
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
🤗🤗🤗
Liburan weekend kali ini Filzah habiskan dengan membersihkan rumah bersama si gadis kecil, Zaura. Mereka berperang dengan senjata masing-masing. Kegiatan membersihkan rumahnya dari mencuci piring di dapur, menyapu lantai serta mengepel lantai satu dan dua. Pekerjaan di dalam rumah sudah selesai kini tinggal yang di luar rumah. Filzah menyapu halaman rumah dan Zaura juga tidak mau kalah untuk ikut menyapu halaman rumahnya dengan sapu mini seukurannya.
Selang beberapa menit kemudian terlihat Azlan sedang membuka pintu gerbang dan melangkah masuk ke pekarangan rumahnya yang luas. Ia baru saja pulang dari masjid sehabis melaksanakan sholat subuh dengan berjama'ah.
"Yandah pulang." Ujar Zaura seakan menyambut kepulangan Azlan dari masjid.
"Assalaamu 'alaikum." Ucap salam Azlan kepada istri dan putrinya.
"Wa 'alaikumus salaam, Yandah."
Zaura menghetikan kegiatan menyapu halamannya sejenak untuk mencium tangan Azlan. Begitu juga dengan Filzah yang ikut mencium tangan Azlan dengan hormat.
"Zaura sedang apa di sini?." Tanya Azlan ketika tadi melihat sang putri sedang menyapu halaman.
"Zaura sedang membantu Bunda menyapu halaman, Yandah, tadi juga sudah selesai menyapu di dalam rumah." Zaura menjelaskannya dengan gaya bicaranya yang menggemaskan. Layaknya anak kecil yang seumuran dengannya.
"Zaura membantu Bunda membersihkan rumah?, wah anak Yandah rajin sekali, sini peluk Yandah dulu." Azlan salut kepada Zaura meskipun masih kecil namun sudah rajin membantu membersihkan rumah apalagi rumah yang luasnya seperti rumah yang mereka huni saat ini. Benar-benar luar biasa.
Zaura menggeleng. Ia memundurkan langkahnya. Memberikan isyarat bahwa ia tidak mau memeluk Yandahnya. Melihat hal itu lantas Azlan kebingungan dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Lho Zaura nggak mau peluk Yandah?"
"Nggak mau." Tolak Zaura dengan tegas.
"Lho kenapa?." Tanya Azlan tak mengerti.
"Zaura bau keringat Yandah, Yandah kan juga masih pakai baju sholat."
Azlan pun menundukkan kepalanya. Memperhatikan pakaian yang ia kenakan saat ini. Baju taqwa, sarung lengkap dengan peci berwarna hitam. Lalu tatapannya beralih ke arah Zaura. Keringat membasahi wajah dan seluruh tubuh Zaura. Kemudian Azlan malah terkekeh. Membenarkan pernyataan sang putri.
"Ya sudah kalau begitu Yandah ganti baju dulu ya, nanti Yandah ke sini lagi, oke?!"
"Oke Yandah."
Tanpa berlama-lama lagi Azlan langsung masuk ke dalam rumahnya. Ia berniat untuk berganti baju karena setelah itu ia akan kembali ke halaman rumahnya untuk menemui sang putri beserta sang istri.
Selang beberapa menit kemudian Azlan sudah selesai berganti baju dan ia pun kembali ke halaman rumahnya. Menemui putrinya yang sudah selesai menyapu.
"Lho Zaura kok sendirian, Bunda ke mana?" Azlan menanyakan Filzah yang sudah tidak ada di halaman rumah.
"Cie-cie Yandah cari Bundah nih ye." Ujar Zaura menggoda sang Yandah.
Azlan tersentak. Ia langsung mengamati sekitar. Ia takut Filzah tiba-tiba datang dan mendengar perkataan Zaura. Bisa malu ia nantinya.
"Lho Bunda kan istrinya Yandah, jadi nggak apa-apa dong kalau Yandah mencari Bunda, memangnya Bunda ke mana bukannya tadi masih di sini?"
Kini giliran Zaura yang cengengesan. Namun tadi ia hanya bercanda saja kepada Yandahnya.
"Iya-iya Yandah, Zaura hanya bercanda Bunda ada kok."
"Ada di mana?." Tanya Azlan ingin tahu.
"Di hati Yandah." Zaura menutup mulutnya yang tertawa kecil.
Azlan menghela napas. Ia tidak menyangka Zaura bisa menggodanya seperti itu.
"Yandah, benar kan kalau Bunda ada di hati Yandah?." Tiba-tiba raut wajah Zaura nampak serius. Ia menanyakan kebenaran tentang ucapannya tadi.
Azlan terdiam. Ia mengalihkan tatapannya dari sang putri. Pergerakannya seakan mewakilkan isi hatinya yang belum bisa menempatkan sang istri di singgasana hatinya.
"Yandah?" Zaura menyadarkan Azlan yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Azlan pun tersadar. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke arah wajah sang putri yang menunggu jawabannya.
"Iya, Bunda ada di hati Yandah." Ucap Azlan dengan serius dan tegas.
Zaura tersenyum mendengar pernyataan yang ingin sekali didengar dari mulut Yandahnya. Dan tiba-tiba saja Filzah berdiri di belakang Zaura. Tatapan Azlan kini beralih kepada Filzah. Begitupun sebaliknya.
"Zaura." Filzah memanggil Azlan. Zaura pun yang mendengar suara sang Bunda di belakangnya ikut menoleh.
"Bunda." Zaura memanggil sang Bunda.
"Bunda tadi Yandah-" Ucapan Zaura langsung terhenti karena Azlan membungkam mulutnya agar Zaura tidak melanjutkan ucapannya.
Filzah kebingungan sendiri. Ia juga penasaran kira-kira Zaura akan membicarakan apa kepadanya sampai-sampai Azlan membungkam mulut putrinya.
"Zaura nggak usah ngomong apa-apa ya sama Bunda, Yandah mohon." Bisik Azlan kepada Zaura sembari bermohon-mohon.
__ADS_1
Zaura mengangguk. Dan Azlan membuka bungkamannya dari mulut Zaura.
"Bunda, tadi Yandah mencari Bunda." Teriak Zaura sembari berlari menjauh dari Yandah dan Bundanya.
Azlan langsung salah tingkah. Ia ragu untuk menatap wajah perempuan di hadapannya. Entah mengapa ia menjadi malu dengan Filzah. Dan yang malu bukan hanya Azlan namun Filzah juga ikut malu. Ia juga salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat dan bertindak apa. Jangan lupakan kedua pipinya yang sudah merah merona layaknya kepiting yang sedang direbus.
"Ya Allah Zaura bisa saja deh membuat Yandah sama Bundanya salah tingkah seperti ini, jadi canggung kan suasananya." Ucap Azlan dalam hati sembari menggaruk pelipisnya untuk mengalihkan salah tingkahnya.
"Mas, a-aku sudah buatkan teh untuk Mas, tehnya ada di meja depan rumah Mas, atau mau aku ambilkan saja?"
Azlan menggeleng cepat. "Oh nggak usah biar aku ke sana saja."
Filzah pun mengangguk. "Iya Mas." Jawabnya lirih.
"Kalau begitu aku ke sana dulu ya, takut tehnya keburu dingin."
Filzah mengangguk sekaligus memperbolehkan Azlan untuk pergi meninggalkan karena ingin menyeduh teh buatannya.
Beberapa detik kemudian Filzah ikut menyusul Azlan namun bukan untuk menemani Azlan menikmati manisnya teh buatannya melainkan untuk menuju dapur karena ada yang ingin dia kerjakan di tempat favoritnya tersebut.
🌹🌹🌹
"Bunda bubur kacang hijaunya sudah masak ya?, Zaura sudah nggak sabar ingin mencicipinya Bunda."
Zaura mengoceh di tempat duduknya. Ia sedang menunggu Filzah yang sedang asyik mengaduk bubur kacang hijau yang dibuatnya untuk menemaninya di siang hari.
"Zaura yang sabar ya Sayang, sebentar lagi masak kok." Ucap Filzah menenangkan sang buah hati yang sudah tidak sabar menunggu bubur kacang hijaunya masak.
Beberapa menit kemudian yang ditunggu-tunggu dengan ketidaksabaran oleh Zaura akhirnya masak juga sekaligus sudah memenuhi mangkok besar yang sudah disediakan di meja ruang makan.
"Asyik bubur kacang hijaunya sudah masak." Ujar Zaura dengan sumringah.
"Alhamdu..." Filzah memancing sang putri agar mengucap kalimat hamdalah.
"Oh iya, alhamdulillah." Zaura membetulkan ucapannya yang tadi lupa mengucapkan kalimat hamdalah.
"Bunda, Zaura mau cobain sedikit saja, boleh kan Bunda?" Zaura merayu Bundanya untuk mencicipi bubur kacang hijau buatan Bundanya yang tidak lain juga adalah permintaannya.
"Boleh, sebentar ya Bunda ambilkan dulu." Filzah tidak tega melihat putrinya sudah tidak sabar untuk mencicipi bubur kacang hijaunya.
"Bunda, Zaura ke kamar mandi dulu ya, Zaura ingin pipis."
Filzah terkekeh melihat Zaura yang berjinjit-jinjit karena sudah tidak kiat menahan panggilan alamnya.
"Iya Bunda."
Tanpa berlama-lama lagi Zaura sudah melenggang pergi menuju kamar mandi untuk menyelesaikan panggilan alamnya yang tidak dapat tertahankan lagi.
Disaat Zaura keluar dari dapur disaat itulah Grizelle masuk ke dalam dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ia berjalan sembari memperhatikan Filzah yang sedang menyiapkan bubur kacang hijau untuk Zaura.
"Eh Grizelle, ada yang bisa Tante Filzah bantu?" Filzah menyapa Grizelle yang kini berada di satu ruangan dengannya.
"Tante sedang buat apa?" Tanya Grizelle penasaran sembari menengok ke arah mangkok yang terisi bubur kacang hijau.
Filzah ikut beralih kepada objek yang menjadi pusat perhatian Grizelle saat ini. "Oh ini Tante sedang buat bubur kacang hijau, Grizelle mau cobain sekarang atau nanti saja?" Filzah mencoba menawarkan bubur kacang hijau kepada keponakannya, putri dari Abang serta Kakak iparnya.
"Wah kelihatannya bubur itu enak sekali." Ucap Grizelle dalam hati.
"Grizelle mau cobain sekarang?" Filzah seakan dapat membaca isi pikiran Grizelle yang menginginkan bubur kacang hijau buatannya.
Grizelle terdiam. Ia ingin sekali mencicipi bubur kacang hijau itu tetapi ia ragu. Seperti ada bisikan yang melarangnya.
"Ya sudah kalau Grizelle nggak mau mencicipi sekarang, nanti saja ya kita maka bersama-sama."
"Grizelle maunya sekarang Tante." Sahut Grizelle seketika.
Filzah tersenyum manis nan menenangkan. "Ya sudah kalau begitu ini untuk Grizelle, ayo dimakan Nak." Filzah memberikan semangkok kecil bubur kacang hijau yang tadinya ia siapkan untuk Zaura. Namun ia berikan kepada Grizelle dan nanti ia akan menyiapkan untuk Zaura ketika Zaura sudah kembali dari kamar mandi.
Perlahan Grizelle mulai mendekati meja makan. Ia pun duduk di kursi yang sudah Filzah sediakan untuknya. Dengan ragu Grizelle mulai mengangkat sendok yang berisi satu suapan bubur kacang hijau untuk ia cicipi. Dan akhirnya satu suapan bubur kacang hijau telah masuk ke dalam mulutnya. Memanjakan lidahnya dengan cita rasa yang begitu manis dan lezat yang berasal dari bubur kacang hijau buatan Filzah.
Tiba-tiba saja wajah Grizelle terlihat pucat dan bintik-bintik merah mulai keluar di sekujur tubuhnya. Filzah sangat terkejut. Ia langsung menghampiri Grizelle untuk menanyakan keadaannya.
"Grizelle kenapa Nak?, kok wajah Grizelle tiba-tiba pucat?." Tanya Filzah panik.
Grizelle tidak menjawab apapun atas pertanyaan Filzah yang menanyakan keadaannya yang tiba-tiba saja wajahnya pucat dan melemah.
Dan Grizelle mencoba untuk bangkit dari duduknya. Namun ia tidak sanggup berdiri. Dan akhirnya malah jatuh pingsan.
"Astaghfirullah Grizelle." Filzah sangat terkejut mendapati Grizelle sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Grizelle, Grizelle dengar Tante kan Nak?" Filzah mencoba membangunkan Grizelle namun tidak ada respon apapun. Filzah semakin panik.
"Bunda." Zaura sangat terkejut ketika melihat Grizelle terbaring di lantai dan Bundanya sedang berusaha membangunkannya.
"Bunda, Grizelle kenapa?." Tanya Zaura yang ikut panik.
__ADS_1
"Bunda juga nggak tahu Sayang, Zaura tolong panggilan Om Ergin Papinya Grizelle ya dan panggilkan yang lainnya juga."
"Iya Bunda."
Tanpa berlama-lama lagi Zaura langsung melenggang pergi untuk memanggil Ergin dan seluruh anggota keluarganya.
"Oh my god Grizelle." Teriak Selin yang sudah sampai di ruang makan dan sangat terkejut melihat putri kesayangan sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
"Grizelle." Semua orang ikut panik melihat si gadis kecil yang bernama Grizelle jatuh pingsan dengan wajah pucat.
"Filzah apa yang kamu lakukan sama Grizelle?, kamu mau membunuh anakku?, iya?." Amuk Selin dengan brutal kepada Filzah.
Filzah tercekat. Ia terkejut akan tuduhan yang tidak benar dari Selin dengan keadaan Grizelle saat ini.
"Ta-tadi Grizelle tiba-tiba pingsan." Ucap Filzah terbata-bata. Ia juga panik dengan keadaan Grizelle yang tiba-tiba pingsan seperti itu.Â
Tanpa sengaja Selin menoleh ke atas meja makan. Kedua matanya langsung melotot seakan ingin meloncat ketika ia melihat satu mangkok besar bubur kacang hijau dan mangkok kecil yang berada tepat di meja yang lurus dengan tempat Grizelle pingsan.
"Apa Grizelle makan bubur kacang hijau?"
Semua mata tertuju ke arah meja makan lebih tepatnya ke arah bubur kacang hijau yang diwadahi dengan mangkok cukup besar dan kecil.
Perlahan Filzah mengangguk. Dan itu sangat membuat kepala Selin mendidih dan hatinya terbakar. Bahkan kedua matanya langsung memerah. Dan melotot ke arah Filzah.
"Filzah kamu tuh ya-"
"Sudah-sudah kita bahasnya nanti saja, sekarang kita harus segera bawa Grizelle ke rumah sakit." Azlan berhasil menahan amarah Selin yang sudah mau meledak.
"Oh jadi kamu mau membela istri kamu yang jahat ini?, Azlan kamu tahu kan apa dampaknya kalau Grizelle makan bubur kacang hijau?"
"Kamu juga tahu kan apa dampaknya kalau anak kamu ini nggak segera dibawa ke rumah sakit?, bisa melayang nyawanya."
Azlan berhasil melayangkan tamparan kepada Selin berupa penjelasan atas meregangnya nyawa Grizelle jika tidak segera di bawa ke rumah saat ini juga.
"Mommy sudah, marah-marahnya nanti saja, benar apa yang dikatakan Azlan, nyawa Grizelle lebih penting." Akhirnya Ergin angkat bicara dan ia menyetujui ucapan Azlan.
"Ya sudah ayo Daddy gendong Grizelle, jangan diam saja." Selin malah melampiaskan sedikit amarahnya kepada Ergin.
Akhirnya Ergin langsung menggendong tubuh mungil Grizelle untuk membawanya
ke rumah sakit. Untuk menolong nyawanya yang bisa melayang begitu saja jika tidak segera ditangani.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah part 16 sudah bisa kalian baca dengan sesuka hati
Dan semoga selalu menghasilkan manfaat ya
Aamiin Allahumma Aamiin
Btw ada dengan Grizelle???
Kenapa dia tiba-tiba pingsan???
Apakah dia keracunan???
Atau
...
Isi sendiri ya
😆
Yang penasaran langsung scrolll ke atas ya
Kalau part berikutnya belum muncul berarti kalian belum beruntung
🙈🙈🙈
Alias part berikutnya masih digarap
🖋🖋🖋
Tetap pantengin lapak ini ya supaya kalau ada notip dari Cinta Istiqomah
kalian tidak ketinggalan dan langsung stand by bacaaa
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
😎😎😎
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1