
Cinta kedua untuk Ardian
Tidak berselang lama. Nalda keluar dari rumahnya, setelah merapikan penampilan nya. Nalda melangkah kearah mobil Ardian yang kini sudah terparkir didepan sana.
"Pak Samsir, saya mau keluar sebentar." Ijin Nalda dengan sopan.
"Iya nyonya, hati-hati dijalan." Jawab pak Samsir sambil tersenyum.
Nalda melangkah kearah mobil Ardian, lalu mengetuk kaca mobil itu dengan pelan."Maaf sudah membuat mu lama menunggu, Ardian." Ucap Nalda saat Ardian membuka kaca mobilnya.
Sedangkan Ardian yang berada didalam mobil, menatap Nalda tanpa berkedip saat melihat penampilan wanita itu, yang malam hari ini terlihat semakin cantik dari biasanya. Walaupun itu hanya penampilan sederhana saja, tapi Nalda tetap terlihat cantik.
Malam ini, Nalda mengenakan celana panjang, yang terbuat dari kain berbahan denim berwarna hitam, yang di padukan dengan baju kaos putih berlengan panjang, serta tas selempang berukuran mini, yang kini tergantung cantik di pundaknya.
Meka up natural, dan juga rambut yang di kuncir kuda membuat Nalda terlihat seperti gadis berusia belasan tahun, karena penampilan nya yang berbeda malam ini.
"Ardian, ada apa?" Tanya Nalda melambaikan tangan nya didepan wajah Ardian, saat melihat pria itu hanya diam sambil menatap kearahnya.
"Ah, iya. Maaf, Nal." Jawab Ardian salah tingkah, karena ketahuan menatap wanita itu
"Maaf sudah membuat mu lama menunggu." Ucap Nalda merasa tidak enak karena pria itu pasti sudah lama menunggunya.
"Tidak apa, Nal. Aku juga baru disini." Jawab Ardian tidak sepenuhnya harus berbohong. Karena pria itu tiba di sana sekitar lima belas menit yang lalu."Masuklah." Suruh Ardian.
"Kamu sendirian?" Tanya Nalda saat tidak melihat sekertaris pria itu. Karena sebelum Nalda datang, Jidan sudah pergi lima menit yang lalu, untuk menjemput Nada seperti permintaan Ardian.
"Tadi, aku bersama dengan Jidan. Tapi Jidan pergi menjemput temannya." Jelas Ardian, membuat Nalda menganggukkan kepalanya kecil, tanda kalau ia mengerti."Masuklah. Bukannya kita mau pergi?" Ucap Ardian mengingatkan Nalda, karena wanita itu belum masuk kedalam mobilnya.
"Maaf, aku sampai melupakan itu." Ucap Nalda tersenyum lucu saat menyadari kalau ia hanya berdiri diluar mobil tanpa ikut masuk kedalam, padahal pria itu tadi sudah menyuruhnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Ardian saat Nalda sudah duduk disebelahnya, sedangkan pria itu yang mengemudi malam ini. Sebab sekretarisnya sedang menjalankan tugasnya. Anggaplah ini sebagai pendekatan nya pada Nalda, tanpa gangguan orang lain.
"Aku akan memberitahumu, tapi sekarang kita jalan dulu." Jawab Nalda, tanpa menjelaskan kemana mereka akan pergi. Sedangkan Ardian hanya menurut dan menyalahkan mesin mobilnya, kemudian meninggalkan kediaman Nalda.
Para sekuriti yang menjaga didepan, hanya menatap kepergian mobil yang membawa nyonya mereka.
"Apakah itu kekasih nya nyonya Nalda?"
"Aku juga kurang tau. Tapi melihat nyonya Nalda begitu sangat dekat dengan pria itu. Aku yakin kalau mereka memiliki hubungan." Jawab pak Samsir, membuat pria paruh baya seumuran dengannya hanya menganggukkan kepalanya."Daripada kita mengurusi hubungan nyonya, Nalda. Sebaiknya kita lanjutkan bermain catur kita." Lanjut pak Samsir menatap papan catur didepannya.
Pada akhirnya, kedua pria paruh baya itu kembali pada permainan catur mereka, yang terlihat serius.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Ardian menatap tempat yang dipadati oleh orang-orang. Bahkan tempat itu terlihat menarik, karena adanya beberapa wahana dan juga penjual yang menjual aneka makanan serta berbagai benda yang memiliki kegunaan masing-masing.
Berbeda dengan Ardian yang menatap tempat itu dengan tatapan kebingungan, karena Ardian belum pernah menginjak tempat itu. Tapi tidak dengan Nalda, yang menatap tepat itu dengan senyuman di wajahnya.
"Tempat apa ini Nal?" Tanya Ardian menoleh kearah Nalda yang menatap tempat itu dengan wajah terlihat bahagia.
"Ini namanya pasar malam."
"Pasar malam?" Lanjut Ardian tidak mengerti.
"Iya, tempat yang menarik selain mall." Jawab Nalda menoleh kearah Ardian."Ayo kita masuk, pasti kamu akan menikmati suasana disini. Aku yakin kalau kamu belum pernah kesini bukan?" Ucap Nalda yang begitu sangat antusias saat mereka akan memasuki tempat itu.
"Ayo!" Tangan itu mengengam tangan Ardian, lalu menarik nya masuk kedalam. Antara sadar atau tidak, Nalda tetap mengengam tangan pria itu tanpa berniat melepaskannya.
Sedangkan Ardian hanya mengikuti langkah wanita itu, yang entah akan membawa nya kemana. Karena Ardian hanya pasrah, apalagi tangan mungil dan lembut itu memegang tangannya, membuat desiran aneh mengalir di tubuhnya.
Bukan karena nafsu, seperti ia berdekatan dengan wanita lain. Tapi ada rasa nyaman yang membuat nya tenang, dan merasa seperti tidak ingin dilepaskan gegaman tangan itu.
Nalda dan Ardian berkeliling, menikmati pasar malam yang begitu sangat ramai, karena banyak orang-orang yang datang untuk menikmati suasana disana.
"Ardian, ayo kita coba makan itu. Pasti kamu menyukainya!" Ucap Nalda yang terlihat semangat saat melihat sebuah penjual makanan, yang sepertinya sedang membakar sesuatu yang berbentuk seperti bakso. Hanya saja itu di bakar. Entahlah apa namanya, tapi makanan itu sangat dipadati oleh orang-orang yang ingin membelinya.
Ardian yang melihat wajah semangat Nalda, hanya mengikuti wanita itu. Karena ia sendiri tidak mengerti apa yang harus dia lakukan. Melihat wanita itu bahagia, itu sudah membuat Ardian ikut senang.
"Baik, mba. Tunggu sebentar." Jawab pria itu yang masih saja mengipasi beberapa bentolan bakar itu. Asap yang keluar, membuat aromanya mengelilingi pasar malam.
"Makanan apa itu, Nal?Terlihat seperti bakso, hanya saja di bakar?" Tanya Ardian mantap makan itu dengan tatapan bingung.
"Itu namanya pentolan bakar. Pentolan sama seperti bakso, hanya saja cara penyajiannya berbeda-beda." Jelas Nalda menjelaskan, karena tau kalau pria itu pasti tidak mengerti.
"Hmmm. Emangnya beda-beda ya, cara penyajiannya?"
"Iya penyajiannya berbeda-beda, tapi rasanya sangat enak, tergantung pengolahan nya gimana. Nanti kita coba." Jawab Nalda, membuat pria itu menganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun masih bingung, tapi Ardian tetap menganggukkan kepalanya.
Sekitar lima menitan menunggu karena banyak yang mengantri, akhirnya pentolan yang Nalda pesan sudah jadi.
"Angsulannya untuk bapak aja." Ucap Ardian sambil memberikan uang biru, pada pria itu, sehingga Nalda yang sedang merogoh tasnya untuk mengambil uang menghentikan tangannya.
"Terimakasih mas." Ardian hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil, setelah itu melangkah meninggalkan tempat itu.
"Kenapa kamu membayar nya." Protes Nalda.
__ADS_1
"Nggak usah protes, ambil." Jawab Ardian memberikan pentolan itu ke tangan Nalda.
"Tapi..."
"Ngga ada tapi-tapian, sekarang ayo kita jalan. Bukannya kamu ingin mengajakku berkeliling disini." Potong Ardian cepat, agar ia tidak mendengar protesaan wanita disampingnya itu.
"Baiklah." Dengan pasrah, Nalda mengikuti langkah pria itu. Sedangkan Ardian hanya terkekeh dengan tingkah Nalda yang menurut nya sangat lucu.
Jika Ardian dan Nalda sedang berkeliling di tempat itu, sambil mencoba makanan baru. Sebenarnya hanya Ardian, karena Nalda sudah pernah mencoba jajanan sederhana yang dijual di tempat itu.
Berbeda lagi dengan seorang gadis, yang sedang menggerutu kesal, sambil menatap kearah pria yang sedang memarkirkan mobilnya itu.
"Kamu membawaku kemana sih!" Protes gadis itu, membuat pria tadi langsung menatap kearahnya.
"Untuk kali ini, kamu nurut ya Nad. Karena tugas ku bergantung sama kamu." Jawab Jidan selembut mungkin agar gadis itu mau mengerti, karena Jidan tidak ingin berdebat dengan gadis didepannya.
Ya, gadis dan pria itu, tidak lain adalah Nada dan juga Jidan yang baru saja datang. Sesuai permintaan Ardian, Jidan langsung membawa gadis itu secara paksa, karena tidak ingin gajinya di potong hanya karena tugas konyol bos nya.
"Maksudmu apa sih, aku ngga ngerti?" Tanya Nada tidak mengerti. Apalagi pria itu membawa secara paksa, tanpa mengatakan apapun. Bahkan ia kesini hanya berdandan ala kadarnya, sampai melupakan kaca matanya.
"Nanti aku jelasin. Sekarang kita masuk, Anggaplah ini sebagai jalan-jalan untuk mu. Daripada kamu trus bersama dengan bukumu." Jelas Jidan, membuat Nada mendengus kesal.
"Jangan menyindir ku!"
"Aku tidak menyindir mu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Jawab Jidan, bukannya membuat gadis itu tenang, tapi semakin kesal dengan pria disampingnya."Ayo kita masuk kedalam." Jidan melangkah duluan, tapi langkahnya harus berhenti saat ia tidak menyadari kalau Nada tidak mengikutinya.
"Kenapa kamu tidak masuk? Apakah kamu marah?" Tanya Jidan menatap gadis itu dengan bingung.
Mendengar pertanyaan Jidan, Nada hanya menghembuskan nafasnya. Karena pria itu sangat tidak peka dengan apa yang terjadi.
"Aku tidak bisa masuk, Jidan. Karena aku lupa membawa kaca mataku. Jika aku paksakan untuk berjalan, aku tidak bisa. Karena jalan terlihat buram." Jelas Nada dengan wajah yang di tundukan, karena malu dengan keadaan nya yang berbeda.
Menyadari ucapan Nada, membuat Jidan merasa bersalah. Karena terlalu terburu-buru ia sampai melupakan kalau gadis itu tidak bisa berjalan dengan normal tanpa kaca matanya.
"Maaf, Nad. Aku sungguh lupa." Ucap Jidan merasa bersalah."Tapi kamu tenang aja, aku punya sesuatu untukmu." Jidan kembali melangkah kearah mobilnya. Lalu mencari sesuatu didalam mobil itu, sampai dia menemukan beda yang dicari.
"Pakai lah." Perlahan-lahan tangan Nada meraih benda itu."Kamu tenang saja, itu kaca mata baru koh. Aku sengaja membeli nya untuk mu." Jelas Jidan saat menyadarinya kalau Nada tidak memakai nya, melainkan dilihat saja.
Mendengar jawaban Jidan, membuat Nada terdiam. Benarkah pria itu sengaja membelikan nya untuk dirinya?
"Te_Terimakasih." Dengan terbata-bata karena gugup, Nada memakai kaca mata itu lalu menatap kearah Jidan, yang sekarang sedang menatapnya dengan tersenyum.
"Kamu sangat cocok mengunakan kaca mata itu. Terlihat cantik." Mendengar pujian Jidan, membuat Nada salah tingkah, tapi ia berusaha untuk menenangkan perasaan nya itu.
__ADS_1
"Terimakasih."Cicit Nada tidak terdengar sama sekali di kuping Jidan.
...----------------...