
Cinta kedua untuk Ardian.
Jidan terus mengikuti langkah gadis itu sampai mereka tiba di sebuah ruangan yang luas dan memiliki banyak buku disana.
Perpustakaan.
"Terimakasih mas, anda sudah membantu saya, Maaf sudah merepotkan anda." Ucap gadis itu tulus saat mereka sudah sampai didalam perpustakaan.
"Tidak masalah, saya senang bisa membantu." Jawab Jidan sambil menyimpan buku itu diatas meja yang berada sampingnya."Apa kamu suka membaca buku?"
Gadis itu menggaruk tengkuknya dari balik jilbabnya yang terasa tidak gatal saat mendengar pertanyaan Jidan."Iya, saya suka baca buku." Jawab gadis itu terlihat malu-malu saat menjawab pertanyaan Jidan.
"Kalau gitu kamu sama seperti adikku yang sangat suka sekali membaca buku." Ucap Jidan teringat akan adiknya Wiyah yang begitu sangat menyukai buku, sehingga adiknya itu banyak mengoleksi bermacam-macam buku di rumahnya yang sekarang.
"Benarkah?" Gadis itu seakan tidak percaya dengan jawaban Jidan.
"Iya... Kalian sangat mirip. Sama-sama pencinta buku." Jawab Jidan sambil tersenyum."Kalau boleh tau siapa namamu?"
"Nama saya Nada Ayunda cinta, mas. Panggil saja Nada." Jawab gadis itu terlihat canggung.
Nada Ayunda cinta. Gadis berusia sembilan belas tahun, yang kuliah di bidang ekonomi.
"Perkenalan saya Jabir Jidan Taufik. Kamu bisa memanggil saya Jidan atau Jabir..... Tapi jangan panggil saya mas lagi, karena saya bukan mas-mas yang jualan." Canda Jidan sambil tersenyum.
"Emmm... Bagaimana kalau saya memanggil anda dengan panggilan kak Jabir saja. Saya lihat anda lebih tua dari saya." Sambung nada.
"Apakah saya terlihat tua?"
"Tid_ak. Mak_sud saya." Nada terlihat terbata-bata karena takut salah bicara.
"Jangan takut, Aku hanya bercanda. Itu adalah panggilan yang bagus, Nada." Jelas Jidan tersenyum karena merasa lucu dengan gadis didepannya, apalagi wajah takutnya tadi."Nada. Sepertinya saya harus pergi karena ada urusan yang belum selesai." Ucap Jidan yang baru mengingat akan tujuan sebenarnya.
"Emm, terimakasih kak Jabir sudah membantu saya tadi dan maaf karena menyenggol kak Jabir tadi." Ucap Nada terlihat masih kaku saat memanggil Jidan dengan panggilan 'kak'
"Iya sama-sama, Nada. Tidak masalah, saya tau kamu juga tidak sengaja." Jawab Jidan tersenyum."Sampai bertemu lagi nanti." Nada hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
Setelah berpamitan dengan Nada, Jidan kembali melanjutkan langkahnya kearah ruangan yang tadi dia tujuh. Tapi harus teralihkan karena membantu Nada, gadis yang sudah dua kali bertemu dengannya secara tidak sengaja.
__ADS_1
"Aku rasa kampus ini terlalu luas, sehingga dari tadi aku berjalan aku belum menemukan ruangan Rektor sama sekali." Gumam Jidan yang merasa kalau ia sudah dibuat tersesat oleh setiap koridor kampus yang memiliki banyak sekali lorong yang membuat Jidan bingung. Bukan hanya luas tapi kempus itu memiliki dua lantai, sehingga membuat Jidan kesulitan untuk mencari ruangan Rektor yang berada dimana.
"Sebaiknya aku bertanya ke mahasiswa disini, mungkin saja mereka tau." Ucap Jidan yang melihat kalau kampus itu sudah semakin ramai dari sebelumnya saat masuk kedalam kampus itu. Jidan tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk di kursi sambil membaca buku."Mungkin dia bisa membantu." Gumam Jidan sambil melangkah mendekati wanita itu.
"Maaf mbak, permisi saya mau tanya." Wanita itu menurunkan bukunya saat ada suara seseorang sedang menyapanya.
"Ada apa ya tua..." Ucapan nya harus terhenti karena terkejut saat melihat siapakah orang yang telah menyapanya tadi. Sama halnya seperti wanita itu, Jidan juga merasakan hal yang sama. Karena terkejut melihat wanita didepannya yang tidak lain adalah, Yaya.
Deg.
Suara jantung keduanya sama-sama berdetak kencang saat iris mata keduanya saling bertemu. Tidak ada yang hilang dari tatapan kedua manusia itu, karena masih terlihat kalau ada sedikit cinta disana walau Jidan maupun Yaya saling menghindari satu sama lainnya.
Yaya dan Jidan sama-sama melihat kearah lain, sambil menetralkan rasa gugup keduanya dan juga jantung yang tidak beraturan.
"Ma_af, ada apa Jabir?" Tanya Yaya sedikit canggung saat bertanya. Jidan yang tadi melihat kearah lain, beralih melihat kearah Yaya saat mendengar suara lembut gadis itu bertanya.
"Apakah kamu tau dimana ruangan Rektor, karena dari tadi aku mencarinya tapi tidak ketemu." Jawab Jidan yang terlihat biasa-biasa saja, karena dia kembali bisa mengatasi rasa canggungnya itu.
"Rektor?" Jidan menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, saat pertanyaan itu terlontar dari bibir gadis didepannya."Emangnya ada urusan apa, sampai kamu mencari ruangan Rektor?" Tanya Yaya balik.
"Bukannya kata Wiyah. Kalau kedua adikmu akan sekolah kemiliteran?" Tanya Yaya bingung saat mengingat ucapan sahabatnya, kalau kedua adiknya akan sekolah kemiliteran.
"Iya mereka memang sekolah kemiliteran, tapi mereka juga akan kuliah." Jelas Jidan.
"Jadi, sekolah kemiliteran sambil kuliah gitu?"
"Lebih tepatnya seperti itu. Makanya aku ingin bertemu dengan rektor disini untuk mendaftarkan jurusan apa saja yang kedua adikku ambil dan mereka juga tidak bisa melakukan kuliah secara langsung melainkan online." Jelas Jidan kembali.
"Seperti itu ya." Yaya terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya kecil, tanda kalau gadis itu sedikit mengerti."Emangnya bisa ya Jabir." Pertanyaan polos Yaya, membuat Jabir merasa gemas, Apalagi wajah polos gadis itu membuat Jabir ingin mencubitnya, kalau boleh.
"Bisa Yaya, bahkan kalau orang mampu mereka bisa mengambil tiga bidang kuliah sekaligus."
"Kau benar Jabir, aku sampai melupakan itu." Ucap Yaya."Bagaimana kalau aku menggantarmu sekarang, Jidan? Takut kalau pak rektor keluar." Tawar Yaya, membuat Jidan terlihat berpikir.
"Baiklah, karena hanya ada kamu disini." Ucap Jidan sambil melanjutkan langkahnya, tanpa mendengar ucapan Yaya.
"Ck, bilang saja kalau kamu malas berbicara dengan orang lain." Decak Yaya menatap punggung kekar itu yang sudah melangkah duluan."Dia akan tersesat, jika aku tidak mengarahkannya kejalan yang benar." Dengan langkah sedikit terburu-buru, Yaya mendekati Jidan."Kamu salah jalan Jidan. Kita kearah kanan bukan sebelah kiri." Ucap Yaya yang tanpa sadar menggenggam tangan Jidan dan menariknya kearah koridor satu nya.
__ADS_1
Sedangkan Jidan hanya menatap tangan mungil itu menggenggam nya."Yaya...." Yaya mengehentikan langkahnya saat menyadari sesuatu, yang membuat ia membalikkan tubuhnya menghadap kebelakang untuk menatap kearah tangannya yang tidak sengaja menggenggam tangan Jidan dan beralih menatap kearah Jidan yang sama-sama menatap kearahnya.
"Ma... Maaf, aku tidak sengaja." Ucap Yaya terbata-bata sambil melepaskan tangannya dari tangan Jidan. Sedangkan Jidan tidak menjawab, ia hanya diam sambil menatap gadis didepannya, sehingga suasana kembali canggung saat keduanya saling menatap satu sama lainnya. Seakan mereka masih bisa merasakan cinta yang memang belum pudar dari kedua hati itu.
"Yana, apa yang kamu lakukan disini." Suara seseorang membuat Jidan dan Yaya sama-sama menoleh kearah suara itu dan keduanya bisa melihat kalau ada dua gadis yang melangkah kearah mereka sambil berlari kecil.
"Indah." Ucap Yaya yang tentu mengenal siapa gadis itu. Dia adalah teman sekelasnya. Indah Angelia Dewi.
"Kamu mau kemana Yana? Terus siapa pria ini?" Tanya indah penasaran menatap kearah Jidan.
"Dia Jabir. Aku mau mengantarkannya ke ruangan Rektor." Jawab Yaya yang tidak secanggung tadi saat ia berdua bersama dengan Jidan karena kedatangan temannya itu.
"Emangnya kalian mau ngapain?"
"Jabir ada urusan sebentar."Jawab Yaya yang merasa lega karena ada temannya itu, Yaya berpikir untuk mengajak Indah bersamanya. "Karena kamu sudah ada disini, sebaiknya kamu temani aku keruangan rektor." Ucap Yaya, yang tidak ingin berdua saja bersama Jidan. Makanya ia mengajak temannya itu. Yaya takut kalau mereka akan berada di suasana canggung seperti tadi.
"Aku nggak mau Yana." Tolak Indah
"Ayolah Indah." Bujuk Yaya agar temannya itu mau ikut bersamanya.
"Baiklah...." Dengan terpaksa Indah mengikuti kemauan Yaya untuk bergi bersama nya keruangan rektor. Sedangkan Jidan hanya mengikuti langkah kedua gadis didepannya.
"Kenapa takdir selalu membuat kita bertemu Yana Yakira. Apakah takdir ingin kita bersama, tapi bukan sebagai pasangan, Melainkan sebagai seorang teman yang tidak memiliki perasaan."
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Ardian dan juga Nalda terlihat hanya diam saat mereka berada dalam satu mobil. Tidak ada yang memulai pembicaraan salah satu dari mereka, karena Nalda lebih banyak diam dan berada didalam pikirnya. Sama halnya dengan Ardian yang bingung ingin mulai dari mana pembicaraan mereka. Padahal pertemuan ini sengaja Ardian rencanakan.
Ya, Ardian sengaja membuat pertemuan ini. Karena Ardian ingin mendekati Nalda. Apalagi rasa penasaran terhadap wanita disebelahnya membuat Ardian merencanakan semuanya dengan sedetail mungkin.
Dengan menyuruh anak buahnya untuk merusak mobil Nalda tanpa sepengetahuan wanita itu. Semalam saat Nalda sedang berada di sebuah restoran. Anak buah Ardian merusak mobil Nalda dan membuat mobil itu mati saat berada ditempat dimana Ardian yakini kalau Nalda melewati jalan itu.
Ardian juga menyuruh anak buahnya yang memang seorang heker untuk membuat aplikasi di ponsel Nalda seakan tidak bisa dipakai dan menyuruh anak buahnya untuk mengehentikan setiap kendaraan yang lewat ditempat tadi, untuk membuat kalau jalan itu benar-benar tidak ada yang lewati.
"Lihatlah, bagaimana aku membuatmu menyukaiku. Melisenda Nalda Alessandro."
...----------------...
__ADS_1