
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
๐น๐น๐น
"Assalaamu 'alaikum."
Filzah dan Zaura bersamaan masuk ke dalam kedai. Tidak lupa keduanya juga mengucapkan salam ketika bertemu dengan Hilyah sesampainya di dalam kedai.
"Wa 'alaikumus salaam." Hilyah menjawab salam Filzah dan Zaura dengan senyuman tercetak jelas di wajah yang mulai nampak garis kerutan di dahinya.
"Kalau begitu saya pamit kembali kerja dulu ya Bu, ayo Zaura ikut Bunda." Filzah langsung pamit undur diri untuk kembali bekerja.
"Iya Nak Filzah, Zaura nanti kalau sudah berganti baju ke sini lagi ya, main sama Oma."
Zaura mengangguk patuh. "Iya Oma."
Kini Filzah dan Zaura menuju ke belakang. Filzah kembali mengantar pesanan makanan dan Zaura berganti baju harian.
"Oma."
Hilyah langsung menoleh ke arah sumber suara yang sedang memanggilnya. Dari suaranya seperti anak kecil. Dan benar saja Grizelle dan Selin yang berjalan di belakangnya terlihat memasuki kedai dan mulai menghampiri Hilyah.
"Eh Grizelle, cucu Oma." Sapa Hilyah dengan senyuman tulusnya.
"Ma, Selin titip Grizelle ya, Selin mau pergi arisan dulu." Baru saja tiba Selin langsung menitipkan Grizelle, bukannya basa basi terlebih dahulu. Tetapi Hilyah sudah hafal betul dengan perangai menantunya yang satu ini.
"Iya Selin, kamu hati-hati ya." Ucap Hilyah yang mengingatkan sang menantu agar berhati-hati di jalan.
"Grizelle, Mommy pergi dulu ya Sayang, kamu di sini sama Oma, kalau Grizelle perlu apa-apa langsung bilang sama Oma ya." Selin berpamitan kepada sang putri. Dan seenaknya saja ia menyuruh sang putri jika perlu apa-apa langsung bicara kepada Hilyah. Seakan-akan Hilyah adalah asisten rumah tangganya bukan sebagai mertuanya.
"Yes Mommy." Ujar Grizelle sembari mengangguk patuh.
Selin akhirnya angkat kaki dari kedai milik keluarga suaminya. Dan Grizelle juga mulai melangkah menuju kursi yang kosong, tetapi Hilyah menahannya.
"Grizelle mau ke mana?"
"Mau duduk Oma, kalau berdiri terus capek." Grizelle menggerutu dengan kesal karena sang Oma menahannya untuk menuju tempat duduk yang kosong.
"Tunggu sebentar ya, Oma mau kenalkan Grizelle dengan..."
"Dengan siapa Oma?"
Hilyah tersenyum ketika yang dicarinya muncul di hadapannya. Zaura keluar dari ruang belakang usai selesai berganti baju.
"Grizelle kenalkan ini Zaura, dan Zaura kenalkan ini Grizelle cucu Oma." Hilyah memperkenalkan Grizelle kepada Zaura, begitupun sebaliknya.
"Hai Grizelle, aku Zaura." Zaura mengulurkan tangannya. Mengulas senyuman ramah sebagai bentuk perkenalan.
Grizelle tersenyum sinis. Ia menolak uluran tangan Zaura. "Oma dia siapa?." Tanya Grizelle ketus.
"Zaura ini anaknya Tante Filzah."
"Tante Filzah siapa Oma?" Grizelle kembali bertanya. Kali ini bertanya tentang Filzah, Bundanya Zaura.
"Tante Filzah itu karyawan baru di kedai kita Grizelle."
"Oh jadi Zaura ini anaknya pelayan." Ujar Grizelle dengan nada mengejek.
"Ya sudah kalau begitu Grizelle sama Zaura main bersama ya." Hilyah menyuruh cucunya untuk bermain bersama Zaura.
Dari raut wajahnya Zaurat terlihat bahagia karena ia tidak kesepian dan bosan lagi di kedai karena mulai saat ini ia memiliki teman baru, Grizelle namanya.
"Nggak mau!, Grizelle nggak mau berteman sama anak pelayan, nggak level!, kamu jauh-jauh saja sana." Grizelle menolak mentah-mentah ajakan Hilyah untuk berteman dengan Zaura. Bahkan ia mengejek Zaura yang katanya anak pelayan dan tidak level jika berteman dengannya.
Hilyah ingin menasihati sang cucu, namun Grizelle sudah lebih dulu pergi menuju kursi yang kosong. Dan asyik bermain dengan gadgetnya.
"Zaura maafkan Grizelle ya Nak, Grizelle tidak bermaksud seperti itu."
Perlahan Zaura mengangguk. Namun raut wajah kesedihannya tidak dapat disembunyikan.
"Oma, Zaura mau ke belakang dulu ya."
Zaura dengan lemasnya menuju ruang belakang. Ia terlihat kesal dan sebal akan ucapan Grizelle tadi kepada dirinya.
"Grizelle kok ngomongnya begitu sih, memangnya nggak boleh ya kalau Zaura berteman sama Grizelle?, memangnya beda ya Zaura sama Grizelle?" Oceh Zaura kepada dirinya sendiri.
Tanpa Zaura sadari Filzah mulai memasuki ruang belakang. Ia sedikit terkejut melihat sang putri duduk sambil mengoceh.
"Lho Zaura kok ada di sini?, bukannya tadi Zaura ada di depan sama Oma Hilyah?" Filzah mulai mendudukkan dirinya di sebelah sang putri.
"Iya Bunda, tapi Zaura kesal, Zaura kesal sama Grizelle, cucunya Oma Hilyah." Zaura memanyunkan bibirnya. Ia kesal mengingat ucapan Grizelle yang mengejek dirinya.
"Memangnya Zaura kesal kenapa sama Grizelle?"
"Itu Bunda, Grizelle bilang dia nggak mau berteman sama Zaura, katanya Grizelle nggak level berteman sama Zaura, karena Zaura anak pelayan."
Filzah terkejut namun secepat mungkin ia menyembunyikan ekspresi keterkejutannya. Filzah menampilkan senyuman manisnya. Ia membelai kepala putrinya.
"Zaura yang sabar ya, Grizelle nggak bermaksud seperti itu kok, Zaura hanya salah paham saja." Filzah mencoba untuk menenangkan hati sang putri yang mendadak mendidih karena mendapatkan perlakuan kurang baik dari Grizelle.
"Tapi Bunda, Grizelle tadi bilang begitu sama Zaura, memangnya Zaura nggak boleh ya kalau berteman sama Grizelle, karena Zaura anak pelayan, sedangkan Grizelle cucunya Oma Hilyah yang punya kedai ini."
Filzah hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia cukup tenang dalam menanggapi cerita sang putri yang kesal karena merasa dikucilkan oleh Grizelle sampai membawa tentang pekerjaannya sebagai seorang pelayan kedai dan Zaura diberi julukan sebagai anak pelayan.
"Zaura dengarkan Bunda ya, kita semua di hadapan Allah itu sama Sayang nggak ada perbedaan antara orang miskin ataupun orang kaya, semuanya sama di hadapan Allah, hanya ada satu yang membedakan, yaitu ketaatan kita kepada Allah, jadi mulai sekarang Zaura nggak usah bersedih lagi ya kalau Zaura merasa dibeda-bedakan yang terpenting Zaura taat kepada Allah maka Allah akan menyayangi Zaura karena Allah akan menyayangi hambaNya yang taat kepadaNya."
Perlahan Zaura mulai mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Filzah. Wajah Zaura juga sudah tidak kesal seperti tadi. Hatinya juga sudah mulai dingin karena sang Bunda sudah mendinginkannya dengan memberikan penjelasan yang cukup panjang namun dapat dengan mudah dipahami oleh Zaura.
"Iya Bunda, Zaura sudah mengerti dan mulai sekarang Zaura nggak akan kesal lagi kalau Grizelle memanggil Zaura dengan sebutan anak pelayan, karena Zaura dan Grizelle di hadapan Allah sama, cuma yang membedakan siapa yang paling taat sama Allah, seperti itu kan Bunda?"
__ADS_1
Filzah mengangguk seraya tersenyum penuh syukur. "Iya Sayang seperti itu,ย maa syaa Allah anak Bunda in syaa Allah sholihah ya."
"Aamiin Bunda." Zaura mengaminkan ucapan sang Bunda yang menjadi doa untuknya.
"Ya sudah sekarang Zaura ke depan lagi ya, Bunda harus kembali bekerja Sayang."
"Iya Bunda."
Akhirnya Zaura kembali ke depan. Dan Filzah juga kembali bekerja. Mengantarkan pesanan kepada pelayan usai mengambilnya dari dapur.
"Grizelle."
Saat Zaura kembali ke depan, tiba-tiba ada seseorang yang sedang memanggil Grizelle. Dialah Ergin yang mulai memasuki kedai bersama Azlan berjalan di belakangnya.
"Daddy." Grizelle langsung menghampiri Ergin. Wajahnya sumringah atas kedatangan sang Daddy.
"Daddy sudah datang, sepedanya mana Daddy."
Azlan memutar bola matanya jengah. Ia sudah muak dengan perangai sang keponakan yang tidak jauh berbeda dengan Ibunya. Menjadikan sang Abang sebagai jin botol yang akan selalu mengabulkan semua permintannya.
"Sepedanya sudah di depan, ayo kita ke depan lihat sepeda barumu Sayang."
"Ayo Daddy."
Ergin dan Grizelle langsung menuju halaman kedai yang katanya sepeda baru Grizelle sudah terparkir di sana. Mau tidak mau Azlan juga ikutย menuju halaman kedai.
Zaura juga menuju halaman kedai. Ia penasaran dengan sepeda baru milik Grizelle yang baru saja dibelikan oleh Daddynya.
"Horeee Grizelle punya sepeda baru, Daddy ayo kita main di taman, sebentar lagi teman-teman Grizelle akan datang ke taman."
Ergin mengangguk. "Iya ayo Sayang, kamu pamerkan sepeda baru kamu ke teman-teman kamu." Ucap Ergin yang malah mengajarkan perangai kurang baik kepada anaknya.
Lagi-lagi Azlan hanya dapat menghela napas. Ia tidak menyangka bahwa sang Abang sudah terpapar virus kesombongan dari Selin dan Grizelle. Kini lengkap sudah kelurga kecil itu. Sama-sama memiliki perangai tidak terpuji.
Disaat Azlan hendak masuk ke dalam kedai, langkahnya terhenti. Ia tidak sengaja melihat gadis kecil yang sedang berdiri di halaman kedai juga. Mata sayunya tertuju kepada Grizelle dan Ergin yang sedang bermain sepeda di taman.
"Maa syaa Allah sepada baru Grizelle bagus sekali, dan Ayah Grizelle yang membelikannya, bersyukurnya menjadi Grizelle, bisa mempunyai sepeda baru dan masih mempunyai Ayah yang sayang sama Grizelle,ย sedangkan aku, jangankan mempunyai sepeda baru, Ayah saja sudah meninggal, ya Allah aku iri sama Grizelle, kapan ya aku bisa seperti Grizelle." Dalam benaknya Zaura terang-terangan mengakui bahwa ia iri dengan Grizelle. Ia iri melihat Grizelle bahagia mempunyai Ayah yang sayang kepadanya dan membelikan sepeda baru untuknya.
Azlan menyerngitkan dahi. Ia kebingungan melihat gadis kecil di hadapannya terdiam. Dan tatapannya terus tertuju kepada Grizelle dan Ergin.
Akhirnya Azlan mencoba mendekati Zaura. Ia penasaran dan ingin mengetahui apa yang sedang Zaura pikirkan sampai kedua matanya tidak henti-hentinya menatap ke arah Grizelle dan Ergin.
"Hmmm, kamu sedang apa di sini?." Tanya Azlan seramah mungkin. Jujur saja ini baru pertama kalinya ia mengobrol dengan anak kecil. Meskipun Azlan memiliki keponakan tetapi ia sama sekali tidak berminat untuk mengajaknya mengobrol apalagi keponakannya seperti Grizelle. Yang ada Azlan selalu kesal dibuatnya.
Zaura akhirnya tersadar. Ia sedikit terkejut dengan kehadiran Azlan di dekatnya. "Zaura, Zaura sedang memperhatikan Grizelle sama Ayahnya, Om." Zaura mengaku kepada Azlan bahwa ia sedang memperhatikan Grizelle dan Ergin.
"Kalau boleh Om tahu, kenapa Zaura memperhatikan Grizelle dan Ayahnya?" Azlan semakin penasaran. Kira-kira apa yang membuat Zaura menjadikan Ergin dan Grizelle sebagai objek perhatiannya kali ini.
"Zaura iri melihat Grizelle dibelikan sepeda baru sama Ayahnya, Om."
Azlan kembali menyerngitkan dahi. Rasa penasarannya bukannya sirna tetapi malah semakin bertambah karena jawaban Zaura.
"Lho kok iri?, memangnya Zaura belum pernah dibelikan sepeda sama Ayahnya Zaura?." Tanya Azlan kebingungan.
Zaura menggeleng dengan polosnya. Azlan malah semakin kebingungan dan penasaran saja dibuatnya.ย
Tiba-tiba saja kedua mata Zaura berkaca-kaca. "Ayah Zaura sudah meninggal Om." Ucapnya mulai tersedu-sedu.
Azlan langsung terkejut. Kedua matanya membulat sempurna. Ia tidak menyangka bahwa dugaannya salah dan ternyata gadis kecil di hadapanya sudah tidak memiliki Ayah. Pantas saja sejak tadi Zaura terus memperhatikan kebersamaan Ergin dan Grizelle. Bahkan sempat mengutarakan rasa irinya kepada sepasang ayah dan anak tersebut.
Rasa iba dan kasihan tiba-tiba bersarang di benak Azlan sehingga mendorongnya untuk memeluk Zaura yang mulai menangis sedikit demi sedikit.
Azlan hanya bisa mengelus puncak kepala Zaura. Menenangkan gadis kecil yang pasti teramat rindu dengan sosok Ayahnya. Azlan tahu bagaimana perasaan Zaura saat ini karena Azlan juga seorang anak yatim yang ditinggal pergi oleh Ayahnya sejak kecil.
"Zaura harus tetap semangat ya, Zaura nggak usah menangis lagi, kan sekarang sudah ada Om." Azlan menyeka air mata Zaura dengan lembut seraya memberikan dukungan semangat kepadanya.
Perlahan tangisan Zaura mulai mereda. Ia terhibur dengan pelukan hangat serta ucapan selamat dari Azlan. Om yang baru dikenalnya. Namun Zaura masih ingat bahwa Om di hadapannya adalah anaknya Oma Hilyah yang kemarin diperkenalkan oleh Oma Hilyah sendiri kepadanya dan kepada Bundanya.
"Jazakallah khoiron Om, karena Om sudah baik sama Zaura, Om sudah mau memberikan semangat sama Zaura."
Awalnya Azlan bingung dengan kalimat pertama yang dilontarkan oleh Zaura. Azlan merasa asing dengan kalimat itu bahkan ia belum pernah mendengar sebelumnya. Namun dengan kalimat selanjutnya Azlan dapat memperkirakan bahwa Zaura berucap terima kasih kepadanya karena sudah memberikan semangat kepada Zaura.
"Kalau begitu Zaura masuk ke dalam dulu ya Om, Zaura mau membantu Bunda bekerja."
Azlan mengangguk. Memperbolehkan Zaura untuk masuk ke dalam kedai dan katanya ingin membantu Bundanya bekerja. Jujur saja Azlan kagum dengan Zaura. Meskipun mereka baru saling mengenal namun Azlan terlihat sangat dekat dengan Zaura terlebih lagi Zaura anak yang baik tidak seperti Grizelle, keponakannya sendiri. Dan mungkin juga karena nasib mereka hampir sama yaitu seorang anak yatim jadi Azlan merasa dan iba dan kasihan kepada Zaura.
"Kasihan sekali Zaura, dia juga merasakan apa yang aku rasakan dulu, aku nggak boleh diam saja, aku harus melakukan sesuatu." Azlan mengurungkan niatnya yang tadinya hendak masuk ke dalam kedainya. Ia malah pergi dengan mengemudikan mobilnya.
๐น๐น๐น
Zaura sedang menikmati kegiatannya dalam membantu Bundanya yaitu mengelap meja yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Sementara Filzah sesekali tersenyum ke arah sang putri ketika sedang mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.
"Zaura."
Zaura terkejut karena ada yang memanggilnya. Zaura mendongakkan kepalanya. Seorang laki-laki sedang tersenyum ke arahnya. Yaitu laki-laki yang tadi memberikan pelukan hangat kepadanya.
"Om." Panggil Zaura dengan senyuman yang merekah.
"Zaura ayo ikut Om." Ajak Azlan tanpa berbasa-basi lagi.
"Mau ke mana Om?." Tanya Zaura penasaran.
"Om mau menunjukkan sesuatu sama Zaura, ayo ikut Om."
Akhirnya Zaura mengikuti langkah Azlan. Meskipun masih dengan rasa penasarannya.
Kini Azlan dan Zaura sudah berada di depan kedai tepatnya di halaman kedai. Azlan sengaja menghentikan langkahnya tepat di hadapan sebuah sepeda berwarna pink yang terlihat masih baru.
"Om sepeda baru ini punya siapa?." Tanya Zaura tak mengerti.
"Sepeda ini punya Zaura, sekarang Zaura juga sudah punya sepeda."
Zaura bukannya senang, ia justru malah menyerngitkan dahinya. Mengekspresikan perasaan kebingungannya.
__ADS_1
"Punya Zaura?, maksud Om?"
Azlan terkekeh melihat ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Zaura. Gadis kecil itu masih belum mengerti.
"Zaura, Om sengaja membelikan sepeda ini untuk Zaura, Zaura kan belum punya sepeda, jadi mulai sekarang Zaura sudah punya sepeda, dan sepeda ini punya Zaura."
Akhirnya Zaura mulai mengerti. Binar-binar bahagia mulai tampak di mata indahnya.
"Om serius?, sepeda ini punya Zaura?." Tanya Zaura untuk memastikannya kembali.
Azlan menganggukkan kepalanya. "Iya Zaura sepeda ini punya Zaura, Om membelikan sepeda ini untuk Zaura."
"Tapi kenapa Om membelikan sepeda ini untuk Zaura?, Zaura kan bukan siapa-siapanya Om."
Azlan terdiam sejenak. Ia memikirkan ucapan Zaura yang menyadarkannya. Azlan juga bingung sendiri. Ia tidak tahu mengapa dengan mudahnya ia membelikan sepeda untuk Zaura, gadis kecil yang baru dikenalnya.
"Hmm, Om membelikan Zaura sepeda baru karena Zaura adalah anak yang baik, dan dulu Om juga seperti Zaura, sejak kecil Ayah Om juga sudah meninggal, makanya Om juga sedih melihat Zaura sedih, dan supaya Zaura nggak sedih lagi jadi Om membelikan sepeda baru untuk Zaura."
Perlahan Zaura dapat menerima penjelasan dari Azlan. Dan wajahnya langsung berubah menjadi ceria.
"Alhamdulillah akhirnya aku punya sepeda juga, jazakallah khoiron Om."
Azlan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal melainkan ia kebingungan dan tidak mengerti akan ucapan kalimat yang dilontarkan oleh Zaura.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita ke taman ya, Zaura main sepedanya di sana saja."
"Tapi Om, Zaura belum bisa naik sepeda, Zaura takut jatuh."
Azlan tersenyum. "Om akan ajarkan Zaura belajar naik sepeda, ya sudah ayo kita ke taman."
Tanpa berlama-lama lagi Azlan langsung menggotong sepeda baru milik Zaura juga menggandeng tangan Zaura menuju taman.
Di taman Azlan benar-benar mengajarkan Zaura belajar naik sepeda. Awalnya Zaura ketakutan namun Azlan berhasil menenangkannya dan Zaura mulai berani menggoes sepedanya.
Grizelle yang sedang bermain sepeda bersama teman-temannya di taman tidak sengaja melihat kedekatan Azlan dan Zaura. Ia berdecak sebal karena Omnya malah lebih dekat dengan Zaura dari pada dengan dirinya.
"Kok Uncle Azlan dekat sekali sama anak pelayan itu, ih sebal, dan itu sepeda baru pasti dari Uncle, mana mungkin anak pelayan itu bisa beli sepeda baru, awas saja aku adukan sama Mommy dan Daddy, biar Uncle dimarahi dan nggak dekat-dekat lagi sama anak pelayan itu."
"Grizelle ayo main lagi, kok malah berhenti."
Akhirnya Grizelle kembali bermain sepeda bersama teman-temannya dan tidak memperdulikan Azlan dan Zaura lagi.
"Zaura."
Filzah tiba di taman bersama Hilyah. Mereka berdua nampak terengah-engah lantaran tadi berlari menuju taman. Mereka mencari Zaura yang tiba-tiba menghilang dari kedai dan ternyata sedang berada di taman. Dan Filzah terkejut karena sang putri sedang bermain sepeda bersama Azlan, anak dari ibu Hilyah.
"Bunda."
Zaura turun dari sepeda. Ia menghampiri sang Bunda. Sementara Azlan menghampiri Hilyah.
"Zaura kok nggak bilang-bilang sama Bunda kalau mau bermain di taman, Bunda khawatir sama Zaura, Bunda takut Zaura hilang, lain kali kalau Zaura mau pergi ke mana izin dulu ya Sayang sama Bunda." Filzah menasihati sang putri dengan lembut sehingga Zaura langsung mengangguk patuh atas nasihatnya.
"Iya Bunda, Zaura minta maaf, tadi Om baik mengajak Zaura bermain di taman, oh iya Bunda, Om baik membelikan Zaura sepeda baru dan tadi Om baik juga mengajarkan Zaura naik sepada."
"Om baik jazakallah khoiron ya."
Azlan meringis. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena tadi ia lupa menanyakan kalimat asing yang sudah beberapa kali ia dengar dari mulut Zaura.
Tatapan Filzah beralih ke arah Azlan. Ia tersenyum ramah. "Maksudnya Zaura, terima kasih karena Pak Azlan sudah membelikan sepeda dan mengajarkan Zaura naik sepeda." Filzah menjelaskan maksud dari ucapan sang putri yang tidak dimengerti oleh Azlan.
Azlan ber-o ria. Akhirnya sekarang ia paham dengan ucapan asing dari Zaura yang artinya adalah ucapan terima kasih.
"Iya sama-sama, saya membelikan Zaura sepeda karena saya kasihan melihat Zaura, tadi dia sempat cerita kalau Ayahnya sudah meninggal dan dia iri melihat Grizelle dibelikan sepeda sama Daddynya, saya juga seorang anak yatim, Ayah saya juga sudah meninggal dari saya kecil, makanya saya kasihan melihat Zaura tadi bersedih."
Filzah berdecak kagum kepada Azlan. Tidak salah lagi apabila Zaura memanggilnya dengan sebutan "Om baik". Azlan memang baik. Baik sekali. Ia tulus membantu Zaura.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Pak Azlan, terima kasih sudah berbaik hati kepada Zaura, dan saya juga ucapkan terima kasih kepada Ibu Hilyah yang banyak berjasa dalam hidup saya, kalian memang keluarga yang baik saya bersyukur bisa mengenal dan berkerja dengan kalian, Ibu Hilyah Pak Azlan terima kasih." Tutur Filzah dengan rasa haru.
Hilyah dan Azlan sama-sama tersenyum. Membalas ucapan terima kasih yang tulus dari Filzah kepada mereka.
Hilyah juga tersenyum kepada Azlan yang hari ini menjadi malaikat penolong untuk Zaura. Gadis kecil yang telah kehilangan sosok Ayah dalam kehidupannya. Hilyah mengacungkan jempol kepada sang putra. Ia bangga sekali dengan apa yang dilakukannya kepada Zaura.
"Mama bangga sama kamu, apa yang kamu lakukan itu sangat benar, yaitu membantu anak yatim seperti Zaura."
Azlan membalas senyuman tulus sang Mama. "Azlan hanya mempraktikkan apa yang Mama ajarkan kepada Azlan, Azlan yang harusnya berterima kasih sama Mama, terima kasih ya Ma."
Hilyah kembali tersenyum. Senyuman kali ini hadir dengan rasa haru atas kalimat yang dilontarkan oleh sang putra bungsu yang disayanginya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah wasyukurillah
Ukhfira dapat ber-orat-oret ria di lapak ini lagi sehingga menjadi part ke 8 dari cerita Cinta Istiqomah
Semoga kalian suka
dan
Semoga bermanfaat
๐ค๐ค๐ค
Aamiin Allahumma Aamiin
๐๐๐
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
๐๐๐
Doakan ya semoga tidak begitu sibuk dan masih bisa nongol di lapak ini
__ADS_1
๐ค๐ค๐ค
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh