
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
๐น๐น๐น
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di pemakaman Fahril, akhirnya Azlan dan Uzmah kembali ke rumah keluarga Uzmah. Kedua mata Azlan masih terlihat sembab akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata begitupun demikian dengan Uzmah. Mereka pulang dengan wajah dirundung duka.
"Assalaamu 'alaikum." Uzmah berucap salam. Disusul oleh Azlan yang berucap lirih.
"Wa 'alaikumus salaam, Yandah?" Zaura baru saja keluar dari dalam rumah. Ia sedikit terkejut melihat Azlan berada di rumah Kakek dan Neneknya.
"Zaura, sini Nak, Yandah kangen sama kamu." Azlan langsung berjongkok, membentangkan kedua tangannya, berharap Zaura mau memeluknya.
Awalnya Zaura ragu. Namun akhirnya ia berlari menghampiri Azlan dan berhambur di pelukannya. Tak dapat dipungkiri Zaura juga merindukan Yandahnya.
"Zaura juga kangen sama Yandah." Ucap Zaura tak kalah senangnya ketika bisa melepaskan rasa rindunya kepada sang Yandah.ย
"Ibu sudah da-tang." Ucapan Filzah sempat terhenti. Ia terkejut melihat Zaura sedang berpelukan dengan laki-laki yang tidak lain adalah suaminya, Azlan.
"Mas." Panggil Filzah lirih.
Kini tatapan Azlan beralih ke arah Filzah. Ia beranjak dari duduknya usai pelukannya dengan Zaura telah selesai. Perlahan Azlan melangkah. Mendekati Filzah, perempuan yang selama ini sudah ia sia-siakan.
Di luar dugaan, perlahan Azlan meraih tangan Filzah. Menggenggamnya dengan erat. Filzah tercekat. Ia sedikit terkejut karena ia tidak menyangka bahwa suaminya menggenggam tangannya dengan lembut. Bahkan sepasang mata mereka kini saling beradu pandang.
"Filzah, maafkan aku, aku minta maaf." Ucap Azlan dengan wajah serius. Bahkan di detik berikutnya isak tangis mulai terdengar. Dan ia menangis di atas punggung tangan Filzah.
Filzah tersentak. Ia kebingungan dengan sikap Azlan saat ini. Ditambah lagi Azlan menangis seraya berucap meminta maaf kepadanya. Filzah sama sekali tidak mengerti.
"Filzah maafkan aku ya." Azlan masih saja memohon agar Filzah mau memaafkannya.
"Mas, ini ada apa?, kenapa Mas meminta maaf?, Mas nggak salah apa-apa." Filzah kebingungan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan permintamaafan Azlan kepadanya.
"Filzah, maafkan aku, selama kita menikah, aku belum bisa menjadi suami yang baik, aku belum bisa seperti Aril, suami pertama kamu."
"Aril?." Tanya Filzah kebingungan.
"Maksudnya Fahril." Azlan membetulkan sebutan nama Fahril.
"Maaf Mas, kalau boleh aku tahu, Mas tahu dari mana nama Ayahnya Zaura?, seingatku aku belum pernah memberitahu nama Ayahnya Zaura kepada Mas."
Filzah sungguh merasa aneh. Seingatnya ia belum pernah memperkenalkan atau memberitahu nama dari Ayahnya Zaura, suami pertamanya kepada Azlan, tetapi Azlan justru mengetahuinya tanpa diberitahu olehnya.
"Fahril adalah sahabat lamaku, dan dia juga sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Aku nggak tahu kalau sahabat lamaku ternyata sudah meninggal, dan sekarang aku hanya bisa bertemu dengan batu nisannya saja." Azlan masih terpukul atas kepergian Fahril yang tanpa sepengetahuannya.
"Maa syaa Allah, jadi Mas Fahril adalah sahabatnya Mas Azlan?." Ada rasa senang ketika Filzah mengetahui bahwa suaminya, Azlan adalahย sahabat dari suami pertamanya, Fahril.
Azlan mengangguk. Ia mengeratkan genggaman tangan Filzah. "Filzah, tolong maafkan aku ya. Aku berjanji, aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu. Aku akan menjadi Ayah yang baik untuk Zaura. Mungkin Allah memang menakdirkan aku untuk menjadi pengganti Fahril di kehidupan kalian. Tetapi aku terlambat menyadarinya. Tapi aku akan memperbaikinya. Filzah tolong maafkan aku ya." Tiada hentinya Azlan memohon agar Filzah menerima permintamaafannya. Ia sungguh-sungguh ingin menjadi suami dan Ayah yang baik, sebagai pengganti Fahril di kehidupan Filzah dan Zaura.
Perlahan Filzah mengelus lembut punggung tangan Azlan yang sedang menggenggam tangannya. "Mas, Mas nggak punya salah apa-apa, Mas nggak perlu meminta maaf. Bagiku Mas adalah suami yang baik, dan bagi Zaura Mas adalah Ayah yang baik, iya kan Zaura Sayang?"
Zaura mengangguk. Menyetujui apa yang dikatakan oleh Bundanya. Senyuman tulus Filzah dan Zaura menenangkan hati Azlan yang sedari tadi tidak tenang karena merasa selama ini telah bersalah dan berdosa.
__ADS_1
Azlan dapat tersenyum. Ia sedikit lega karena istri dan putrinya sama sekali tidak mempermasalahkan sikapnya selama ini yang kurang baik. Azlan berjanji akan memperbaiki kesalahannya. Sejujurnya sebelum ia mengetahui bahwa Filzah adalah istri dari sahabatnya, Azlan sudah berniat untuk memperbaiki sikapnya terlebih lagi Filzah adalah istri yang baik dan melayaninya dengan begitu baik, maka sudah seharusnya Azlan bisa menjadi suami yang baik pula.
"Terima kasih Filzah, terima kasih Sayang."
Filzah mengangguk. "Iya Mas."
Akhirnya tanpa sungkan lagi Azlan merengkuh tubuh Filzah. Memeluknya dengan isak tangis haru. Perlahan Filzah membalas pelukan dari suaminya meskipun awalnya ia masih merasa gugup dan tidak berani memeluk suaminya sendiri.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, akhirnya Mas Azlan bisa menerima hamba menjadi istrinya. Izinkan kami menjadi keluarga yang saling menyayangi satu sama lain. Dan semoga ini menjadi awal yang baik untuk kedepannya. Aamiin." Ucap Filzah dalam hati yang tiadanya bersyukur.
Uzmah yang melihat pemandangan indah di hadapannya mengulas senyuman penuh syukur. Ia ikut bahagia melihat Filzah dan Azlan sedang berselimutkan bahagia.
๐น๐น๐น
"Bapak, ini aku Pak, Azlan, sahabatnya Fahril."
Azlan memperkenalkan dirinya kepada Jasir setelah ia duduk di samping Jasir yang sejak kecelakaan hanya bisa terbaring di ranjangnya.
Jasir mulai mengingat tentang Azlan. Selanjutnya ia menangis tersedu-sedu. Azlan pun ikut terbawa suasana.
"Maa syaa Allah, Nak Azlan, Bapak nggak menyangka kita bertemu lagi ya, tapi Nak Azlan sudah tahu?, kalau Fahril, Fahril sudah meninggal." Jasir menyeka air matanya. Ia teringat akan putra satu-satunya yang sudah tiada.ย
Perlahan Azlan mengangguk. "Iya Pak, saya sudah tahu kalau Fahril sudah meninggal, baru saja saya dan Ibu berziarah ke makamnya. Saya nggak menyangka Fahril sudah meninggal secepat ini." Azlan mencoba tegar meskipun hatinya terkapar.
"Kita doakan Fahril, semoga dia diterima di sisi Allah, dan menjadi penghuni syurganya Allah." Ucap Jasir mendoakan putranya.
"Aamiin." Ucap semuanya mengaminkan doa dari Jasir.
"Bapak, qodarullah, ternyata Azlan adalah Ayah barunya Zaura, suaminya Filzah. Dan Azlan datang ke sini untuk menyusul Filzah dan Zaura." Uzmah menjelaskan jati diri Azlan saat ini yang tidak lain adalah suaminya Filzah dan Ayah barunya Zaura.
"Maa syaa Allah, dunia ini begitu sempit rasanya, Bapak tidak menyangka kalau ternyata Azlan adalah pengganti Fahril di hidup Filzah dan Zaura. Bapak yakin ini semua sudah Allah rencanakan."
Filzah dan Azlan saling memandang satu sama lain. Mereka juga menyetujui atas ucapan Jasir dan Uzmah tentang skenario hidup mereka yang telah Allah atur sedemikian rupa. Mau suka atau duka mereka akan tetap mensyukurinya.
"Bapak sakit apa Pak?, apa Bapak sudah periksa ke Dokter?" Azlan baru menyadari bahwa Jasir sedang ditimpa sakit sehingga ia hanya bisa terbaring di atas kasur.
"Kaki Bapak lumpuh, satu tahun yang lalu Bapak kecelakaan saat mengojek." Jasir menjawab pertanyaan Azlan sedetail mungkin.
"Astaghfirullah Pak, ta-tapi kaki Bapak masih bisa disembuhkan kan Pak?, ini bukan lumpuh permanen kan Pak?" Azlan berharap kaki Jasir bisa disembuhkan dan bukan lumpuh permanen.
Jasir tersenyum tenang. "Alhamdulillah kata Dokter kaki Bapak masih bisa disembuhkan dengan jalan terapi, tapi..."
"Tapi apa Pak?." Tanya Azlan penasaran.
"Tapi kami tidak mempunyai biayanya Mas, dan kata Dokter biaya terapi itu mahal." Filzah mewakilkan Jasir untuk menjawab pertanyaan dari Azlan.
Kini giliran Azlan yang tersenyum. Menampilkan wajah berkarismanya yang bertambah berkali-kali lipat ketika mengembangkan senyuman termanisnya.
"Bapak dan Ibu tidak usah memikirkan biayanya lagi ya, in syaa Allah aku akan membayar biaya terapinya."
"Tapi Mas-"
"Nggak apa-apa Filzah, ini sudah kewajiban aku untuk membantu Bapak dan Ibu, lagi pula aku sudah menganggap Bapak dan Ibu adalah kedua orang tuaku juga, karena Bapak dan Ibu adalah kedua orang tuanya Fahril, sahabat aku sendiri."
Filzah dapat bernapas lega sekaligus bahagia karena Azlan, suaminya mau membantu meringankan bebannya untuk membiayai terapi Jasir, Bapak mertuanya yang tidak lain adalah Bapak dari sahabat Azlan sendiri, yaitu Fahril.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih Nak Alan, terima kasih karena Nak Alan sudah mau membantu membiayai terapi Bapak." Ucap Uzmah menyampaikan rasa terima kasihnya yang tak terhingga kepada Azlan.
"Iya Nak Azlan, Bapak berterima kasih sekali kepada Nak Azlan. Nak Azlan adalah orang baik. Nak Azlan adalah malaikat penolong kami." Sambung Jasir ikut menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Iya Ibu, Bapak, sama-sama, ini sudah kewajiban aku untuk membantu Ibu dan Bapak. Kalau begitu besok kita ke rumah sakit ya untuk memulai terapi Bapak."
"Alhamdulillah akhirnya sebentar lagi Kakek bisa berjalan lagi. Jazakallah khoiron Yandah, Zaura saaayang sama Yandah." Zaura ikut berterima kasih kepada Azlan bahkan dengan riangnya ia memeluk Azlan, Yandahnya.
"Yandah juga saaayang sama Zaura." Ucap Azlan membalas ucapan sayang dari Zaura bahkan ia menirukan ucapan kata sayang dari Zaura.
๐น๐น๐น
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Waktunya semua insan yang berada di bumi mengistirahatkan tubuhnya. Sama halnya dengan keluarga Jasir yang mulai memasuki kamarnya masing-masing. Uzmah sudah lebih dulu berada di dalam kamarnya, menyusul suaminya, Jasir yang sudah lebih dulu istirahat.
Keluarga kecil azlan juga baru saja memasuki kamar mereka. Karena di rumah sederhana Jasir dan Uzmah hanya terdapat dua kamar saja sehingga Zaura akan tidur bersama Filzah dan Azlan.
"Mas maaf ya, kamarnya tidak sebesar kamar Mas di Jakarta, dan karena di rumah ini hanya terdapat dua kamar jadi Zaura tidur bersama kami, Mas nggak keberatan kan?"
Azlan tersenyum. Ia sama sekali tidak keberatan dengan kamar yang akan ditempatinya malam ini untuk beristirahat.
"Filzah, nggak apa-apa kok, mau kamarnya kecil atau besar yang penting tidurnya sama kamu, dan sama Zaura juga."
Filzah dapat bernapas dengan lega. Suaminya itu memang benar-benar sudah berubah. Tidak seperti dulu lagi.
"Bunda, Yandah, Zaura sudah mengantuk, ayo kita tidur." Zaura mengoceh karena rasa kantuk sudah menyeranganya bahkan berkali-kali ia menguap.
Refleks, Filzah dan Azlan terkekeh melihat Zaura sudah mengantuk dan berkali-kali menguap, sementara mereka malah asyik mengobrol bukannya langsung menaiki atas ranjang untuk segera istirahat.
"Aduh maaf ya Sayang, Yandah sama Bunda nggak tahu kalau Zaura sudah mengantuk, ya sudah ayo kita tidur." Azlan langsung mengajak Zaura dan Filzah untuk menaiki atas ranjang.
Mereka terbaring di ranjang dengan Zaura tidur di tengah-tengah Azlan dan Filzah. Tak lupa Zaura berdoa sebelum tidur dan sudah menjadi kebiasannya.
"Yandah, Bunda peluk Zaura dong, supaya Zaura nyenyak tidurnya."
Tanpa diduga Zaura meraih tangan Filzah dan Azlan untuk memeluk tubuhnya. Filzah dan Azlan pun menuruti permintaan Zaura. Dan Akhirnya mereka tertidur dalam keadaan memeluk Zaura, putri kesayangan mereka.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
"Kak kok sudah lama nggak update???"
Maaf ya untuk readersnya Ukhfira yang sudah menunggu cerita ini update, tapi sekarang Alhamdulillah Ukhfira sudah update kembali
semoga kalian senang
Dan semoga kalian bisa memetik manfaat dari cerita ini ya
๐ค๐ค๐ค
Doakan ya semoga Ukhfira bisa sering update cerita ini dengan part-part terbaru yang pastinya akan dinantikan oleh kalian iya kan???
๐ค๐ค๐ค
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
__ADS_1
๐๐๐
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh