Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 35. Tak Becus


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa


🌹🌹🌹


Hilyah langsung di bawa ke ruang UGD bersama Dokter dan beberapa Suster yang ikut masuk ke dalam. Sementara Filzah dan Selin hanya bisa menunggu di depan karena mereka tidak diperkenankan untuk masuk.


Bait-bait doa tiada hentinya Filzah panjatkan. Ia memohon kepada sang Maha Penolong untuk menyelamatkan Hilyah yang sedang tertimpa musibah tak terduga.


Beberapa detik kemudian terlihat Azlan dan Zaura datang dengan langkah terburu-buru. Disusul oleh Ergin dan Grizelle yang tak kalah cepat langkahnya.


"Kanda," lekik lirih Filzah ketika Azlan sudah berada di dekatnya.


"Dinda, bagaimana keadaan Mama?," tanya Azlan dengan kadar kepanikan yang luar biasa.


Filzah menggeleng sembari menengok ke arah pintu ruang UGD yang tertutup rapat.


Filzah tak kuasa menahan air matanya yang mulai menerobos keluar. Wajahnya juga pucat lantaran takut terjadi apa-apa dengan Mama mertuanya.


"Mama masih ditangani sama Dokter"


"Kanda aku minta maaf"


"Mama, Mama-"


Azlan tak sanggup melihat sang istri berderai air mata, ia langsung membawa ke dalam pelukannya.


"Dinda yang tenang ya, Dinda nggak boleh panik berlebihan seperti ini, kasihan bayi kita, takutnya terjadi apa-apa dengan bayi kita di dalam sana." Azlan menasihati sang istri agar tidak terlalu panik.


Filzah tidak dapat menahan tangisannya. Pelukannya pun kian erat.


"Tapi Mama-"


"Husss, sudah Dinda, kita serahkan semuanya sama Allah ya, ayo kita duduk dulu." Sebisa mungkin Azlan menenangkan istrinya meskipun dirinya sendiri jauh lebih panik dan khawatir namun ia menyembunyikannya agar keadaan tidak semakin memburuk.


"Bunda, Yandah, Oma kenapa?" Tanya Zaura dengan berlinang air mata.


Azlan membawa Zaura ke dalam pelukannya juga. Di dalam hatinya Azlan berdoa untuk keselamatan Mamanya yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana. Meskipun tidak tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana kronologis kejadiannya Azlan enggan untuk membahasnya karena ini bukan waktu yang tepat.


"Mommy apa yang terjadi, kenapa Mama bisa masuk rumah sakit?" Tanya Ergin penasaran.


"Ini semua gara-gara-"


"Abang, Kak Selin, tolong jangan bahas itu dulu, Mama sedang butuh doa dari kita, anak-anaknya." Azlan memotong pembicaraannya karena Ergin dan Selin akan membahas sesuatu yang tidak pada waktunya.


"Kanda, ayo kita sholat dzuhur dulu sekaligus mendoakan Mama." Ajak Filzah kepada Azlan.


Azlan mengangguk. "Iya Dinda benar, ayo kita ke musholla, Abang, Kak Selin kita ke musholla dulu, kalau Dokter sudah keluar tolong panggil kami."


Ergin hanya mengangguk sementara Selin enggan menoleh ke arah Azlan dan yang lainnya terlebih ke arah Filzah.


🌹🌹🌹


Azlan dengan khusu' mendoakan keselamatan orang tua tunggalnya, Hilyah. Azlan meminta dengan penuh air mata. Ia berharap sang Mama masih diberikan umur yang panjang oleh sang Maha pemilik bumi dan seisinya.


"Ya Allah ya Robbi yang maha Pencipta, yang maha Pemilik nyawa, selamatkanlah Mama hamba ya Allah, hanya Mama orang tua satu-satunya yang hamba punya di dunia ini, Mama adalah segalanya bagi Hamba, panjangkanlah umur Mama hamba ya Allah, hanya kepadaMu hamba memohon dan meminta, kabulkan doa hambaMu ini, aamiin ya robbal aalamiin."


Filzah menengadahkan kedua tangannya ke langit dengan air mata yang tiada hentinya mengalir. "Ya Allah ya Tuhanku, yang maha Pemilik dunia dan seisinya, selamatkanlah Ibu kami, panjangkanlah umurnya ya Allah, izinkanlah beliau sehat seperti sedia kala. Hamba mengaku salah, Mama mertua hamba bertaruh nyawa karena kelalaian hamba, hamba mohon ampun ya Allah, hamba berjanji hamba tidak akan mengulanginya lagi, tapi tolong ya Allah selamatkanlah Mama mertua hamba, aamiin Allahumma aamiin."


Zaura ikut menengadahkan kedua tangannya. Ia juga ikut sedih dengan kondisi Omanya yang tiba-tiba masuk rumah sakit tanpa tahu apa penyebabnya.


"Ya Allah yang maha Pengasih dan maha Penyayang, Zaura sayang sekali sama Oma, Oma adalah orang baik ya Allah, Oma sayang dan baik sekali sama Zaura, Zaura memohon kepadaMu ya Allah, sembuhkanlah Oma Zaura, Zaura nggak mau kehilangan Oma, Zaura sayang sama Oma ya Allah, selamatkan Oma Zaura ya Allah, aamiin."


Setelah melaksanakan sholat dzuhur berjamaah serta mendoakan keselamatan Hilyah, Azlan, Filzah dan Zaura kembali ke depan ruang UGD. Kembali menunggu Dokter keluar dari ruangan tersebut untuk memberikan keterangan tentang keadaan Hilyah.


Tak berapa lama Dokter memunculkan dirinya dari balik pintu yang ia buka. Dengan pakaian khusus yang lengkap berwarna hijau.


"Dokter bagaimana keadaan Mama saya Dok, Mama saya baik-baik saja kan Dok?" Tanya Azlan ingin segera mengetahui kondisi Hilyah saat ini.

__ADS_1


Dokter menggelengkan kepalanya dengan lemas. Entah apa maksudnya, Azlan tidak dapat menebaknya.


"Dokter apa yang terjadi dengan Mama kami Dok?" Ergin ikut panik dibuatnya.


"Benturan keras di kepalanya menyebabkan pendarahan di otak,Β  dan pembuluh darahnya pecah. Kami sudah berusaha untuk mengurangi pendarahan yang timbul. Tetapi maaf Ibu anda..."


"Ibu Anda saat ini sedang koma."


Dokter menyampaikannya dengan rasa yang campur aduk. Sebagai Dokter yang menangani Hilyah ia ikut sedih mengetahui kondisi Pasien yang baru saja ditanganinya.


Azlan terdiam. Otaknya masih mencerna apa yang disampaikan oleh Dokter yang sudah berlalu meninggalkannya. Ia seperti disambar petir dengan keras ketika mendengar kondisi Mamanya, koma.


"Astaghfirullah Mama." Pekik Filzah beristighfar. Kesedihannya tak bisa dibendung lagi.


Tubuh Azlan meluruh di lantai. Ia lemas tak berdaya. Tenaganya hilang begitu saja. Filzah menghampirinya dan ikut meluruh juga dengan isak tangis yang kian membuncah.


"Mama." Ucap Azlan lirih. Tatapannya kosong. Air matanya meluruh.


"Kanda, Mama, Kanda." Filzah memeluk suaminya dengan perasaan ikut terpukul.


"Omaaaa." Zaura menangis histeris. Ia menghampiri Yandah dan Bundanya.


"Mama koma?" Tanya Ergin seakan tak percaya atas semua ini.


"Oma." Grizelle menangis sambil memeluk kaki Daddynya.


"INI SEMUA GARA-GARA KAMU FILZAH!" Teriak Selin dengan nada keras.


Semua orang menoleh ke arah Selin termasuk Azlan yang perlahan ikut menoleh.


"Ya, ini semua gara-gara kamu, gara-gara kamu nggak becus menjaga Mama, Mama sekarang koma." Ujar Selin sampai menunjuk-nunjuk ke arah Filzah.


Azlan beranjak dari duduknya. Ia mulai mendekati Selin untuk meminta penjelasan.


"Maksud Kak Selin apa?" Tanya Azlan mulai penasaran.


"Asal kamu tahu Azlan, Mama bisa sampai koma itu gara-gara istri kamu, Mama jatuh dari tangga, kepalanya berlumuran darah, istri kamu itu nggak becus menjaga Mama, dia patut untuk disalahkan!" Ujar Selin menjelaskan semuanya.


"Dinda, apa benar semua yang dikatakan Kak Selin?"


Filzah tidak segera menjawabnya. Ia masih belum sanggup mengeluarkan satu katapun dari mulutnya.


"Filzah jawab?!" Suara Azlan meninggi.


Filzah menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat dada Azlan langsung sesak. Amarah pun menyelimutinya, sampai kedua matanya ikut memerah.


"Kanda aku minta maaf, aku memang pantas untuk disalahkan, karena kelalaian aku, sekarang Mama jadi koma."


Filzah memohon maaf kepada Azlan. Ia memegang erat lengan Azlan untuk berharap maaf darinya. Namun tak disangka Azlan menepisnya. Bukan hanya menepis tangan Filzah tetapi ia juga mengangkat tangannya agar Filzah menghentikan ucapannya.


"Pulanglah!" Pinta Azlan tegas.


Filzah meneguk salivanya dengan paksa. Ia terperanjat melihat perubahan sikap suaminya. Dingin dan tegas.


"Ta-tapi Kanda, aku ingin melihat keadaan Mama."


Azlan menatap kedua mata Filzah. Ia mengunci tatapan mata Filzah dengan kilatan amarah.


"Aku bilang pulang!" Sarkas Azlan tegas.


Tidak ada alasan lagi bagi Filzah untuk tetap mengotot ingin melihat kondisi Hilyah saat ini. Azlan telah menyuruhnya untuk pulang maka ia harus menurutinya. Karena Azlan adalah suaminya dan ia harus tunduk dan patuh atas perintahnya.


"Zaura ayo kita pulang Sayang." Ajak Filzah kepada Zaura dengan menahan sesaknya dada akibat menahan isak tangisnya.


Akhirnya Filzah benar-benar pergi, dengan isak tangis yang tidak bisa dibendung lagi. Selin yang melihat kepergiaan Filzah tersenyum sinis dan puas karena berhasil mengusir Filzah, si pelaku utama penyebab Mama mertuanya masuk rumah sakit dan sampai keadaannya menjadi koma.


Azlan menyeka cepat air matanya. Kemudian ia bergerak cepat masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat kondisi Hilyah. Ergin dan Selin ikut menyusulnya.


Kedua mata Azlan kembali berkaca-kaca. Ia pandangi wajah perempuan yang telah membesarkannya seorang diri kini harus terbaring koma dengan berbagai alat bantu medis mendera tubuhnya.


"Mama." Azlan tak dapat menahan isak tangisnya yang langsung pecah.

__ADS_1


Seorang anak mana yang tidak terpukul dan tercabik-cabik melihat ibunya sedang bertaruh nyawa. Antara hidup dan mati.


"Mama bangun Ma, Mama bangun!"


"Ini Azlan Ma, ini Azlan anak Mama"


"Maafkan Azlan Ma, maafkan Azlan, seharusnya Azlan menjaga Mama sampai Mama sembuh, tapi sekarang keadaan Mama malah tambah pa-rah."


Azlan menangis sesegukan. Air matanya mengalir sampai menyentuh punggung tangan Hilyah yang tertancap alat infus.


Ergin ikut sedih melihat Hilyah terbaring koma. Berkali-kali ia menyeka air matanya yang berjatuhan. Selin mengusap pundak suaminya untuk menguatkannya.


"Untung tadi ada aku saat Mama terjatuh, jadi langsung di bawa ke rumah sakit, kalau nggak, mungkin Mama bukan hanya koma, tapi sudah nggak ada." Ujar Selin menegaskan bahwa ia-lah pertama kali yang menemukan Hilyah saat terjatuh dari tangga.


Azlan terdiam. Ia mendengar jelas apa yang dikatakan Selin. Telinganya memanas. Kedua matanya memerah. Menyiratkan kemarahan yang kian membuncah.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Keadaan semakin mencekam yaaa


😒😒😒


Azlan mulai kecewa dengan Filzah


karena kelalaian Filzah


Hilyah koma


😒😒😒


Apa yang akan terjadi selanjutnya???


Apakah Azlan akan marah besar sama Filzah???


Apakah Azlan akan menyalahkan Filzah???


Sama seperti Selin yang terang-terangan menyalahkan Filzah


πŸ˜–πŸ˜–πŸ˜–


Apakah Hilyah dapat bertahan hidup???


Atau


Insiden kecelakaan itu akan merenggut nyawanya???


😞😞😞


Btw feelnya dapat nggak???


Perasaan kalian bagaimana???


Campur aduk???


Diaduk-aduk???


Nyessek???


Nyesss???


Atau isi sendiri ya


Ukhfira no koment


πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“


Tunggu updatetan part selanjutnya yaaa


πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2