
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang
di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa
🌹🌹🌹
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama akhirnya Dokter yang dibantu beberapa Suster berhasil mengeluarkan bayi mungil dari dalam perut Ibunya dengan jalan operasi cesar.
"Suster tolong masukkan bayi ini ke dalam inkubator." Titah Dokter kepada salah satu Suster yang membantunya.
"Baik Dokter."
Bayi mungil yang baru saja terlahir ke dunia ini kondisinya sangat lemah. Bayi sekecil itu tidak seharusnya dilahirkan ke dunia karena waktunya belum tiba. Tetapi pendarahan hebat yang dialami oleh Ibunya mengharuskannya untuk melahirkan sebelum waktunya sehingga bayinya terlahir dalam keadaan prematur.
Kini Dokter fokus menangani Ibu sang bayi yang kondisinya semakin melemah. Pendarahan hebat yang dialaminya menyebabkan kondisi tubuhnya tidak stabil dan akan berakibat fatal jika Dokter tidak segera memberikan tindakan.
Disaat Dokter sedang sibuk menjahit bagian perut yang menjadi jalan keluarnya bayi mungil itu, tiba-tiba salah satu Suster panik melihat detak jantung pasien di monitor menurun.
"Dokter, detak jantung pasien melemah."
Dokter langsung menoleh ke arah monitor alat pendeteksi jantung, dan benar saja garis yang tadinya bergelombang mulai mengecil. Menandakan bahwa kondisi Filzah mulai melemah.
"Suster tolong siapkan alat defibrillatornya." Perintah Dokter dengan sigap.
"Baik Dok." Jawab Suster seraya bergerak cepat.
Usai menyelesaikan pekerjaan sebelumnya, yaitu menjahit bagian perut yang tersobek akhirnya Dokter mengambil alih alat defibrillatornya untuk menyetrum jantung pasien.
"Bismillahirohmaanirrohiim."
Dengan ucapan Basmalah Dokter melancarkan aksinya. Ia meletakkan alat defibrillatornya tepat di dada Filzah. Dan alat defibrillatornya berkerja dengan baik. Tubuh Filzah langsung memberikan respon dengan tubuh bagian atasnya sempat terangkat beberapa detik.
Jantung Filzah merespon dengan baik. Dokter bisa melihat di alat monitornya bahwa detak jantung pasiennya mulai stabil.
"Alhamdulillah jantungnya kembali stabil."
"Iya Dok, alhamdulillah."
Usai Dokter dan para Suster bernapas lega tiba-tiba saja mereka kembali sesak napas melihat detak jantung Filzah kembali melemah dan gelombang-gelombang di alat monitornya langsung berubah menjadi garis-garis lurus dan berbunyi.
Tuttt... tuttt... tuttt...
"Dok." Pekik Suster dengan tercekat.
Seketika raut wajah Dokter berubah. Kedua matanya memerah dan hanya bisa menggelengkan kepala kepada para Susternya.
"Pasien telah meninggal dunia." Ucap Dokter lirih.
Para Suster hanya dapat mengangguk. Disaat melihat pasiennya tak tertolong seperti ini mereka ikut sedih dan merasa sudah gagal menjalankan tugasnya dengan baik.
"Tolong lepaskan semua alat-alat medis di tubuh pasien, saya akan keluar untuk memberitahu keluarganya."
"Baik Dok." Jawab Para Suster dengan serempak.
Pintu ruang operasi perlahan terbuka dan Dokter pun menampakkan dirinya. Jasir dan Uzmah langsung mendekatinya.
"Dokter bagaimana operasinya, lancar kan Dok?" Tanya Jasir cemas.
Dokter tersenyum singkat. "Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, dan bayi Ibu Filzah juga sudah lahir dengan selamat." Tutur Dokter memberikan kabar terbaru yang melegakan hati Jasir dan Uzmah begitu juga dengan Zaura.
"Alhamdulillah." Ucap semuanya dengan rasa syukur tak terhingga.
"Tetapi karena bayinya lahir prematur jadi untuk sementara waktu harus dirawat di rumah sakit."
"Lalu bagaimana keadaan Ibunya Dok, anak kami Filzah baik-baik saja kan Dok?" Uzmah sangat mengkhawatirkan kondisi Filzah yang belum diketahui keadaannya.
Tiba-tiba Dokter bungkam seribu bahasa. Ia menatap nanar kea rah Jasir dan Uzmah juga ke arah Zaura yang dapat ia tebak bahwa gadis kecil itu adalah anak dari pasiennya.
"Mohon maaf Ibu, Bapak, kami tidak dapat menyelematkan Ibunya, Pasien sudah meninggal dunia, karena pendarahan hebat yang dialaminya."
__ADS_1
Mereka seperti dihantam gelegar petir yang dahsyat saat mendengar berita buruk yang didengar langsung dari Dokter yang menangani Filzah, anak mereka, Bundanya Zaura.
"Innalillahi wainna ilaihi roojiuun." Ucap Jasir lirih.
"Filzah..." Seketika Uzmah menyelinap masuk ke dalam ruang operasi. Kemudian disusul oleh Jasir dan Zaura.
"Bundaaaaaaa." Pekik Zaura dengan air mata yang berjatuhan.
Uzmah tak kuasa melihat tubuh Filzah terbujur kaku di brankar. Wajahnya pucat pasih. Uzmah langsung memeluk Filzah beriringan dengan air matanya yang meluruh begitu saja.
"Filzah, Filzah kenapa kamu meninggalkan Ibu, Nak?, Ibu sudah kehilangan Fahril, dan sekarang Ibu juga harus kehilangan kamu, Filzahhhh."
Uzmah histeris dalam tangisannya. Ia masih tidak dapat mempercayai semuanya.
"Bundaaaaa, Bunda bangunnnn." Rintih Zaura dengan berlinang air mata.
Uzmah menoleh ke arah Zaura. Kini cucu yang disayanginya sudah menjadi anak yatim piatu, lengkap sudah penderitaannya, Ayah dan Ibunya telah pergi meninggalkannya.
"Zaura, Bunda Zaura sudah meninggal Sayang, Zaura sudah nggak punya Bunda lagi..." Uzmah kembali terisak saat ia merengkuh tubuh mungil sang cucu.
Zaura semakin histeris. Berkali-kali air matanya berlinang. Ia ingin sekali memeluk Bundanya.
"Zaura ingin peluk Bunda." Pintanya dengan sesegukan.
"Zaura ingin peluk Bunda?" Tanya Uzmah dengan isak tangisnya yang pecah berkeping-keping.
Zaura mengangguk. Lalu Uzmah menggendongnya untuk dapat memeluk tubuh sang Bunda yang sudah tak bernapas.
"Zaura sayang Bunda." Ucap Zaura tepat di telinga sang Bunda.
Sementara di luar rumah sakit, Azlan baru saja keluar dari mobilnya. Ia berjalan dengan langkah yang sangat cepat. Hatinya berdebar-bedar tak sabar untuk segera bertemu dengan istrinya. Mengobati rasa rindu yang kian menggebu. Otak Azlan sudah berputar-putar, menyiapkan rencana ketika sudah bertemu dengan istrinya ia akan memeluknya dengan erat dan akan berlama-lama berpelukan sampai sang istri memberontak untuk minta dilepaskan. Azlan sudah menyiapkan kata-kata maaf kepada sang istri, bahkan ia sudah siap menerima pukulan dan apapun itu sampai istrinya mau memaafkan kesalahannya.
Ruang operasi sudah di depan mata. Langkah Azlan semakin cepat. Dan ia sudah berdiri di ambang pintu. Tatapan matanya langsung menangkap keadaan di dalam ruangan.
"Din-da."
Seketika pancaran sepasang matanya berubah. Senyuman termanisnya memudar. Ia tercekat melihat suasana ruang operasi penuh dengan isak tangis. Jasir dan Uzmah menangis, si kecil Zaura juga berderai air mata. Kini tatapan Azlan tertuju ke arah seorang perempuan yang tubuhnya terbujur kaku, tak bernyawa.
Langkahnya mulai mendekat. Tatapannya masih fokus kepada perempuan itu. Saat tubuhnya sudah mendekat tiba-tiba kedua kakinya terlunglai. Jatuh terduduk di samping jenazah perempuan yang dicintainya.
Azlan bangkit dan langsung merengkuh tubuh istri yang dirindukannya. "Dinda bangun, Dinda jangan tinggalkan aku, Dinda jangan pergiiii." Jerit Azlan dengan suara yang mulai serak dan habis.
"Azlan, luaskan hati kamu, ikhlaskan kepergian Filzah, ya." Jasir mencoba menenangkan Azlan yang sudah seperti orang kehilangan arah serta semangat hidupnya.
"Nggak Pak, aku nggak mau kehilangan istriku, aku nggak bisa hidup tanpa dia, nggak bisa Pakkk."
Azlan terpukul, amat terpukul karena istrinya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Azlan tidak akan bisa memaafkan dirinya, karena ia belum sempat meminta maaf kepada istrinya. Ia telah berdosa kepada istrinya sendiri.
"Dinda, maafkan aku, ini semua gara-gara aku, kalau saja aku nggak mengusir kamu dari rumah, kalau saja aku nggak menyalahkan kamu, mungkin nasib kamu nggak akan tragis seperti ini, kamu nggak akan meninggalkan akuuuu.
Jasir kembali menenangkan Azlan. "Azlan istighfar, ini bukan salah kamu, ini sudah takdir dari Allah, Allah yang memanggil istri kamu untuk kembali, ikhlaskan kepergiannya, biarkan dia pergi dengan tenang."
"Dindaaa." Tubuh Azlan kembali meluruh di lantai. Ia sudah terlambat bertemu istrinya. Kini ia hanya bisa menyesali segala kesalahannya. Ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Alan, peluk dan cium istrimu Nak, dia sangat merindukan kamu, dia merindukan kehadiran kamu." Uzmah menyuruh Azlan untuk memeluk dan mencium jasad istrinya yang sudah ditinggalkan oleh ruhnya.
Dengan sekuat tenaga Azlan bangkit dari keterpurukannya. Perlahan ia menatap lekat wajah damai sang istri yang terlihat pucat pasih. Azlan tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ia akan bertemu kembali dengan sang istri dalam keadaan sepasang bola mata indah sang istri telah tertutup untuk selamanya.
"Dinda." Azlan mengecup lembut kening sang istri. Lalu ia memeluk tubuh sang istri yang terasa dingin dan kaku.
"Ya Allah, kuatkan aku, aku nggak sanggup melihat istriku sudah tidak bernyawa seperti ini, kuatkan aku ya Allah." Ucap Azlan dalam hati.
"Aku minta maaf Dinda, aku adalah suami yang nggak baik untuk kamu, aku adalah suami yang dzolim, selama ini aku selalu menyakiti kamu, aku nggak pernah membahagiakan kamu, bahkan disisa hidupmu aku tega mengusir kamu, tolong maafkan aku Dinda, maafkan aku." Azlan terus terisak dalam tangisan kepedihannya. Hatinya remuk tak berbentuk. Bidadari hatinya kini telah pergi dengan membawa separuh nyawanya. Gairah hidupnya sudah menghilang. Ia enggan untuk melepaskan tubuh sang istri dari pelukan terakhirnya.
🌹🌹🌹
Untuk yang terakhir kalinya Azlan memandangi tubuh sang istri yang sudah terbungkus kain kafan berwarna putih bersih. Para pelayat ikut berdatangan untuk mengantarkan kepergiaan jenazah Filzah untuk yang terakhir kalinya, termasuk Jasir, Uzmah dan Zaura juga keluarga kecil Ergin yaitu Selin dan Grizelle, Hilyah tidak ikut serta karena ia masih dalam proses pemulihan.
Azlan sudah turun ke liang kubur tempat pengistirahat sang istri, Filzah Banafsha. Ia yang akan meletakkan tubuh sang istri di liang lahatnya.
"Jangan kubur Bunda, Yandah jangan kubur Bunda." Eluh Zaura dengan isak tangisnya.
Azlan hanya dapat berderai air mata. Ia tak sanggup melihat wajah Zaura yang diselimuti dengan kesedihan yang teramat pilu.
__ADS_1
"Ini terakhir kalinya aku menggendong tubuhmu Dinda, ini terakhir kalinya." Azlan terisak dalam hati, ia tidak sanggup menghadapi kenyataan pahit ini.
Akhirnya dengan perlahan jenazah Filzah Banafsha dimasukkan ke liang kuburnya, ke tempat asalnya, tanah.
"Selamat jalan istriku, Bidadari syurgaku, semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah dan semoga kamu menjadi penghuni syurga yang paling indah, Aamiin Allahumma aamiin."
"In syaa Allah aku akan mencoba untuk mengikhlaskanmu, mengikhlaskan kepergianmu. Aku mencintaimu Sayang, aku akan selalu mencintaimu, cinta ini akan selalu istiqomah untukmu, tunggu aku di syurganya Allah ya Bidadari syurgaku." Azlan menyeka air matanya. Meski terasa berat ia terus mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Azlan beserta para pelayat pun kembali naik ke atas. Lalu dengan perlahan kubangan kuburan Filzah ditimbun dengan banyaknya tanah sampai kembali menjadi rata.
"Mommy, Tante Filzah adalah orang baik, Tante Filzah pasti masuk syurga."
"Apa maksud kamu Grizelle?" Tanya Selin kepada putrinya yang tiba-tiba berucap tanpa terduga.
"Grizelle minta maaf Mommy, sebenarnya waktu itu Tante Filzah nggak salah, tapi Grizelle yang salah. Tante Filzah memang nggak tahu kalau Grizelle punya alergi sama kacang hijau, tapi Grizelle ingin sekali makan bubur kacang hijau. Grizelle minta maaf Mommy. Grizelle juga ingin meminta maaf sama Tante Filzah."
Selin langsung menghela napas kasar. Begitu juga dengan Ergin yang ikut mendengarkan penjelasan putrinya yang mulai mengakui kesalahannya.
"Jadi, jadi Filzah nggak bersalah?" Seketika Selin merasa bersalah kepada Filzah. Hatinya seakan dibuka oleh Allah untuk menyaksikan kebenaran yang ada, bahwa Filzah adalah orang baik, bukan orang jahat yang selama ini ia duga.
"Filzah aku minta maaf, sekarang aku sadar kalau kamu adalah orang yang baik, bahkan disaat kamu dituduh bersalah kamu diam saja, disaat aku berbuat jahat sama kamu, kamu nggak pernah membalasnya, kamu adalah malaikat baik hati yang pernah aku temui. Tapi aku sudah terlambat menyadarinya, aku terlambat untuk meminta maaf sama kamu Filzah, maafkan aku Filzah, maafkan aku." Selin menyesali kejahatannya selama ini kepada Filzah.
"Iya Filzah aku juga minta maaf sama kamu, atas nama keluargaku, aku minta maaf. Dan semoga masih ada pintu maaf untuk kami. Jujur kami menyesal Filzah, kami sangat menyesal karena telah berbuat jahat sama kamu." Ergin turut menyesalinya.
Kini proses penguburan jenazah Filzah Banafsha telah selesai. Perlahan para pelayat mulai meninggalkan tempat. Kini hanya tersisa Azlan yang masih setia memeluk pusara sang istri dengan deraian air mata yang tiada terhenti.
Azlan tidak dapat berkata-kata lagi. Kesedihannya, keterpurukannya, keterpukulannya setelah ditinggal pergi oleh kekasih yang dicintainya telah membuat hidupnya seketika terhenti. Hatinya kini sepi tak berpenghuni.
Kepergian sang istri yang terkesan begitu cepat kini telah berhasil merampas seluruh kebahagiannya. Canda tawa yang dulu selalu menghiasi wajahnya kini telah berganti menjadi kesedihannya yang tiada ujungnya.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang berjiwa akan merasakan mati."
(QS. Ali Imraan: 185)
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Innalillahi wainna ilaihi roojiuun
Telah berpulang ke Rahmatullah
Filzah Banafsha istri tercinta dari Azlan, Bunda tersayang dari Zaura dan putri terkasih dari Jasir dan Uzmah
Mohon dimaafkan kesalahannya dan didoakan agar diterima amal ibadahnya dan menjadi penghuni syurga
Dan semoga suami, putri dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta keikhlasan
Ukhfira selaku author Cinta Istiqomah memohon maaf atas kepergiannya Filzah untuk selamannya
Ukhfira minta maaf kepada Readers yang tidak rela Filzah meninggal. Tetapi ini sudah takdirnya Filzah. Ketetapan hidupnya
Mohon untuk diterima dengan lapang ada ya
😔😔😔
Dan jangan salahkan Azlan
Azlan sudah amat menyesal atas kepergian istrinya dan ini juga bukan kemauannya
Intinya meninggalnya Filzah adalah garis ketetapan kehidupan Filzah
Dengan perasaan duka yang mendalam
Ukhfira pamit undur diri dulu
Dan sampai bertemu di part selanjutnya
Dan semoga kalian tetap stay tune di sini ya
Meskipun Filzah sudah tiada
__ADS_1
😭😭😭
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh