
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa
๐น๐น๐น
Filzah merapikan kerah kemeja Azlan yang kurang rapi. Ia berdecak kagum melihat ketampanan suaminya yang terlihat jelas apabila dilihat dengan jarak yang begitu dekat.
"Dinda kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Azlan yang menyadari bahwa sang istri sedang merapikan kerah kemejanya sembari tersenyum.
Filzah menggeleng pelan. Ia tidak ingin mengungkapkan isi hatinya tentang keindahan ciptaan Allah di hadapannya saat ini.
"Nggak apa-apa Kanda, senyum itu kan ibadah." Elak Filzah memberikan alasan lain.
"Oh." Azlan ber-o ria.
Disela-sela merapikan baju Azlan, entah kenapa tiba-tiba Filzah mencium aroma menyengat yang berasal dari pakaian yang Azlan kenakan.
Filzah mual. Isi di dalam perutnya minta dikeluarkan. Kepalanya ikut pening seketika.
"Dinda kenapa?" Azlan panik.
Filzah menutup mulutnya. Rasa mual semakin menjadi. Bahkan ia tak kuasa untuk menahannya hingga akhirnya ia langsung bergegas menuju kamar mandi.
"Uwek, uwek."
Filzah mencoba mengeluarkan isi perutnya yang sejak tadi memaksa untuk keluar. Namun tidak kunjung keluar tetapi ia masih sangat merasa mual.
Azlan tidak berdiam diri tempat, ia langsung menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Azlan panik ketika melihat Filzah muntah-muntah di wastafel. Azlan mencoba memberikan pijatan lembut di leher Filzah namun sia-sia karena tidak ada makanan yang keluar dari mulut istrinya.
"Dinda, kamu sakit?, kita ke Dokter ya?"
Rasa mualnya sedikit reda sehingga Filzah menyudahi usahanya untuk mengeluarkan isi perutnya.
Filzah menggeleng. Ia menolak ajakan Azlan untuk ke rumah sakit.
"Nggak usah Kanda, aku nggak apa-apa, mungkin aku masuk angin saja, nanti aku akan minum air jahe untuk menghilangkan rasa mualnya."
"Dinda yakin?"
Filzah mengangguk. Ia berusaha meyakinkan suaminya bahwa ia baik-baik saja.
"Ia Kanda, aku nggak apa-apa."
"Ya sudah kalau begitu Dinda istirahat saja ya." Tanpa berpikir panjang Azlan langsung merangkul istrinya untuk keluar dari kamar mandi dan membantunya membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Dinda tunggu sini ya, aku buatkan air jahe dulu untuk Dinda."
"Nggak usah Kanda, biar nanti aku yang buat sendiri, lebih baik sekarang Kanda berangkat ya, karena ini sudah siang, Zaura pasti juga sudah selesai sarapannya."
Azlan menggeleng. "Nggak Dinda, aku mau buatkan air jahe dulu untuk Dinda, bagaimana aku bisa berangkat kerja dengan tenang kalau istriku lagi sakit seperti ini, atau aku nggak usah masuk kerja dulu hari ini."
"Jangan Kanda." Filzah tidak menyetujui ucapan terakhir Azlan yangย berinisiatif untuk cuti kerja hari ini. "Aku baik-baik saja kok, Kanda harus tetap kerja."
"Ya sudah, aku akan tetap berangkat kerja tapi setelah aku buatkan air jahe untuk Dinda, dan masalah Zaura, nanti aku minta tolong Mama untuk pesan ojek online buat Zaura."
Filzah mengangguk patuh. Ia tidak ingin banyak bicara lagi karena perutnya mulai dirasa tidak beres lagi.
Azlan sudah sampai di dapur. Ia segera membuatkan air jahe untuk Filzah. Hilyah yang berada di ruang makan bersama Zaura langsung menghampirinya begitupun dengan Zaura yang ikut menemui Yandahnya.
"Lho, Azlan kamu sedang buat apa?" Tanya Hilyah penasaran.
"Ini Ma, Azlan mau buatkan air jahe untuk Filzah."
"Memangnya Filzah kenapa?" Tanya Hilyah mulai panik.
"Filzah mual-mual Ma, dia masuk angin." Jawab Azlan sembari fokus menggeprek satu belah jahe lalu memasukkannya ke dalam cangkir yang berisi air hangat.
"Bunda sakit Yandah?" Tanya Zaura ikut mencemaskan keadaan Bundanya.
"Iya Zaura, Bunda sedang nggak enak badan." Jawab Azlan seraya tersenyum agar Zaura tidak terlalu mencemaskannya.
"Mama tolong pesankan ojek online ya buat Zaura, soalnya hari ini Azlan masuk kerjanya terlambat. Zaura nggak apa-apa ya berangkat ke sekolahnya naik ojek online."
Zaura mengangguk. Ia sama sekali tidak keberatan. Saat ini yang menjadi fokus pikirannya adalah keadaan Bundanya yang kesehatannya sedikit terganggu.
"Lho Azlan kenapa kamu nggak cuti saja sih, Filzah kan sedang sakit, dia pasti butuh kamu."
"Sebenarnya tadi Azlan mau begitu Ma, cuma Filzah nggak mengizinkan, katanya dia nggak apa-apa cuma masuk angin saja."
"Ya sudah kalau memang Filzah bilangnya seperti itu." Ujar Hilyah tidak memperpanjangnya lagi karena Filzah sudah memberilan keputusan.
"Kalau begitu Azlan ke kamar ya Ma, mau memberikan air jahe ini sama Filzah."
"Yandah, Zaura mau bertemu Bunda, Zaura mau lihat kondisi Bunda." Rengek Zaura dengan mata berkaca-kaca.
"Zaura maaf ya bukannya Yandah nggak membolehkan Zaura untuk bertemu Bunda, tapi ini sudah siang Sayang, Zaura harus segera berangkat sekolah, nanti sepulang sekolah Zaura boleh bertemu sama Bunda, ya."
Zaura menggeleng cepat. Wajahnya ia tekuk sampai lusuh. "Nggak mau, Zaura maunya bertemu Bunda sekarang." Ujarnya sambil menghentakkan tangannya.
"Zaura, Bunda kan sedang nggak enak badan, jadi sekarang Bunda harus istirahat dulu Sayang, nanti siang sepulang sekolah Zaura boleh bettemu sama Bunda, ya." Hilyah mencoba memberikan pengertian kepada Zaura.
Perlahan hati Zaura luluh. Ia tidak cemberut lagi. "Ya sudah Zaura mau bertemu Bunda nanti saja setelah pulang sekolah."
"Anak pintar." Puji Azlan seraya mengacungkan jempol.
Tanpa berlama-lama lagi Azlan segera kembali ke kamarnya. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan istrinya jika ditinggal terlalu lama.
__ADS_1
"Dinda ini jahenya, maaf ya lama soalanya tadi Zaura sempat merengek mau bertemu sama Dinda, tapi Mama berhasil membujuknya."
Filzah mengangguk pelan. Saat ini ia tidak bisa terlalu banyak bergerak ataupun berbicara karena isi di dalam perutnya kembali berguncang dan nantinya akan berujung mual-mual.
"Ini jahenya Dinda, ayo diminum." Azlan membantu Filzah menyeruput air jahe buatannya. Air jahenya hanya terminum seteguk saja. Namun tidak mengapa yang terpenting sudah masuk meskipun hanya secuil saja.
"Sekarang Dinda istirahat ya." Pelan-pelan Azlan membantu Filzah untuk membaringkan tubuhnya. Azlan pun merapatkan selimut ke tubuhnya.
"Sekarang aku kan sudah istirahat, jadi Kanda berangkat kerja saja ya." Pinta Filzah agar suaminya segera berangkat kerja.
"Tapi Dinda-" Azlan merasa berat meninggalkan istrinya yang sedang tidak enak badan. Meskipun di rumah juga ada Hilyah namun Azlan yakin Filzah tidak akan mau merepotkan Hilyah.
"Kanda, harus berapa kali aku bilang sama Kanda kalau aku nggak apa-apa, aku baik-baik saja, sudah Kanda nggak usah khawatir berlebih ya, nanti yang ada malah Kanda yang sakit."
"Benar nih Dinda nggak apa-apa?" Azlan kembali menanyakan kondisi istrinya.
Filzah mengangguk pelan. Ia berusaha meyakinkan suami tercintanya bahwa kondisi kesehatannya baik-baik saja dan hanya sedikit membutuhkan istirahat.
"Iya Kanda, aku nggak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat saja. Sudah sebaiknya sekarang Kanda berangkat kerja saja ya dan aku akan istirahat."
Azlan bernapas lega, hanya sedikit. Namun ia percaya penuh kepada istrinya. Dan semoga saja istrinya baik-baik saja dan hanya membutuhkan istirahat.
"Ya sudah kalau begitu aku berangkat kerja dulu ya Dinda."
"Iya, Kanda hati-hati ya."
"Oh iya aku lupa membawakan sarapan untuk Dinda, kalau begitu aku nggak jadi berangkat sekarang, aku mau ambilkan sarapan untuk Dinda dulu ya."
"Nggak usah Kanda." Filzah mencegahnya.
"Sudah nanti aku akan ambil sendiri Kanda."
"Jangan, Dinda kan sedang nggak enak badan, kalau nanti Dinda nggak kuat jalan dan sampai pingsan, bisa gawat darurat itu."
"Ya tapi Kanda harus segera berangkat kerja, ini sudah siang lho."
"Tapi Dinda harus segera sarapan." Ujar Azlan yang mengharuskan Filzah untuk segera sarapan terlebih lagi saat ini kesehatannya sedang kurang baik.
"Tapi Kanda juga harus segera berangkat kerja, ingat Kanda harus disiplin waktu." Filzah memasang wajah cemberut.
"Ya sudah begini saja, sekarang aku akan berangkat kerja, tapi Dinda juga harus tetap sarapan, dan Mama yang akan membawakan sarapannya ke sini, bagaimana?" Azlan menemukan jalan pintasnya.ย
Filzah sempat menimbang, namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Sejujurnya ia tidak enak jika harus merepotkan Mertuanya namun apa daya jika ia menolak maka percakapannya akan semakin berbuntut panjang dan yang ada Azlan tidak segera berangkat kerja.
"Ya sudah kalau begitu aku berangkat kerja ya Dinda, nanti sampai bawah aku akan minta tolong Mama untuk membawakan sarapan untuk Dinda."
Filzah kembali mengangguk. "Iya Kanda bawa mobilnya hati-hati ya, nggak usah mengebut asal sampai dengan selamat."
"Siap Bos."
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
๐น๐น๐น
Kreggg
"Bunda."
Setelah membuka pintu kamarnya, Zaura langsung berhambur menghampiri Bundanya. Filzah terbangun dan tersedikit terkejut.
"Bunda." Lagi, Zaura memanggil Bundanya. Bahkan ia memeluk erat tubuh lemas Bundanya yang setengah berbaring.
"Zaura sudah pulang sekolah ya?" Tanya Filzah ketika melihat putrinya sudah berganti baju dan jam dinding sudah bertengger di angka 12.
Zaura mengangguk ia masih nyaman berada di pelukan sang Bunda. "Bunda sakit apa?." Tanya Zaura khawatir.
Filzah membelai lembut kepala sang putri yang terbalut khimar mini. "Bunda nggak sakit kok Sayang, Bunda cuma nggak enak badan saja, tapi setelah melihat senyuman manis kamu, Bunda langsung sehat."
Zaura pun memasang wajah tersenyum. Ia segera menghapus garis kekhawatiran di wajahnya.
"Bunda bisa saja." Ucapnya dengan malu-malu.
Filzah terkekeh melihat ekspresi menggemaskan dari wajah putri tunggalnya. Sejenak Filzah melupakan rasa mual dan pening di kepalanya. Ia tidak ingin melihat putrinya mengkhawatirkan keadaannya terlebih lagi ia hanya masuk angin saja. Namun Filzah merasa aneh karena rasa mual serta pening di kepalanya belum kunjung menghilang padahal ia sudah istirahat dengan cukup.
"Assalaamu 'alaikum."
Terdengar suara salam dari balik pintu yang kemudian terbuka. Filzah terkejut melihat lelaki yang tadi membuatkan air jahe untuknya kini sedang berdiri di hadapannya, masih dengan pakaian katornya.
"Wa 'alaikumus salaam." Jawab Filzah dan Zaura bersamaan.
"Lho Kanda kok sudah pulang?" Tanya Filzah heran.
"Iya, tumben Yandah pulang jam segini?" Timpal Zaura ikut keheranan.
Azlan terkekeh melihat kedua perempuan sumber kebahagiannya itu saling mengerutkan keningnya.
Azlan melangkah menghampirinya. "Iya Yandah sengaja pulang jam segini karena Yandah khawatir sama Bunda."
"Terus perkerjaan Kanda di kantor?"
"Aku sudah izin sama Bos, dan Bos mengizinkan aku untuk cuti hari ini. Oh iya keadaan Dinda bagaimana,ย sudah enakan?" Azlan membelai lembut pipi sang istri seraya menanyakan keadaannya.
"Lho Kanda kenapa izin cuti?" Filzah bukannya menjawab pertanyaan itu ia malah balik melemparkan pertanyaan kepada Azlan.
"Lho ya aku mau menjaga Dinda, kan Dinda sedang nggak enak badan."
Filzah menghela napas jengah. "Kanda, aku sudah nggak apa-apa, lagi pula tadi aku kan sudah istirahat yang cukup, lebih baik sekarang Kanda kembali ke kantor saja, Zaura juga sudah pulang sekolah, jadi sudah ada Zaura yang akan menemani aku."
__ADS_1
Azlan menggeleng. Ia menolak tegas permintaan Filzah. "Nggak, aku nggak mau balik ke kantor, lagi pula sudah terlanjur izin. Dari pada di kantor aku selalu mencemaskan Dinda lebih baik aku di sini saja, menemani Dinda."
"Tapi Kanda-"
"Sudah Dinda tenang saja, gaji aku nggak akan dipotong hanya karena cuti satu hari, lagi pula sudah dapat izin dari Bos, jadi Dinda nggak usah memikirkan jatah uang bulanan Dinda ya, nggak akan berkurang."
Filzah memutar bola matanya jengah. Ia tidak menyangka pikiran suaminya berbelok ke sana padahal ia sama sekali tidak ada pikiran untuk mengurusi gaji dan uang bulanan. Sama sekali tidak ada pikirannya yang menjurus ke arah sana.
"Dinda sudah makan siang?"
Filzah menggeleng pelan. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia memprediksi bahwa sebentar lagi garis-garis kecil akan menghiasi wajah karisma suaminya bahkan ia sudah siap sedia menerima ocehan yang sebentar lagi akan mengganggu alat pendengarannya.
"Lho Dinda kenapa belum makan siang?, Dinda kan sedang nggak enak badan, bagaimana Dinda akan cepat pulih kalau tubuhnya nggak diberi asupan, jangan bilang tadi pagi Dinda juga belum sarapan ya?" Azlan menoleh ke arah nakas dekat ranjang, dan kedua matanya melebar melihat sepiring nasi goreng masih lengkap dengan telurnya serta air minum yang masih penuh.
"Lho, ini kok nasi gorengnya masih utuh?, Dinda nggak sarapan ya?" Tanya Azlan yang semakin mengkhawatirkan keadaan Bidadari hatinya.
Dengan pelan Filzah menggelengkan kepalanya. Ia menyajikan senyuman keterpaksaan.ย
"Astaghfirullah kenapa dari tadi pagi Dinda belum makan, Dinda kan sedang nggak enak badan?" Azlan mengusap wajahnya gusar. Ia sedikit kecewa.
Filzah mengusap bibirnya. Ia mengakui kesalahannya. "Maaf Kanda, aku mengaku salah, dari tadi pagi aku memang belum makan, tapi bukannya aku nggak mau makan, cuma aku sedang nggak berselera makan."
"Ya harus tetap dipaksa dong Dinda, namanya juga sedang sakit pasti dilidah rasanya pahit. Ya sudah kalau begitu aku ambilkan makanan dulu untuk Dinda, Dinda harus segera makan, biar kesehataannya kembali normal." Azlan tidak menerima apapun alasannya. Istrinya harus segera makan, wajib.
"Yandah, Zaura ikut ke bawah ya, Zaura lapar." Ujar Zaura yang baru bersuara karena sejak tadi ia hanya menjadi pendengar setia ketika Bunda dan Yandahnya sibuk berbincang.
"Zaura juga belum makan siang?, waduh bisa berlipat gawat ini, ya sudah ayo ke bawah Sayang, Zaura harus segera makan siang."
Azlan pun melangkah keluar dari kamar dengan menggadeng Zaura. Sejenak ia harus meninggalkan Filzah karena harus menyiapkan makan siang untuk permaisurinya.
Setelah sepeninggalan Azlan dan Zaura dari kamarnya, Filzah teringat akan kesehatannya yang belum kunjung pulih. Ia bingung sendiri karena sampai detik ini rasa pening di kepalanya belum minggir dan perutnya masih sering mual tak tertahankan.
"Kok pusing di kepalaku belum juga sembuh ya?, perutku juga masih mual, biasanya kalau aku masuk angin setelah minum air jahe langsung hilang, tapi ini kok belum hilang-hilang juga ya?" Filzah kebingungan sendiri. Ia memijit lembut pelipisnya.
"Ah mungkin belum waktunya sembuh, aku haris bersabar dan nggak boleh mengeluh." Filzah langsung membuang pikiran negatifnya yang jauh-jauh. Ia tidak mau berpikir yang aneh-aneh lagi terlebih saat ini kepalanya sedang pusing seharusnya ia banyak beristighfar mungkin saat ini ia sakit karena dosanya yang bertumpuk atau sakitnya ini sebagai pelebur dosanya yang berserakan bagaikan buih di lautan.
ู ูุง ููุตููุจู ุงููู ูุคูู ููู ู ููู ุดูููููุฉู ููู ูุง ููููููููุง ุฅููููุง ุฑูููุนููู ุงูููููู ุจูููุง ุฏูุฑูุฌูุฉู ุฃููู ุญูุทูู ุนููููู ุจูููุง ุฎูุทููุฆูุฉู
โTidak ada satupun musibah (cobaan) yg menimpa seorang muslim berupa duri atau yg semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.โ [HR.Muslim]
ู ูุง ู ููู ู ูุณูููู ู ููุตููุจููู ุฃูุฐูู ู ููู ู ูุฑูุถู ููู ูุง ุณูููุงูู ุฅููููุง ุญูุทูู ุงูููููู ุจููู ุณููููุฆูุงุชููู ููู ูุง ุชูุญูุทูู ุงูุดููุฌูุฑูุฉู ููุฑูููููุง
โTidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.โ [HR. Bukhari dan Muslim]
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Assalaamu 'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh
Selamat pagi readers
Dan selamat pagi untuk kita semua
๐ค๐ค๐ค
Jangan lupa bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan
Jangan lupa tersenyum untuk menikmati hidup ini
๐ท๐ท๐ท
Alhamdulillah Ukhfira masih diberi kesampatan oleh Allah hingga saat ini jari jemari Ukhfira masih bisa menari-nari di lapak cerita ini
๐๐๐
Jazakumullah khoiron untuk kalian yang sudah mau meluangkan waktunya untuk bertandang di lapak ini ya
Semoga kalian suka
dan semoga selalu bermanfaat
Aamiin Allahumma Aamiin
๐๐๐
Jangan lupa untuk sekadar menyapa Ukhfira dengan vote dan komen kalian disini
๐๐๐
In Syaa Allah Ukhfira akan menyampatkan untuk membalas komentar kalian karena bagi Ukhfira komentar dan vote kalian adalah suatu bentuk penghargaan kalian yang harus Ukhfira apresiasi dengan membalas komentar kalian juga
๐ค๐ค๐ค
Tapi...
Mohon berhati-hati dalam berkomentar ya
Komentarnya yang baik-baik saja
Soalnya Author yang satu ini tuh gampang baper dan takutnya ujung-ujungnya malah badmood deh
๐ข๐ข๐ข
Kalau badmood nggak selesai-selesai dong cerita Cinta Istiqomahnya
Intinya kalau kalian memberikan energi positif maka dampaknya akan positif jugak
๐๐๐
Sampai bersapa ria di part selanjutnya and Readers
__ADS_1
๐๐๐
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh