Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 33. Kelelahan


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Filzah memasuki rumahnya kembali usai keluar sejenak karena mengantarkan suami dan putrinya ke depan rumah untuk berangkat ke kantor dan ke sekolah.


Filzah menghentikan langkahnya tepat di ruang makan. Ia tidak tinggal diam ketika melihat Hilyah sibuk membereskan piring-piring kotor bekas sarapan tadi.


"Lho Filzah kamu sedang apa?" Tanya Hilyah menyadari kedatangan menantunya.


"Filzah mau bantu Mama bereskan meja makan." Jawabnya sambil menyatukan piring-piring yang kotor.


"Nggak usah Filzah, kamu nggak usah membantu Mama, sini piringnya." Hilyah mengambil alih piring yang tinggal dibawa ke wastafel.


"Tapi Ma, Filzah mau membantu Mama."


Hilyah menggeleng. "Nggak, kamu nggak usah membantu Mama, Mama bisa kok membereskan ini semua. Ingat Filzah kamu sedang hamil, hamil cucu Mama."


Filzah hanya bisa menghela napas panjang. Entah sampai kapan ia akan dilarang seperti ini. Rasanya tidak enak sekali jika hanya berdiam diri tanpa menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan rumah.


"Tapi Filzah bosan berdiam diri saja Ma, lagi pula kan hanya membereskan meja makan saja, nggak berat kok Ma." Filzah terus saja membujuk sang Mama mertua agar mengizinkan dirinya untuk membantu meringankan pekerjaan rumah.


Hilyah menggeleng tegas. "Filzah, Mama bilang nggak ya nggak, sudah ya, sekarang lebih baik kamu ke taman saja, kamu boleh menyiram bunga-bunga di sana sekalian menghirup udara segar."


Ide bagus!, Filzah setuju dengan perintah Hilyah yang satu ini. Tanpa membuang-buang waktu lagi Filzah langsung menuju taman, namun sebelum itu ia tersenyum dulu kepada Hilyah sebagai bentuk rasa terima kasihnya karena sudah memberikan solusi yang bagus untuk mengisi waktu kosong yang terbuang sia-sia.


Begitu sampai di taman belakang,ย  Filzah langsung menghirup dalam-dalam udara segar yang disuguhkan oleh keindahan taman dengan banyaknya aneka ragam bunga-bunga yang bermekaran.


"Maa syaa Allah udaranya sejuk sekali, pemandangannya juga indah dengan bunga-bunga yang merekah. Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan Filzah." Ucapnya seraya memuji keindahan alam ciptaan Tuhan.


"Sekarang saatnya aku mau menyiram bunga-bunga cantik itu." Filzah bersiap melangkah untuk mengambil selangnya, namun ia urungkan karena tiba-tiba ia merasa ada hal yang lebih penting dari pada itu.


"Aduh kok aku haus ya, aku minum dulu saja deh, setelah itu baru ke sini lagi."


Usai bermonolog ria Filzah berbalik badan menuju dapur untuk meneguk segelas air karena tiba-tiba tenggorokannya kering kerontan.


Filzah menuju ke arah dapur. Namun sebelumnya ia melewati ruang makan yang sudah tertatapi rapi. Dan di dapur Filzah mendapati Hilyah sedang sibuk mencuci piring.


"Lho Filzah kok ke sini lagi sih?" Oceh Hilyah tanpa menoleh lagi ke arah Filzah karena ia sudah dapat mengenalinya dari langkah kaki Filzah yang lembut dan pelan.


"Ini Ma Filzah haus mau minum dulu."


"Oh, ya sudah cepat minum, jangan sampai kamu kekurangan air, bisa berakibat fatal nantinya, apalagi kamu kan sedang hamil." Ucap Hilyah khawatir.


Filzah menjawabnya dengan kekehan. Mama mertuanya begitu protektif kepadanya namun Filzah mensyukurinya karena itu adalah bentuk rasa sayang kepadanya dan kepada bayi di dalam kandungannya.


Filzah meneguk segelas airnya hingga tandas tadinya ia hanya menuangkan setengah gelas saja tetapi Hilyah menyuruhnya untuk menuangkannya lebih banyak lagi. Alhasil perutnya terasa penuh akan air.


"Aduh!"


Filzah langsung menoleh ke arah Hilyah. Ia tersentak melihat Hilyah memegangi pelipisnya serta pertahanan tubuhnya mulai ambrug.


"Astaghfirullah Mama kenapa?" Tanya Filzah dengan langsung menghampiri Hilyah.


Hilyah menggeleng pelan. Tiba-tiba saja ia merasakan kepalanya berat dan berkunang-kunang,ย  pandangannya juga mulai mengabur.


"Kepala Mama pusing Filzah." Ucap lirih Hilyah menahan rasa sakit yang muncul di kepalanya.


"Astaghfirullah, ya sudah kalau begitu kita ke kamar saja ya Ma, Mama harus istirahat." Ujar Filzah amat panik.


Hilyah hanya bisa menganggukkan kepala. Bahkan untuk berdiri dengan tegak saja ia tidak kuat apalagi melangkah menuju kamarnya di lantai atas.


Dengan sigap Filzah menyangga tangan Hilyah ke punggungnya, ia membantu Hilyah menuju kamarnya untuk beristirahat.


Setelah sampai di kamarnya, Hilyah membaringkan tubuhnya secara perlahan dengan setia dibantu oleh Filzah.


"Ma kita ke rumah sakit saja ya Ma." Bujuk Filzah dengan dilanda kepanikan yang luar biasa.


Hilyah menggeleng pelan. "Nggak perlu Filzah, Mama nggak apa-apa kok, Mama cuma pusing saja." Jawabnya lirih seperti tak bertenaga.


Filzah mengkhawatirkan kesehatan Hilyah yang tiba-tiba menurun seperti ini. Terlebih lagi kesehatannya menurun saat sedang mencuci piring di dapur, dapat dipastikan bahwa Hilyah kelelahan setelah mengurusi pekerjaan rumah seorang diri.


"Tapi wajah Mama pucat sekali, Filzah takut terjadi apa-apa sama Mama, Mama harus segera ditangani oleh Dokter."


Hilyah kembali menggeleng pelan. Dalam keadaan kesehatannya memburuk seperti ini ia masih bisa menarik kedua ujung bibirnya. Agar menantunya tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Filzah, Mama ini hanya kelelahan saja, setelah istirahat nanti pasti Mama akan kembali sehat, percaya sama Mama ya."

__ADS_1


Filzah sedikit tersenyum namun bukan berarti ia bisa bernapas dengan lega. Filzah bukannya tidak percaya dengan pernyataan Hilyah namun wajah pucatnya seakan menggambarkan bahwa saat ini Hilyah sedang dalam keadaan sakit.


"Ya sudah kalau begitu Filzah keluar dulu ya Ma, Mama kalau perlu apa-apa panggil saja Filzah dengan keras ya Ma."


"Iya Filzah, nanti kalau Mama perlu apa-apa Mama akan panggil kamu."


Akhirnya Filzah keluar dari kamar sang Mama mertua. Namun ia belum menutup pintu kamarnya. Ia masih memperhatikan Hilyah yang mulai memejamkan kedua matanya untuk beristirahat.


"Ya Allah kasihan Mama, sudah dua bulan belakangan ini Mama sibuk mengurusi pekerjaan rumah dan lagi Mama juga harus mengurusi kedai,ย  lasti sakit Mama ini gara-gara Mama terlalu sibuk dan kurang istirahat." Ucap Filzah dalam hatinya.


Filzah telah menutup pintu dengan rapat. Ia tidak ingin menganggu Hilyah yang sedang istirahat. Namun ia tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya. Pikirannya masih tentang kesehatan Hilyah.


"Ya Allah aku nggak bisa berdiam diri saja, aku harus mengambil tindakan, Mama harus segera ditangani oleh Dokter, aku nggak mau terjadi apa-apa dengan Mama."


"Aku harus telepon Kanda, aku harus memberitahunya kalau Mama sedang nggak enak badan."


Tanpa berlama-lama lagi Filzah segera mengeluarkan benda pipih itu di dalam saku gamisnya lalu menyentuh tombol hijau setelah menemukan nomor yang ia beri nama "Kanda" di kontak handponenya.


Tidak menunggu waktu yang lama, panggilannya pun tersambung. Syukurlah Azlan segera mengangkatnya agar Filzah segera membagikan kecemasannya kepada suaminya tentang Hilyah, Mama mertuanya.


"Hallo Assalaamu 'alaikum Dinda." Ucap salam Azlan di seberang sana. Azlan sedang duduk di ruangannya dengan ditemani laptopnya yang duduk tegak di hadapannya.


"Wa 'alaikumus salaam, Kanda, Kanda gawat." Ujar Filzah panik.


"Gawat?, gawat kenapa Dinda?, apa terjadi sesuatu sama Dinda?" Azlan berganti posisi. Ia berdiri dengan wajah dirundung kecemasan berlebih.


"Nggak Kanda, alhamdulillah aku baik-baik saja, tapi Mama Kanda."


Awalnya Azlan dapat bernapas lega karena istrinya baik-baik saja itu artinya bayi di kandungannya juga baik-baik saja. Namun ucapan Filzah selanjutnya kembali mendatangkan kecemasan pada diri Azlan terlebih ini menyangkut perempuan pertama yang dicintainya.


"Lho Mama kenapa Dinda?, apa sudah terjadi sesuatu sama Mama?"


"Iya Kanda, tadi saat Mama lagi mencuci piring tiba-tiba kepala Mama pusing, sepertinya ini karena Mama terlalu sibuk mengurusi rumah dan kedai, aku khawatir sama kesehatan Mama."


"Astaghfirullahal adzim, Mama." Pekik Azlan amat terkejut.


"Terus keadaan Mama sekarang bagaimana Dinda?, Dinda nggak bawa Mama ke rumah sakit?, Mama harus memeriksakan keadaannya."


"Alhamdulillah sekarang Mama sedang istirahat Kanda, tadi aku sudah coba bujuk Mama untuk ke rumah sakit, tapi Mama menolak, katanya Mama cuma butuh istirahat, aku khawatir sekali sama keadaan Mama, Kanda."


"Ya sudah kalau begitu aku akan pulang sekarang Dinda, Dinda tolong jaga Mama ya."


Azlan mengangguk. Ia setuju dengan usulan istrinya. Dengan membawa Dokter ke rumah akan lebih baik agar Hilyah segera ditangani dan Hilyah juga tidak akan bisa menolak.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Seorang Dokter sedang memeriksa kesehatan Hilyah. Azlan yang membawa Dokter itu ke rumah atas usulan dari istrinya.


Hilyah tidak diperbolehkan berganti posisi dari berbaringnya karena baik Azlan dan Filzah sama-sama mengkhawatirkan kesehatannya.


Azlan datang tidak hanya bersama Dokter melainkan sebelum ia keluar dari kantornya ia sempat menghubungi Ergin untuk memberitahu kondisi Hilyah dan Ergin juga mengabari Selin sehingga mereka berdua juga sudah berada di kamar Hilyah untuk mengetahui keadaan Hilyah saat ini.


"Bagaimana Dok keadaan Mama saya, Mama saya sakit apa Dok?." Tanya Azlan ketika Dokter telah selesai memeriksa Hilyah.


"Alhamdulillah Ibu Hilyah tidak apa-apa, hanya saja ia membutuhkan istirahat yang cukup, ia juga membutuhkan vitamin. Dan ini resep vitaminnya tolong nanti ditebus ke apotek ya." Dokter menjelaskan kondisi Hilyah saat ini sekaligus memberikan secarik kertas yang berisi nama vitamin untuk Hilyah.


"Alhamdulillah kalau begitu." Azlan dapat bernapas lega, Filzah juga.


"Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu, mari."


"Terima kasih Dok, mari."


Dokter yang menangani Hilyah telah pergi. Azlan dan Filzah langsung mendekati Hilyah untuk memastikan kembali keadaannya.


"Azlan mana resep vitaminnya biar aku saja yang beli." Ujar Ergin menawarkan diri untuk membeli vitamin untuk Hilyah di apotek terdekat.


"Aku ikut Daddy." Timpal Selin yang tidak tahan berada di satu ruangan dengan Filzah.


Dengan senang hati Azlan memberikannya. Sebelum Ergin pergi tak lupa Azlan berucap terima kasih karena Abangnya sudah mau berbagi tugas dengannya sebagai anak-anak yang berbakti kepada Mamanya.


"Sekarang Mama istirahat ya, Mama nggak usah memikirkan apa-apa dulu." Titah Azlan dengan lembut.


Hilyah mengangguk. Ia tidak banyak bicara karena memang benar saat ini ia membutuhkan istirahat. Perlahan ia memejamkan kedua matanya.


Kemudian Azlan dan Filzah bergegas keluar dari kamar Hilyah agar Hilyah dapat beristirahat dengan tenang.


"Semoga Mama cepat sembuh ya Kanda, jujur aku khawatir sekali sama keadaan Mama, ini salah Kanda juga."


Tiba-tiba Filzah menyalahkan Azlan atas apa yang telah terjadi dengan Hilyah. Azlan bingung dibuatnya.


"Lho kok Dinda malah menyalahkan aku?" Tanya Azlan tak mengerti.

__ADS_1


"Iya ini salah Kanda, Mama sakit seperti ini karena Mama terlalu sibuk mengurusi dua pekerjaan sekaligus, pekerjaan di rumah sama pekerjaan di kedai, seandainya saja Kanda mengizinkan aku untuk mengurusi pekerjaan rumah, mungkin Mama nggak akan sakit seperti ini."


"Lho Dinda kok berkata seandainya? ingat ya Dinda, kita nggak boleh berkata seandainya." Ujar Azlan mengingatkan istrinya.


Filzah memejamkan kedua matanya lama. Ia tidak sadar akan ucapannya yang sedang berangan-angan.


"Astagfirullahal adzim aku nggak menyadarinya Kanda." Pekik Filzah sambil membekap mulutnya.


"Ya sudah jangan diulangi lagi ya."


Filzah mengangguk patuh. Ia tidak akan mengulanginya lagi sesuai dengan nasihat suaminya.


"Sekarang Kanda mau balik ke kantor lagi atau-"


"Nggak, Kanda di rumah saja, tadi sudah izin sama Bos."


"Ya sudah kalau begitu aku buatkan Kanda teh ya."


"Nggak usah, Kanda buat sendiri saja, ingat Dinda-"


"Awww." Pekik Filzah secara tiba-tiba.


Azlan terkejut berat. Ia terbelalak melihat istrinya merintih kesakitan sembari memegang perutnya yang nampak semakin buncit.


"Astaghfirullahal adzim Dinda kenapa?, perut Dinda kenapa?, sakit ya?, ayo kita ke rumah sakit Dinda." Tanya Azlan dengan beberapa pertanyaan beruntun, namanya juga panik dan cemas serta khawatir.


Filzah menatap wajah panik suaminya. Satu detik kemudian ia tertawa tanpa dosa. Dan tangannya sudah tidak memegangi perutnya.


"Lho, kok Dinda malah tertawa?, bukannya tadi, oh jadi Dinda sengaja membuat aku jantungan mendadak, iya Dinda?" Azlan dapat menebaknya dengan cepat.


Filzah mengangguk pelan. Tawanya semakin nyaring terdengar. "Makanya Kanda jangan terlalu berlebihan, aku dan bayi kita in syaa Allah baik-baik saja kok Kanda."


"Oh begitu ya, kalau begitu, Dinda harus diberi pelajaran." Dengan cepat Azlan menggelitikkan kedua pinggang istrinya.


Filzah tersentak. Ia merasakan geli luar biasa sampai tidak dapat menahannya lagi alhasil ia ingin lepas dari gelitikan dari suaminya dan akhirnya ia bisa kabur disaat Azlan lengah namun Azlan tidak tinggal diam, ia langsung mengejarnya. Alhasil mereka malah saling kejar-kejaran. Tetapi tenang Filzah cukup berhati-hati karena ia tidak lupa ingatan bahwa sedang hamil dan Azlan juga tidak memantau istrinya agar tetap berada dalam zona nyaman dan aman.


*****


Nabiย shallallahu โ€˜alaihi wasallamย bersabda:


(ุงุญู’ุฑูุตู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุนููƒูŽุŒ ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุนูู†ู’ ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ุฌูŽุฒู’ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒ ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ูู„ู’: ู„ูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู‘ููŠ ููŽุนูŽู„ู’ุชู ูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุงุ› ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ู‚ูู„ู’: ู‚ูŽุฏูŽุฑู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ุดูŽุงุกูŽ ููŽุนูŽู„ูŽุ› ููŽุฅูู†ู‘ูŽ โ€œู„ูŽูˆู’โ€ ุชูŽูู’ุชูŽุญู ุนูŽู…ูŽู„ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู) ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู… (2664).


โ€œBersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagi anda. Mintalah pertolongan kepada Allah. Jangan lemah. Ketika anda tertimpa sesuatu, janganlah anda berucap: โ€˜Seandainya aku begini dan begitu pastilah jadinya begini dan begitu.โ€™ Namun ucapkanlah: โ€˜Ini telah Allah tentukan berdasarkan apa yang Dia kehendaki.โ€™ Karena ungkapan โ€œSeandainya/sekiranya/jikaโ€ akan membuka amalan syaithan.โ€


(Diriwayatkan oleh Muslim 2664)


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Kira-kira masih ada yang melek nggak ya???


๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Kira-kira masih ada yang gercep nggak ya di malam otw tengah malam ini???


๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Btw maaf ya akhir-akhir ini Ukhfira updatenya malam terus


Soalnya idenya keluarnya malam terus


Gpp ya yang penting Ukhfira selalu update dan kalian selalu nggak ketinggalan


๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Btw ceritanya main seru nggak???


Makin


Makin dong


Makin dong banget


๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers


๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

__ADS_1


__ADS_2