
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
🌹🌹🌹
Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya, Filzah bergegas menuju kamarnya untuk memanggil suami dan putrinya yang sedang asyik bermain bersama.
"Kanda, Zaura, sarapan paginya sudah siap, ayo kita sarapan dulu." Ajak Filzah ketika sudah sampai di kamarnya.
"Ayo Bunda, Zaura juga sudah lapar nih." Ujar Zaura sembari memegangi perutnya karena merasa sudah lapar.
"Dinda duduk dulu ya, ada yang ingin aku bicarakan." Azlan menuntun Filzah untuk duduk di sampingnya. Tepat di hadapan Zaura juga.
"Mau bicara apa Kanda?." Tanya Filzah penasaran.
"Dinda, besok kita pulang ke Jakarta ya."
Filzah tersentak. Ia sedikit terkejut dengan topik pembicaraan Azlan kepadanya. Pulang ke Jakarta?, besok?, Filzah masih belum kepikiran untuk pulang ke Jakarta, setelah apa yang terjadi kepadanya. Jika boleh memilih Filzah ingin kembali menetap di Malang saja, bersama Zaura, Kakek dan Neneknya Zaura, namun saat ini Filzah sadar bahwa ia sudah berstatus sebagai istri dari Azlan, itu artinya ia harus mengikuti kemanapun Azlan pergi.
"Dinda?"
"I-iya Kanda."
"Dinda setuju kan kalau besok kita pulang ke Jakarta?"
Filzah enggan memberikan jawaban. Ia malah menunduk ke bawah.
Dengan lembut Azlan meraih dagu Filzah lalu mengangkatnya. Kini tatapan mata keduanya saling beradu. Filzah seakan terkunci akan tatapan mata Azlan yang memancarkan keindahan.
"Dinda ada apa?, apa Dinda nggak ingin pulang ke Jakarta?"
"Iya Yandah, Bunda sama Zaura nggak ingin pulang ke Jakarta lagi, pasti kalau di Jakarta Bunda sama Zaura sedih terus, mending Bunda sama Zaura di Malang saja sama Kakek dan Nenek." Celetuk Zaura yang tersirat di wajahnya ada rasa kesal yang tak dapat disembunyikan.Â
Azlan beralih menatap sang putri, sama halnya dengan Filzah yang sedikit terkejut akan ucapan spontan dari sang putri.
"Zaura, maafkan Yandah ya kalau kemarin-kemarin Zaura sama Bunda sedih terus di Jakarta. Tapi Yandah berjanji, sepulang kita ke Jakarta, Yandah nggak akan membuat Zaura sama Bunda sedih lagi, Yandah berjanji akan membahagiakan dua bidadari Yandah ini."
"Janji?." Ujar Zaura sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
Azlan sempat tersenyum kemudian ia menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Zaura. Artinya Azlan bersungguh-sungguh kepada Zaura dan Filzah untuk membahagiakan mereka.
"Yandah Janji, berarti Zaura mau kan balik lagi ke Jakarta?"
Zaura mengangguk mantap. "Iya Yandah, Zaura mau kok balik lagi ke Jakarta, Zaura kan harus sekolah."
"Anak pintar." Puji Azlan seraya menyelipkan harapan agar putrinya benar-benar menjadi anak yang pintar.
"Sekarang giliran Bunda nih, Bunda juga mau kan balik lagi ke Jakarta?." Kini Azlan beralih menatap Filzah, Zaura pun ikut menatap Bundanya.
"Yandah juga harus janji sama Bunda."
"Iya Sayang, Yandah kan sudah berjanji sama Bunda."
"Maksud Zaura, jari kelingking Yandah disatukan sama jari kelingking Bunda, seperti ini." Tanpa disangka Zaura langsung menyatukan jari kelingking Azlan dan Filzah sesuai perkataannya. Alhasil Azlan dan Filzah dibuat tergelitik akan perangai lucu dari Zaura, putri mereka.
"Nah sekarang Yandah kan sudah berjanji, berarti Bunda mau kan balik lagi ke Jakarta?." Tanya Zaura seakan mewakilkan Yandahnya untuk bertanya.
Filzah tidak lantas segera menjawabnya. Ia masih dilanda keraguan. Namun Azlan telah berjanji akan membahagiakannya. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi Filzah untuk menolak ajakan Azlan untuk segera kembali ke Jakarta.
__ADS_1
"Bunda juga mau kok untuk kembali lagi ke Jakarta, tapi bagaimana dengan Kakeknya Zaura, Kanda?." Tanya Filzah yang masih mengkhawatirkan kondisi Jasir yang belum pulih.
Azlan tidak memberikan jawaban. Ia hanya tersenyum tenang mengisyaratkan agar Filzah tidak usah mengkhawatirkannya lagi.
🌹🌹🌹
"Bapak, Ibu, rencananya besok pagi saya, Filzah dan Zaura akan kembali lagi ke Jakarta, saya harap Bapak dan Ibu mengizinkan kami." Ucap Azlan yang sama sekali tidak mengurangi rasa hormatnya kepada Jasir dan Uzmah.
Sejenak Jasir dan Uzmah menghentikan kegiatan sarapan mereka untuk memberikan jawaban atas permintaizinan Azlan yang akan kembali ke Jakarta dengan membawa serta Filzah dan Zaura.
"Iya Azlan, Bapak dan Ibu mengizinkan kalian untuk kembali ke Jakarta, semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian."
"Aamiin, semoga kebahagiaan juga selalu menyertai Bapak dan Ibu."
"Aamiin." Ucap Jasir dan Uzmah secara bersamaan.
"Dan masalah terapi, Bapak dan Ibu serta istriku nggak usah khawatir ya, karena saya sudah meminta tolong pihak rumah sakit untuk mengantar jemput Bapak saat waktunya Bapak terapi." Ujar Azlan menjelaskan.
"Dan ini kartu ATM untuk Ibu pegang ya, semoga uang yang ada di ATM ini bisa mencukupi kehidupan Ibu dan Bapak, ya meskipun nggak seberapa tetapi semoga cukup ya Bu." Lanjutnya seraya menyerahkan satu buah kartu ATM kepada Uzmah.
Jasir tersenyum takjub serta tidak menyangka bahwa Azlan sampai sebegitu perhatiannya kepada dirinya.
"Alhamdulillah, Bapak nggak tahu lagi harus bilang terima kasih seperti apa sama Nak Azlan, semoga Allah membalas kebaikan Nak Azlan dengan berlipat-lipat pahala." Ucap Jasir berterima kasih kepada Azlan.
"Aamiin." Azlan mengaminkannya.
"Iya Nak Alan, Ibu juga mengucapkan terima kasih banyak sama Nak Alan. Nak Alan adalah malaikat penolong kami."
"Bapak dan Ibu tidak usah berucap terima kasih sama Azlan. Azlan kan sudah menganggap Bapak dan Ibu sebagai kedua orang tua Azlan, jadi Bapak dan Ibu sudah menjadi tanggung jawab Azlan juga."
"Dan rezeki ini juga dari Allah, Azlan hanya sebagai perantaranya saja, jadi Bapak dan Ibu berterima kasihnya sama Allah, karena Allah-lah sang maha pemberi rezeki."
Jasir dan Uzmah menganggukkan kepala secara bersamaan. Mereka menyetujui ucapan Azlan namun mereka juga sudah seharusnya berucap terima kasih kepada Azlan, sang malaikat penolong yang ditugaskan oleh Allah untuk membantu mereka.
"Alhamdulillah, kalau Zaura bangga sama Yandah, sini peluk Yandah dong."
Azlan pun membentangkan kedua tangannya. Bersiap sedia untuk menyambut Zaura untuk memeluknya tentunya atas permintaannya.
Dengan senang hati Zaura langsung menuruti permintaan sang Yandah. Zaura berhambur ke pelukan Yandahnya dengan rona kebahagiaan.
Kini Zaura sudah kembali ke tempat duduknya semula setelah puas mendapatkan kenyamanan dalam pelukan laki-laki dewasa yang telah berstatus menjadi Ayah sambungnya.
"Kanda, terima kasih banyak ya atas semua kebaikan Kanda, bukan hanya Zaura yang bangga sama Yandahnya, aku juga bangga sama Kanda." Kini giliran Filzah yang ikut berucap bangga kepada Azlan. Besar kepala deh Azlan jadinya. Namun inilah faktanya.
Azlan langsung tersenyum penuh kegembiraan. Sinar terang di kedua matanya memancarkan kebahagiaan.Â
"Oh iya?, Dinda juga bangga nih sama aku?." Tanya Azlan pura-pura tidak percaya.
Filzah mengangguk penuh antusias. "Iya Kanda, aku bangga sama Kanda." Filzah berusaha untuk meyakinkan Azlan sekali lagi.
"Kalau Dinda serius bangga sama aku, sini peluk aku dong, sama seperti Zaura tadi." Azlan menggerak-gerakkan sebelah alisnya.
Filzah tersentak. Ia sedikit gugup dibuatnya. Mana mungkin ia akan memeluk Azlan tepat di hadapan Jasir dan Uzmah. Rasa malu akan menyertai dirinya nantinya.
"Kanda, di sini ada Kakek dan Neneknya Zaura, mana mungkin aku memeluk Kanda di sini, Kanda jangan aneh-aneh ya, jangan buat aku malu." Bisik Filzah di telinga Azlan.
"Lho ya nggak apa-apa Dinda, Bapak dan Ibu pasti memakluminya kok, ya kan Bapak, Ibu?"
Jasir dan Uzmah saling melempar senyuman. Kemudian saling menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Azlan yang memang benar adanya.
"Ya tapi aku yang malu Kanda, sudah ya Kanda jangan aneh-aneh, aku sudah berkeringat dingin nih gara-gara Kanda."
__ADS_1
Mendadak Filzah langsung berkeringat dingin. Rasa malu juga sudah menghantuinya padahal ia belum menuruti permintaan Azlan. Bagaimana jadinya jika Filzah benar-benar menuruti permintaan itu. Bisa-bisa Filzah langsung mandi keringat di tempat.
"Ya sudah, aku nggak maksa kok, tapi..."
Cup
Tanpa diduga, Azlan melayangkan kecupan hangat di pipi Filzah tepat di hadapan Jasir dan Uzmah termasuk Zaura juga yang langsung melongo melihat pemandangan romantis yang diciptakan oleh Yandah dan Bundanya.
Seketika kedua bola mata Filzah terbelalak bahkan rasanya sampai mau keluar dari kelopak matanya.
"Kan-da." Ucap Filzah seraya menyimpan rasa kesal di balik wajah cemberutnya.
"Maaf Dinda, spontan." Ujar Azlan sembari terkekeh dengan wajah tanpa dosa.
"Cie cie Bunda dicium nih sama Yandah." Goda Zaura yang niat sekali untuk menggoda kedua orang tuanya.
Jasir dan Uzmah malah ikut terkekeh geli melihat tingkah lucu sang cucu yang sedang asyik menggoda kedua orang tuanya.
"Kanda, aku malu nih, Kanda juga cium kening aku di hadapan Ibu dan Bapak, lebih khususnya di hadapan Zaura, kan malu jadinya." Filzah berbisik sepelan mungkin dengan rasa malu yang tak tertahankan sehingga tercetak jelas di wajahnya yang langsung memerah.
"Maaf-maaf Dinda, kan tadi aku sudah bilang, spontan."
"Filzah sudah jangan menyalahkan Nak Alan, wajarlah kalau suami mencium istrinya, apalagi kalau di depan anaknya, dengan keromantisan kalian Zaura pasti ikut bahagia karena melihat Yandah dan Bundanya sedang berbahagia." Uzmah mencoba memberikan pengertian kepada Filzah bahwa keromantisan yang diciptakan oleh Azlan dapat dijadikan pemadangan yang indah untuk Zaura.
"Tuh Dinda dengar apa kata Ibu, ada sisi baiknya lho kalau kita beromantis ria di depan Zaura."
"Asal yang sewajarnya saja ya, kalau yang berlebihan di balik pintu kamar kalian saja, jangan diperlihatkan di hadapan Zaura." Lanjut Uzmah yang terkekeh diakhir ucapannya.
"Hahaha, Ibu bisa saja nih." Azlan pun tertawa.
"Ibu." Filzah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.Â
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Bagaimana nih responnya setelah membaca part ini?
Ikut bahagia?
Ikut senyam senyum sendiri?
Atau hanya bisa gigit jari karena melihat keromantisan Azlan dan Filzah
🤓🤓🤓
Btw Filzah mau balik ke Jakarta lagi nih, kalian ikut dag dig dug nggak???
Kalau Author sih sudah percayakan semuanya kepada Azlan
Azlan kan sekarang sudah menjadi suami terbaik untuk Filzah
🤗🤗🤗
Btw lagi nih, di part ini kurang banyak atau sedikit? Eh sama saja ya😂
Maksudnya kurang banyak atau sudah cukup sekian terim kasih???
Beri tanggapannya disini ya
👇👇👇
__ADS_1
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh