yang terjadi, seharusnya aku mempercayainya bukan malah menyalahkannya. Kini aku benar-benar menyesal, menyesal yang nggak ada artinya. Istriku sudah pergi dan dia nggak akan pernah bisa kembali lagi. Ini semua gara-gara aku, gara-gara kebodohan aku." Azlan mengusap wajahnya kasar dan gusar.
"Sekarang aku hanya bisa menyesal dan menyesal, pa artinya penyesalan aku ini?, nggak ada artinya sama sekali." Azlan semakin menyalahkan dirinya sendiri.
"Ya Allah kuatkan aku, kerindukanku kepada istriku sangat menyakitkan hatiku, aku tersiksa menahan rindu yang nggam akan bisa terobati, karena yang kurindukan nggak bisa aku temui lagi, nggak bisa aku lihat lagi."
"Dinda aku mencintaimu"
__ADS_1
"Aku merindukanmu."
Azlan menjerit mengeluarkan semua curahan isi hatinya. Ia teramat merindukan istrinya. Dulu saat istrinya masih ada ia tega menyia-nyiakannya, tetapi kini setelah istrinya pergi ia baru menangis histeris penuh akan penyesalan.ย
"Aku menyesal ya Allah"
"Aku menyesaaaal"
Azlan duduk meringkuk. Ia memeluk lututnya dengan menangis penuh histeris. Tangannya hanya bisa membelai tempat tidur yang biasa di tempati istrinya saat tidur. Ingin sekali ia membelai tubuh istrinya lagi namun kini semuanya terasa mustahil.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Ukhfira nggak bisa berkata apa-apa lagi
Perasaan Ukhfira sudah terkuras habis
๐ฃ๐ฃ๐ฃ
Ukhfira tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai
Ukhfira tahu bagaimana rasanya merindukan orang yang telah pergi
Ukhfira tahu bagaimana rasanyaย menyesal namun tiada arti
Semuanya Ukhfira tahuuu
๐ญ๐ญ๐ญ
Readers apa yang terjadi dengan Azlan tolong untuk dijadikan sebagai pembelajaran yaaa
๐๐๐
Jika orang yang kalian cintai masih ada di dunia ini
Tolong cintai dan sayangi
Jangan disiakan-siakan
Karena ketika sudah pergi hanya penyesalan yang terjadi
๐๐๐
Untuk yang sudah kehilangan orang yang dicintai
Luaskan hatimu
Tambahkan kesabaranmu
Kuatkan raga dan jiwamu
Dan berdoalah agar Allah menyatukan kembali di syurgaNya
Aamiin Allahumma Aamiin
__ADS_1
๐๐๐
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh