Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 26. Adik Untuk Zaura


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa ya


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Tok... tok... tok...


Azlan mengetuk pintu salah satu ruang rawat inap di rumah sakit. Ia dan Filzah datang ke rumah sakit untuk menjenguk seseorang. Filzah datang dengan membawa bingkisan perlengkapan bayi.


Pintu pun terbuka, sosok seorang laki-laki dengan bertubuh tegap langsung menyunggingkan senyuman ramahnya.


"Eh Azlan. Mari masuk." Ajaknya.


"Baik Bos."


Tanpa berlama-lama lagi Azlan dan Filzah pun akhirnya masuk ke dalam. Kemudian laki-laki itu menutup pintunya kembali. Di dalam terdapat seorang perempuan yang sedang terbaring di brankar rumah sakit dengan di temani bayi mungil dalam dekapannya.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam."


"Honey perkenalkan ini Azlan, Azlan ini salah satu karyawan terbaik di perusahaan kita, dan yang di sebelahnya ini pasti istrinya, benar kan Azlan?"


Azlan mengangguk dan tersenyum. "Benar Bos, namanya Filzah."


Filzah pun tersenyum kepada laki-laki tersebut yang tidak lain adalah Bos di kantor Azlan.


"Oh iya Bos ini kami membawa bingkisan untuk anak Bos yang baru lahir, Dinda tolong berikan kepada Bu Nisrin ya."


Filzah mengangguk seraya memberikan bingkisan yang ia bawa kepada istri dari Bosnya Azlan.


"Terima kasih."


"Iya Ibu, sama-sama."


"Oh iya perkenalkan nama saya Nisrin."


"Saya Filzah."


"Dan nama saya Azwar, suaminya Ibu Nisrin yang cantik jelita."


"Mas." Oceh Nisrin yang malu karena ada Azlan dan Filzah.


"Ini yang patut dicontoh, meskipun Bos sudah lama menikah, tapi romantisnya tak pernah sirna, kita jangan mau kalah Dinda." Ucap Azlan yang terang-terangan memuji Azwar sekaligus memberitahu kepada Filzah betapa romantisnya Bosnya yang sudah lama menikah.


"Iya dong harus, justru semakin lama menikah maka cintapun semakin bertambah."


"Mantap betul Bos." Ujar Azlan sembari mengacungkan jempol.


"Maa syaa Allah bayinya cantik sekali ya Kanda." Puji Filzah ketika memusatkan perhatiannya kepada bayi mungil yang anteng saja.


Azlan ikut memusatkan perhatiannya kepada anak dari Bosnya. "Iya Dinda, cantik sekali, maa syaa Allah. Oh iya bayi cantik ini anak kelimanya Bos lho Dinda."


Filzah langsung beralih menatap Azlan. Ia terperangah setelah mendengar ucapan terakhir suaminya itu.


"Maa syaa Allah." Ucap Filzah tak menyangka bahwa suami istri dihadapannya itu sudah beranak lima.


"Bayi cantik ini sudah diberi nama belum Bos?"


"Sudah dong, alhamdulillah."


"Namanya siapa Bos?, pasti namanya unik juga nih, sama seperti anak-anak Bos yang lainnya." Azlan sudah menduga bahwa bayi cantik itu pasti diberi nama yang unik seperti kakak-kakanya yang berjumlah empat orang.


Azwar terkekeh. "Wah sepertinya sudah bisa ditebak nih." Ujarnya sambil tertawa renyah.


"Memangnya nama anak-anaknya Pak Azwar dan Bu Nisrin unik-unik ya Kanda?." Tanya Filzah yang dibuat penasaran jadinya.


Azlan mengangguk. "Iya Dinda, coba sebutkan Bos nama-nama anak Bos yang unik itu, istri saya penasaran nih Bos."


Filzah sedikit tersenyum. Ia sedikit tidak enak kepada Azwar dan Nisrin karena terlalu kepo dengan nama-nama anak mereka yang katanya unik.


"Iya Filzah, katanya sih nama anak-anak kami unik, termasuk katanya suami kamu yang karismatik itu."


"Ah Bos bisa saja, tapi memang benar sih." Sambung Azlan dengan berbangga diri. Filzah yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Jadi nama anak kami yang pertama itu namanya Pratama, yang kedua namanya Dwina, yang ketiga namanya Trisatya, yang keempat namanya Foura, dan anak kami yang kelima ini, yang baru lahir ini namanya Salima." Ucap Azwar menyebutkan nama anaknya satu persatu sekaligus nama anak kelimanya yang baru lahir ke dunia ini.


"Maa syaa Allah, nama-namanya benar-benar unik." Ujar Filzah yang juga mengakui keunikan nama yang dimiliki oleh kelima anak dari Bos suaminya.


"Alhamdulillah, kami memang sengaja memberikan nama anak-anak kami berdasarkan angka urutan lahirnya, niatnya sih agar kami mudah mengingat saja, biar kalau misalkan ada yang tanya ini anak keberapa jadi langsung cepat jawabnya, karena kan namanya sudah sesuai dengan angka urutan lahirnya."


"Maa syaa Allah, Pak Azwar dan Bu Nisrin kreatif sekali ya Kanda." Ujar Filzah berdecak kagum.


Azlan mengangguk. Ia menyetujui ucapan istrinya. "Iya Dinda, Bos dan Bu Nisrin memang pasangan yang kreatif." Azlan ikut berdecak kagum.


"Jadi kapan nih kalian mau menyusul kami, punya anak bayi itu seru lho, dan punya anak banyak rumah jadi ramai, ya kan Honey." Ujar Azwar yang langsung mengalihkan pembicaraan.


"Iya Mas." Nisrin menyetujuinya.


Azlan dan Filzah saling beradu pandang. Mereka hanya tersenyum merespon pertanyaan dari Azwar. Namun kemudian keduanya malah saling salah tingkah. Sejujurnya baik Azlan maupun Filzah sama sekali belum kepikiran untuk mempunyai anak karena mereka baru saja membangun cinta mereka bersama.


"Doakan saja ya Bos, semoga kami segera mempunyai anak seperti Bos."

__ADS_1


"Dan semoga anaknya banyak juga." Timpal Azwar dengan spontan.


Azlan dan Filzah pun terkekeh. Azwar bisa saja mencairkan suasana dengan celetukannya. Namun antara Azlan dan Filzah masih saja ada rasa salah tingkah satu sama lain, tetapi mereka saling menutupinya dengan rapat-rapat agar suasana tidak menjadi tegang.


"Aamiin."


"Mumpung kalian masih muda, punya anaknya jangan ditunda-tunda ya, dan jangan takut punya banyak anak, karena banyak anak banyak rezeki dan banyak yang doakan kita nantinya, ya kan Honey."


"In syaa Allah Mas, tapi benar apa yang dikatakan suami saya lho Azlan, Filzah, alhamdulillah kami punya banyak anak, rezeki kami juga banyak. Kami percaya bahwa setiap anak yang lahir telah Allah telah berikan rezekinya." Sambung Nisrin, perempuan yang anggun dengan khimarnya.


"Iya, alhamdulillah sejak istri saya mengandung Salima, ada saja rezeki yang datang, dan alhamdulillah juga sekarang Salima sudah mempunyai tabungan untuk masa depannya."


"Maa syaa Allah." Azlan dan Filzah saling berdecak kagum.


"Bos dan Bu Nisrin benar sekali, punya banyak anak akan punya banyak rezeki, in syaa Allah, kami juga ingin mempunyai banyak anak seperti Bos dan Bu Nisrin, tetapi kami serahkan semuanya kepada Allah, karena anak adalah rezeki dariNya."


"Benar sekali Azlan, serahkan semuanya kepada Allah, tetapi kalian juga harus usaha ya, agar seimbang."


"Siap Bos." Ujar Azlan sambil mengacungkan jempol.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sepulangnya dari rumah sakit, Azlan malah kepikiran dengan perkataan Azwar dan Nisrin di rumah sakit tadi. Bahkan ia sampai mengabaikan Zaura yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya di sampingnya.


"Kok aku jadi kepikiran sama ucapannya Bos dan Bu Nisrin ya?. Tapi, apa aku sudah siap mempunyai seorang bayi?, tapi aku bisa menjadi Ayah yang baik untuk Zaura, apa itu artinya aku juga bisa menjadi Ayah yang siaga untuk bayiku nanti?." Ucap Azlan dalam hatinya yang sedang dilanda kebingungan.


"Yandah, tugas sekolah Zaura sudah selesai, kalau begitu Zaura mau ke kamar ya Yandah, Zaura mau tidur soalnya sudah malam." Ujar Zaura sembari mengemas peralatan sekolahnya.


Azlan tersadar dari kebingungannya. "Zaura tunggu dulu, Yandah ingin bicara sama Zaura."


"Bicara apa Yandah?." Tanya Zaura ingin tahu.


"Sebentar Yandah ambil handpone dulu, ada yang ingin Yandah perlihatkan sama Zaura." Azlan merogoh handpone yang berada di saku celananya.


"Zaura lihat adik bayi ini lucu ya?" Azlan menunjukkan foto bayi mungil di layar handponenya kepada Zaura.


Zaura nampak gemas sekali melihat foto bayi mungil tersebut. Bahkan ia sampai mengelus-elus layar handpone Azlan seolah-olah ia sedang mengelus bayi mungil yang di ada foto itu.


"Maa syaa Allah, Adik bayinya lucu sekali Yandah, ini anaknya siapa Yandah?"


"Ini anaknya Bos Yandah di kantor Sayang. Oh kya Zaura, Yandah ingin bertanya sama Zaura, tapi Zaura tolong jawab yang jujur ya." Pinta Azlan dengan tatapan mata yang serius.


Zaura mengangguk patuh. "Iya Yandah, Zaura akan jujur, Yandah mau tanya apa?"


"Hm."


Sebelum berbicara kembali Azlan sempat mengatur napasnya sejenak. Kemudian ia melanjutkan ucapannya.


"Yandah mau tanya, kira-kira, kalau Zaura punya Adik bayi, Zaura senang nggak?"


"Senang sekali Yandah, Adik bayi kan lucu, menggemaskan, pokoknya kalau Zaura punya Adik bayi Zaura akan sayang sama Adik bayi dan Zaura juga jadi punya teman main deh Yandah." Dari ekspresi wajahnya tampak sekali jika Zaura begitu antusias dan senang jika ia mempunyai Adik bayi.


"Ya sudah kalau begitu sekarang Zaura sudah boleh ke kamar, ingat sebelum tidur baca doa dulu ya, biar dijaga sama Allah."


"Lho Yandah, terus Zaura punya Adik bayinya kapan?." Tanya Zaura yang sudah tidak sabar sekali.


Azlan pun terkekeh. "Zaura mintanya sama Allah ya, karena Allah yang menciptakan Adik bayi. Nanti saat sholat tahajjud kita berdoa sama-sama ya."


"Siap Yandah, Zaura jadi nggak sabar deh ingin cepat-cepat sholat tahajjud dan minta Adik bayi sama Allah."


Azlan mengelus puncak kepala Zaura dengan sayang. "Kalau begitu Zaura harus segera tidur, supaya nanti saat Allah bangunkan Zaura untuk sholat tahajjud Zaura langsung bangun."


"Siap Yandah, kalau begitu Zaura ke kamar ya Yandah, Zaura mau cepat-cepat tidur, Yandah juga cepat tidur ya."


"Iya Sayang."


"Selamat istirahat Yandah."


"Selamat istirahat juga Sayang."


Setelah Zaura menuju ke kamarnya, tak berapa lama Azlan juga beranjak dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


Kreggg


Azlan membuka serta menutup kembali pintu kamarnya. Bahkan ia juga sempat mengunci pintunya seperti biasanya.


Filzah belum menenggelamkan diri ke alam bawah sadarnya. Namun ia sudah bersiap-siap dan saat Azlan datang ia mengurungkannya.


"Kanda, Zaura sudah tidur?"


Azlan mengangguk sembari mendudukkan diri di atas ranjang.


"Iya Dinda, Zaura sudah tidur."


"Ya sudah kalau begitu ayo kita juga tidur Kanda, Kanda pasti lelah seharian bekerja dan tadi juga sempat menjenguk Bu Nisirin di ruma sakit."


Azlan menggeleng. "Dinda, sini, duduk di sini." Azlan menepuk lembut sisi ranjang di sebelahnya. Ia meminta Filzah untuk duduk di sampingnya.


Filzah menurutinya. Ia duduk di sebelah suaminya dengan wajah keduanya yang saling memandang.


"Dinda, ada yang ingin aku bicarakan."


"Mau bicara apa Kanda?, kenapa nggak besok saja Kanda, ini kan sudah malam."


Azlan menggeleng cepat. Ia tidak mau menunda-nunda lagi. Malam ini juga ia harus membicarakannya kepada Filzah.

__ADS_1


"Ya sudah Kanda mau bicara apa?." Tanya Filzah lembut.


Sebelum mengeluarkan isi hatinya, Azlan menarik napas dalam-dalam. Rasa gugup menderanya. Entah mengapa lidahnya tiba-tiba terasa keluh. Air salivanya juga susah ditelan. Namun ia akan tetap menyalurkan keinginannya untuk berbicara empat mata dengan istrinya.


"Dinda, tadi aku memperlihatkan foto bayi Salima kepada Zaura, dan aku tanya sama Zaura, kira-kira kalau Zaura punya Adik bayi, Zaura senang atau nggak?." Azlan berucap dengan penuh hati-hati. Ia memilih kata demi kata dengan teliti.


Filzah terperanjat di tempat. Debaran jantungnya berpacu cepat. Tangannya mulai berkeringat.


"La-lu Zaura bilang apa Kanda?" Tanya Filzah setengah gugup.


"Zaura bilang..." Azlan menjeda ucapannya. Ia sedikit ragu untuk melanjutkannya. Namun ucapannya sudah sampai di tengah jalan, sayang jika harus berhenti begitu saja. Bisa-bisa nanti ia malah terjaga sampai pagi.


"Zaura bilang dia senang sekali kalau punya Adik bayi."


Azlan lega sekali karena ucapannya sudah seluruhnya keluar dengan lancar. Azlan tersenyum tak nyaman. Mendadak ia malah salah tingkah.


Filzah terbelalak. Namun dengan cepat ia langsung menormalkan ekspresi wajahnya. Seolah-olah biasa-biasa saja padahal kenyataannya ia terkejut sampai ke ubun-ubun.


Filzah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia meringis karena tidak tahu harus meresponnya dengan kata apa. Sungguh saat ini Filzah tidak bisa berkata-kat apa-apa.


"Lho Filzah kok diam saja ya?, kok nggak merespon sih?." Azlan bertanya-tanya dalam hati.


"Dinda."


"I-iya Kanda." Filzah gugup, suaranya bergetar.


Azlan tersenyum. Ia mencoba mendinginkan suasana yang tiba-tiba menjadi beku, sekaligus mengikis rasa tegang yang melekat padanya.


"Dinda, bersedia nggak, kalau kita, punya anak lagi?." Tanya Azlan dengan dicicil.


Filzah shock berat. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya terpompa cepat.


"Dinda?"


Filzah terlalu lama mematung. Untuk yang kedua kalinya ia tak memberikan respon apapun sehingga Azlan bergerak cepat untuk menyadarkannya.


"I-iya Kanda."


"Jadi bagaimana, Dinda bersedia punya anak lagi?"


"Kalau Dinda belum bersedia, nggak apa-apa, kita bisa tunda sampai-"


"Nggak Kanda." Filzah memotong cepat ucapan Azlan. "Aku-aku bersedia untuk punya anak lagi."


Azlan tersenyum lebar. Kilatan matanya memancarkan kebahagiaan. Binar-binar cinta semakin tercetak jelas di kedua matanya.


Pelan-pelan Azlan menggenggam sepasang tangan Filzah dengan lembut. "Alhamdulillah, kalau begitu apakah Dinda siap jika malam ini, kita..." Azlan sengaja menghentikan ucapannya. Ia sedikit malu untuk mengungkapkannya.


Filzah ikut tersipu malu. "In syaa Allah aku siap Kanda." lirihnya.


Bak mendapatkan durian rutuh, wajah Azlan langsung berseri-seri. Hatinya ikut berbunga-bunga memenuhi dada bidangnya.


"Ya sudah kalau begitu ayo Dinda." Ajak Azlan bersemangat bahkan ia langsung beranjak naik ke atas ranjang. Filzah pun ikut serta. Namun tiba-tiba Azlan turun kembali.


"Lho Kanda mau ke mana?." Tanya Filzah sedikit kecewa.


"Lampunya masih menyala Dinda, Kanda matikan dulu ya." Azlan menunjuk ke arah lampu yang sedang menyala terang berderang.


Azlan beranjak turun dari ranjang. Ia mendekati saklar lampu yang berada di samping dinding pintu. Dan


Cekleg


Lampu kamar akhirnya padam. Dan bersamaan dengan ituย sepasang suami istri pemilik kamar tersebut segera menunaikan keinginan mereka berdua. Tak lupa mereka menyelipkan bait-bait doa agar penanaman bibit cinta mereka dapat diridhoi oleh Allah dan dapat menjadi buah cinta yang akan melengkapi perjalanan cinta mereka.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Selamat malam ahad


Para pejuang akad


Semangat memantaskan diri


Serta sucikan niat dan hati


Agar Allah segera meridhoi


Keinginan yang terselip di hati


๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Maaf nih updatenya malam syekalyyy


Tapi yang penting Azlan & Filzah kembali hadir nih


Pasti senang nih yang sudah nungguin best moment di part ini


Akhirnya yaaa


Doakan ya semoga Zaura jadi punya adik bayi


๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Sampai bersapa ria kembali di part selanjutnya Readers

__ADS_1


๐Ÿ™‹๐Ÿ™‹๐Ÿ™‹


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2