
Cinta kedua untuk Ardian.
"Bik. Kenapa bik Susi menghentikan ceritanya? Sebenarnya apa yang terjadi." Tanya Ardian penasaran saat bik Susi menghentikan ceritanya, dan memilih untuk diam.
Sedangkan Jidan yang dari tadi mendengar cerita bik Susi hanya bisa menduga-duga sesuatu, sampai membuat wanita paruh baya itu menghentikan ceritanya.
Bik Susi yang memang tidak bisa melihat apapun, memalingkan kepalanya kearah Ardian.
"Setelah saya membuka kain itu, saya bisa melihat jasad kedua putra saya tuan...Hikss." Jawab bik Susi membuat Ardian maupun Jidan sama-sama terkejut."Mereka mati dengan cara mengenaskan tuan, karena sebagian organ mereka sudah diambil. Bahkan saya masih mengingat, bagaimana kedua mata putra saya meneteskan darah segar, yang berarti kedua mata mereka baru saja di lepaskan." Jelas bik Susi terus menangis, mengingat bagaimana menyedihkan nya kedua putranya saat itu, yang meninggal secara mengenaskan. Bik Susi sangat menyesal karena percaya dengan orang jahat. Andaikan saja waktu bisa di putar, maka bik Susi tidak akan pernah percaya dengan kedua penjahat itu.
"Bukan saja itu tuan. Mereka juga langsung menyiksa saya hari itu, tapi mereka tidak berniat untuk membunuh saya seperti kedua putra saya tuan, melainkan mereka mengambil kedua mata saya, lalu di jadikan sebagai mainan mereka disana. Setelah dua bulan saya tersiksa, di sana. Saya di bantu oleh seseorang untuk keluar dari sana, dan membawa saya kesini."
"Siapa orang itu bik?"
"Saya tidak tau tuan, karena orang itu tidak memberitahukan siapa dia. Tapi saya yakin, kalau orang itu bukanlah anak buah di sana." Jawab bik Susi."Orang itu juga menyuruh saya untuk mencari anda tuan, yang katanya berada disini."
"Mencari saya?" Tanya Ardian semakin kebingungan.
"Iya tuan, orang itu menyuruh saya memberikan tuan ini." Ucap wanita paruh baya itu sambil mencari sesuatu di dalam tasnya, sampai dia menemukan sesuatu, yaitu sebuah kertas terbungkus rapi, dan belum terbuka sama sekali."Bertahun-tahun saya hidup dijalan tuan, hanya untuk meminta maaf pada anda, dan juga non Mayla, serta memberikan benda itu pada anda tuan." Jelas bik Susi sambil memperlihatkan kertas yang ia tidak tau apakah itu.
Ardian mengambil kertas itu, lalu mengamati nya. Kertas yang masih terlipat rapi, hanya saja kertas itu sudah terlihat sangat usang karena sudah bertahun-tahun terlipat.
"Mukim Allah, masih ingin saya hidup sampai sekarang tuan. Karena Allah masih ingin memberikan saya waktu untuk meminta maaf, dan juga memberikan amanah ini langsung pada tangan tuan." Jelas bik Susi, membuat Ardian kembali menatap kearahnya."Tuan, tolong maafkan kesalahan saya tuan. Andaikan sebelas tahun yang lalu say tidak berkhianat, mungkin semuanya ini tidak akan terjadi. Andaikan saja saat itu saya bercerita pada anda atau non Mayla, mungkin kedua anaknya masih bisa di selamatkan, dan non Mayla tidak terjebak dalam rencana jahat mereka." Ucap bik Susi memberitahukan penyesalannya selama bertahun-tahun ini.
__ADS_1
Sebenarnya bik Susi ingin mati saja saat hidup seorang diri di luar sana tanpa bantuan orang lain, bahkan ia juga beberapa kali hampir mati saat bertahan hidup. Tapi bik Susi mencoba untuk tetap kuat dan bertahan, karena ada sebagian dosa nya yang belum di maafkan. Apalagi beberapa tahun yang lalu, ia telah menghancurkan kebahagiaan orang lain, karena keegoisan nya. Walaupun saat itu dia sendiri dalam keadaan terpaksa.
"Semuanya sudah terjadi bik, dan mungkin kita tidak akan bisa mengulang nya lagi." Sambung Ardian mengingat akan kesalahan sebelas tahun yang lalu, dimana ia mengusir istrinya yang ternyata sedang mengandung saat itu. Rasa bersalah Ardian semakin menjadi saat mengetahui kebenaran malam itu, kalau ternyata istrinya di jebak, hanya saja ia tidak mempercayainya, dan malah mengusir nya di malam yang sedang turun hujan.
"Mendengar cerita bik Susi. Saya semakin merasa bersalah bik, jika mengingat waktu itu. Andaikan saja waktu bisa di putar, saya akan kembali dan tidak akan mengusirnya. Andaikan saja saya mengetahui cerita ini dari awal, mungkin saya sudah bahagia dengan istri saya dan juga anak saya bik. Andaikan bik Susi datang lebih awal, mungkin dia tidak akan pergi." Ucap Ardian memberitahukan kesedihan nya setelah ia mendengar cerita bik Susi.
"Maafkan saya tuan."
"Untuk apa anda meminta maaf pada saya bik, karena kehidupan saya baik-baik saja. Tapi tidak dengan dia!" Jawab Ardian, yang tidak bermaksud membentak wanita paruh baya itu, hanya saja ia marah karena di permainkan selama bertahun-tahun.
Selama bertahun-tahun ia berpikir buruk tentang mantan istrinya. Ternyata istrinya tidak seperti apa yang dia pikirkan, bahkan setelah ia mengusir nya malam itu saat kondisinya sedang mengandung, wanita itu tidak pernah datang untuk meminta tanggung jawabnya. Tapi dia malah pergi jauh, sangat jauh, hanya untuk membuat dia tenang dengan pikiran buruknya. Sampai kebenaran satu persatu diperlihatkan, yang membuat Ardian akan terus merasa bersalah, semur hidupnya.
"Maafkan saya tuan. Saya benar-benar menyesal dengan apa yang saya perbuat." Ucap bik Susi terus mengulang-ulang permintaan maaf nya, walaupun kata maaf nya tidak akan merubah semuanya.
.
.
Bik Susi juga sudah mengetahui kalau ternyata Mayla sudah meninggal, dan anak yang Mayla kandung terlahir dengan selamat.
Mengetahui kebenaran, kalau Mayla sudah meninggal. Membuat bik Susi terus menangis, sampai membuat wanita paruh baya itu pingsan karena kelelahan.
Ardian tentu tau apa yang bik Susi rasakan. Karena, Ardian juga merasakan nya. Hanya saja penyesalan Ardian jauh lebih besar, mengingat luka yang dia torehkan bukalah sedikit.
__ADS_1
Setelah mengantarkan bik Susi di rumah sakit. Ardian memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan nya, dan memilih untuk beristirahat sebentar.
Ardian mengusap wajahnya dengan kasar saat mengingat wajah Mayla berputar di kepalanya. Apalagi tatapan sendu itu, membuat hati Ardian begitu sangat nyeri.
"Maafkan aku Mayla, maafkan aku. Mungkin kata maaf ku tidak akan bisa mengembalikan semua luka yang aku berikan. Apalagi selama bertahun-tahun aku bahagia di atas penderitaan kalian." Batin Ardian.
Ditengah-tengah penyesalannya, tiba-tiba saja suara ponsel Ardian berdering, yang membuat pandangan pria itu beralih kearah ponselnya yang kini tergeletak di atas sofa.
Walaupun malas menerima panggilan orang lain, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan telfon itu, karena takut kalau yang menelpon itu adalah hal yang penting.
"Tuan...."
"Terus lacak, aku akan kesana." Ucap Ardian terkejut sekaligus panik saat mendengar informasi dari seberang sana.
Ardian mengotak-atik ponsel nya untuk mencari nomor Jidan."Jidan, siapkan helikopter secepatnya! Kita kembali ke kota S!" Perintah Ardian, membuat Jidan kebingungan diseberang sana."Nanti aku akan jelaskan setelah kita sampai di helikopter." Lanjut Ardian kembali, yang mengerti kalau Jidan pasti sedang kebingungan sekarang dengan perintah nya.
Dengan tergesa-gesa, Ardian mengambil jas nya yang tadi dia lepas dan dia taruh di atas tempat tidur. Ardian tidak memakai nya kembali, melainkan ia pegang seperti Ardian membawa tas di tangannya
🍂🍂🍂🍂🍂
Pria itu mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Nalda."Kenapa kamu bertanya seperti itu Nal? Tentu kamu tau, kalau kita sudah lama tidak bertemu dengan dia." Ucap pria itu membuat Nalda semakin mengepalkan tangannya geram dengan pria di depannya yang lagi-lagi memberikan nya jawaban yang tidak jujur.
"Benarkah? Lalu untuk apa kalian pergi di hotel R, lima bulan yang lalu. Bukan saja itu. Bahkan kalian menginap dalam kamar yang sama."
__ADS_1
...----------------...