
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa
πΉπΉπΉ
Usia kehamilan Filzah kini sudah memasuki bulan keempat. Dan kini ia beserta keluarganya mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan mengundang anak yatim dan kaum dhuafa. Acaranya sudah dipenghujung. Semua para tamu undangan menyantap hidangan yang tersaji di hadapan mereka, yaitu aneka ragam nasi goreng khas kedai Hilyah. Mereka begitu lahap sekali membuat Filzah senang melihatnya. Sementara Ergin, Selin dan Grizelle tidak terlihat di acara tersebut.Β Mereka memang sengaja tidak hadir. Mereka lebih memilih pergi jalan-jalan dari pada harus berkumpul bersama orang-orang miskin yang tidak selevel dengannya.
"Maa syaa Allah Kanda mereka makannya lahap sekali ya, aku jadi ingin makan juga nih." Ucap Filzah seraya beranjak dari tempat duduknya.
Azlan mencegahnya. "Dinda, Dinda duduk di sini saja, biar aku yang ambilkan makanannya, tunggu sebentar ya." Kini Azlan yang beranjak dari tempat duduknya namun sebelum itu ia menitipkan Filzah kepada Hilyah.
"Ma, Azlan titip Filzah sebentar ya, Azlan mau ambil makanan untuk Filzah."
"Yandah, Zaura juga mau." Timpal Zaura yang ikut meneguk salivanya ketika melihat orang-orang di sekelilingnya makan dengan amat lahap.
Azlan tersenyum. "Ya sudah ayo kita ambil sama-sama." Ajak Azlan yang langsung dianggukkan kepala oleh Zaura.
"Mereka lahap sekali makannya ya Filzah, Mama senang kalau masakan Mama diterima dengan baik oleh mereka." Hilyah bersyukur makanannya disantap dengan lahap oleh para tamunya.
Filzah tersenyum. "Ma, masakan Mama kan memang enak, jadi nggak heran kalau mereka begitu lahap makannya." Puji Filzah dengan sebenar-benarnya.
"Ah kamu bisa saja Filzah."
"Filzah serius Ma, masakan Mama memang yang paling enak, kalau Mama nggak percaya Mama tanya saja sama cucu Mama yang di dalam ini."
Filzah menunjuk ke arah perutnya. Hilyah terkekeh dibuatnya. Masa iya bayi yang masih bersembunyi di balik perut menantunya itu sudah bisa diajak berkompromi.
Alih-alih bertanya Hilyah justru mengelus lembut perut sang menantu yang mulai terlihat perkembangannya.
"Sayang, sehat-sehat ya di sana, Oma sudah nggak sabar nih ingin segera bertemu kamu, ingin menimang kamu dan ingin mencium kening kamu yang lembut sekali." Ucap Hilyah mengajak sang cucu bercengrama.
Tak disangka sang bayi meresponnya. Filzah merasakan di dalam sana ada gerakan-gerakan kecil, gerakan sang bayi.
Filzah terperanjat. "Maa syaa Allah Ma, perut Filzah gerak-gerak, sepertinya cucu Mama merespon ucapan Mama." Ungkap Filzah riang.
Hilyah tak kalah senangnya. Ia tak menyangka sang cucu merespon ucapannya. Ini benar-benar suatu kebahagiaan untuknya.
"Maa syaa Allah, cucu Oma ternyata dengar Oma bicara ya Sayang, Oma makin sayang deh sama kamu." Ujar Hilyah girang.
Selang beberapa detik kemudian Alzan datang bersama Zaura dan sepiring nasi goreng untuk Filzah.
"Ada apa Ma?, Filzah kenapa?, Dinda perut Dinda kenapa?" Azlan datang-datang langsung panik, saat tadi hendak kembali ia sempat melihat Filzah dan Hilyah memegangi perut Filzah makanya Azlan langsung panik luar biasa.
"Kamu ini datang-datang buat orang kaget saja Azlan." Omel Hilyah sedikit kesal lantaran sang putra telah mengejutkannya.
"Maaf Ma habisnya tadi Azlan lihat Mama sama Filzah memegang perut Filzah, Azlan takut ada apa-apa. Dinda kamu nggak apa-apa?." Dengan raut wajah yang masih panik Azlan menanyakan keadaan istrinya.
Filzah mematrikan senyuman di wajah senduhnya. "Kanda, aku nggak apa-apa kok." Ucapnya seraya membelai lembut wajah suaminya.
"Bayi kita?" Azlan beralih memandangi perut istrinya yang sudah setengah buncit.
"Alhamdulillah bayi kita juga nggak apa-apa, bahkan tadi dia gerak-gerak setelah diajak bicara sama Mama."
"Yang benar Dinda?" Mata Azlan melebar. Seakan tak percaya bahwa buah cintanya sudah dapat bergerak di dalam sana.
Filzah mengangguk dan tersenyum. Meyakinkan bahwa apa yang ia ucapkan benar adanya.
__ADS_1
"Maa syaa Allah, alhamdulillah itu tandanya bayi kita sehat dan aktif Dinda, aku jadi nggak sabar ingin dia segera lahir ke dunia." Ujar Azlan dengan bahagia tiada tara.
Filzah terkekeh melihat suaminya antusias sekali. "Kanda yang sabar ya, in syaa Allah kalau sudah waktunya bayi kita akan lahir ke dunia."
Azlan menjawabnya dengan anggukan girang. "Iya Dinda, aku akan bersabar menunggu bayi kita lahir ke dunia. Nanti selesai acara ini kita ke rumah sakit ya, hari ini sudah waktunya kamu periksa kandungan."
"Iya Kanda, aku hampir saja lupa."
"Yandah, Bunda, Zaura boleh ikut ya, Zaura ingin melihat Adik bayi yang ada di dalam perut Bunda."
"Nggak boleh." Jawab Azlan tegas.
Zaura terkejut. Wajahnya langsung cemberut dan kecut. Kegembiraannya kian memudar.
"Tapi bohong." Canda Azlan sambil menggelitik pinggang Zaura.
"Ah Yandah, Zaura tadi sudah kesal lho sama Yandah." Oceh Zaura dengan wajah masih cemberut.
"Yandah minta maaf ya, Yandah bercanda Sayang, habisnya wajah Zaura kalau cemberut lucu sih." Azlan mencubit manja ujung hidung Zaura.
Filzah hanya terkekeh melihatnya, melihat kelucuan suami dan putrinya yang sedang bercanda ria bersama.
"Nanti kalau Adik bayi sudah lahir, Yandah sama Bunda masih sayang kan sama Zaura?, soalnya Zaura takut karena Adik bayi sudah lahir Yandah sama Bunda jadi lupa dan nggak sayang lagi sama Zaura." Zaura memasang wajah lemas karena ia membayangkan saat dirinya terabaikan ketika Adik bayinya sudah lahir ke dunia.
Azlan mengambil tindakan. Ia membawa sang putri ke dalam dekapannya. "Hei anak gadisnya Yandah, kok bicaranya seperti itu Sayang?" Tanya Azlan lembut.
"Zaura cuma takut nanti Zaura seperti temannya Zaura, dia nggak disayang lagi sama Papa dan Mamanya karena dia sudah punya Adik. Apakah nanti Yandah dan Bunda juga nggak akan sayang lagi ya sama Zaura kalau Adik bayi sudah lahir?, seperti Papa dan Mamanya teman Zaura."
Azlan dan Filzah serentak menggeleng cepat. Mereka tidak ingin perasaan putrinya tenggelam begitu dalam karena teringat akan nasib temannya yang tidak mendapatkan kasih sayang lagi setelah ia memiliki seorang adik.
"Nggak Sayang, sama sekali Nggak." Jawab Filzah tidak bisa tinggal diam.
"Iya Sayang apa yang dikatakan Yandah benar, meskipun nanti Adik bayi sudah lahir, Zaura tetap mendapatkan kasih sayang dari Bunda sama Yandah."
"Dari Oma juga." Sahut Hilyah ikut menimpali.
Zaura sedikit tersenyum. Setidaknya ia sudah tidak lagi kepikiran akan kehilangan kasih sayang dari Yandah dan Bundanya, juga Omanya.
"Tapi nanti Zaura harus bersedia ya untuk menerima kalau Bunda sama Yandah membagi kasih sayang dengan Adik bayi, karena Adik bayi kan anaknya Yandah sama Bunda juga, adiknya Zaura."
Zaura mengangguk. Ia tidak keberatan jika harus berbagi kasih sayang dengan adiknya. Yang terpenting ia tetap mendapatkan kasih sayang itu.
"Iya Bunda, Zaura nggak keberatan kok, Zaura juga sayang sama Adik bayi, jadi Zaura juga minta maaf sama Yandah, Bunda dan Oma kalau nantinya Zaura juga akan membagikan kasih sayang pada Adik bayi."
Azlan dan Filzah terkekeh. Sementara Hilyah sudah tidak dapat menahan tawanya. Zaura berhasil memecahkan suasana dengan kepolosannya.
πΉπΉπΉ
Usai acara selesai Azlan dan Filzah tidak membuang-buang waktu begitu saja, mereka langsung bersegera menuju rumah sakit, tak lupa mereka mengikutsertakan si gadis kecil, Zaura.
Seorang Dokter perempuan spesialis kandungan memeriksakan kehamilan Filzah dengan seksama. Ia meletakkan alat khusus USGnya dibalik balutan gamis yang Filzah kenakan khususnya dibagian perut, dan sepasang matanya tertuju ke arah monitor yang menampilkan dinding rahim milik Filzah.
Dokter cantik itu tersenyum. Mempelihatkan rona bahagia di matanya. "Alhamdulillah, bayinya sehat dan kuat, seperti saat pertama kali saya periksa." Ucapnya seraya mengingat waktu pertama kali Filzah memeriksakan janinnya.
"Alhamdulillah." Azlan dan Filzah ikut mensyukurinya.
"Kalian ingin mendengarkan detak jantung bayi kalian?" Tawar Dokternya.
"Memangnya bisa Dokter?" Tanya Azlan tak percaya.
__ADS_1
"Bisa, bayi kalian sudah berumur empat bulan itu artinya Allah telah meniupkan ruh ke dalam tubuhnya, dan detak jantungnya pasti akan sangat kuat terdengar." Papar Dokter menerangkannya.
"Kalau begitu kami ingin mendengarnya Dok, mendengar detak jantung bayi kami." Ujar Azlan antusias seraya menatap Filzah penuh cinta.
Dengan sigap Dokter perempuan itu menekan tombol di monitor alat USGnya dan tidak lama kemudian sayup-sayup terdengar suara detak jantung. Beberapa detik kemudian suara detakan jantung itu kian nyaring terdengar.
Azlan mendengarkan suara detak jantung itu begitu dalam. Tanpa sadar air mata mengucur di wajah harunya. Hal senada juga dirasakan oleh Filzah. Ia ikut hanyut dalam tangisan harunya.
"Maa syaa Allah, i-itu detak jantung ba-bayi kami Dok?" Tanya Azlan terbata-bata.
"Iya Pak, itu suara detak jantung bayi Bapak dan Ibu."
"Berarti Adik bayinya Zaura sehat-sehat saja ya Ibu Dokter?" Tanya Zaura ingin memastikan bahwa Adik bayinya baik-baik saja.Β
Perempuan dengan jas putih kebanggannnya itu mengangguk dan tesenyum kepada Zaura. "Iya, Adik bayinya Zaura sehat dan kuat, seperti Kakaknya ini." Ia membelai lembut wajah Zaura yang berdiri tidak jauh darinya.
"Alhamdulillah." Zaura bernapas lega.
"Ibu Dokter, Adik bayinya Zaura laki-laki atau perempuan?" Tanya Zaura penasaran dengan jenis kelamin Adik bayinya.Β
"Tunggu sebentar Ibu Dokter periksa dulu ya."
Usai mengecek jenis kelamin bayi yang berada di dalam rahim Filzah, Dokter cantik itu kembali tersenyum dan menatap Azlan dan Filzah dengan bergantian.
"Bayi Bapak dan Ibu sekaligus Adik bayinya Zaura berjenis kelamin,Β perempuan, itu berdasarkan hasil pengecekan melalui alat medis kami, selebihnya akurat atau tidak kita serahkan kembali kepada Allah, karena kita tidak boleh mendahului takdirNya." Ujar Dokter menjelaskannya.
Dari ucapannya Azlan dan Filzah dapat memberikan penilaian bahwa Dokter yang menanganinya itu cukup baik dalam ilmu keIslamnya, ia bukan hanya menguasai tentang ilmu medis tetapi juga menguasai ilmu agama Islam, terbukti dari ucapan-ucapannya tidak lepas disandarkan kepada ketentuan dari Allah subhanahu wata 'ala.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Selamat siang Readers
Selamat hari sabtu penikmat rindu
Ada yang rindu kah dengan Ukhfira
ehhh
Maksudnya rindu dengan Azlan & Filzah
π€π€π€
Alhamdulillah nggk kerasa ya kandungan Filzah sudah 4 bulan
Dan prediksi Dokter jenis kelamin bayinya perempuan
Tapi wallahu a'lam
Dan tergantung pembuat ceritanya juga nih
πππ
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
πππ
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1