Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Ardian menatap gadis kecil itu. Gadis kecil, yang ternyata adalah putri nya. Putri yang ia tidak tau kehadirannya hanya karena kesalahannya.


Putri yang selama ini menderita, dan tersiksa menghadapi dunia yang begitu sangat kejam di usianya yang terbilang masih kecil.


Apakah dirinya pantas disebut ayah? Apakah ia pantas memanggil Harum putri nya, setelah apa yang terjadi? Pertanyaan itu membuat Ardian begitu sangat bingung berhadapan dengan sang anak. Karena dirinya sangat takut mendapatkan penolakan nanti, saat putrinya mengetahui kalau ia adalah ayahnya. Ayah yang selama ini mengabaikan nya, bahkan tidak pernah datang untuk membantu nya saat dia berada didalam keadaan sulit.


"Ardian, kenapa kamu diam?" Tanya Nalda memegang pundak Ardian saat melihat kalau pria itu hanya diam.


"Ah, Maaf."


"Saya tidak menyangka, kalau kita akan bertemu disini tuan, Fadil." Jawab Ardian berusaha untuk menetralkan perasaan haru nya saat melihat kehadiran putrinya disana.


Ardian merasa ingin memeluk, bahkan mencium putrinya itu. Tapi itu tidak akan mungkin, karena Ardian takut kalau Harum akan takut pada nya. Mengingat cerita Nalda, kalau Harum memiliki trauma dengan pria dewasa seperti dirinya.


"Apakah anda sedang kencan tuan, Ardian?" Tanya Fadil sambil menatap kearah Nalda juga Ardian secara bergantian.


"Bukan seperti itu...." Nalda merasa malu saat Fadil menatap kearah mereka.


"Bisa dibilang begitu." Jawab Ardian, yang langsung mendapatkan tatapan terkejut dari Nalda.


"Kalau begitu, selamat tuan, Ardian. Semoga hubungan kalian langgeng dan sampai di pelaminan."


"Bukan...." Lagi-lagi perkataan Nalda harus terhenti karena Ardian yang duluan menjawab nya.


"Amminn, terimakasih doa nya tuan Fadil." Jawab Ardian sambil tersenyum, melihat kearah Nalda yang sekarang sedang kesal menatapnya.


Tatapan Ardian beralih menatap kearah Harum, yang kini sedang menatap kearahnya, tapi sedikit menyembunyikan tubuhnya dibelakang Fadil.


"Harum, mau eskrim." Tawar Ardian sambil membungkukkan tubuhnya agar ia bisa lebih dekat lagi menatap gadis kecil itu.


Sedangkan Fadil, Fina dan juga Nalda melihat instruksi antara anak dan ayah itu. Apalagi suara lembut Ardian membuat Fadil tersenyum.


"Melihat perilaku lembut mu pada, Harum. Membuatku ingin memberitahukan mu, Ardian. Kalau dia putrimu. Tapi, aku ragu apakah kamu akan percaya atau tidak." Batin Fadil menatap lekat-lekat pria yang memiliki umur lebih tua dari nya.


"Ardian, bertahan lah sebentar. Setelah itu kamu bisa mengatakan pada Harum. Kalau kamu adalah papa nya. Papa, yang selama ini Harum tunggu." Batin Nalda merasa sedih saat ia melihat kesedihan dan juga rindu dari tatapan Ardian.


"Aku tau kamu ingin memeluk nya, Ardian. Tapi kamu tidak bisa melakukannya sekarang, karena putri mu memiliki trauma dengan pria dewasa seperti mu." Batin Ardian menatap lekat-lekat wajah cantik itu. Wajah yang begitu sangat mirip dengannya, hanya saja bola mata mereka berbeda. Karena Harum memiliki bola mata yang sama seperti ibunya.


"Maafkan papa, nak. Maafkan papa yang tidak mencari tau akan kehadiran mu. Maafkan papa, karena tidak bisa melepaskan mu dari kekejaman Nadila waktu itu. Andaikan papa tau, mungkin kamu tidak seperti sekarang. Andaikan papa tau, mungkin kamu tidak akan tumbuh dengan batin terluka." Lagi-lagi Ardian hanya bisa mengatakan nya dalam hatinya.


Walaupun dirinya ingin mengatakan semua rasa bersalahnya, tapi itu tidak akan mungkin mengingat perkataan Nalda waktu itu. Kalau ia tidak boleh mengakui Harum putri nya, sebelum ia belum mengetahui siapa orang yang selama ini berkhianat.


"Ah, kenapa sesakit ini."


Ardian cepat-cepat mengalihkan tatapannya kearah lain untuk menghapus air matanya, saat merasakan kalau ia akan menangis. Kenapa dirinya bisa sehcengeng ini, padahal dulu ia tidak seperti ini.


Apa yang Ardian rasakan, Harum juga merasakan nya. Karena gadis menginjak dewasa itu, ingin memeluk pria yang tidak lain adalah papa nya. Hanya saja Harum ragu, karena ia masih mengingat akan perkataan Ardian beberapa bulan yang lalu.


"Pa.. paman bisa menggantinya yang baru jika, Harum tidak suka." Ucap Ardian saat menyadari kalau ia hampir saja memanggil dirinya 'papa'


"Tidak perlu, paman. Harum bisa membelinya sendiri." Tolak Harum dengan sopan sambil tersenyum.

__ADS_1


Ardian yang mendengar penolakan putri nya tiba-tiba merasa sesak pada dadanya, karena Harum menolak pemberiannya, walaupun itu dengan sangat lembut. Tapi tidak tau kenapa. Dada nya terasa sangat sesak. Bahkan ia ingin menangis, padahal ini hanyalah penolakan ringan, bagaimana dengan nanti?


Sampai ingatan Ardian kembali teringat dengan perkataan nya beberapa bulan yang lalu. Dimana ia mengatakan kalau dirinya menolak anak dari rahim Mayla.


"Walaupun dia anakku! Aku tidak akan sudi menerimanya, karena dia hadir didalam rahim wanita mur**an itu! Saya tidak akan bisa menerima anak itu, bagaimana pun dia. Karena saya begitu sangat membenci Mayla Saynia. Wanita m**ahan yang mau menjual dirinya!"


Kata-katanya waktu itu membuat Ardian semakin merasa bersalah. Jika saja dia tau dari awal, mungkin ia tidak akan mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan hati. Andaikan saja ia tau, mungkin sekarang ia sudah bahagia bersama dengan istri dan juga putrinya. Andaikan saja waktu itu, ia mendengarkan penjelasan Mayla, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Dan sekarang Ardian hanya bisa berandai-andai, karena Ardian tidak bisa melakukan seperti apa yang dia inginkan. Semua yang terjadi tidak akan bisa terulang, walaupun Ardian mengharapkan itu. Apalagi dia mengingat, kalau mantan istrinya ternyata sudah meninggal. Lalu apa yang akan dia harapkan setelah nya.


Meminta maaf dan meminta kesempatan kedua untuk memperbaiki semua luka yang pernah ia torehkan?


Tapi apakah dirinya masih bisa memperbaiki semuanya? Atau ia malah semakin menambah luka baru? Jika Ardian mengetahui kalau ucapannya waktu itu sudah didengar oleh Harum. Karena gadis kecil itu memang berada disana saat Ardian mengucapkan kata-kata menyakitkan itu.


Apakah Ardian bisa berebut hati Harum, yang sudah terlanjur terluka?


Sedangkan Harum yang melihat wajah sedih papa nya, merasa bersalah. Gadis itu tidak tau, kalau penolakan nya akan membuat sang papa sedih.


"Tapi karena paman sudah memberikan nya ke, Harum. Harum, akan menerimanya." Ucapan Harum tersenyum, lalu meraih eskrim itu dari tangan Ardian dengan tersenyum kecil, karena Harum masih merasa canggung jika berdekatan dengan papa nya.


Perlakuan sopan yang Harum tunjukkan, berhasil membuat mereka menatap Harum, dengan tatapan haru.


Lihatlah sikap bijak Harum. Padahal tadi dia sudah menolak pemberian Ardian, tapi karena merasa tidak enak, gadis kecil itu kembali menerima pemberian Ardian.


"Begitu sangat baik sifatmu, Rum. Kamu begitu sangat menghargai orang di sekitar mu. Pantas saja Wiyah mengadopsi mu sebagai anaknya." Batin Nalda terus menatap Harum dengan tatapan penuh kagum. Disaat gadis seusia nya masih ingin bermanja-manja. Tapi tidak dengan Harum yang sudah memiliki pikiran dewasa.


"Maafkan papa." Lirih Ardian hampir tidak terdengar. Ardian mengusap matanya yang tiba-tiba saja berembun, mengunakan punggung tangan nya. Pria dewasa itu berusaha untuk tersenyum, walaupun senyumannya itu membuat nyeri pada dada nya.


"Harum, menyukainya?" Tanya Ardian, yang mendapatkan anggukan kepala dari Harum.


"Iya paman, Eskrim nya sangat enak." Jawab Harum sambil menjilat eskrim ditangannya yang mulai tersisa sedikit.


.


.


Sedangkan Fadil dan Fina memutuskan untuk beristirahat, lantaran Fadil harus menemani Fina yang sudah kelelahan karena berkeliling, mengingat kandungan Fina juga semakin membesar, yang membuat tubuh itu tidak boleh terlalu kelelahan.


Fadil membiarkan Ardian dan Nalda membawa Harum, lantaran tidak ingin membuat Harum sedih, jika dia harus pulang padahal Harum belum puas berkeliling.


"Harum. Apakah Harum mau beli itu, nak?" Tanya Ardian dengan lembut menoleh kearah Harum saat ia melihat penjual, yang menjual aneka boneka.


Harum hanya terdiam saat mendapatkan pertanyaan dari papa nya. Lantaran sepanjang perjalanan, pria itu selalu bertanya. Harum menginginkan apa, dan tidak segan-segan untuk membeli nya dengan jumlah yang sangat banyak jika Harum sudah mengatakan kalau dia menginginkan barang itu. Seperti contohnya tadi, saat ia menginginkan sebuah balon. Ardian langsung membeli nya dan bukan hanya satu saja, melainkan lima sekaligus.


"Tidak usah paman, ini sudah terlalu banyak." Jawab Harum dengan sopan sambil melihat balon serta beberapa mainan yang Nalda pegang.


Sedangkan Nalda hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena merasa lucu dengan tingkah Ardian. Lihatlah bagaimana pria itu memperlakukan putri nya sangat lembut, bahkan apa yang Harum inginkan Ardian langsung membelinya.


Hanya saja Harum tidak terlalu banyak mau, karena gadis itu hanya mau membeli beberapa saja. Nalda semakin kagum dengan sifat Harum yang tidak serakah. Padahal gadis itu bisa memanfaatkan kebaikan Ardian dengan membeli apa saja. Tapi Harum tidak memiliki sifat serakah, sehingga membuat dia banyak menolak tawaran Ardian.


"Baiklah, jika Harum tidak mau." Lagi-lagi Ardian hanya pasrah saat putrinya menolak tawarannya, padahal sepanjang jalan Ardian banyak menwarkan mainan. Bahkan makanan yang mungkin putrinya suka. Tapi lagi-lagi Harum menolak nya.


"Tidak om, ini sudah lebih dari cukup. Mainan nya juga sudah banyak."


"Tidak usah, paman. Tadi Harum habis membeli makanan, dan Harum juga masih kenyang."

__ADS_1


Putri nya terlalu banyak memberikan nya alasan, yang membuat Ardian diam tidak berkutik. Sebagai seorang ayah yang masih mendekatkan diri pada anaknya. Merasa takut, kalau nanti Harum tidak nyaman dengan nya, jika ia terlalu memaksa.


Ketiganya kembali melajukan langkahnya. Sampailah mereka di sebuah penjual, yang menjual jagung rebus dan juga kacang-kacangan. Melihat itu Harum menghentikan langkah nya, yang di ikuti oleh Ardian dan juga Nalda.


Nalda maupun Ardian sama-sama terdiam saat melihat Harum melihat ke salah satu penjual. Sepertinya gadis kecil itu menginginkan sesuatu. Hanya saja dia ragu untuk memintanya.


"Maaf, paman. Bolehkah Harum meminta di belikan jagung itu?" Tanya Harum membuka suara, menatap kearah Ardian dengan tingkah yang malu-malu. Padahal rencananya tadi Ardian yang akan menawarkannya ke Harum. Apakah Harum mau membeli jagung itu atau tidak.


Tapi Harum malah memintanya duluan, dan hal itu yang membuat Ardian semakin senang, karena ini kali pertama Harum meminta sesuatu dari nya.


"Tentu boleh, Rum." Jawab Ardian bersemangat. Bahkan wajahnya sekarang menampilkan senyumannya.


Ardian memegang tangan Harum dengan lembut, lalu membawa nya ke penjual jagung rebus.


Harum yang di pegang tangan nya, langsung menegang. Bukan karena rasa takut. Hanya saja, Harum merasa terharu dengan genggaman tangan sang papa. Karena kalau dibilang. Ini adalah kali pertama Ardian menggenggam tangannya.


Nalda yang memang berada di situ lagi-lagi hanya mengikuti langkah pria itu. Walaupun sekarang, Nalda malah menjadi nyamuk di antara anak dan ayah itu. Tapi itu tidak masalah. Yang terpenting, Ardian bahagia dan bisa tersenyum seperti sekarang.


"Aku tidak tau, kalau Ardian akan melupakan ku sebentar setelah kejadian putrinya." Gumam Nalda terkekeh kecil melihat tingkah Ardian yang begitu sangat bersemangat saat berjalan dengan putrinya."Aku tidak salah membawa nya disini, dan mempertemukan mereka."


Ya, jika dibilang pertemuan mereka malam ini bukalah tidak sengaja. Melainkan sengaja Nalda buat. Karena siang tadi, Nalda tiba-tiba saja mendapatkan kabar dari orang suruhannya, yang selama ini mengawasi Harum, kalau malam ini Harum akan pergi ke pasar malam bersama dengan Fina dan Fadil.


Mendengar kabar itu, Nalda mengambil kesempatan untuk mempertemukan keduanya. Karena Nalda tau, kalau Fazar tidak akan membiarkan Ardian bertemu dengan Harum. Makanya itu Nalda sengaja membuat pertemuan mereka seperti tidak sengaja, padahal Nalda sudah memperkirakan semuanya, kalau mereka akan bertemu seperti sekarang.


"Terimakasih, Paman." Ucap Harum sambil tersenyum saat Ardian memberikan jagung rebus itu pada Harum.


"Iya sama-sama, Rum." Jawab Ardian membalas senyuman itu tidak kalah manisnya."Nal, buat kamu."


"Aku kira kamu melupakan kehadiran ku tadi." Sindir Nalda, membuat Ardian meringis.


"Maaf, aku terlalu senang." Jawab Ardian memasang wajah bersalah nya. Yang langsung mendapatkan tawa kecil dari Nalda.


"Harum, menyukai jagung rebus ya?" Tanya Nalda, menatap kearah Harum yang begitu sangat menikmati jagung rebus ditangannya.


"Iya, Bu dokter. Harum sangat menyukainya! Karena waktu masih sama mama. Mama akan membelikan Harum jagung ini saat mama gajian." Jawab Harum yang terlihat sedih saat menceritakan perihal almarhum sang mama."Ini adalah makanan termahal untuk Harum, Bu dokter. Waktu itu mama tidak memiliki uang jadi tidak bisa membelikan makanan mahal untuk Harum."


Mendengar cerita putri nya, semakin membuat dada Ardian terasa semakin sesak. Ternyata kehidupan putri nya dan juga almarhum mantan istrinya tidak sehbahagia seperti yang ada pada pikiran nya. Karen mereka serba kekurangan.


"Maafkan aku, Mayla. Maafkan papa nak." Batin Ardian memegang dada nya yang berdenyut sakit.


"Coba saja, waktu itu Harum melarang mama untuk berkerja. Mungkin mama tidak akan pergi. Mungkin mama masih disini." Lirih Harum, yang langsung mendapatkan pelukan dari Nalda. Nalda tidak tau seperti apa kehidupannya Harum waktu itu. Tapi mendengar cerita gadis kecil didalam pelukannya, membuat Nalda yakin, kalau kehidupan Harum tidak baik-baik saja.


"Sudah ngga usah sedih lagi. Mama sudah tidak disana. Jika mama melihat Harum sedih seperti sekarang, pasti mama juga akan sedih." Ucap Nalda dengan lembut, mengusap punggung Harum dengan lembut."Disini Harum, harus banyak-banyak berdoa untuk mama. Semoga mama tenang disana." Nasehat Nalda, mencoba untuk menenangkan gadis itu yang kini sudah terisak. Untung saja, tempat penjual jagung itu tidak terlalu ramai jadi orang-orang tidak terlalu memperhatikan mereka.


.


.


Setelah membeli jagung dan mendengarkan sedikit kisah sedih dari Harum. Kini waktu nya mereka untuk kembali pulang.


Dengan tatapan kosong, Ardian menatap Harum dengan rasa bersalah. Mungkin Ardian terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan hati nya yang menangis didalam sana.


"Sebelum kita pulang. Bagaimana kalau kita naik bianglala terlebih dahulu." Saran Nalda menatap kearah Ardian.

__ADS_1


Ardian tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya setuju."Boleh, ayo!" Walaupun masih dalam keadaan sedih, tapi Ardian mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja, dan berusaha untuk selalu tersenyum.


...----------------...


__ADS_2