Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Ardian menatap foto di tangannya. Foto seorang gadis yang sedang tersenyum malu-malu disana.


"Aku tau waktu itu kamu yang salah Mayla. Tapi entah kenapa perasaan ini selalu ada untukmu, bahkan saat aku mengetahui kalau ternyata kamu sudah menikah. Tapi perasaan bersalah ini selalu saja hadir." Ucap Ardian terus menatap foto mantan istrinya, yang ia ceraikan dan ia caci maki tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Walaupun Ardian sendiri yang melihat kalau gadis itu sedang bercinta dengan pria lain, tapi ia masih mengingat bagaimana kerasnya gadis itu menangis hanya untuk mendengarkan penjelasannya.


"Kak Ardian, tolong dengarkan aku terlebih dahulu... Ini semua hanyalah salah paham... Hiks..."


"Jika kakak ingin menceraikan ku, maka ceraikan lah. Tapi ku mohon dengarkan aku sebentar saja.."


Ingatan itu selalu hadir jika perasaan bersalah nya hadir. Dalam hatinya Ardian begitu sangat penasaran ingin mendengar penjelasan gadis itu. Tapi ingatan dimana ia menemukan wanita itu sedang berduaan dengan pria lain, membuat rasa ingin tahunya seakan hilang.


"Semoga kamu bahagia, Mayla."


.


.


Pagi-pagi buta, Ardian sudah berkuat dengan dapur yang membuat pelayanan disana menjadi kebingungan. Bahkan mereka ingin menghentikan aktivitas tuan mereka, tapi tidak ada yang berani karena takut di pecat.


"Bik, cara memasak ikan asam manis itu gimana?" Tanya Ardian yang kini sedang memegang satu ekor ikan di tangannya.


"Itu mudah saja tuan. Kalau tuan Ardian mau biar saya yang membuatnya." Jawab pelayan paruh baya itu dengan sopan.


"Tidak bik, aku akan membuatnya sendiri. Bibik hanya perlu memberikan arahan saja untuk memasak masakan itu caranya gimana." Jelas Ardian.


"Tapi tua..."


"Bibik tidak usah bingung, karena aku ingin memasak hari ini." Potong Ardian saat melihat pelayannya itu ingin mengatakan sesuatu.


Sedangkan pelayan wanita itu dibuat bingung dengan sikap Ardian. Karena hari ini Ardian mau memasak untuk pertama kalinya setelah sebelas tahun yang lalu, setelah kepergian istrinya. Pelayan wanita itu sudah berkerja bersama dengan Ardian sangat lama, jadi dia sangat hafal dengan sifat tuan nya yang selama bertahun-tahun berubah karena masalah, yang pelayan itu tidak tau.


Apakah tuannya itu baru kesambet sesuatu sampai membuat jiwa dinginnya berubah menjadi hangat? Pertanyaan itu membuat pelayan tadi sampai melamun.


"Bik, apakah Bik Ani jadi membantuku?" Pelayanan tadi langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar pertanyaan tuannya.


"Ah, iya. Jadi tuan. Mari saya bantu." Jawab pelayan itu dengan gagap karena merasa takut dengan Ardian.


"Pertama-tama tuan bersihkan ikan nya, Lalu memberikan bumbunya." Ucap pelayan itu mulai memberikan arahan, sedangkan Ardian hanya mengikutinya saja. Bik Ani yang melihat perilaku Ardian merasa sangat senang, karena sifat tuannya yang dulu kini kembali lagi setelah sekian lama.


Bik Ani berpikir, kalau ada sesuatu yang membuat pria itu berubah kembali menjadi sosok yang hangat setelah sekian lama.


Dan tanpa Ardian sadari kalau kegiatannya sedang dilihat seorang pria yang berdiri di depan pintu dapur. Jidan, sekretaris nya yang dari tadi datang hanya menonton apa yang sedang Ardian lakukan.

__ADS_1


"Tuan Ardian memasak?" Ucap Jidan bingung menatap Ardian yang kini sedang sibuk memasak. Apalagi penampilan terlihat lucu, karena biasanya Ardian mengunakan jas yang mahal kini berubah menjadi celemek berwarna hijau."Tuan besar harus melihat ini." Ucap Jidan sambil tersenyum lalu mengambil ponselnya untuk memotret kegiatan Ardian hari ini. Anggaplah ini menjadi kenang-kenangan selama Jidan berkerja bersama dengan Ardian.


.


.


Setelah memasak masakannya dan menaruhnya di Tupperware berwarna merah, kini Ardian membawa makanan itu kerumah seseorang. Dengan penampilan yang rapi Ardian mendekati pintu berwarna putih itu.


Tik tong


Sambil menunggu Ardian membuka ponselnya. Hanya sekedar membuka saja karena Ardian tidak melakukan apapun pada ponselnya.


"Tuan Ardian." Ucap Bu Titi tersenyum saat ia membuka pintu.


"Selamat pagi bik. Apa nyonya Nalda berada di rumah?" Tanya Ardian dengan ekspresi dinginnya.


"Ada tuan. Nyonya Nalda berada didalam." Jawab bik Titi sambil tersenyum."Apa perlu saya panggilkan, tuan?"


"Tidak bik. Saya akan menemui nya, kebetulan saya sudah membuat janji dengan nyonya Nalda."


"Kalau gitu silakan masuk tuan." Ucap bik Titi sambil mempersilahkan Ardian masuk kedalam. Ini bukan kali pertama Ardian masuk kedalam rumah itu, karena ini untuk yang kesekian kalinya, jadi tidak heran kalau pelayan di rumah Nalda mengenal Ardian.


"Siapa yang datang bik?" Tanya Nalda yang berjalan kearah ruangan tamu dengan sedikit terpincang-pincang."Kamu?" Begitu sangat terkejutnya Nalda saat melihat kehadiran Ardian disana. Padahal ini masih terlalu pagi tapi pria itu sudah datang bertemu.


"Apa yang kamu lakukan disini? Ini masih terlalu pagi, Apa kamu berniat menganggu ku lagi?" Tanya Nalda dengan tatapan mengintimidasi.


"Jangan berpikir negatif begitu Nal, aku datang kesini untuk membawakan mu ini. Bukan mencari masalah dengan mu." Jawab Ardian sambil memperlihatkan paper bag di tangannya.


"Apa itu?"


"Bukalah, jika kamu ingin tau." Jawab Ardian sambil menyerahkan paper bag itu ke Nalda. Nalda sedikit ragu menerima nya, tapi karena penasaran wanita itu tetap menerima nya, lalu membuka paper bag yang ternyata berisi tempat makanan.


"Ikan asam manis?" Batin Nald terkejut saat melihat isi didalam kota itu, yang ternyata berisi makanan kesukaannya."Tapi bagaimana dia tau kalau aku menyukai ini?" Batin Nalda yang terlihat berbinar senang saat makanan kesukaannya berada didepannya.


"Apa kamu tidak menyukainya?" Tanya Ardian saat ia tidak melihat respon dari Nalda.


Sedangkan Nalda yang mendengar pertanyaan pria didepannya hanya berdehem untuk menetralkan perasaan senangnya, agar Ardian tidak tau. Kalau makan yang Ardian bawakan itu, ternyata makanan kesukaannya.


"Sebenarnya aku tidak suka, tapi melihat makanan ini sudah berada disini maka aku akan menerima nya." Jawab Nalda dengan wajah datarnya karena Nalda gengsi untuk mengakui kalau ia menyukai makanan yang Ardian bawakan.


Ardian yang mendengarnya merasa kecewa karena Nalda ternyata tidak menyukai makanan yang ia bawakan. Tapi Ardian tetap senang, karena Nalda masih mau menghargai nya dengan cara menerima makanannya.


"Aku tidak tau kalau kamu tidak menyukai makanan itu. Tapi lain kali aku akan membawa yang lain."

__ADS_1


"Tidak apa, Ardian. Kamu datang tidak membawa apapun aku tidak masalah." Jawab Nalda tanpa sadar kalau ia seperti menyetujui Ardian untuk datang berkunjung kerumahnya terus.


"Artinya aku boleh kerumah mu setiap saat?" Tanya Ardian sambil menaik turunkan alisnya untuk menggoda wanita didepannya karena tanpa sadar memberikan ia lampu hijau untuk mengenal wanita itu.


"Tidak... Maksudku..." Nalda terlihat salah tingkah saat menyadari ucapannya barusan."Sudah lupakan. Sebaiknya aku cicipi makanan ini, apakah enak atau tidak." Ucap Nalda mengalihkan pembicaraan mereka. Bahkan kini wanita itu melangkah meninggalkan Nalda dengan pelan kearah belakang untuk pergi ke ruangan makan.


"Dasar gengsi." Decak Ardian dengan suara kecil, karena merasa heran dengan tingkah Nalda yang mengalihkan pembicaraan mereka.


Ardian yang ditinggalkan begitu saja oleh Nalda, kini mengikuti langkah wanita itu yang tidak terlalu jauh darinya."Sini biar aku bantu." Ucap Ardian sambil meraih tangan Nalda lalu ia menggenggam nya.


"Aku bisa sendiri." Tolak Nalda ingin melepaskan tangan Ardian. Tapi pria itu menggenggam tangannya sangat erat.


"Jangan membantah, menurut lah." Tekan Ardian tidak ingin di bantah dan tangannya juga masih tetap menggenggam tangan Nalda.


"Sebenarnya kamu terbuat dari apa Ardian? Kenapa sifatmu terkadang berubah-ubah? Kadang kamu orang yang paling menyebalkan, dingin dan juga menakutkan? Tapi kamu kadang memiliki sisi yang lembut dan baik tanpa orang-orang sadari?" Batin Nalda menatap wajah Ardian dengan tatapan lekat, yang sekarang sedang menuntun nya berjalan.


"Aku tau. Kalau aku tampan, sampai kamu menatapku seperti itu." Ucap Ardian dengan percaya dirinya saat ia menyadari kalau Nalda sedang menatapnya.


Sedangkan Nalda yang mendengar ucapan Ardian langsung mengalihkan pandangannya kearah lain, karena ketahuan telah menatap pria menyebalkan itu tanpa sadar.


"Percaya diri sekali kamu." Ketus Nalda kesal sekaligus malu. Ardian yang melihat tingkah malu-malu Nalda hanya terkekeh karena merasa lucu.


"Ternyata kamu sangat lucu, Nalda. Rasanya aku ingin tidur bersamamu." Nalda langsung menoleh kearah Ardian dengan mata yang melotot karena kesal dengan ucapan pria didepannya."Tenanglah.... Jangan menatapku seperti itu, aku hanya bercanda." Jelas Ardian yang masih saja terkekeh lucu."Tapi, nanti kalau kita sudah menikah mungkin kita bisa melakukannya." Bukannya berhenti Ardian malah semakin menggoda Nalda dengan wajah lucu nya.


"Ardian! Jika kamu mengatakannya lagi maka keluarlah dari sini!" Pekik Nalda dengan sangat kesal. Rasanya ia ingin menendang pria di sampingnya itu.


.


.


"Rasanya lumayan." Ucap Nalda berkomentar saat bumbu berserta ikan itu masuk kedalam mulutnya."Ini sangat enak, seperti masakan ibu." Batin Nalda yang begitu sangat menyukai masakan yang Ardian bawakan. Bukan karena makanan itu makanan kesukaannya, melainkan karena bumbu dan rasanya sangat pas. Hanya saja Nalda terlalu gengsi untuk mengakui nya.


"Hanya lumayan? Apakah tidak se enak itu?" Batin Ardian merasa kecewa saat mengetahui kalau masakan yang ia buat ternyata biasa-biasa saja padahal tadi ia membuat nya dengan sangat yakin kalau makanan itu pasti sangatlah enak, tapi sepertinya diluar ekspektasi Ardian.


Padahal tanpa Ardian sadari kalau masakan yang ia buat sangatlah enak, hanya saja Nalda terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Nalda, aku datang!" Suara seseorang membuat Nalda mengehentikan gerakannya yang ingin memasukkan makanan kedalam mulutnya. Sedangkan Ardian mengerutkan keningnya bingung karena mendengar suara orang itu.


"Sepertinya aku mengenal suara itu." Batin Ardian mengingat-ingat suara siapakah itu.


Langkah sepatu yang semakin terdengar dekat, membuat Ardian menoleh kearah belakang. Karena ia membelakangi pintu masuk. Sedangkan Nalda yang memang menghadap pintu masuk bisa melihat siapakah yang datang berkunjung kerumahnya pagi-pagi sekali seperti didepannya itu. Tapi saat melihat dengan jelas seperti apa rupa pria itu membuat Nalda langsung tersenyum.


Bagaimana dengan Ardian. Pria itu langsung mengubah ekspresi nya berubah menjadi datar seperti tidak bersahabat."Kenapa harus ada dia sih." Gumam Ardian tidak suka.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2