
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
🌹🌹🌹
Di waktu yang hampir bersamaan Hilyah dan Azlan menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Asisten rumah tangganya telah selesai menyiapkan menu sarapan pagi untuk keluarga besar Hilyah.
"Terima kasih ya Bik." Ucap Hilyah usai melihat Asisten rumah tangganya telah selesai menyiapkan sarapan pagi untuknya dan untuk keluarganya.
"Iya Ibu sama-sama, kalau begitu saya pamit ke belakang dulu ya Bu."
"Iya Bik."
Saat asisten rumah tangganya meninggalkan dapur disaat itulah Selin, Grizelle dan Ergin, Anak sulung Hilyah tiba di dapur.
"Hei Adikku yang paling tampan sedunia sudah pulang nih, mana nih oleh-olehnya buat Abang." Ergin langsung meramaikan suasana pagi hari dengan ucapan lebay kepada Azlan, sang Adik yang baru ia jumpai pagi ini. Kemarin mereka tidak bertemu karena Ergin pulang dari kantor malam sekali dan Azlan menghabiskan waktu liburnya sehari di kamarnya.
"Nggak ada oleh-oleh, apalagi buat Abang terlebay sedunia." Azlan bertampang jutek di hadapan sang Abang, namun hanya tampang palsu saja alias hanya bergurau. Seperti itulah hubungan Abang dan Adik yang setiap harinya dipenuhi dengan gurauan dan candaan, tidak pernah serius. Dan hanya pada waktu-waktu tertentu saja.
"Kalau oleh-oleh buat Mama ada dong pastinya." Lanjut Ergin kemudian.
"Ya ada lah, memangnya Abang, kalau pergi ke luar negeri lupa bawa oleh-oleh buat Mama." Azlan malah menyindir Ergin dengan mengatakan bahwa setiap kali Ergin pergi keluar negeri jarang mambawa oleh-oleh untuk Hilyah.
"Iya kan sekarang Abang sudah berkeluarga sudah punya istri dan anak, jadi kebutuhannya banyak, nggak seperti kamu yang dari dulu sampai sekarang sendiri-sendiri saja nggak ada kemajuan."
Azlan terdiam. Ia seperti diskak mat oleh sindiran pedas sang Abang. Bahkan bukan hanya Ergin yang menyindirnya tetapi sang Mama juga ikut serta.
"Iya nih, menantu Mama masih satu saja dari kemarin belum bertambah." Oceh Hilyah sengaja menyindir Azlan.
Azlan menghela napas jengah. "Abang, menikah lagi sana, supaya menantu Mama bertambah satu lagi." Celetuk Azlan mengasal.
Bukan hanya Ergin yang melotot tetapi Selin ikut melotot juga. Lebih tepatnya melotot ke arah suaminya.
"Daddy mau menikah lagi?!" Tanya Selin dengan berwajah masam.
Kedua alisnya menyatu. Dan tatapan matanya tajam. Setajam sayatan pisau.
Ergin menggeleng berkali-kali. Wajahnya diselimuti ketakutan. Takut sang istri mengamuk kepadanya. Azlan sudah keterlaluan. Candaannya mengancam keselamatannya.
"Nggak Mommy, siapa yang mau menikah lagi, cukup Mommy saja istri Daddy, nggak ada yang lain, Azlan kalau ngomong memang suka sembarangan." Ergin marah kepada Azlan.
Azlah malah terkekeh puas. "Makanya jangan sembarang juga kalau bicara." Sahut Azlan dengan tertawa renyah.
"Sudah-sudah, kalian ini hobinya beradu mulut terus, ayo sekarang dimakan sarapannya."
Kedua Kakak dan Adik tersebut akhirnya menghentikan adu mulut singkatnya. Dan menuruti perintah sang Mama tersayang untuk menyantap sarapan paginya.
"Daddy, Grizelle minta dibelikan sepeda baru, nanti siang Grizelle mau main sama teman-teman Grizelle."
Ergin langsung tersendak. Ia terbatuk-batuk tak berkesudahan. Hilyah dengan siap memberikan segelas air kepada sang anak sulung.
"Diminum dulu Ergin."
"Terima kasih Ma."
"Daddy nih makan bagaimana sih, pakai acara tersendak segala." Bukannya memberikan segelas air, Selin malah memaki suaminya yang tidak hati-hati dalam aktivitas sarapan paginya.
"Grizelle mau beli sepeda baru?" Ergin menanyakan kepada sang putri tentang keinginannya yang membuat Ergin terkejut sampai tersendak.
Grizelle mengangguk bersemangat. "Iya Daddy, sepeda lama Grizelle kan sudah rusak, Daddy belikan sekarang ya, nanti siang setelah sekolah Grizelle mau main sepeda sama teman-teman di taman dekat kedainya Oma."
"Tamatlah riwayatmu Bang." Sindir Azlan kembali terkekeh.
Ergin tidak merespon sindiran Azlan, melainkan ia kembali fokus memandangi wajah sang putri yang dengan asyiknya menyantap sarapan paginya. Sementara Ergin sudah tidak nafsu makan.
__ADS_1
"Sudahlah Daddy belikan saja, harga sepeda berapa sih, nggak mahal kan?!" Selin menyuruh sang suami untuk mengabulkan permintaan putri mereka. Membelikannya sepeda baru.
"Dikira Abang gue mesin uang apa, enteng sekali kalau bicara." Oceh Azlan bersuara lirih. Adik mana yang tidak kesal melihat sang Abang diperbudak karena uang. Meskipun sama istri dari Abangnya sendiri.
"I-iya Grizelle tenang saja nanti Daddy akan belikan Grizelle sepeda baru, nanti Daddy sama Uncle akan mengantarkan sepeda baru Grizelle ke kedai Oma."
"Hah?!" Azlan terkejut. Ia tidak terima diikut-ikutkan dalam masalah rumah tangga Abangnya. Apalagi tentang memanjakan Grizelle. Azlan teramat tidak menyukai pola asuh sang Abang yang disetir oleh Selin dalam memanjakan Grizelle.
"Horeee, thank you Daddy." Ucap Grizelle girang.
"Ma, Azlan berangkat kerja dulu ya."
"Ergin juga Ma, ayo Azlan kita berangkat ke depan sama-sama."
Azlan merasa aneh dengan sikap Ergin yang main menarik lengannya. Lalu melangkah keluar dari rumah mereka.
"Abang ada apa sih main tarik tangan gue, sakit tahu." Oceh Azlan yang sudah melepaskan lengannya dari pegangan Ergin.
"Azlan, Abang pinjam duit dong, mau beli sepedanya Grizelle nih."
"Memangnya duit lo ke mana Bang?, masa sudah habis tak bersisa."
"Duit Abang sudah habis untuk membeli mobilnya Selin, makanya Abang pinjam duit lo sekarang."
Azlan menggeleng. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi untuk menghadapi sang Abang yang benar-benar dijadikan mesin uang oleh istri dan anaknya sendiri.
"Ishh, bilangnya pinjam duit tapi nggak pernah tuh ada niat untuk melunasi, bilang saja mau minta duit kan beres."
"Iya-iya, Abang mau duit sama lo, bukan mau pinjam duit."
"Gue heran sama lo Bang, kok bisa-bisanya lo bertahan hidup dengan perempuan mata duitan seperti istri lo itu, hobinya hanya menghabiskan duit lo saja, dan sepertinya akan menurun sama anak lo tuh."
Ergin menghela napas. Ia bukannya mendapatkan segeplok uang dari Azlan, malah Azlan memberikan nasihat kepadanya. Tentang istri dan anaknya yang bisanya hanya menghabiskan uangnya.
"Azlan-Azlan, namanya juga kepala rumah tangga ya sudah kewajiban Abang untuk menafkahi istri dan anak Abang." Ujar Ergin membela dirinya sendiri.
"Abang sadar kok, tapi bagi Abang duit itu bukan apa-apa, kebahagiaan istri dan anak Abang adalah segalanya, namanya juga bucin apapun akan dilakukan untuk orang yang Abang cintai, nanti juga kalau lo sudah menikah lo akan merasakan apa yang Abang rasakan, intinya lo akan bucin pada waktunya, hahaha." Ergin terkekeh diakhir ucapannya.
Azlan hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Tidak berminat untuk menggubris ucapan Ergin yang bernada mengejek kepadanya.
🌹🌹🌹
"Bunda."
Zaura tersenyum bahagia melihat sang Bunda sudah datang menjemputnya.
"Bunda kenalkan ini teman-temannya Zaura, namanya Arifa sama Dhiba, kemarin Arifa sama Dhiba belum berkerudung tapi alhamdulillah sekarang sudah berkerudung."
"Assalaamu 'alaikum Arifa, Dhiba."
"Wa 'alaikumus salaam Bundanya Zaura." Ucap Arifa dan Dhiba menjawab salam Filzah.
"Arifa sama Dhiba kok belum pulang?, belum dijemput ya?"
Arifa dan Dhiba saling menganggukkan kepala mereka. Mengiyakan pertanyaan dari Filzah.
"Arifa."
"Dhiba."
Dua orang perempuan dengan berpakaian muslimah yang baru tiba langsung memanggil kedua gadis kecil yang sedang mengobrol dengan Filzah dan Zaura.
"Mami." Sapa Arifa kepada salah satu perempuan berhijab yang menghampirinya
"Mama." Sapa Dhiba juga kepada salah satu perempuan berhijab yang mulai menghampirinya.
"Mami ini teman aku yang namanya Zaura, dan ini Bundanya." Ucap Arifa memperkenalkan Zaura dan Filzah kepada Maminya.
__ADS_1
"Iya Mama, ini yang namanya Zaura, teman aku yang memakai kerudung ke sekolah." Dhiba juga ikut memperkenalkan Zaura kepada Mamanya.
Filzah sempat bingung karena kedua teman Zaura saling memperkenalkan ia dan Zaura kepada ibunya masing-masing.
"Mohon maaf ini ada apa ya?, apa anak saya Zaura sudah berbuat salah dengan anak-anak Ibu?, jika memang benar demikian saya mohon maaf atas nama anak saya Zaura."
"Oh tidak Ibu Zaura, Zaura tidak mempunyai salah kepada Arifa."
"Iya Ibu Zaura, Zaura juga tidak mempunyai salah kepada Dhiba."
"Jika memang Zaura tidak mempunyai salah, lalu ada ya?" Filzah masih tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Apa yang telah Zaura lakukan kepada teman-temannya.
"Ibu Zaura saya sebagai Maminya Arifa ingin berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada Ibu dan juga Zaura, karena Zaura telah menyadarkan saya untuk menutup aurat saya, dan alhamdulillah Arifa juga ikut untuk menutup auratnya dari kecil, Arifa bilang dia ingin seperti Zaura yang masih kecil tapi sudah menutup auratnya." Ucap Maminya Arifa dengan haru.
"Iya Ibu Zaura, saya juga berterima kasih karena dengan penjelasan Zaura kemarin, Dhiba juga ikut berkerudung, dan saya sangat terharu sekali. Zaura terima kasih ya, Dhiba ayo ucapkan terima kasih sama Zaura." Sambung Mama Dhiba yang ikut mengucapkan terima kasih kepada Filzah dan Zaura bahkan menyuruh Dhiba untuk mengucapkan terima kasih kepada Zaura.
"Arifa juga bilang terima kasih ya sama Zaura."
"Zaura terima kasih." Ucap Arifa dan Dhiba bersamaan.
Zaura mengangguk. "Iya sama-sama Arifa, Dhiba." Ketiga gadis kecil itu langsung berpelukan layaknya sahabat.
"Maa syaa Allah, alhamdulillah jika Ibu Arifa dan Ibu Dhiba sudah mau melakanakan perintah Allah untuk menutup aurat, tetapi itu semua bukan karena Zaura ataupun bukan karena saya, melainkan itu karena Allah, karena Allah memberikan hidayah kepada Ibu Arifa dan Ibu Dhiba." Filzah tidak ingin Ibu dari teman-temannya Zaura berasumsi bahwa ia dan Zaura yang sudah membuat mereka memenuhi kewajiban mereka sebagai perempuan muslimah untuk menutup auratnya, melainkan itu semua karena Allah yang telah memberikan hidayah kepada mereka.
"Iya Ibu Zaura, ini semua karena Allah, tetapi Zaura dan Ibu adalah perantaranya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih." Ucap Mami Arifa yang sadar bahwa ia mendapatkan hidayah karena Allah dengan perantara Zaura dan Filzah.
"Iya Ibu Zaura apa yang dikatakan sama Ibu Arifa benar, memang kami mendapatkan hidayah karena Allah dan Ibu dengan Zaura adalah perantaranya, saya bersyukur karena Dhiba bisa berteman dengan anak sholihah seperti Zaura." Mama Dhiba pun demikian, sama halnya dengan Mami Arifa bahkan Mama Dhiba bersyukur karena anaknya berteman dengan gadis kecil yang sholihah seperti Zaura.
Filzah mengangguk seraya tersenyum penuh syukur. "Sama-sama Ibu Arifa dan Ibu Dhiba, aamiin, semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholihah, yang taat dan patuh terhadap perintah Allah."
"Aamiin."
Dari kejadian ini tiada hentinya Filzah bersyukur kepada Allah atas titipan amanah terindah kepada dirinya yaitu putri kecil yang sholihah. Putri kecil yang bisa mengajak teman-temannya ke arah kebaikan. Filzah berharap seterusnya sang putri yang akan beranjak menjadi dewasa bisa menjadi penerang untuk sekitarnya. Bisa menjadi hamba yang taat dan bermanfaat untuk orang lain.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah wa syukurillah
Cerita Cinta Istiqomah sudah update part terbaru
Yaitu part ke 7
🖋🖋🖋
Jazakumullah khoiron yang sudah singgah di cerita Cinta Istiqomah ini
Semoga suka dan semoga bermanfaat
Aamiin Allahumma Aamiin
🙏🙏🙏
Nantikan kelanjutan part terbarunya
Dimohon bersabar dan tetap stay tune yah Readers
🤗🤗🤗
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1