Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Setelah melakukan terapi hipnotis hampir satu jam. Kini Nalda maupun Ardian melangkah keluar untuk makan siang bersama. Karena tadi Nalda sudah berjanji pada Ardian, selesai melakukan terapi, keduanya akan berjalan-jalan sebentar. Mengingat pekerjaan Nalda juga sudah selesai.


"Kita mau makan apa, Nal?" Tanya Ardian tidak memakai bahasa formal lagi seperti di ruangan Nalda tadi. Karena sekarang mereka berada di luar rumah sakit.


"Terserah."


"Terserah? Kamu ngga request gitu, kita mau makan apa?" Tanya Ardian bingung, karena wanita itu mengatakan terserah.


"Apa saja, Dian. Aku bingung mau makan apa juga."


"Baiklah, aku akan pikiran lagi, kita mau makan apa siang ini?" Jawab Ardian pasrah, daripada ia terus bertanya pada wanita itu, yang akan terus menjawab nya 'Terserah'


Nalda dan juga Ardian melangkah kearah parkiran rumah sakit. Disana sudah terdapat banyak mobil maupun motor yang tersusun rapi, hingga tidak terhitung jumlah nya. Karena rumah sakit itu sepertinya di padati oleh pengunjung yang ingin menjenguk keluarga mereka, yang mungkin sedang di rawat di rumah sakit itu.


"Nal, kita pakai mobil kamu ya?" Nalda melihat kearah Ardian saat mendengar ucapan pria itu.


"Emangnya mobil kamu mana?" Tanya Nalda balik.


"Tadi aku kesini sama Jidan. Tapi aku menyuruh nya untuk duluan, karena ada pekerjaan yang belum dia selesaikan. Jidan juga sedang buru-buru, makanya aku menyuruh nya untuk membawa mobil ku." Jelas Ardian, membuat Nalda mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Keduanya memutuskan untuk masuk kedalam mobil, dan cepat-cepat pergi. Karena waktu makan siang mereka benar-benar sudah terlewat dari setengah jam yang lalu.


"Kita singgah ke suatu tempat dulu, Ardian. Soalnya aku ada urusan sebentar."


"Mau kemana?"


"Ada, nanti aku tunjukkan jalan nya. Cepat!"


"Iya, iya. Tapi kamu ngga ngajakin aku ketempat aneh lagi kan, kayak waktu itu?"


"Ngga. Aku jamin kamu bakalan menyukainya kayak pasar malam kemarin. Biarpun kamu ngomong kalau tempat aneh itu." Jawab Nalda sedikit menyindir perkataan Ardian. Walaupun Ardian mengatakan tempat yang mereka datangi adalah tempat yang aneh. Tapi pria itu tetap tetap menikamnya. Bahkan pria itu terlihat senang berada disana.


Ardian mendengar sindiran Nalda berdehem kecil."Aku menikmatinya karena ada kamu dan Harum." Jawab Ardian tidak mau mengakuinya.

__ADS_1


"Dasar gengsian. Cepat jalan, keburu kambuh mah nya kalau ngga segera makan." Suruh Nalda tegas, karena tidak ingin terus berdebat dengan pria itu. Walaupun mereka sudah cukup dekat, tapi tidak di pungkiri kalau tingkah menyebalkan pria itu masih saja ada.


"Baiklah, nyonya Nalda, kita akan segera jalan. Sebagai sopir yang baik. Tolong sabuk pengaman nya di pakai." Ucap Ardian, membuat Nalda geleng-geleng dibuatnya.


.


.


.


"Kenapa kita kesini, Nal?" Tanya Ardian bingung sambil menatap bangunan diseberang jalan.


"Tadi, aku mendapatkan pesan dari, Wiyah. Kalau Harum mau main ke rumah ku, makanya aku datang kesini untuk menjemput nya." Jawab Nalda sambil tersenyum. Ia ingin lihat seperti apa reaksi Ardian saat mendengar jawabannya.


"Benarkah, Nal?" Nalda menganggukkan kepalanya, tanda mengiyakan pertanyaan pria itu."Kalau gitu ayok. Kasian putri ku kalau kelamaan menunggu." Dengan semangat Ardian membelokkan mobilnya kearah gerbang sekolah. Bahkan tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Nalda, pria itu melangkah keluar begitu saja, dan meninggalkan Nalda yang hanya diam sambil menatap kearah Ardian.


"Pasti aku akan diabaikan setelah dia bertemu anaknya." Gumam Nalda tersenyum, mengingat bagaimana Ardian yang begitu sangat menyayangi putri nya dan bagaimana pria itu mendekati Harum, sampai mengabaikan kehadiran nya. Nalda tidak marah saat pria itu mengabaikan nya dan lebih mengutamakan putrinya. Karena Nalda tau, Ardian pasti sangat merindukan putri nya, dan ingin mengakui Harum sebagai anaknya di mata orang-orang. Hanya saja untuk saat ini Ardian belum bisa mengakui Harum, lantaran Nalda maupun Ardian merasakan kalau ada yang mengawasi mereka saat ini.


Mereka juga harus menemukan beberapa bukti untuk mengetahui, siapakah orang yang sudah menghancurkan hubungan, Ardian dan Mayla. Setelah semuanya selesai, maka Ardian akan datang kerumah Fazar untuk mengakui kalau Harum adalah putri nya.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Ardian bisa melihat seorang gadis yang masih rapi dengan seragam merah putih, dan juga hijab yang menutup kepalanya. Gadis itu sedang duduk sambil memegang buku ditangannya.


Melihat itu Ardian mengukir senyumannya. Walaupun Ardian tidak melihat wajah gadis kecil itu, karena gadis itu menundukkan kepalanya. Tapi Ardian tau, kalau dia adalah putri nya, lantaran Ardian sudah menghafal seperti apa rupa putrinya.


Ardian melangkahkan mendekati putri nya, dengan perasaan yang gugup. Biarpun mereka sudah beberapa kali bertemu, tapi Harum masih menghindari nya, bahkan tidak terlalu banyak bicara. Berbeda jika Harum bersama dengan Nalda, maka gadis itu akan banyak bercerita.


Apakah karena mereka baru berkenalan? Atau karena trauma Harum, yang memang belum sepenuhnya sembuh? Tapi yang pasti, Ardian tidak mempedulikan itu, karena sekarang yang harus dia pikirkan. Bagaimana membuat Harum mau berbicara dengannya dengan kata yang panjang, dan tidak singkat seperti biasanya.


"Apakah Harum sudah lama nunggu nya, nak?" Gadis itu mengalihkan tatapannya dari buku ditangannya, menatap kearah Ardian, yang sekarang sudah berdiri disampingnya.


"Papa." Batin Harum terkejut dengan kehadiran Ardian disana.


"Kenapa diam, Harum?"


"Tidak apa, paman." Jawab Harum tersenyum canggung. Walaupun Harum sudah berkali-kali bertemu dengan ayahnya, tapi rasa canggung dan takut itu masih ada. Harum tau, kalau Ardian tidak akan mengetahui siapa dirinya. Tapi mengingat perkataan papa nya waktu itu, membuat Harum sering ketakutan jika bertemu dengan papa nya.

__ADS_1


Harum takut jika suatu saat nanti papa nya mengetahui siapa dirinya, papa nya itu akan menjauhinya dan juga membencinya. Lantaran ia terlahir dari rahim mama nya, wanita yang di benci oleh papanya. Karena itulah Harum memilih untuk selalu menghindar, walaupun papanya selalu datang untuk mengenal nya.


Harum hanya ingin menghindar. Agar suatu saat nanti papa nya mengetahui siapa dirinya, ia tidak perlu sedih, karena mereka tidak sedekat itu saat papa nya membenci nya.


"Lah, kenapa diam lagi, Rum?" Tanya Ardian bingung saat melihat gadis kecil itu kembali terdiam sambil menatapnya."Apakah ada yang salah sama paman?"


"Tidak ada, paman."


"Oh, iya. Paman sampai lupa mengatakan, kenapa paman kesini. Paman datang kesini buat jemput, Harum." Jelas Ardian.


"Tidak perlu paman. Harum, nungguin bu dokter saja, karena tadi Harum sudah ngomong sama kak Wiyah, kalau Harum mau main ke rumahnya Bu dokter, dan tadi katanya kak Wiyah. Bu dokter akan datang kesini buat jemput Harum." Jelas Harum dengan, membuat Ardian tersenyum.


Walaupun masih canggung saat gadis itu menjelaskan kenapa ia tidak ikut dengan nya. Tapi Harum mau berbicara, dan menjelaskan kenapa ia tidak ikut dengannya. Tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu menjawab nya.


"Maaf, paman. Harum pulang nya di jemput."


"Maaf, Paman. Harum pulang nya sama Tante bodyguard saja."


Jawaban yang membuat Ardian tidak bisa mendekati gadis kecil itu. Biarpun ia pergi bersama dengan Jidan untuk menjemput Ara, Rafa dan Rafi. Tapi gadis kecil itu selalu menolak nya.


Ardian juga merasa, kalau Harum sengaja menghindari nya. Ia tidak tau, apakah ini hanya karena perasaannya saja atau benar nyatanya.


Uhmm, apakah dirinya seburuk itu, Sampai anak kecil saja takut padanya?


"Harum tenang saja. Paman kesini bareng bu dokter." Jelas Ardian berusaha membujuk putri nya itu.


"Tapi, Paman. Bu dokter tidak ada." Jawab Harum, membuat Ardian mengerutkan keningnya bingung. Sampai ingatannya tertuju, dimana ia meninggalkan wanita itu tadi, karena terlalu terburu-buru sangking senangnya dan juga tidak sabar untuk bertemu dengan Harum.


"Bu dokter, ada disini, Harum." Jawab Nalda yang baru saja datang dan sekarang sudah berdiri di belakang Ardian.


Ardian yang mendengar suara Nalda, membalikkan tubuhnya menghadap kebelakang. Sedangkan Harum memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat kearah Nalda yang tertutup oleh tubuh besar, dan juga tinggi Ardian. Untuk memastikan, apakah benar orang itu adalah Bu dokter yang dia kenal atau bukan.


"Nalda." Cicit Ardian sambil tersenyum kikuk.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2