
Cinta kedua untuk Ardian.
Yaya dan Enzo sedang mengobrol membahas kuliah Yaya. Sampai Enzo menganti arah perbincangan mereka ke perbincangan yang serius, apalagi Enzo masih penasaran dengan gadis didepannya.
"Yana, apakah kamu pernah pacaran? Maksud saya. Apakah kamu pernah menyukai seseorang?" Tanya Enzo hati-hati takut kalau Yaya akan tersinggung dengan pertanyaannya.
Yaya terdiam sambil menatap Enzo yang dari tadi menatapnya dengan serius."Mungkin aku harus membuka hati, mengingat aku dan dia tidak akan pernah bisa untuk bersama." Batin Yaya mencoba untuk menerima kehadiran Enzo dan akan berusaha melupakan nama pria yang sampai sekarang masih ada didalam hatinya."Mungkin untuk pacaran belum. Tapi saya pernah dekat dengan seorang pria yang baik dan saya menyukainya." Jawab Yaya teringat kedekatannya dengan Jidan dulu, tapi kedekatan keduanya harus hancur kerena perbedaan mereka.
"Benarkah? Lalu siapakah pria beruntung, yang sudah berhasil menarik perhatian mu, Yana Yakira?" Tanya Enzo penasaran dengan sosok pria yang Yaya sukai. Apalagi semakin kesini, Enzo semakin tertarik dengan kehidupan Yaya.
"Dia pria yang luar biasa. Entah kenapa aku menyukainya saat pandangan pertama, dia adalah pria yang berhasil membuat jantung ini berdebar karena cinta untuk pertama kalinya. Tapi dia juga pria yang berhasil mengores perasaan ini dengan penolakannya, karena berbedaan kami." Batin Yaya yang teringat akan pertemuan pertamanya dengan Jidan.
"Yana Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Enzo saat ia tidak mendengar jawaban gadis didepannya, malahan Yaya hanya diam tidak bersuara."Yana?" Enzo melambaikan tangannya didepan wajah Yaya saat dia tidak mendapatkan respon sama sekali.
"Eehh, maaf." Sepertinya Enzo berhasil, karena gadis itu langsung tersadar dari keterdiamannya saat Enzo melambaikan tangannya didepan wajah gadis itu.
"Apa kamu baik-baik saja Yana? Saya lihat kamu lebih banyak diam dari tadi daripada menjawab pertanyaan saya?"
"Ya, saya baik-baik saja Enzo. Mungkin pengaruh saya terlalu kelelahan karena habis pulang dari kuliah, makanya lebih banyak diam. Apalagi tugas kuliah yang semakin banyak saja" Jelas Yaya yang tidak ingin Enzo penasaran dengannya, karena dari tadi lebih banyak diam.
"Setelah kita makan siang, saya akan mengantarkan mu pulang." Ucap Enzo yang merasa bersalah, karena memaksa gadis itu untuk ikut dengannya. Padahal Yaya sedang kelelahan."Apakah saya perlu membantumu untuk mengerjakan tugas kuliah mu?"
"Tidak perlu Enzo, saya masih bisa mengerjakannya sendiri dan itu hanya sedikit."
"Jika kamu memerlukan bantuan saya, maka saya dengan senang hati akan membantumu." Yaya merespon tawaran Enzo dengan tersenyum.
"Syukurlah, Enzo melupakan pertanyaannya tadi." Gumam Yaya yang merasa lega, karena pria didepannya tidak kembali bertanya, tentang pria yang mereka bahas tadi.
"Aku tau Yana, kalau kamu sedang menghindari pertanyaan ku, karena kamu tidak ingin aku membahas pria yang kamu sukai." Batin Enzo menatap gadis itu dengan lekat."Sebenarnya siapa pria itu?" Batin Enzo. Walaupun sebenarnya Enzo penasaran dengan sosok pria yang Yaya sukai, tapi ia tidak ingin membuat Yaya merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya, karena dengan lancang bertanya tentang hal pribadi gadis itu.
🌺🌺🌺🌺🌺
Jidan yang sedang mendapatkan tugas dari tuannya untuk bertemu dengan salah satu klien, yang kebetulan berada di hotel yang sama dengan tempat mereka menginap. Sedangkan Ardian, dia tidak ikut. Karena Ardian hanya ingin beristirahat dan tidak mau di ganggu.
Dengan kaki yang terus melangkah menyusuri lobby hotel itu, sedangkan matanya tetap membaca beberapa dokumen penting itu, takut ia melakukan kesalahan, yang membuat tuannya nanti akan marah besar.
Saat Jidan sedang melangkah dengan terburu-buru, mata juga tetap tertuju kearah kertas ditangannya. Membuat Jidan tidak terlalu fokus dengan sekitarnya. Sampai, pria itu tidak sengaja menabrak seorang gadis yang berjalan berlawanan arah dengannya. Karena gadis itu juga sedang melangkah dengan terburu-buru sama seperti Jidan.
Buukk
__ADS_1
Tumpukan berkas yang Jidan pegang jatuh ke atas lantai bersamaan dengan buku yang gadis itu pegang. Gadis itu sedang memegang buku tebal, bahkan dia membawa buku itu bukan hanya satu melainkan tiga.
"Maaf mas, saya tidak sengaja." Ucap gadis itu sambil berjongkok mengambil berkas yang tadi Jidan jatuhkan. Samahalnya dengan Jidan yang ikut berjongkok mengambil buku yang gadis itu jatuhkan.
"Saya juga minta maaf mba, karena tidak sengaja menabrak anda tadi. Soalnya saya sedang terburu-buru." Jawab Jidan, sambil menatap gadis didepannya.
Gadis didepannya terlihat manis. Apalagi mengenakan hijab kekinian yang menutup kepalanya, yang membuat gadis itu semakin terlihat anggun, hanya saja wajah cantik dan manisnya tertutupi oleh kaca mata tebal, membuat dia terlihat seperti gadis culun.
"Iya mas, saya juga yang salah tadi. Karena jalan nggak lihat-lihat." Jawab gadis itu sambil tersenyum canggung.
"Ini mas."
"Ini mba."
Keduanya sama-sama mengulurkan tangan mereka untuk memberikan buku serta berkas yang mereka ambil tadi. Karena buku yang gadis itu bawah dipegang oleh Jidan, sedangkan berkas Jidan dipegang oleh gadis itu.
"Terimakasih mas."
"Terimakasih mba." Ucap keduanya secara bersamaan."Sekali lagi maaf ya mba."
"Iya mas, nggak apa-apa. Saya juga minta maaf soal tadi." Jawab gadis itu.
.
.
Ardian sedang duduk di kursi sambil menikmati secangkir kopi dan juga kukis sebagai camilannya. Ardian yang berada di balkon kamarnya, begitu sangat menikmati suasana siang ini yang begitu sangat panas, karena hari sudah semakin siang dan sebentar lagi akan sore.
Suara ponsel yang berdering, membuat Ardian yang tadi menatap perkotaan kearah ponselnya.
"Persiapkan semuanya. Sore saya langsung kesana." Jawab Ardian, yang langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa berbelit-belit dengan hal lain.
Ardian menyimpan ponselnya di atas meja, lalu dia berdiri dari duduknya. Untuk melihat kearah sekelilingnya. Apalagi pemandangan didepannya akan terlihat sangat cantik di mata, jika di lihat dari ketinggian, seperti yang Ardian lakukan sekarang.
"Melisenda Nalda Alessandro. Wanita yang aneh, tapi aku suka. Lihatlah bagaimana aku membuatmu menuruti perkataan ku dan membuat kamu membuang kesombongan mu itu." Ucap Ardian tersenyum misterius."Lihatlah bagaimana aku membuat kamu jatuh dalam pesona tuan Ardian." Gumam Ardian kembali. Yang sepertinya memiliki rencana, dari balik wajah diamnya."Wanita yang menarik."
.
.
__ADS_1
Nalda tersenyum puas, saat melihat kue Banana Roll Cake, yang dia buat telah tersusun rapi di atas piring.
"Pasti Harum suka dengan kue yang aku buat." Ucap Nalda, mengingat gadis kecil yang beberapa bulan ini selalu menemani kesendiriannya."Tapi jam berapa Harum kesini." Nalda mengambil ponselnya yang berada di atas meja makan.
Saat Nalda akan menghubungi keluarga Harum. Suara bel pintu, menandakan kalau ada yang datang."Pasti itu Harum." Dengan tidak sabaran, Nalda melangkah kearah ruangan tamu untuk menyambut kedatangan Harum. Apalagi dari tadi Nalda menunggu kedatangan gadis kecil itu.
Nalda yang sudah berada di ruangan tamu, bisa melihat kalau yang membuka pintu adalah art nya. Yaitu Bu Titi."Siapa yang datang, bik?"
"Itu, nyonya. Nona Harum, dan juga tuan Fadil." Jawab bik Titi, membuat Nalda tersenyum senang. Dengan langkah yang sedikit cepat mendekat kearah pintu, untuk menyambut kedatangan Harum.
"Assalamualaikum dokter Melisenda." Sapa kedua orang itu sambil tersenyum ramah.
"Waalaikumsalam, tuan Fadil. Harum." Jawab Nalda membalas senyuman keduanya.
"Saya titip Harum dokter Melisenda. Nanti jam lima saya akan menjemputnya."
"Baik tuan Fadil. Harum akan aman bersama dengan saya." Jawab Nalda.
"Harum, Kak Fadil pergi kerja dulu. Nanti kalau Harum mau pulang, Harum bisa meminta dokter Melisenda untuk menghubungi kak Fadil, atau om tampan. Nanti om tampan atau kak Fadil jemput." Suruh Fadil, menatap Harum.
"Baik kak." Jawab Harum, membuat Fadil tersenyum gemas. Karena Harum bukan saja gadis yang pintar, tapi dia juga gadis yang penurut.
"Bagus, anak pintar." Ucap Fadil sambil mengusap kepala Harum."Dokter Melisenda, saya ijin pamit. Assalamualaikum."
"Iya tuan Fadil, silahkan. Waalaikumsalam."
Harum dan Nalda menatap Fadil yang sudah masuk kedalam mobilnya, lalu berlalu pergi meninggalkan kediaman Nalda.
"Ayo masuk rum, dokter habis buat kue Banana Roll Cake, buat kamu."
"Wah, pasti enak ya dokter." Ucap Harum yang terlihat senang saat Nalda mengatakan kalau ia memasak kue.
"Dokter, akan menyiapkan kue nya dulu. Harum bisa tunggu dokter di taman belakang." Harum menganggukkan kepalanya mengerti.
Sepertinya hari-hari biasanya. Nalda akan menyiapkan kue berserta minuman, yang Harum sukai. Karena sering kerumahnya untuk melakukan beberapa terapi. Nalda sampai hafal, Apa saja yang disukai dan juga tidak disukai oleh Harum.
Apalagi gadis kecil itu tidak pilih-pilih soal makanan. Apa saja yang Nalda siapkan pasti Harum akan memakannya.
...----------------...
__ADS_1