
Cinta kedua untuk Ardian.
Ardian menatap bangunan mewah didepannya, yang sebentar lagi akan dia tinggali. Atau lebih tepatnya, bangunan mewah itu akan menjadi rumahnya, selama ia berada di kota S.
"Tuan, ini surat-surat tanah yang sudah berganti nama atas nama tuan." Jelas seorang pria dengan bertubuh tinggi dan juga berwajah sanggar, sambil menyerahkan satu map surat yang berisikan berkas-berkas perpindahan tanah yang sekarang sudah menjadi milik Ardian.
"Apakah kamu yakin, kalau mereka tidak akan menuntut atau membawa saya ke kantor polisi, karena saya mengambil rumah mereka?" Tanya Ardian menatap bawahannya itu.
"Tidak tuan. Karena mereka sudah menandatangani surat perjanjian, Kalau rumah berserta isinya sekarang sudah menjadi milik tuan." Jawabnya."Mereka juga sangat senang, karena tuan mengganti rumah ini dengan beberapa uang yang sangat banyak."
"Bagus... Saya sudah menebaknya dari awal, kalau mereka tidak akan menolak kalau saya memberikan mereka uang yang lebih." Ucap Ardian sambil tersenyum sinis menatap bangunan mewah itu."Agus. Singkirkan semua barang-barang mereka, dan ganti dengan barang yang baru yang memiliki kualitas yang bagus. Pastikan barang-barang mereka tidak ada di rumah saya, dan saya mau sore ini semua barang-barangnya sudah ada disini."
"Baik tuan." Jawab anak buahnya itu."Kalau begitu, saya pamit tuan, untuk memberitahukan yang lain soalnya permintaan tuan."
"Pergilah." Jawab Ardian. Setelah kepergian bawahannya. Ardian kembali menatap bangunan itu, dan dengan gaya santai nya dia memasuki rumah mewah dengan desain aesthetic.
"Tidak terlalu mewah, tapi nggak apa-apa. Aku membeli rumah ini, hanya untuk mendekati tetangga ku disebelah." Ucap Ardian yang kini sudah berada di atas balkon bagian belakang, Yang bisa memperlihatkan rumah disebelahnya.
Entah kapan pria itu sampai di balkon itu, tapi sekarang Ardian sedang berdiri di sana sambil menatap seorang wanita yang berada disebelah rumahnya."Dokter Melisenda." Ucap Ardian sambil tersenyum saat melihat Nalda yang berada di halaman belakang rumahnya.
Ya, sekarang Ardian sedang berada disebelah rumah Nalda, atau lebih tepatnya. Ardian akan menjadi tetangganya. Ardian sengaja pindah disebelah rumah Nalda, karena memiliki niat tersendiri. Entah apa niatnya, karena hanya Ardian sendiri yang tau.
Mungkin Ardian sangat ingin mengambil hati wanita berusia tiga puluh tahun itu, sehingga membuat ia sampai mengeluarkan sejumlah uang yang banyak hanya untuk membeli rumahnya sekarang. Bukan itu saja, Ardian bahkan tidak segan-segan mengancam keluarga yang menepati rumah itu, Hanya untuk mendapatkan rumah yang dia mau.
Saat sedang menatap Nalda dari balkon nya. Ardian melihat seorang anak perempuan yang baru saja keluar dari rumah Nalda.
"Harum? Dia berada di rumahnya wanita itu?" Ucap Ardian terkejut saat melihat Harum berada di rumah Nalda."Sepertinya aku harus menemui mereka." Dengan sedikit terburu-buru Ardian melangkah meninggalkan balkon rumahnya, hanya untuk keluar menemui tetangganya, saat melihat kehadiran gadis kecil itu. Entah kenapa, tapi hati Ardian memanggilnya untuk datang ke rumah itu.
"Sebentar...." Ardian menghentikan langkahnya saat mengingat penampilannya yang terlalu rapi."Jika penampilan ku seperti ini, maka wanita itu akan curiga dengan ku nanti." Ucap Ardian pada dirinya sendiri, saat melihat penampilan nya yang terlalu rapi. Yang ada nanti Nalda tidak percaya, kalau ia baru saja pindah ke rumah itu.
Ardian memanggil suruhannya, untuk membelikannya baju dan juga makanan. Agar ia akan terlihat seperti tetangga yang baik.
"Saya mau lima menit kalian semua sudah berada disini." Orang suruhan Ardian terlihat terkejut mendengar permintaan Ardian. Kalau dia harus berada di rumah itu dengan waktu lima menit.
__ADS_1
"Astaga, mimpi apa aku semalam. Tuan Ardian memberikanku waktu secepat itu." Batin suruhan Ardian yang terkejut dengan permintaan aneh Ardian.
"Waktumu dimulai dari sekarang. Jika sampai kamu telat, maka kamu tau apa yang akan kamu dapatkan!" Bawahan Ardian hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar mendengar ancaman Ardian.
"Ba... Baik tuan." Jawabnya dengan gagap. Setelah itu dia langsung pergi dengan cepat, untuk mencari benda yang Ardian suruh.
Tidak terasa lima menit telah berlalu, tapi anak buahnya tidak kunjung datang. Ardian dibuat kesal karena kelambatan anak buahnya itu. Di suruh lima menit, tapi sampai sekarang tidak kunjung kembali juga.
"Kenapa lama sekali sih mereka!" Gerutu Ardian kesal, karena bawaannya tidak kunjung datang padahal ini sudah lewat dari lima menit.
Saat Ardian sedang mengerutu sendirian. Bawahannya yang tadi dia suruh, akhirnya datang juga. Dengan nafas ngos-ngosan pria itu masuk kedalam rumah sambil membawa dua paper bag berisi benda yang Ardian mau.
"Ini sudah lewat lima menit, tapi kamu baru datang!" Ucap Ardian dengan tatapan tajamnya menatap bawahannya itu.
"Maf... Maaf tuan, tadi saya terjebak macet saat mau kesini." Jelas bawahannya itu dengan terbata-bata dengan kepala yang menunduk.
"Bukannya kamu mengunakan motor, bukan mobil? Lalu kenapa kamu masih bisa terjebak mencet juga?!" Bawahannya itu hanya diam tanpa berani menjawab. Apalagi suara tuannya itu, membuat kaki nya gemetaran.
"Tuhan, jangan sampai aku dihabisi hari ini. Karena sebagian hutang pacar ku belum sepenuhnya lunas." Batin bawahannya itu berdoa.
"Pergilah, untuk kali ini saya maafkan mu. Tapi tidak untuk besok!" Bawahannya yang tadi menunduk ketakutan, kini mengangkat kepalanya menatap Ardian."Jangan berdiri disitu, cepat berikan!" Dengan gelagapan pria itu memberikan barang bawaannya tadi kepada Ardian. Lalu berlalu pergi, sebelum Ardian benar-benar menghukumnya.
"Dasar lambat!"
🌺🌺🌺🌺🌺
"Jika Harum, sedang pusing, coba rileks dengan cara menanam banyak tanaman seperti ini. Bukannya dirumah Harum ada taman belakang?" Ucap Nalda, yang kini sedang mengajak Harum bercerita. Agar anak perempuan itu bisa terbuka lagi dengan orang lain.
"Tapi biasanya kak Wiyah lebih suka tanam bunga-bunga. Harum takut kalau kak Wiyah akan marah, kalau Harum menanam tanaman lain." Jelas Harum. Sebenarnya Harum menyukai hal yang seperti yang Nalda ajarkan. Hanya saja anak perempuan itu masih ragu untuk mengatakan kepada kedua orang tuanya. Harum takut, membuat Wiyah mau Fazar akan marah dengan permintaannya. Tapi yang Harum tidak sadari. Kalau mereka pasti akan mengijinkan apa yang Harum mau, selama itu masih baik untuk nya.
"Emangnya Harum suka berkebun apa, sampai takut memberitahukan nya kepada kak Wiyah?" Tanya Nalda penasaran.
"Nalda suka berkebun buah, dokter. Makanya Harum ragu untuk menyampaikan nya ke kak Wiyah. Harum takut, kalau tanaman mawar kak Wiyah akan rusak karena kebun buah Harum."
Nalda tersenyum menanggapi ucapan Harum. Ternyata gadis itu masih merasa ragu dan takut untuk menyampaikan maksudnya, walaupun itu kepada orang tua angkatnya sendiri, yang begitu sangat menyayangi nya dan mungkin tidak akan menyakiti anak perempuan itu lagi.
"Harum, cobalah untuk ngomong ke kak Wiyah, apa yang Harum mau. Jangan takut atau ragu, karena kak Wiyah tidak akan marah, selama itu membuat Harum senang." Jelas Nalda tersenyum lembut."Harum coba dulu, nanti kalau kak Wiyah tidak mengijinkan, Harum bisa berkebun di rumah dokter."
"Baik dokter, Harum akan mencoba nya dulu untuk ngomong kek kak Wiyah." Jawab Harum." Tapi dokter, Emangnya?." Tanya Harum ragu-ragu, yang membuat Nalda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih dokter."
"Iya sama-sama Harum." Jawab Nalda."Karena dari tadi kita hanya mengobrol, bagaimana kalau Harum makan dulu. Pasti bik Titi sudah masak buat Harum."
"Tidak usah dokter, Harum sampai di rumah saja." Tolak Harum sopan.
"Nggak apa-apa, Rum. Kak Wiyah nggak akan marah, kalau Harum makan disini." Bujuk Nalda, mencoba menyakinkan anak perempuan itu.
"Ta.... tapi Harum takut dokter...." Lirihnya, membuat Nalda mengerutkan keningnya bingung.
"Takut kenapa?" Tanya Nalda lembut, sambil melepaskan sarung tangan berkebun nya. Lalu dengan lembut dia menarik tangan Harum kedalam pelukannya."Coba Harum cerita."
"Harum takut di marahin sama Tante, dokter. Karena makan di rumahnya orang. Harum takut Tante akan memukul Harum dan mencelupkan wajah Harum kedalam air, sampai sesak nafas." Jelas Harum dengan wajah takutnya. Karena takut akan penyiksaan beberapa tahun yang lalu.
Tiga tahun yang lalu, saat Harum masih berusia tujuh tahun.
Karena sedang libur dan mamanya juga mengijinkan nya untuk bermain dengan anak seusianya, membuat Harum dengan senang, bermain dengan anak tetangga nya yang memiliki rumah tidak jauh dari rumahnya.
Saat itu mereka hanya bermain. Tapi hari sudah semakin siang dan orang tua tetangganya itu memanggil temannya untuk makan siang. Karena kedua orang tua temannya, adalah orang yang baik dan tidak menatap Harum seperti apa orang-orang di sana menatap Harum sebagai anak wanita malam. Kedua orang tua baik itu, memanggil Harum untuk bergabung makan bersama dengan mereka.
Sebenarnya Harum menolak, tapi bujukan ibu dari temannya, Membuat Harum mengiyakan, sehingga hari itu, untuk pertama kalinya dia makan di rumah orang.
Tapi tanpa Harum sadari, kalau tantenya melihat Harum dan dengan perasaan yang emosi dia mendatangi rumah temannya. Waktu itu Harum sedang makan, sehingga membuat emosi tantenya semakin menjadi dan dengan kasar dia menarik tangan Harum yang saat itu sedang menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Anak sialan!! Anak Haram, siapa yang menyuruh makan hahh!!" Bentak nya dan dengan kasar menarik tangan Harum untuk berdiri. Kedua orang tua itu, mencoba untuk menghentikan perilaku kasar dari Tante nya, tapi tidak bisa karena tente Harum dengan berani memarahi keduanya. Sehingga kedua orang tua teman Harum dengan terpaksa melepaskan dan melihat penyiksaan yang Harum dapatkan.
"Anak siallann!! Aku kelaparan di rumah, kamu malah enak-enakan makan di rumah orang!! Benar-benar sialan!!" Ucap Tante Harum yang tidak henti-hentinya memaki dan juga memukul tubuh Harum dengan kayu kecil yang berukuran panjang.
"Apunn Tante, sakit.... Lepaskan....Hiks..... Hiksas...Harum janji nggak bakal makan di rumah orang lagi." Ucap Harum dengan menangis. Apalagi pukulan ditubuhnya tidak kunjung di hentikan, membuat Harum semakin kesakitan.
Karena masih emosi, Tante Harum menarik Harum dan dengan tidak memiliki hati, dia menenggelamkan wajah Harum kedalam parit kotor, sehingga Harum susah untuk bernafas. Sedangkan orang-orang yang melihat penyiksaan itu hanya diam seakan tidak perduli.
Mereka seakan-akan sudah terbiasa mendengar dan melihat penyiksaan dari gadis kecil itu, tanpa berniat untuk menolongnya. Padahal yang mereka lihat adalah manusia.
Mendengar jawaban dari Harum. Membuat Nalda semakin memeluk tubuh Harum dengan erat. Nalda tidak tau, seberapa kejamnya Tante Harum menyiksa gadis dalam pelukannya. Tapi melihat wajah ketakutannya itu, membuat Nalda yakin kalau penyiksaan yang Harum dapatkan sangat para. Mungkin tidak hanya sekali Harum mendapatkan nya melainkan berkali-kali.
"Seberapa kejam kehidupan Naila Harum Syah. Sehingga trauma didalam hidup mu tidak kunjung membaik. Apakah selama kamu bersama dengan orang-orang jahat itu, kamu selalu mendapatkan penyiksaan tidak ada henti-hentinya." Batin Nalda sedih.""Kenapa orang jahat hanya bisa menyiksa gadis tidak berdosa, hanya karena dosa kedua orang tuanya."
...----------------...
__ADS_1