Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


"Jidan. Apakah wanita ini, ibu Harum?" Tanya Ardian sambil memperlihatkan sebuah foto seorang wanita dan juga seorang gadis kecil yang sedang tersenyum.


Jidan menatap foto itu, lalu menganggukkan kepalanya."Iya tuan, kalau tidak salah dia mama nya Harum." Jawab Jidan yang pernah mendengar ucapan Fazar waktu itu kalau wanita didalam foto itu adalah ibu Harum.


Deg


Deg


Debaran jantung Ardian langsung tidak beraturan, berdetak sangat kencang saat mendengar jawaban Jidan."Bukannya ibu Harum sudah meninggal? Lalu kenapa Jidan mengatakan kalau Mayla adalah ibu Harum? Apakah ibu Harum adalah Mayla? Tapi itu tidak mungkin, karena Mayla sudah menikah dan memiliki anak perempuan seperti informasi yang aku dapatkan waktu itu. Apa jangan-jangan Harum adalah anak Mayla? Tapi kenapa informasi yang aku dapatkan kalau ibu Harum sudah meninggal?" Batin Ardian penuh dengan pertanyaan saat melihat foto itu.


Ya, Ardian sudah mengetahui kalau ternyata ibunya Harum sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Hanya saja Ardian tidak melihat seperti apa rupa dari ibunya Harum karena ia tidak mendapatkan foto sama sekali. Tapi hari ini ia mendapatkan foto seorang wanita yang menyerupai Mayla, mantan istrinya. Yang Ardian yakini adalah ibu Harum.


Tapi jika benar Mayla adalah ibu dari Harum. Lalu kenapa ia mendapatkan informasi tentang Mayla yang sudah menikah dan bahagia bersama dengan suami barunya dan juga anaknya? Sebenarnya apa yang ia tidak ketahui, apakah Jidan mengetahuinya juga tapi tidak memberitahukan nya?


"Apakah kamu tau sesuatu tentang Harum, Jidan?" Tanya Ardian menatap Jidan dengan tatapan menyelidik. Jidan yang tiba-tiba mendapatkan pertanyaan dari tuannya itu, menjadi bingung. Karena tiba-tiba saja Ardian bertanya seperti itu."Kenapa kamu diam, Jidan?! Apakah pertanyaan ku kurang jelas!" Tegas Ardian menatap Jidan yang kini terlihat kebingungan.


Sedangkan Jidan yang melihat tatapan Ardian, membuat Jidan seketika menjadi takut. Apalagi Ardian sedang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"JAWAB JIDAN!!" Bentak Ardian, membuat Jidan kaget, termasuk Azra yang berada didalam mobil pun ikut kaget karena bentakan Ardian barusan.


"Om Ardian, kenapa marah, bang?" Tanya Azra menatap kearah Ardian bergantian kearah Jidan.


Ardian yang mendengar suara Azra, baru sadar kalau sekarang ia berada didepan anak-anak. Jika saja ia marah maka anak-anak disini akan ketakutan karenanya. Ardian merubah ekspresi nya yang tadi datar dan juga menakutkan menjadi biasa saja. Hanya karena melihat foto Mayla, ia hampir saja kehilangan kontrol pada dirinya sendiri.


"Om Ardian tidak marah Ara. Tapi om Ardian sedang latihan drama." Jelas Jidan beralasan, yang membuat Ardian membulatkan matanya mendengar ucapan Jidan barusan.


"Sejak kapan aku bermain drama?" Gerutu Ardian didalam hatinya. Rasanya ia ingin memarahi anak buahnya itu.


"Bang Jabir, nggak bohong kan?" Tanya Azra menyelidik.


"Nggak, Azra. Bang Jabir nggak bohong." Jawab Jabir sambil memperlihatkan kedua jarinya. Jidan sampai melupakan kalau adiknya yang satu ini paling susah untuk di bohongi.


Tidak berselang lama. Rafa, Rafi dan juga Harum datang mendekati mereka. Ardian yang melihat kedatangan Harum langsung menyembunyikan dompet yang tadi ia temui, agar dompet itu tidak ketahuan.


"Sudah ketemu?"


"Sudah om. Ini gelangnya." Jawab Harum sambil memperlihatkan gelang ditangannya.


"Gara-gara gelang itu, kita harus minta tolong sama bu guru, buat buka buka pintu kelas lagi." Aduh Rafa terlihat cemberut di wajahnya.


"Iya, om. Hanya karena sebuah gelang." Sambung Rafi, yang mengingat guru mereka tadi mengomel, saat Rafa dan Rafi meminta tolong untuk membuka pintu kelas mereka yang sudah tertutup.

__ADS_1


"Maaf, Rafa, Rafi. Nanti Harum ngga ngulangin lagi." Ucap Harum merasa bersalah.


Jidan yang melihat dan mendengar perdebatan ketiganya hanya terkekeh. Karena merasa lucu dengan ketiga anak keponakannya itu.


"Sudah-sudah nggak usah berdebat, yang penting sekarang gelangnya sudah ketemu." Larai Jidan."Sebaiknya, sekarang kita pergi. Keburu hari semakin siang. Bukannya kalian sudah pada lapar ya?" Ketiganya langsung menganggukkan kepalanya, karena jujur sebenarnya mereka sudah sangat lapar.


"Iya om Jabir, kami sudah sangat lapar." Sambung Rafa dan Rafi. Sedangkan Harum hanya menganggukkan kepalanya setuju.


Ardian yang memang masih berada disana, hanya menyaksikan perbincangan Jidan ke anak-anak itu. Tapi matanya terus tertuju kearah Harum.


Harum yang peka dengan tatapan Ardian, terlihat ketakutan. Tapi gadis itu berusaha untuk menutupi ketakutannya.


"Ada apa dengan papa? Kenapa papa menatap ku seperti itu." Batin Harum.


.


.


Harum melangkah kearah kamarnya, untuk berganti pekaian sekolah nya. Kebetulan rumah Fazar sedang sepi karena keluarganya sedang pergi ke rumah sakit untuk menemani Wiyah melahirkan. Rumah itu tidak benar-benar sepi karena masih ada tiga art serta satpam didepan. Sebenarnya Harum ingin pergi menjenguk, Wiyah. Tapi Jidan melarang mereka dan mengatakan kalau ia perlu beristirahat, setelah istirahat barulah ia pergi kerumah sakit.


Setelah mengganti bajunya, Harum mendekati tasnya untuk mengambil dompetnya, karena disana terdapat foto ibunya. Harum akan selalu melakukan nya setiap ia pulang sekolah, untuk sekedar melepas rindu dengan menatap foto itu.


"Dimana dompet ku?!" Ucap Harum terlihat panik saat melihat dompetnya tidak ia temukan didalam tasnya."Apakah tertinggal? Atau jatuh?" Tanya Harum pada dirinya sendiri sambil terus berpikir dimanakah dompet nya itu."Kalau sampai jatuh gimana?!" Kini Harum terlihat panik saat mengetahui dompetnya hilang entah kemana.


.


Jika Harum sedang kebingungan mencari dompetnya. Maka berbeda dengan Ardian yang kini sedang menatap sekertaris nya itu, sambil memegang foto yang tadi ia temukan dalam dompet Harum. Sedangkan Jidan yang berkerja sebagai skertaris nya hanya kebingungan saat mendengar pertanyaan Ardian.


"Jawab dengan jujur, Jidan. Kalau sebenarnya kamu mengetahui sesuatu?!" Ucap Ardian tegas.


"Maaf tuan, saya tidak mengerti maksud ada?" Jawab Jidan jujur.


"Apakah kamu mengetahui cerita mengenai Harum, Jidan!"


Jidan mulai mengerti, apa yang dimaksud tuannya itu."Saya hanya mengetahui sedikit tuan. Karena saya tidak sengaja mendengarnya dari tuan Fazar." Jawab Jidan sedikit ragu mengatakannya.


"Jadi benar selama ini kamu mengetahui informasi mengenai gadis kecil itu, hanya saja kamu menyembunyikannya dari ku Jidan?!" Tanya Ardian terlihat emosi.


"Bukan seperti itu, tuan. Saya ingin mengatakannya, hanya saja waktu itu, tuan sudah menemukan informasi mengenai Harum. Oleh sebab, itu saya tidak jadi mengatakannya, karena saya berpikir kalau semua informasi itu sudah tuan dapatkan." Jelas Jidan tidak ingin tuannya itu sampai salah paham dengan dirinya.


"Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya, Jidan. Walaupun aku sudah mendapatkan informasi waktu itu, tapi semuanya belum jelas. Seharusnya kamu mengatakannya dan aku akan mencari tau lebih jelas lagi siapa Harum sebenarnya." Ucap Ardian yang terlihat kesal.


"Apakah kamu tau, Jidan. Makin kesini Harum semakin memperlihatkan masalalu ku." Jelas Ardian kembali yang kini terlihat memijat kepalanya. Sedangkan Jidan hanya diam mendengarkan."Aku memiliki semua kekuasaan, tapi aku tidak bisa menemukan identitas Harum. Bahkan tes DNA aku dapatkan semua sangat meragukan, Jidan. Karena didalam tes DNA itu tertulis kalau Harum bukalah anak ku. Tapi aku sangat yakin, kalau Harum adalah anakku melihat wajahnya yang begitu persis seperti ku. Bahkan yang membuat ku sangat yakin. Mengingat aku adalah pria yang suka bermain-main dengan wanita. Mungkin salah satu dari bibitku telah tumbuh disalah satu wanita yang pernah aku tiduri."

__ADS_1


Ya, Ardian telah melakukan tes DNA secara diam-diam beberapa waktu yang lalu untuk mencari tau, apakah Harum anaknya atau bukan, mengingat wajah mereka yang begitu persis. Apalagi waktu itu Ardian mendapatkan informasi dari orang suruhan nya, kalau ibu Harum ternyata wanita malam. Yang membuat Ardian semakin yakin kalau Harum anaknya.


Mendapatkan informasi itu, Ardian diam-diam melakukan tes DNA. Dengan cara menyuruh orang suruhan nya untuk mengambil rambut Harum tanpa ketahuan.


Ardian juga menyuruh orang suruhan nya untuk mencari foto mama nya Harum. Tapi orang suruhan nya itu tidak menemukan nya sama sekali.


Setelah melakukan tes DNA. Tidak membutuhkan waktu yang lama, hasil tes itu keluar, dan hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Jidan harapkan. Karena gadis itu bukan anaknya. Ardian yang melihat fakta itu merasa kecewa saat mengetahui kalau ternyata gadis itu bukan putrinya. Padahal perasaannya selama ini bisa membuktikan kalau Harum adalah anaknya.


Karena setiap bersama Harum, ia merasa sangat tenang saat berdekatan dengan Harum. Bahkan ada perasaan senang saat melihat gadis itu dari kejauhan.


"Aku kecewa saat mengetahui hasil yang aku dapatkan, bahkan tidak percaya, kalau hasilnya memang seperti itu." Jelas Ardian kembali."Tapi saat aku melihat foto itu dan kamu juga mengatakan kalau wanita didalam foto itu adalah ibu nya Harum. Semakin membuat aku yakin dengan perasaanku selama ini, hanya saja aku bingung saat mengetahui kalau ibunya Harum sudah meninggal, sedangkan informasi yang aku dapatkan, kalau wanita didalam foto itu masih hidup."


"Maksud tuan?"


"Ibu Harum dan juga mantan istriku sama, Jidan." Jidan yang tidak mengetahui apa-apa terlihat terkejut saat mendengar jawaban Ardian.


"Maksud tuan. Ibunya Harum dan juga mantan istrinya tuan itu sama?" Tanya Jidan tidak mengerti.


"Iya Jidan. Mereka adalah wanita yang sama. Wanita yang selama ini aku cari dan mengusik hidupku."


Jidan terlihat tidak percaya saat mendengarkan penjelasan Ardian. Tapi itu adalah fakta yang sebenarnya."Artinya, ibunya Harum mantan istri anda tuan."


"Ya. Yang aku maksud seperti itu Jidan. Sebab itu aku bingung saat kamu mengatakan kalau ibunya Harum sudah meninggal sama seperti informasi yang aku dapatkan. Tapi satu sisi aku mendapatkan informasi kalau mantan istriku sudah menikah. Sebab itu aku bingung akan mempercayai yang mana."


"Tuan apakah, aku bisa melihat foto ibu nya Harum dan mantan istrinya anda?"


"Tentu kamu harus melihat nya Jidan." Ucap Ardian sambil meraih foto mantan istrinya dan juga foto ibu nya Harum. Jidan mengambil foto itu, lalu memperhatikan nya dengan jelas."Dia sudah bahagia dengan suaminya yang baru, dan juga anaknya. Hanya saja aku tidak menemukan foto anaknya seperti apa wajahnya." Ucap Ardian melihat kearah Jidan yang sedang menatap foto itu.


Jidan yang melihat kedua foto itu yang terlihat sangat persis. Hanya saja foto mantan istri tuannya, lebih terawat sedangkan foto ibu nya Harum tidak, tapi keduanya tetap terlihat cantik. Apalagi mata amber itu sama, seperti Harum.


"Apakah tuan yakin kalau kedua wanita ini sama?"


"Tentu aku yakin Jidan. Melihat mata amber mereka sangat persis, dan Harum mengikuti bola mata ibunya, sedangkan wajah nya mengikuti ku." Jawab Ardian sangat yakin.


"Wajah mereka sangat persis. Apakah mereka orang yang sama?" Batin Jidan.


.


.


"Dari cerita yang adik saya ceritakan. Kalau Harum itu adalah gadis biasa yang memiliki jiwa juang yang tinggi. Bahkan di usianya yang masih terlalu kecil, dia sudah membantu mamanya dengan cara berjualan di taman." Cerita Jidan menatap kearah Ardian, yang kini sedang duduk di sofa sambil menikmati bir yang tadi dia pesan. Sebenarnya Jidan sudah melarang tuannya itu, tapi Jidan bersikeras untuk meminum-minuman itu.


"Kenapa Harum berjualan? Bukannya kebutuhan Harum terjamin, karena mama nya berkerja sebagai wanita malam?" Tanya Ardian yang mengingat informasi yang ia dapatkan.

__ADS_1


"Bukan tuan. Mama nya Harum tidak berkerja seperti itu. Mama nya Harum berkerja sebagai buruh cuci, dan yang berkerja sebagai wanita malam itu bibinya Harum." Jelas Jidan kembali, yang masih mengingat cerita adiknya. Mengenai siapa Harum sebenarnya. Jidan masih mengingat cerita sedih Harum yang sangat menyedihkan.


__ADS_2