
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
๐น๐น๐น
Setelah tiga hari di Malang Filzah kembali lagi ke Jakarta karena ia tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya dan Zaura juga sudah sekolah sehingga tidak bisa libur lama-lama. Kini Filzah dan Zaura sedang kedatangan tamu spesial, dialah Hilyah dan Azlan. Mereka datang ke rumah Filzah untuk menanyakan kembali jawaban atas lamaran Azlan tiga hari yang lalu.
"Jadi bagaimana Nak Filzah, apakah Nak Filzah akan menerima lamaran dari Azlan anak saya?" Hilyah tidak ingin berbasa-basi lagi. Tiga hari ia sudah menunggu jawaban dari Filzah dan hari ini Filzah akan memberikan jawabannya.
"Mohon maaf sebelumnya karena saya sudah membuat Ibu Hilyah dan Pak Azlan menunggu." Filzah merasa tidak enak karena sudah membuat Hilyah dan Azlan menunggu selama tiga hari lamanya. Namun Filzah memang membutuhkan waktu.
Hilyah tersenyum tipis. "Iya Nak Filzah nggak apa-apa, tapi sekarang Nak Filzah sudah mendapatkan jawabannya kan?"
Filzah mengangguk pelan. "In syaa Allah saya sudah mendapatkan jawabannya Bu."
Hilyah nampak bahagia karena akhirnya Filzah sudah mendapatkan jawabannya. "Alhamdulillah, lalu jawabannya apa Nak Filzah?" Tanya Hilyah yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Filzah mengenai lamaran putra bungsunya pada tiga hari yang lalu.
Sejenak Filzah terdiam. Mengambil napas sebelum ia kembali berucap untuk memberikan jawaban atas lamaran tersebut.
"Dengan mengucap bismillahirrohmaanirrohiim, saya, saya menerima lamaran Pak Azlan."
"Alhamdulillah." Ucapan syukur langsung terdengar dari mulut Hilyah. Jawaban Filzah berhasil membuatnya tersenyum penuh kebahagiaan.
Azlan ikut bahagia karena lamarannya diterima. Akhirnya ia dapat bernapas lega lantaran keinginannya menjadi Ayah untuk Zaura akan terkabulkan.
"Bunda." Zaura juga tak kalah senangnya dan langsung berhambur ke dalam pelukan Bundanya.
"Ini semua demi kamu Zaura, demi kebahagiaan kamu, semoga ke depannya hidup kita menjadi lebih bahagia dengan kehadiran seorang Ayah yang akan menyayangi Zaura." Ucap Filzah membatin. Harapannya hanya satu semoga dengan keputusannya menikah lagi akan membuat hidupnya lebih bahagia khususnya hidup putrinya jauh lebih bahagia dan air mata tidak akan pernah menetes lagi.
"Kalau begitu sekarang kita langsung bicarakan tanggal pernikahannya ya." Hilyah mengusulkan untuk langsung membicarakan tanggal pernikahannya. Ia sudah tidak ingin untuk berlama-lama lagi.
Filzah dan Azlan sama-sama menyetujuinya dengan anggukan kepala dari keduanya.
"Bagaimana kalau pernikahannya minggu depan?, kasihan Zaura kalau lama-lama, Zaura pasti sudah nggak sabar ingin mempunyai Ayah, iya kan Sayang?"
Zaura mengangguk senang. Ia memang tidak sabar ingin mempunyai seorang Ayah. Apalagi Ayahnya adalah Azlan, Om baik yang begitu baik dan tulus menyayanginya.
Filzah hanya tersenyum. Ia belum bisa memberikan jawaban. Ia menunggu Azlan untuk memberikan jawabannya terlebih dahulu.
Azlan dapat membaca bahasa tubuh Filzah yang sepasang matanya menatap Azlan walau hanya sekilas. Mengekspresikan bahwa Filzah menunggu Azlan untuk menjawabnya lebih dulu.
"Kalau Azlan terserah saja, yang terpenting Azlan resmi menjadi Ayah untuk Zaura." Ujar Azlan yang setuju-setuju saja dengan usulan Hilyah.
"Kalau Nak Filzah?" Hilyah beralih menanyakan jawaban dari Filzah atas usulannya.
"In syaa Allah saya setuju Bu." Jawab Filzah dengan yakin.
"Syukurlah, kalau begitu berarti pernikahan kalian akan diselenggarakan minggu depan, terus ini pernikahannya mau diselenggarakan di mana?, indoor atau outdoor?"
"Di rumah saja Ma, Azlan sih maunya yang sederhana saja, sayang kalau menghambur-hamburkan uang hanya untuk waktu satu hari, sementara nanti kebutuhan setelah menikah pasti lebih banyak lagi." Ujar Azlan menjelaskan keinginannya mengenai acara pernikahannya.
Hilyah setuju dengan keputusan putra bungsunya yang menginginkan acara pernikahan yang sederhana saja dengan alasan tidak ingin menghabiskan uang hanya untuk acara pesta pernikahannya.
"Kalau Nak Filzah bagaimana?"
"Saya setuju dengan Pak Azlan Bu, pernikahan kami sederhana saja, yang penting sah di mata agama dan negara, tapi kalau boleh saya mengusulkan, bagaimana kalau acara akad nikahnya di masjid saja, dan jika diperbolehkan saya ingin sekali di hari pernikahan kami nanti, kami bisa berbagi dengan sesama lebih khususnya dengan orang-orang yang membutuhkan, seperti pemulung, pengemis dan orang-orang yang bekerja di jalanan."
Awalnya Filzah ragu untuk mengutarakan keinginannya yang ingin berbagi dengan sesama di hari pernikahannya. Filzah hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain di hari bahagianya nanti.
Azlan menyengritkan dahi. Ia merasa aneh dengan keinginan Filzah namun ia akan menghargainya dan akan mempertimbangkannya.
"Maa syaa Allah mulia sekali hati kamu Nak Filzah, di hari bahagia kamu, kamu masih ingat dengan sesama dan mau berbagi, Ibu setuju sekali sama semua usulan kamu, bagaimana Azlan, apakah kamu setuju dengan usulan Nak Filzah?"
Azlan mengangguk. "Iya Ma, Azlan setuju, berbagi dengan sesama adalah suatu kebaikan." Ucapnya dengan tersenyum walau hanya sekilas.
Azlan sedikit takjub dengan Filzah. Perempuan yang akan menjadi calon istrinya ini adalah perempuan yang memiliki hati yang baik. Pantas saja gadis kecil yang disayanginya memiliki perangai yang baik ternyata itu semua berasal dari didikan Ibunya.
๐น๐น๐น
Satu Minggu Kemudian...
Masjid yang akan menjadi saksi bisu ikatan halal antara Filzah dan Azlan mulai banyak didatangi para tamu undangan yang datang dengan sukarela.
"Maa syaa Allah Bunda cantik sekali." Puji Zaura ketika melihat sang Bunda yang tampak cantik dengan gaun pengantin serta riasan make up di wajahnya.
__ADS_1
Filzah tersenyum manis. Ia membelai lembut kepala sang putri yang dibalut dengan kain khimar yang berwarna senada dengan gaun mungilnya.
"Nak Filzah."
Suara Hilyah yang sedang memanggil Filzah membuat keduanya beralih memandang ke arah Hilyah. Hilyah tampak cantik dengan kebaya lengkap dengan rok batik yang membaluti tubuhnya, serta riasan make up di wajahnya dan rambutย yang tersanggul rapi nan indah menambah kesan keawetan wajahnya.
"Ibu Hilyah."
"Oma."
"Hai Zaura Sayang." Hilyah membalas sapaan Zaura, calon cucu sambungnya.
"Nak Filzah, Kakek dan Neneknya Zaura ke mana?, mereka akan datang ke Jakarta kan?" Hilyah menanyakan keberadaan Kakek dan Neneknya Zaura yang tidak terlihat bersama Filzah dan Zaura.
"Kakek dan Neneknya Zaura nggak bisa ke Jakarta Bu, Kakeknya Zaura sedang sakit dan nggak bisa berpergian jauh, tetapi tadi pagi kami sudah menelponnya dan mereka mendoakan semoga acaranya lancar."
"Aamiin." Hilyah mengaminkannya.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita masuk ya, acara akan segera di mulai."
Filzah dan Zaura menuruti ajakan Hilyah untuk masuk ke dalam masjid karena sebentar lagi acara ijab qobulnya akan segera dimulai.
Filzah mendudukkan dirinya di tempat yang sudah disediakan. Di bantal kecil yang menjadi alas tempat duduknya. Zaura dan Hilyah duduk di sampingnya. Di samping Hilyah ada Selin dan Grizelle yang ikut serta menghadiri acara akad nikah Azlan dan Filzah, namun wajah mereka bersemu masam. Di sekitarnya juga sudah ada para tamu undangan perempuan yang sudah memenuhi tempat khusus untuk para tamu undangan perempuan.
Sementara Azlan sang calon pengantin laki-laki juga sudah duduk di tempatnya, beralaskan bantal kecil pula. Di sampingnya ada Ergin sebagai wali dari dirinya sendiri dan di hadapannya ada penghulu yang akan menikahkannya dengan Filzah. Karena orang tua laki-laki Filzah sudah meninggal dan Filzah juga sudah tidak mempunyai sanak saudara maka penghulu yang akan menjadi wali nikahnya, sesuai dengan syariat Islam.
"Apakah Mas Azlan sudah siap?." Tanya Penghulu kepada Azlan.
Azlan mengangguk. Ia memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Baiklah kalau begitu mari kita mulai ijab qobulnya." Ucap Pak penghulu seraya mengulurka tangannya.
Azlan mengambil napas lalu menjabat tangan Penghulu untuk memulai ijab qobulnya.
Dengan satu kali helaan napas Azlan mengucapkan ijab qobulnya dengan lancar. Dan Penghulu serta para tamu undangan laki-laki berucap kata "SAH". Itu artinya Azlan dan Filzah sudah resmi menjadi sepasang suami istri di mata agama dan negara.
"Azlan, selamat ya, sekarang kamu sudah sah menjadi seorang suami." Ucap Ergin memberi selamat kepada adiknya. Namun wajahnya tidak menampakkan rasa kebahagiaan. Bahkan senyumannya sangat dipaksakan.
"Iya Bang, terima kasih." Ujar Azlan seraya tersenyum. Hanya sekilas.
"Filzah, selamat datang di keluarga kami, dan mulai sekarang kamu panggil saya Mama ya, seperti Azlan memanggil saya dengan sebutan Mama." Hilyah memberikan selamat kepada menantu barunya sekaligus menyuruhnya untuk memanggil dirinya dengan sebutan Mama.
Filzah mengangguk. "Iya, Ma." Ucap Filzah dengan ragu.
"Zaura ayo cium tangan Oma." Filzah menyuruh Zaura untuk mencium tangan Oma sambungnya yang juga begitu menyayanginya. Ini yang membuat Filzah yakin untuk menerim lamaran Azlan, karena bukan hanya Azlan yang menyayangi Zaura namun Hilyah juga menyayanginya.
Hilyah menyambutnya dengan senyuman bahagia. Bahkan ia memeluk Zaura dengan penuh kasih sayang layaknya Nenek dan cucu kandung. Kedekatan Hilyah dan Zaura lantas membuat Selin dan Grizelle tampak membenci kedekatanย mereka.ย
"Sialan, kelihatannya perempuan kampungan itu beserta anaknya sudah berhasil mengambil hati Mama, ini nggak bisa dibiarkan, aku adalah menantu pertama Mama dan Grizelle adalah cucu kandungnya, jadi hanya aku dan Grizella yang berhak disayang sama Mama, lihat saja nanti, aku jamin kamu nggak akan betah menjadi menantu Mama." Selin berkata dalam hatinya yang sedang mendidih melihat kedekatan Filzah dan Zaura bersama Hilyah.
Azlan beranjak dari tempat duduknya. Langkahnya menuju ke arah Filzah yang sedang bersama Hilyah dan di samping mereka juga ada Zaura.
Hilyah pun membantu Filzah untuk beranjak dari tempat duduknya. Menunggu kedatangan Azlan yang perlahan mulai mendekatinya.
Kini Azlan sudah berdiri tepat di hadapan Filzah. Begitu dekat. Azlan mengulurkan tangannya. Mengisyaratkan kepada Filzah agar mencium tangannya. Layaknya sepasang pengantin baru pada umumnya.ย
Perlahan Filzah mulai menyentuh tangan Azlan yang kini sudah sah menjadi suaminya. Kemudian Filzah mencium punggung tangan suaminya dengan lembut.
Ceklek
Sang juru foto langsungย mengabadikan moment penting itu.
Filzah kembali mendongakkan kepalanya. Kedua bola mata teduhnya langsung beradu pandang dengan sepasang bola mata tajam milik Azlan.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Sepasang pengantin baru itu saling terdiam. Seakan tenggelam dalam peraduan tatapan mata keduanya. Mereka tidak saling bicara. Namun kedua mata mereka yang saling berbicara.
"Om baik."
Zaura berhasil membuyarkan lamunan kedua orang tuanya. Seketika Azlan dan Filzah langsung membuang pandangan masing-masing. Lalu keduanya saling tertuju kepada Zaura yang mulai mendekati mereka dan berdiri di tengah-tengah mereka.
"Zaura." Panggil Azlan.
__ADS_1
Tanpa disuruh lagi Zaura langsung mencium tangan Ayah barunya. Azlan juga membelai lembut kepala putri sambungnya.
Azlan duduk berlutut di hadapan Zaura. Lalu merengkuh kedua pundak Zaura.
"Zaura mulai hari ini Om sudah resmi menjadi Ayah kamu Nak."
"Iya Om baik, Zaura senaaang sekali." Ujar Zaura dengan memanjangkan kata senangnya.
"Mulai sekarang Zaura jangan panggil Om dengan sebutan Om baik lagi ya, kan sekarang Om sudah menjadi Ayahnya Zaura."
"Terus Zaura panggil apa sama Om baik?" Tanya Zaura dengan polosnya.
Azlan terdiam sejenak. Memikirkan panggilan baru untuk Zaura. Untuk putri yang disayanginya.
"Karena Zaura sudah memanggil Ayah kepada Ayah kandung Zaura, jadi Zaura memanggil Om dengan panggilan, Yandah, ya?"
"Yandah?" Tanya Zaura kebingungan.
"Iya, Yandah itu singkatan dari Ayahanda, Zaura mau kan memanggil Om dengan sebutan Yandah?" Azlan menjelaskan singkatan dari Yandah, panggilan baru untuknya dari Zaura.
"Siap Yandah." Zaura langsung mempraktikkannya. Mengganti panggilan Om baik menjadi Yandah.
"Om juru foto, fotokan kami bertiga ya, Yandah, Zaura dan Bunda." Zaura meminta tolong kepada sang fotografer untuk membidik kameranya. Mengabadikan momen kebahagiann Zaura dengan Bunda dan Yandahnya.
"Siap Anak manis." Ujar sang juru foto sambil membidik kameranya.
Zaura langsung memeluk Bunda dan Yandahnya. Seketika Filzah dan Azlan saling memandang satu sama lain. Mereka masih terlihat sama-sama canggung.
"Lho Bunda dan Yandahnya Zaura lihat ke kamera dong, lihat-lihatannya nanti saja ya."
Deg
Filzah dan Azlan langsung membuang pandangan mereka masing-masing. Keduanya sama-sama salah tingkah. Namun secepat mungkin menepisnya agar mendapatkan foto terbaik di moment yang sangat bahagia. Bagi Zaura.
๐น๐น๐น
Kedai nasi goreng topping seafood milik keluarga Hilyah sangat ramai sekali dikunjungi para pelanggan, lebih tepatnya pelanggan dari kalangan bawah, seperti pemulung, tukang sampah, ojek dan yang lainnya. Sesuai dengan keinginan Filzah, Hilyah mengabulkannya dengan merelakan kedai miliknya menjadi tempat berbagi makanan gratis. Namun Hilyah senang karena ia bisa berbagi dengan sesama tidak dengan Selin yang sejak tadi tidak henti-hentinya menggerutu sebal.
"Silakan dimakan ya Pak, Bu, kalau kurang boleh ditambah, kami meminta doanya Bapak dan Ibu semoga pernikahan anak dan menantu kami langgeng dan selalu bahagia." Hilyah menyapa para pelanggan spesial di kedainya sekaligus meminta doa restu untuk kelanggengan serta kebahagiaan pernikahan anak dan menantunya, Azlan dan Filzah.
"Aamiin." Ucap para pelanggan yang kebanyakan dari Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang sudah lanjut usia.
Azlan dan Filzah saling tersenyum untuk menyapa para Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak tersebut. Begitu juga dengan Zaura yang terlihat sangat bahagia. Namun tidak dengan keluarga kecil Ergin. Selin, Ergin bahkan Grizelle sama-sama terlihat kesal dan sebal. Mereka tidak suka dengan acara makan gratis di kedai mereka.
"Perempuan kampungan itu semakin melonjak saja, baru saja sehari jadi menantu sudah membuat kedai rugi." Gerutu Selin dengan lirih namun bisa didengar oleh Ergin yang berdiri di sampingnya.
"Iya Mommy, bisa bangkrut kedai keluarga kita kalau seperti ini, makin kesal saja Daddy punya Adik ipar seperti perempuan kampungan itu." Ergin ikut menyumbangkan kekesalannya kepada Filzah.
"Ishhh, Grizelle juga kesal sama anak pelayan itu, dia disayang sama Oma, Grizelle maunya Oma cuma sayang sama Grizelle, Oma nggak boleh sayang sama anak pelayan itu." Grizel juga ikut kesal namun ia kesal dengan Zaura karena sudah merebut Omanya. Dan tidak suka melihat Omanya dekat dengan Zaura. Lebih tepatnya Grizelle iri melihat kedekatan antara Hilyah dan Zaura.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaaatuh
Alhamdulillah akhirnya Zaura memiliki Ayah baru yang dipanggilnya dengan sebutan "Yandah"
Pada suka nggak sih sama panggilan unik itu???
Kalau Ukhfira sih suka-suka aja soalnyaaaa UNIQ
Yang jelas jarang ada dipasaran
๐ค๐ค๐ค
Btw kalau ada kesalahan baik itu kalimat atau tulisan mohon kasih tau Ukhfira ya
Tandain di kalimat atau tulisan yang salah itu
Mohon bantuannya ya Readers
๐ค๐ค๐ค
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
๐๐๐
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1