Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 36. Sampai Hati


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa


🌹🌹🌹


"Bunda, Oma bagaimana kabarnya?, kenapa kita nggak ke rumah sakit?, Zaura ingin bertemu Oma." Rengek Zaura yang berada dalam dekapan Filzah.


Filzah hanya bisa mengelus puncak kepala Zaura. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Yandahnya tidak memperbolehkannya untuk menjenguk Omanya.


"Zaura doakan Oma saja ya, semoga Oma cepat sembuh dan bisa pulang lagi ke rumah ini."


Zaura mengangguk. "Iya Bunda, Zaura akan selalu mendoakan Oma agar cepat sembuh, tapi sekarang Zaura ingin bertemu sama Oma, Zaura kangen sama Oma." Zaura kembali merengek.


Bruggg


Suara bantingan pintu yang keras nyaris membuat Filzah dan Zaura terlonjak dari tempat duduknya. Pandangan mereka langsung tertuju ke arah pintu utama yang terbuka dengan lebar.


"Yandah." Teriak Zaura riang.


"Kanda." Gumam Filzah lirih.


Azlan berjalan menghampiri Filzah dan Zaura yang tadinya sedang duduk di ruang tamu namun setelah kedatangannya mereka langsung beranjak dari tempat duduknya.


Zaura langsung berhambur memeluknya. Namun Azlan tak ada pergerakan sama sekali. Ia tak berkeinginan untuk membalas pelukan putrinya.


Azlan melepas pelukan Zaura bahkan ia sedikit mendorong tubuh Zaura kembali ke tempatnya semula, di samping Filzah.


"Kanda." Pekik Filzah terkejut.


Sorot tajam mata Azlan menancap di mata Filzah. Tidak ada ketenangan di sepasang mata itu. Filzah meringis melihatnya.


"Kemasi barang-barang kalian!"


Filzah tersentak. Ia tak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut suaminya, kalimat pengusiran untuknya.


"Ta-tapi Kanda."


"Kemasi barang-barang kalian, atau aku yang akan melemparnya keluar!" Ujar Azlan tegas tanpa menatap lekat lawan bicaranya.


"Ta-tapi Kanda aku sedang hamil-"


"Aku nggak peduli!"


"Apa Kanda tega mengusir aku?, mengusir anak Kanda yang masih berada di dalam kandunganku ini?"


"Iya!, aku tega." Azlan menghela napas panjang amat berat. Ia mengusap wajahnya kasar. "Kamu saja tega membuat Mama aku celaka, jadi kenapa aku nggak tega untuk mengusir orang yang sudah membuat nyawa Mamaku nyaris melayang!"

__ADS_1


Dada Filzah sesak rasanya. Air matanya mengalir deras membasahi wajahnya. Zaura pun ikut menangis di sampingnya.


Azlan benar-benar berubah. Ia sudah termakan dengan ucapan Selin. Namun kenyataannya memang seperti itu, istri yang dicintainya telah tega mencelakai Ibu yang teramat dicintainya, meskipun bukan unsur kesengajaan, tetapi kelalaian istrinya sudah membuat Ibunya nyaris merenggang nyawa, dan saat ini terbujur kaku di rumah sakit, layaknya mayat hidup yang hanya bisa bergantung dengan peralatan medis.


"Baik Kanda, aku akan pergi dari sini, aku minta maaf, karena kelalaian aku, Mama Hilyah terbaring koma di rumah sakit."


"Sampai hati kamu mengusirku Kanda." Ucapnya dalam hati.


Filzah menyeka air matanya. Ia berusaha tegar dan kuat menghadapi ujian besar yang sedang menimpanya.


"Zaura, Zaura kemasi baju-baju Zaura ya." Pinta Filzah dengan sekuat tenaga menutupi kesedihannya.


"Kita mau ke mana Bunda?" Tanya Zaura tak mengerti.


Filzah menghela napas pelan. Ia mencoba menahan bendungan air matanya namun gagal. "Kita akan pergi dari sini Sayang."


"Kita mau pergi ke mana Bunda?" Tanya Zaura lagi.


Filzah menggeleng pelan. Kemudian ia tak banyak bicara lagi dan langsung menggandeng tangan Zaura untuk membawanya ke kamar. Sementara Azlan tetap pada posisinya. Ia sama sekali tidak bergerak bahkan ekor matanya saja tidak melirik ke arah Filzah.


Dengan derasnya cucuran air mata Filzah mengemasi semua baju-baju miliknya ke dalam tas pakaiannya. Ia masih belum bisa mempercayai semuanya. Ini masih seperti mimpi buruk baginya. Kini dii lemarinya hanya tersisa baju gamis navy pemberian Azlan kala itu. Kembali lagi ingatan terindah saat Filzah memakai baju gamis itu dan ia bersama Azlan makan malam romantis di restaurant paling mahal. Sayang, itu semua hanya tinggal kenangan, dan kini Azlan sudah membencinya, karena sebuah indisen tak terduga terjadi kepada Hilyah.


Filzah dan Zaura keluar dari kamarnya. Mereka menuruni anak tangga satu persatu. Filzah menguatkan hatinya agar tetap kuat diatas ombak besar yang menggoncangkan rumah tangganya.


"Kanda, aku pamit pergi, jaga diri Kanda baik-baik, maafkan kesalahan aku, aku benar-benar minta maaf, memang aku pantas untuk disalahkan. M"


"Zaura ayo cium tangan Yandah." Titah Filzah kepada Zaura.


"Zaura, ayo kita pergi Sayang."


Zaura hanya mengangguk. Kemudian ia meraih tangan Bundanya. Lalu membalikkan tubuhnya.


"Assalaamu 'alaikum." Ucap salam Filzah. Namun Azlan tidak menjawabnya.


Kini Filzah dan Zaura mulai melangkahkan kakinya, keluar dari rumah keluarga Azlan. Zaura masih terus menatap Azlan sampai di ambang pintu. Filzah ikut menoleh sejenak. Kemudian ia kembali menatap lurus ke depan. Sebelum benar-benar pergi Filzah menghapus bulir air mata yang baru saja terjatuh.


"Kuatkan aku ya Allah." Pekiknya dalam hati.


🌹🌹🌹


Azlan telah kembali ke rumah sakit, setelah ia mengusir istri dan buah hatinya sendiri. Ia duduk di samping Hilyah yang belum kunjung sadar dari komanya. Di belakangnya sudah ada Ergin dan Selin.


"Mama, aku sudah mengusir orang yang sudah membuat Mama seperti ini, tolong Mama sadar Ma, Azlan mohon." Azlan masih terus meneteskan air mata. Ia tidak kuat melihat perempuan yang dicintainya terbaring tak berdaya.Β 


"Apa benar kamu sudah mengusir Filzah dan anaknya, Azlan?" Tanya Selin memastikannya.


Azlan mengangguk. "Iya, aku sudah mengusir mereka, dan tolong jangan pernah sebut nama itu lagi, aku nggak mau mendengarnya lagi." Titah Azlan tegas. Guratan amarah terlukis di wajahnya.


Selin tersenyum licik. Ia amat puas setelah mendengar bahwa Azlan benar-benar telah mengusir perempuan pembawa sial itu. Dan ini adalah usulan darinya.

__ADS_1


"Baguslah, akhirnya perempuan pembawa sial itu enyah dari keluarga ini, memang itu yang aku inginkan, ternyata ada bagusnya juga Mama koma seperti ini, jadinya perempuan kampungan itu bisa tersingkirkan, dan sekarang Azlan benar-benar sudah membencinya." Ujar Selin dalam hati sembari tersenyum licik.


"Azlan, aku harap kamu bukan hanya mengusir dia dari rumah kita, tapi aku harap kamu juga harus mengusir dia dari kehidupan kita."


Azlan terdiam. Ia masih mencerna ucapan dari Selin. "Apa maksud Kak Selin?" Tanya Azlan tak mengerti.


"Aku mau kamu ceraikan dia." Ujar Selin tak main-main.


Azlan sedikit tersentak. Ia terdiam untuk beberapa saat. Apakah dia akan menceraikan Filzah?, orang yang telah membuatnya hampir kehilangan orang tua satu-satunya.


"Untuk saat ini aku nggak bisa menceraikannya."


"Lho kenapa?, perempuan itu sudah mencelakai Mama kamu Azlan." Ujar Selin kecewa.


"Iya, dia memang sudah membuat Mama seperti ini, tapi saat ini dia sedang hamil, aku nggak bisa menceraikannya." Jawab Azlan menyampaikan alasannya.


"Lalu apakah kalau dia sudah melahirkan kamu akan menceraikannya?" Tanya Selin yang ingin sekali Azlan menceraikan Filzah.


"Itu urusan nanti, aku nggak mau membahasnya, sekarang kesembuhan Mama yang terpenting." Azlan menyudahi pembicaraannya. Ia tidak ingin membahasnya lebih jauh.


"Oke, kita lihat saja nanti Azlan, aku akan mencari cara agar kamu mau menceraikan perempuan kampungan itu, kita tunggu saja tanggal mainnya." Ujar Selin dalam hati dengan berseringai licik.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Assalaamu 'alaikum Warohamatullah Wabarokaatuh


Panas-panas gini hati kalian ikut mendidih nggak???


😑😑😑


Sabarrr ini ujian


Ujiannya Filzah


Semoga semuanya baik-baik saja


yaaa


Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Hilyah


Dan semoga Selin tidak berbuat yang macam-macam soalnya dia punya niat jahat untuk membuat Azlan menceraikan Filzah


Kan ngeriiii


😡😡😡


Yang greget dipart ini semoga terbayarkan dipart selanjutnya yaaaa


😣😣😣

__ADS_1


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2