
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang
di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa
🌹🌹🌹
Dua minggu telah berlalu namun hati Azlan belum kunjung pulih. Jangankan untuk keluar dari rumahnya, keluar dari kamarnya saja ia belum sama sekali. Semenjak kepergian Filzah, Azlan merasa separuh nyawanya telah pergi. Semangat hidupnya juga runtuh seketika. Bahkan saat ini Ia lebih memilih untuk menyendiri di kamarnya yang sepi dan sunyi. Untaian gamis berwarna navy milik Filzah tak pernah lepas sedikitpun dari genggaman tangannya.
Kreggg
Pintu kamarnya terbuka. Perlahan sorot matanya yang kosong menatap ke arah seseorang yang telah membuka pintu kamarnya.
"Assalamu 'alaikum Yandah." Salam Hilyah kepada Azlan dengan kedua tangannya mendekap bayi mungil yang sedang tertidur pulas.
Hilyah tak sendiri ia bersama Zaura berserta Uzmah dan Jasir yang ikut masuk ke dalam kamar Azlan.
Perlahan Azlan turun dari ranjangnya. Ia mendekati Hilyah. Sementara Zaura langsung berhambur memeluknya.
"Yandah, Zaura kangen sama Yandah." Rengek Zaura yang sudah sesegukan.
Azlan melepaskan Zaura dari tubuhnya. Kemudian ia membelai lembut pipi sang putri seraya menampilkan senyuman. Berusaha untuk tegar di hadapan sang putri.
"Azlan, ini bayi kamu Nak, alhamdulillah sekarang kondisinya sudah membaik dan Dokter sudah memperbolehkan untuk dibawa pulang." Hilyah berucap seraya memperlihatkan bayi mungil yang berada dalam dekapannya.
Tatapan mata Azlan kini tertuju padanya. Ia memperhatikan bayi itu dengan seksama. Hilyah pun meletakkanya ke dalam dekapan Azlan. Azlan sempat tersentak namun pelan-pelan ia mulai menyesuaikannya, memberikan ketenangan kepada bayi yang tak lain adalah buah cintanya dengan Filzah.
"Anakku." Ucap Azlan dengan isak tangisnya yang mulai merebak.
Azlan menangis sesegukan. Ia tak kuasa memandang wajah polos bayi mungilnya yang sedang tertidur pulas. Ingin rasanya Azlan berteriak untuk menumpahkan kecamuk yang ada dalam dadanya. Azlan merasa sangat berdosa karena telah membuat darah dagingnya kehilangan Ibunya sedari dilahirkan.
"Maafkan Yandah Nak, maafkan Yandah, gara-gara Yandah kamu kehilangan Bunda kamu, kamu kehilangan kasih sayang Bunda kamu."
Suasana berubah pilu. Tidak ada yang sanggup menahan air matanya melihat pemandangan yang sungguh meremukkan hati.
"Azlan sudah, jangan menyalahkan diri kamu, ini semua bukan kesalahan kamu, ini sudah takdir dari Allah, Allah lebih sayang sama Filzah, makanya Allah mengambil Filzah dari kita, kamu harus kuat, lihat anak-anak kamu, mereka butuh kamu." Hilyah mengingatkan Azlan agar tetap kuat demi anak-anaknya.
Azlan menghela napas berat. Ia mencoba untuk terus kuat, terlebih di hadapan kedua anaknya.
"Maa syaa Allah, kamu mirip sekali dengan Bunda kamu Nak, mata kamu, hidung kamu, bibir kamu, semuanya mirip Bunda kamu Nak." Azlan mencium lembut kening sang bayi yang berjenis kelamin perempuan.
"Yandah, Adik bayi belum punya nama, ayo Yandah berikan nama untuk Adik bayi."
Azlan terdiam sejenak. Ia memikirkan sebuah nama untuk putri keduanya. Namun tanpa sepengetahuan yang lain, ia sudah menyiapkan nama untuk bayi kecilnya. Bahkan Filzah sendiri tidak mengetahuinya.
"Sebenarnya Yandah sudah menyiapkan nama untuk Adik kamu Sayang, bahkan Bunda nggak tahu."
"Namanya siapa Yandah?," Tanya Zaura antusias ingin segera mengetahuinya.
"Namanya adalah Qiana Azfil, artinya Berkah dari Allah untuk Azlan dan Filzah." Tutur Azlan menjelaskannya dengan lengkap.
"Maa syaa Allah, namanya bagus sekali Yandah." Sahut Zaura bahagia.
Bukan hanya Zaura yang hatinya bahagia, namun seluruh anggota keluarganya ikut bahagia mendengar nama indah nan cantik dari bayi mungil yang umurnya masih berjalan dua minggu.
"Iya Azlan, namanya bagus sekali. Alhamdulillah sekarang cucu Oma yang cantik ini sudah punya nama." Ucap Hilyah yang tiada hentinya merasa gemas ketika melihat cucu pertamanya dari Putra bungsunya itu.
"Halo Qiana, ini Neneknya Qiana juga." Ujar Uzmah menyapa bayi cantik yang bernama Qiana.
__ADS_1
"Dan ini juga Kakeknya Qiana." Sambung Jasir tidak mau kalah untuk memperkenalkan dirinya.
Azlan pun terkekeh melihat Nenek dan Kakeknya Qiana saling berebut untuk memperkenalkan dirinya masing-masing kepada Qiana. Kesedihan Azlan seakan terhapuskan sedikit dengan melihat keluarga besarnya yang bahagia sekali atas kehadiran putri kecilnya.
"Ya Allah, kuatkan aku dalam menerima semua kenyataan ini, aku sudah berusaha untuk mengikhlaskan kepergiaan istriku, tetapi aku perlu waktu untuk melapangkan dadaku ini."
"In syaa Allah aku akan menyayangi dua malaikat kecil yang Engkau titipkan kepadaku ini. Saat ini merekalah pelipur laraku. Aku berjanji ya Allah aku nggak akan menyia-nyiakan dua malaikat kecilku ini. Aku nggak akan mengulang kesalahan terbesarku lagi. Cukup istriku yang aku sia-siakan, aku nggak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya."
Perasaan bersalah yang amat besar masih selalu terbayang-bayang di benaknya. Sampai kapanpun Azlan tidak akan pernah bisa melupakan kesalahan terbesarnya itu. Dan ia akan selalu menyalahkan dirinya sampai kapanpun karena dirinya pantas untuk disalahkan. Dan secara tidak langsung ia telah membunuh istrinya sendiri.
🌹🌹🌹
Di ruang makan Selin sedang sibuk sendiri. Ini pertama kalinya ia menyiapkan makan siang untuk keluarga besarnya. Biasanya Filzah yang melakukannya, namun kini Filzah sudah tiada dan Selin akan menggantikan posisi Filzah untuk menjadi Ibu rumah tangga yang baik.
"Alhamdulillah makanannya sudah siap, semoga enak dan keluarga besarku menyantapnya dengan lahap." Ucap Selin penuh harap.
Tak berapa lama kemudian keluarga besarnya datang bergerombolan seakan sedang berdemo ria. Kali ini Azlan juga ikut memenuhi ruang makan dan Selin senang sekali melihatnya.
"Alhamdulillah Azlan, akhirnya kamu keluar kamar juga, Kak Selin senang melihatnya." Selin tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya.
Azlan hanya tersenyum. Ia masih belum bisa berucap satu katapun. Selin pun memakluminya. Bahkan kedua mata Selin sudah berkaca-kaca. Kebaikan Filzah selalu muncul di benaknya. Dan itu selalu membuatnya terbayang-bayang rasa bersalah.
"Maa syaa Allah Selin, ini kamu yang masak semuanya?" Hilyah bertanya-tanya kepada Selin sembari sorot matanya terus mengabsen seluruh menu makanan yang tersaji di meja makan.
Selin beralih menatap ke arah Hilyah. Ia malu untuk mengakuinya karena ini hal perdana baginya memasak makanan untuk keluarga besarnya.
Akhirnya dengan malu-malu Selin mengangguk. Setelah itu ia tertunduk malu. Namun detik berikutnya ia tersentak karena tiba-tiba ada yang menyenggolnya. Selin pun menoleh ke arah pelakunya.
"Cie Mommy masak nih, kira-kira makannya enak nggak ya?." Goda Ergin seraya mengkedipkan sebelah matanya.
Kini malah Selin yang menyenggol lengan suaminya. Kemudian ia mendoangakkan kepalanya. Ternyata seluruh anggota keluarganya sedang memperhatikannya, tak terkecuali Azlan. Bahkan Azlan sedikit menampilkan senyuman manisnya.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita makan, nanti makanannya malah keburu dingin."
Selin langsung mengajak keluarga besarnya untuk menempati kursi duduknya masing-masing untuk menyantap makan siangnya.
Disela-sela makan siangnya Selin tak sengaja memperhatikan Zaura yang lahap sekali menyantap makanannya. Selin mengulas senyuman bahagia melihat Zaura begitu suka dengan masakan buatanya.
"Alhamdulillah kelihatannya Zaura suka dengan masakan buatanku, aku senang melihatnya." Ujar Selin senang dalam hati.
"Zaura mau menambah lagi ayam gorengnya Sayang?" Tanya Selin kepada Zaura dengan begitu perhatian.
Serentak pandangan Azlan dan Hilyah tertuju ke arah Selin yang baru kali ini perhatian sekali kepada Zaura. Tidak seperti biasanya, jangankan perhatian, menatap Zaura sekilas saja ia sangat tidak sudi.
Zaura menganggukkan kepalanya dengan malu-malu. Sontak Selin langsung memberikan sepotong ayam goreng ke piring Zaura.
"Ini Sayang, Zaura makan yang kenyang ya." Titah Selin dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih Tante Selin." Ucap Zaura dengan riang.
"Iya Sayang sama-sama." Jawab Selin tak kalah riangnya.
🌹🌹🌹
Dengan pemandangan indah yang disuguhkan di hadapannya, Azlan nampak tenang duduk di kursi taman belakang rumahnya. Ia tak seorang diri, dua malaikat kecilnya menemani kesendiriannya. Zaura terlihat nyenyak dalam tidurnya di pangkuan ternyaman Yandahnya. Sementara si kecil Qiana ikut tertidur pulas dalam dekapan penuh kasih sayang Yandahnya.
"Zaura, Qiana, kalian adalah dua malaikat kecil Yandah, kalian adalah kebahagiaan Yandah, Yandah bersyukur ada kalian di hidup Yandah, meskipun Bunda sudah nggak ada di sini bersama kita, tapi Yandah akan selalu bersyukur karena masih ada kalian di samping Yandah, tumbuhlah menjadi perempuan-perempuan yang sholihah seperti Bunda kalian, karena hanya kalianlah yang akan menolong Yandah dan Bunda nanti di hadapan Allah, percayalah Nak, Yandah dan Bunda mencintai kalian, kalianlah buah cinta Yandah dan Bunda."
Azlan mencium kening Zaura dan Qiana secara bergantian. Tak terasa air matanya jatuh di kening Qiana, putri bungsunya. Azlan mengusapnya dengan lembut. Selembut hatinya yang tak kuasa menahan deraian air matanya, selepas kepergian istri tercintanya.
Tanpa Azlan sadari, tidak jauh dari tempat duduknya ada Selin yang sedang memperhatikannya dengan bersimbah air mata. Selin tak kuat melihat adik iparnya kini hanya duduk seorang diri dengan dua anak di pangkuannya. Ini masih seperti mimpi baginya. Terlalu cepat Filzah pergi. Bahkan Selin sendiri tak menyangka bahwa Filzah sudah tiada diusia yang masih muda. Hal ini yang membuatnya berniat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, karena maut tak memandang usia. Bisa jadi selanjutnya adalah gilirannya.
__ADS_1
Usai menghapus air matanya sekaligus mengubah raut wajah kesedihannya dengan seulas senyumannya, Selin melangkahkan kakinya, menghampiri Azlan yang duduk dalam keadaan termenung.
"Azlan."
Melihat Kakak iparnya sudah berdiri di hadapannya, buru-buru Azlan menyeka air matanya. Ia menutupi kesedihannya namun Selin masih dapat melihatnya dari sorot matanya.
"Azlan, itu Zaura kasihan tidurnya seperti itu?, Kak Selin bantu gendong Zaura ke kamarnya ya, kamu nggak keberatan kan?"
Untuk beberapa detik Azlan terdiam. Ia masih tidak percaya akan apa yang ia dengar dari mulut Selin.
"Azlan?" Panggil Selin untuk menyadarkan Azlan.
"I-iya Kak, tolong bantu bawa Zaura ke kamarnya ya."
Dengan senang hati Selin langsung menggendong Zaura untuk membawa ke kamarnya. Karena kelembutannya Zaura sama sekali tidak terusik dalam tidurnya. Justru ia merasa nyaman berada di gendongan Selin, seakan ia sedang digendong oleh Bundanya sendiri.
Azlan berdecak kagum atas perubahan sikap Selin yang drastis. Selin begitu perhatian dengan Zaura. Bahkan ia menyayangi Zaura seperti anaknya sendiri.
Kini Zaura sudah terbaring pulas di kasur empuknya. Selin pun mengelus lembut kening Zaura yang sedikit berkeringat.
"Kak Selin, terima kasih sudah mau memindahkan Zaura ke kamarnya." Ujar Azlan yang ikut masuk ke dalam kamar putri sulungnya.
"Azlan, kamu nggak usah berterima kasih sama aku, sudah seharusnya aku menyayangi keponakan aku sendiri. Dan jika kamu mengizinkan, aku ingin sekali ikut membantu kamu untuk merawat Zaura dan Qiana. Aku ingin menebus kesalahanku kepada Filzah dengan merawat anak-anak kalian. Aku berjanji aku akan menyanyangi Zaura dan Qiana seperti aku menyayangi Grizelle, anakku sendiri."
"Tolong izinkan aku Azlan, aku mohon." Selin sangat berharap agar Azlan mau memperkenankan dirinya untuk mengisi sosok Ibu dalam kehidupan keponakan-keponakannya yang malang.
Azlan tersenyum haru. Hatinya benar-benar tersentuh dengan niat baik Selin yang tidak ia sangka-sangka sebelumnya.
"Maa syaa Allah Kak Selin, aku benar-benar nggak tahu lagi harus berkata apa, aku sangat-sangat bersyukur kalau Kak Selin mau membantu aku untuk merawat Zaura dan Qiana. Zaura dan Qiana membutuhkan sosok Ibu dalam hidupnya. Aku yang harusnya berterima kasih sama Kak Selin."
"Alhamdulillah." Selin dapat bernapas lega karena dengan tangan terbuka Azlan mengizinkan dirinya untuk ikut serta merawat putri-putri cantik dan berhati baik seperti Bundanya, Filzah. Selin yakin Qiana akan tumbuh menjadi putri yang berhati baik seperti Zaura karena dia memiliki seorang Ibu yang berhati baik bagaikan malaikat, dialah Filzah Banafsha. Meskipun raganya telah tiada namun kebaikan hatinya akan selalu dikenang sepanjang masa.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Ukhfira kehabisan kata-kata untuk menyapa kalian semua Readers
😔😔😔
Jujur ya, Ukhfira juga sedih karena Filzah harus pergi meninggalkan suami dan buah hatinya
Namun rancangan di otak Ukhfira sudah terpatri seperti itu
😓😓😓
Agar Readers yang membaca cerita ini tidak merasakan penyesalan teramat dalam seperti apa yang Azlan rasakan
🙏🙏🙏
Intinya ambil hikmahnya dari kepergian Filzah yang begitu cepat
"Maut tidak memandang usia"
"Maut tidak memandang apapun"
Yang jelas
"Maut akan datang kepada makhluk yang bernyawa"
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1