
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa
🌹🌹🌹
Azlan dan Filzah mengunjungi rumah sakit. Mereka datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Filzah yang belum diketahui usianya.
Seorang Dokter perempuan mengecek rahim Filzah dengan USG. Dan benar saja ia melihat janin berukuran kecil sedang berada di dalam rahim Filzah. Dokter perempuan itu memeriksa kondisi janinnya, apakah sehat atau malah sebaliknya.
"Alhamdulillah janinnya sehat dan kuat. Mohon dijaga kandungannya ya, karena usianya masih sangat muda, masih 5 minggu."
Filzah mengangguk patuh. Ia akan mengikuti instruksi Dokter untuk menjaga kandungannya agar sehat dan kuat sampai nanti waktunya melahirkan.
"Baik Dokter."
Azlan membantu Filzah bangkit dari berbaringnya. Kemudian mereka menempati kursi yang berhadapan dengan Dokter.
"Saya ucapkan selamat ya kepada Bapak dan Ibu atas kehamilannya, semoga janinnya selalu sehat dan kuat. Dan jangan lupa untuk selalu periksa ke Dokter minimal satu bulan sekali, agar perkembangan janinnya bisa tetap terpantau dengan baik." Ucap lembut Dokter perempuan yang terlihat anggun dengan balutan khimarnya.
"Baik Dokter, kami ucapkan terima kasih." Ucap Azlan berterima kasih.
"Dan ini hasil USGnya, sampaikan kabar bahagia ini kepada keluarga besar Bapak dan Ibu agar mereka juga ikut bahagia." Sambung Dokter memberikan saran kepada pasangan calon orang tua muda di hadapannya.
Sebelum Dokter memberikan saran kepada mereka, baik Azlan dan Filzah memang akan memberitahu kabar bahagia ini, tentunya setelah mereka sampai di rumah.
Tanpa berlama-lama lagi Azlan dan Filzah pamit undur diri karena mereka sudah tidak sabar ingin mengumumkan kehamilan Filzah kepada keluarga besarnya terutama kepada Zaura yang telah menanti kehadiran Adik bayi di kehidupannya.
🌹🌹🌹
"Assalaamu 'alaikum Ma, Mama."
Sesampainya di rumah Azlan langsung memanggil Mamanya. Ia sudah tidak sabar ingin membagikan kebahagiannya kepada Mamanya.
Tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya Hilyah keluar juga. Napasnya terengah-engah, bagaimana tidak ia berjalan cepat dari lantai atas hingga ke bawah untuk menemui Azlan.
"Iya Azlan ada apa?" Tanya Hilyah panik dan mulai mengatur deruan napasnya.
Sebelum menjawabnya Azlan sempat tersenyum. Hal ini membuat Hilyah geram pasalnya ia sudah lelah berlari namun Azlan malah tersenyum dengan santainya.
"Ini untuk Mama." Azlan langsung menyerahkan amplop putih kepada Hilyah.
Hilyah mengerutkan dahi. Amplop putih apa yang Azlan berikan kepadanya. Lantaran sudah terlanjur penasaran Hilyah langsung membukanya. Ia terkejut tidak main-main saat melihat sebuah foto hasil USG terpampang nyata di hadapan matanya.
"I-ini apa Azlan?" Tanya Hilyah tak percaya.
"Selamat ya Ma, sebentar lagi cucu Mama akan bertambah lagi, sekarang dia ada di rahim menantu bungsu Mama." Azlan merangkul pundak Hilyah seraya berpalling menatap Filzah di hadapannya. Hilyah ikut menyorotkan matanya kepada objek yang Azlan tatap.
"Filzah, kamu hamil?" Tanya Hilyah memastikannya.
Satu kali anggukan kepala saja sudah cukup membuat Hilyah langsung berhambur memeluk menantunya. Rasa bahagia campur haru langsung bermukim di hatinya.
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya aku punya cucu lagi. Terima kasih ya Filzah kamu sudah mau memberi Mama cucu yang ketiga, Mama bahagia, sangat bahagia."
Filzah menghiasi senyuman di wajahnya. Ia ikut bahagia jika melihat Mama mertuanya bahagia setelah mendengar kabar kehamilannya.
"Mama, berterima kasihnya sama Allah ya, karena Allah yang telah memberikan Mama cucu, Filzah hanya perantaranya saja."
Hilyah mengangguk. Ia menyetujui ucapan Filzah yang memang benar. Hilyah sangat bersyukur karena Allah bukan hanya memberikannya seorang cucu namun sebelumnya Allah juga sudah menganugerahkan kepadanya menantu yang sholihah seperti Filzah.
"Iya Filzah kamu benar, Mama harus berterima kasih sama Allah, kalau begitu Mama mau sholat dhuha dulu ya, Mama mau mengucapkan terima kasih sama Allah, Mama tinggal dulu ya." Hilyah pamit undur diri. Ia hendak mendirikan sholat dhuha sebagai bentuk terima kasih kepada sang Pencipta karena telah melimpahkan rezeki tak terhingga berupa seorang cucu yang sebentar lagi akan melengkapi kebahagiaannya.
🌹🌹🌹
"Zaura."
Azlan dan Filzah dengan serentak memanggil buah hati pertama mereka. Zaura yang baru saja keluar dari sekolahnya langsung mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara tersebut.
"Yandah, Bunda." Sahut Zaura seraya berlari kecil menghampiri Yandah dan Bundanya.
"Yandah sama Bunda tumben jemput Zaura, biasanya cuma Bunda yang jemput Zaura."
"Iya Sayang, hari ini Yandah izin nggak masuk kantor karena tadi Yandah menemani Bunda ke rumah sakit." Jawab Azlan menjelaskan.
"Hah?, Bunda ke rumah sakit?, memangnya Bunda kenapa?, Bunda sakit lagi?" Tanya Zaura mulai cemas.
Filzah menggeleng dan tersenyum. Ia berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Zaura. Azlan pun mengikutinya.
"Bunda nggak sakit Sayang, Bunda tadi periksa ke Dokter, soalnya ada Adik bayi di perutnya Bunda."
__ADS_1
"Benarkah Bunda?" Zaura terkejut bukan main. Bahkan ia sampai tidak bisa mengontrol nada bicaranya yang sedikit keras.
"Bunda serius?, Bunda nggak sedang bercanda kan?" Zaura masih belum mempercayainya.
"Memangnya wajah Bunda sedang terlihat bercanda ya Sayang?" Filzah malah ikut melemparkan pertanyaan kepada Zaura.
Zaura menempatkan jari telunjuknya di samping alisnya, berpikir.
"Yandah, serius Bunda sedang hamil Adik bayi?" Zaura malah bertanya kepada Yandahnya.
"Hmm menurut Zaura?" Azlan malah balik bertanya.
Azlan dan Filzah saling terkekeh. Putrinya masih belum mempercayai kabar bahagia itu. Namun pada detik berikutnya Zaura bersorak girang.
"Horeee, Zaura akan punya Adik bayi." Soraknya girang.
"Senang sekali sih anak Yandah yang mau punya Adik bayi." Seru Azlan menyindir Zaura, bercanda.
"Zaura jangan lupa bilang apa Sayang?" Tanya Filzah tak lupa mengingatkan putrinya
"Alhamdulillah, Bunda." Jawab Zaura lekas.
"Anak sholihah." Puji Azlan sembari membelai lembut balutan khimar di kepala mungil putri pertamanya.
🌹🌹🌹
Hilyah menyiapkan beraneka macam makanan yang baru dimasaknya. Ia memasak sendiri makan malamnya. Tidak seperti biasanya kini makanan yang disajikan banyak sekali, lebih banyak sayur mayurnya.
"Semuanya sudah tersaji di meja makan, sekarang tinggal menunggu anak-anak dan cucu-cucuku datang untuk makan malam bersama."
Tidak lama kemudian Azlan dan keluarga kecilnya tiba di ruang makan. Mata mereka langsung menghijau melihat makanan-makanan enak di meja makan.
"Maa syaa Allah makanannya banyak sekali Ma, enak-enak lagi." Ujar Azlan meneguk salivanya.
"Iya malam ini Mama sengaja masak banyak, dan lebih banyak sayur mayurnya, soalnya Filzah kan sedang hamil, orang hamil harus banyak mengkonsumsi makanan yang sehat supaya janin yang ada di dalam kandungannya juga sehat."
Hilyah sengaja memasak banyak dan lebih memperbanyak sayur mayur alasannya karena Filzah, ia ingin memberikan asupan yang menyehatkan untuk Filzah agar calon cucunya juga sehat.
"Maa syaa Allah, terima kasih Mama, Filzah jadi nggak enak sudah merepotkan Mama." Ucap Filzah tidak enak.
Hilyah menggeleng pelan. "Nggak Filzah, kamu sama sekali nggam merepotkan Mama, ini keinganan Mama sendiri karena Mama ingin menantu dan calon cucu Mama sehat."
Filzah membalasnya dengan senyuman. Kemudian ia menempati kursi yang kosong setelah Mertua, suami dan anaknya menempati kursinya lebih dulu.
"Ergin, Selin akhirnya kalian datang juga, ya sudah ayo kita makan malam sama-sama." Ucap Hilyah ramah. Namun sama sekali tidak digubris oleh mereka, kecuali Ergin.
"Iya Ma." Sahut Ergin tersenyum kilat.
"Oh iya Ergin, Selin, Mama punya kabar bahagia."
"Kabar bahagia apa Ma?." Tanya Ergin penasaran. Selin hanya memperhatikan Mertuanya sekilas kemudian ia kembali asyik mengunyah makanannya.
"Alhamdulillah, Filzah hamil." Lanjut Hilyah seraya tersenyum.
"Oh." Ergin hanya ber-o ria. Kemudian ia melanjutkan kegiatan makan malamnya.
Hilyah menyerngitkan dahi. Ia heran melihat ekspresi wajah putra sulungnya yang sepertinya biasa-biasa saja, tidak ada segurat senyuman yang ditampakkannya. Benar-benar aneh.
"Mommy, Grizelle mau punya Adik juga, boleh ya Mommy." Grizelle merengek sembari bergelayut di lengan Selin.
Selin langsung menyentaknya. Ia menatap tajam ke arah putrinya sendiri.
"Diam Grizelle!!!" Bentak Selin keras.
Bukan hanya Grizelle yang terkejut, seluruh anggota keluarganya ikut terkejut. Hilyah bergidik ngeri melihat cucunya meringis ketakutan.
"Kemarin Mommy kan sudah bilang, Grizelle nggak boleh minta yang aneh-aneh, mengerti?!"
Grizelle mengangguk pelan. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak berani menatap mata tajam milik Mommynya.
"Nggak berselera makan jadinya." Gerutu Selin kemudian berlalu begitu saja.
"Sel, Selin." Ergin ikut menyusulnya dan terus memanggilnya.
"Grizelle, Adik bayi di perut Tante juga Adiknya Grizelle kok, jadi Grizelle nggak usah sedih ya." Filzah mencoba menghibur Grizelle yang sedang sedih.
Grizelle menggeleng cepat. "Bukan, Adik bayi yang ada di perut Tante Filzah bukan Adik aku, aku nggak mau punya Adik dari Tante Filzah karena Tante Filzah bukan Mommy aku." Oceh Grizelle bernada keras. Kemudian ia berlari keluar dengan bersimbah air mata.
Filzah terkejut melihat Grizelle berlalu begitu saja. Ia merasa bersalah karena ia yang sudah membuat Grizelle tidak jadi makan malam.
"Zaura, Bunda minta tolong ya sama Zaura, Zaura tolong hibur Grizelle ya, kasihan Sayang Grizelle sedang sedih."
__ADS_1
Zaura mengangguk. "Iya Bunda, Zaura akan menghibur Grizelle supaya Grizelle nggak sedih lagi." Jawabnya sambil lalu menyusul Grizelle.
"Kak Selin sudah keterlaluan, anak sendiri dibentak seperti itu, Ibu macam apa yang tega menyakiti hati anaknya sendiri." Sebagai seorang Paman, jelas Azlan kesal melihat perbuatan tidak terpuji Kakak iparnya yang sampai hati melukai psikis anaknya sendiri.
Filzah membelai lembut pundak sang suami. Ia mencoba untuk menenangkannya. "Kanda istighfar, jangan terpedaya dengan bisikan syeitan." Ucapnya lembut.
"Astaghfirullahal adzim." Azlan tersadar dan langsung beristighfar. "Dinda terima kasih karena sudah mengingatkan aku."
Filzah mengangguk pelan. "Ia Kanda, sudah kewajiban aku untuk selalu mengingatkan Kanda. "
"Ya sudah kalau begitu ayo kita makan lagi, nggak usah pikirkan apa yang sudah terjadi tadi." Hilyah mencoba mengembalikan suasana yang tadinya tenang namun berubah menjadi menegangkan akibat suara keras yang berasal dari mulut pedas Selin.
Sementara Zaura mulai mendekati Grizelle yang sedang menangis sesegukan di teras rumah.
"Hai Grizelle." Zaura menyapa Grizelle, kemudian ia duduk di sampingnya.
Grizelle sempat menoleh namun setelah melihat Zaura yang datang mendekatinya ia langsung membuang muka. Ia juga menyeka linangan air matanya.
"Grizelle, kamu nggak usah menangis lagi ya, Adik bayi di perut Bunda itu juga Adik kamu, Adik kita bersama. Nanti saat Adik bayi sudah lahir kamu boleh kok menyayanginya. Yandah aku sama Daddy kamu kan bersaudara itu artinya kita juga bersaudara, kita satu keluarga."
Grizelle sedikit jauh lebih tenang. Ia terhibur akan ucapan Zaura. Namun Grizelle tidak memberikan respon apapun. Ia hanya terdiam dan sejenak menoleh ke arah Zaura.
"Grizelle."
Suara bernada tinggi berhasil membuat Grizelle tersentak, hal yang sama juga dirasakan oleh Zaura. Keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Selin berdiri dengan kedua tangannya diletakkan menyilang di dadanya. Tatapannya tajam menusuk mata Zaura yang memandangnya.
"Grizelle, masuk kamar!" Sarkas Selin tegas.
Tanpa banyak bicara Grizelle langsung menuruti perintah Mommynya. Tatapan mata Selin kian menajam ketika berhadapan langsung dengan gadis kecil polos yang mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Hei Zaura, saya peringatkan ya sama kamu, jangan pernah kamu coba-coba untuk mendekati Grizelle anak saya, apalagi sampai meracuni otaknya, kamu dan Ibu kamu sama saja, Ibu dan anak sama-sama sok baik, cari muka di keluarga ini. Dan satu lagi yang harus kamu ingat, kamu itu bukan anak kandungnya Azlan, jadi jangan harap kamu akan mendapatkan harta dari keluarga ini, sepeserpen kamu nggak akan pernah dapat. Kamu dan Ibu kamu hanya numpang hidup di sini, dasar benalu!!!" Gertak Selin amat sadis. Sampai hati ia melontarkan kata-kata yang tidak pantas untuk di dengar oleh anak kecil seumuran Zaura. Ini dapat mengganggu mental dan psikisnya.
Air mata Zaura meluruh begitu saja. Tangisnya pecah ketika Selin sudah tidak ada di hadapannya.
"Ya Allah Tante Selin jahat sekali, memangnya Zaura dan Bunda salah apa sampai-sampai Tante Selin membenci kami, Zaura memang bukan anak kandungnya Yandah, tapi Zaura sayang sama Yandah, Zaura nggak pernah minta apa-apa sama Yandah, tapi kenapa Tante Selin berbicara seperti itu."
Perlahan Zaura menyeka bekas air mata di pipinya. Ia teringat akan sesuatu hal.
"Kata Bunda kalau ada orang yang menyakiti kita, kita nggak boleh membalasnya apalagi membencinya, seharusnya kita harus mendoakannya supaya orang itu bisa berubah menjadi lebih baik." Zaura mengulang kembali kata-kata yang pernah Bundanya ajarkan kepadanya.
Zaura menangkupkan kedua tangannya seraya berdoa. "Ya Allah maafkanlah kesalahan Tante Selin, izinkan Tante Selin menjadi orang yang baik, karena Tante Selin itu Tantenya Zaura, Zaura mohon ya Allah, kabulkan doa Zaura, aamiin."
Sungguh mulia hati Zaura. Setelah mendapatkan cacian serta makian dari Selin tidak lantas membuatnya sakit hati dan ingin membalasnya, justru ia dengan tulus mendoakan Selin agar berubah menjadi orang yang lebih baik. Tentu ini adalah didikan dari Filzah yang memang memiliki hati yang lembut dan mulia. Maka tidak diragukan lagi apabila Zaura memiliki keindahan hati yang sama persis seperti sang Bunda.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah Cinta Istiqomah sudah 30 part
Nggak nyangka ya perjalanan cinta sepasang insan Filzah & Azlan sudah sampai 30 bagian
🤗🤗🤗
Jazakumullah khoiron untuk kawan readers yang dari awal sampai saat ini masih setia sama Azlan & Filzah
Tanpa dukungan kalian Authornya tidak akan semangat sampai dititik ini
Btw seperti sudah mau mencium bau-bau tamat nih
Ada yang mencium nggak???
😂😂😂
Eitss tenang ini bukan akhir dari perjalanan cinta mereka
Wong si Selin masih cari gara-gara sama Filzah dan Zaura
Gedek nggak sih kalian sama Selin si gertak sambal itu???
Eits jangan ngedumel ya
Ingat apa kata Zaura
Nggak boleh membenci orang
Sebaiknya didoakan saja
Okyyy???
__ADS_1
👌👌👌
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh