
Cinta kedua untuk Ardian.
"Bu dokter!" Ucap Harum dengan ceria. Gadis berusia sepuluh tahun itu, melangkah mendekati Nalda dengan senyuman di wajahnya. Sepertinya dia sangat senang bisa bertemu dengan wanita itu.
Sedangkan Ardian hanya bisa terdiam ditempatnya dengan mata yang terus menatap kearah Harum yang melewati nya begitu saja. Ada rasa sakit yang pria itu rasakan saat melihat anaknya mengabaikan nya, dan lebih tertarik dengan orang lain ketimbang dirinya.
Tapi ia juga tidak bisa menyalakan Nalda, karena disini dirinya yang salah. Lantaran tidak pernah mengetahui kehadiran gadis kecil itu, bahkan dengan tega ia pernah menolak kehadirannya. Walaupun ia tidak tau, saat itu ia memiliki seorang anak, tapi mengingat kata-kata menyakitkan yang pernah dia lontarkan, membuat Ardian sering merasa bersalah jika bertemu dengan Harum—Putrinya.
"Maaf, dokter baru datang, Rum. Soalnya tadi dokter harus selesaikan satu pasien lagi." Ucap Nalda tersenyum sambil memeluk tubuh tinggi gadis itu."Apakah Harum, sudah lama nungguin dokter?"
"Tidak juga dokter." Jawab Harum melonggarkan pelukannya.
"Harum sendirian disini?"
"Harum ngga sendirian, Bu dokter. Soalnya Harum sama Tante bodyguard." Jawab Harum sambil melirik ke arah wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka. Wanita yang terlihat seperti masyarakat biasa, karena mereka tidak memakai pakaian hitam seperti biasanya, jika para bodyguard itu sedang menjaga Harum.
Nalda mengikuti tatapan Harum. Kedua orang itu terlihat seperti pekerja di sekolah jika orang tidak mengetahui siapa mereka sebenarnya."Tuan Fazar sangat menjaga ketat Harum, sampai memberikan penjagaan seperti ini. Apakah tuan Fazar mengetahui sesuatu yang kami tidak tau?" Batin Nalda menatap kedua bodyguard wanita itu dengan banyak pertanyaan di pikirannya.
"Bu dokter, kenapa?"
"Tidak apa, Rum." Jawab Nalda tersenyum.
Ekheem
Kedua wanita berbeda usia itu melihat kearah Ardian, saat mendengar pria itu berdehem, tanda kalau pria itu merasa di abaikan.
"Maaf, Ardian, kami melupakan kalau ada kamu disini."
"Tidak masalah, aku juga sudah sering di lupakan." Jawab Ardian dengan sedikit bumbu-bumbu dramatis.
Melihat tingkah dramatis Ardian, Nalda hanya bisa memutar matanya malas. Lihatlah betapa anehnya pria dewasa itu.
"Hahaha, ternyata papa bisa lucu juga ya." Batin Harum yang merasa lucu dengan tingkah papa nya itu. Rasanya ia ingin tertawa, tapi tidak enak dengan sang papa.
"Kalau Harum, mau ketawa. Ketawa aja ngga apa-apa. Paman ngga masalah." Ucap Ardian, membuat Harum menggelengkan kepalanya."Biarpun Harum, mengatakan papa adalah orang gila. Papa tidak akan masalah, Rum. Asalkan kamu bahagia, dan tersenyum."
"Ardian. Kita benar-benar tidak ingin makan siang nih." Tanya Nalda memecahkan suasana, yang sepertinya berubah menjadi hening, saat Ardian menatap putri nya dengan dalam. Entah apa yang pria itu pikirkan, tapi Nalda yakin. Kalau Ardian, pasti sedang mengutarakan penyesalan nya walaupun Ardian hanya bisa mengatakan nya lewat hati nya saja.
__ADS_1
"Maaf, aku sampai melupakan itu." Ucap Ardian tersadar dari keterdiamannya."Ayo kita cari restoran terdekat, setelah itu kita ke rumah Bu dokter. Atau Harum mau pergi jalan-jalan dulu?"
"Terserah saja paman." Jawab Harum singkat, membuat Ardian mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Baiklah, ayo kita pergi! Harum. Sini tasnya paman yang tidak bawa."
"Maaf paman, tidak perlu. Harum bisa membawanya sendiri." Tolak Harum sopan.
"Tidak apa-apa, Harum. Paman senang membantu." Jawab Ardian sambil meraih tas Harum."Sekarang ayo kita jalan." Ucap Ardian sambil melangkah duluan.
"Tapi Paman..." Harum merasa tidak enak, saat papa nya membawakan tasnya. Seharusnya ia tidak merepotkan papa nya itu.
.
.
"Tuan, nona muda sudah di jemput oleh dokter Melisenda dan juga tuan Ardian." Ucap diseberang sana memberitahukan siapa yang sudah menjemput Harum—Anak angkat tuannya itu.
"Baik, lanjutkan pekerjaan kalian. Terus awasi putri ku, jangan sampai terjadi sesuatu dengan nya!"
"Baik, tuan."
Fazar menyadarkan punggung nya di sandaran kursi. Menatap kearah foto istrinya dan juga keempat anaknya. Walaupun Harum bukanlah putri nya, tapi Fazar sudah menyayangi gadis kecil itu saat ia mengangkat nya menjadi anak sulung mereka.
"Aku berjanji sayang. Kalau aku tidak akan membiarkan orang lain menyakiti anak-anak kita, termasuk keluarga kita." Ucap Ardian menatap wajah istrinya yang sedang tersenyum didalam foto itu."Aku akan mencari tau, siapakah orang yang ingin menyakiti keluarga kita. Selain Nalda dan juga Aron."
.
.
Setelah makan siang bersama, Ardian langsung mengajak gadis kecil itu bermain di mall. Rencananya tadi mereka akan pulang ke rumah Nalda. Tapi rencana itu sepertinya tidak jadi saat Ardian memutar rencana keduanya. Untuk Harum. Gadis itu sudah mengganti pakaiannya, dengan baju yang Ardian belikan.
"Harum, mau pergi kemana dulu?" Mendengar pertanyaan sang papa, Harum menatap papanya itu dengan bingung, lantaran ia harus kemana dulu. Sedangkan dia bingung mau apa.
"Bagaimana, kalau kita pergi ke toko buku dulu?" Saran Nalda, membuat Harum menatap kearahnya.
"Ide yang bagus. Ayo kita pergi ke toko buku." Dengan bersemangat. Ardian menggenggam tangan Harum, dan dengan lembut menarik nya kearah lorong yang mengantarkan mereka kearah toko buku.
__ADS_1
Sedangkan Harum, merasa terharu saat tangan itu lagi-lagi menggenggam nya dengan lembut."Mama, lihatlah papa mengengam tangan Harum, seperti keinginan Harum waktu itu." Batin Harum, teringat akan keinginan nya dulu saat dia masih bersama dengan mama nya. Keinginan yang tidak akan mungkin bisa tercapai, tapi selama dia dekat dengan Ardian, ia bisa merasakan tangan itu. Tangan yang dulu dia impikan bisa menggenggam nya, bisa mengelus rambut nya, mengendong nya dan juga mengajarinya belajar. Tangan yang begitu sangat dia rindukan, bahkan ingin ia merasakan bagaimana tangan itu menyayangi nya seperti orang-orang yang pernah dia lihat, yang begitu sangat bahagia saat bersama dengan ayah mereka.
Walaupun dia merasakan kasih sayang penuh dari Fazar. Tapi rasanya sangat berbeda, karena Fazar bukan lah ayahnya, dan sewaktu-waktu kasih sayang itu pasti akan berkurang saat ia sudah dewasa, apalagi ia bukanlah darah daging Fazar. Mungkin saat dewasa nanti ia perlu menjaga jarak, karena takut adanya fitnah, apalagi ia hadir di keluarga itu saat sudah dewasa dan orang-orang juga tau siapa dirinya.
Saat Harum merasa terharu dengan genggaman tangan itu, Harum kembali mengingat kata-kata Ardian waktu lalu. Mengingat perkataan Ardian membuat Harum takut, kalau suatu saat nanti Ardian mengetahui siapa dirinya.
Apakah Ardian akan menyayangi nya seperti sekarang? Atau mungkin malah menjauhinya? Memikirkan itu, membuat Harum cemas.
Sedangkan Nalda, yang melihat gelagat kecemasan dari Harum, merasa khawatir. Nalda takut, kalau trauma gadis itu kambuh lagi saat berdekatan dengan Ardian.
"Ardian." Ardian menghentikan langkah nya saat mendengar Nalda memanggil nya. Ardian membalikkan tubuhnya menghadap kearah Nalda.
"Ada apa, Nal?Merasa kesepian karena dia abaikan?"
"Bukan itu." Dengan cepat Nalda mendekati Ardian, lalu membisikan apa yang Nalda lihat dari Harum.
"Astaga." Dengan khawatir, Ardian melepaskan tangan nya yang sedang menggenggam tangan Harum.
"Harum, baik-baik saja?" Tanya Nalda menatap kearah Harum dengan khawatir.
"Harum, baik-baik saja dokter." Jawab Harum tersenyum.
"Jika Harum tidak sehat, dokter antar Harum pulang. Bagaimana?"
"Tidak perlu dokter, Harum baik-baik saja." Jawab Harum dengan yakin, walaupun tadi dia sempat cemas. Tapi Harum masih bisa mengendalikan rasa cemasnya itu."Paman, Bu dokter. Ayo, kita pergi ke toko Buku. Keburu tutup nanti kalau kita lama disini." Ucap Harum mengalihkan perhatian mereka, agar mereka tidak pulang duluan. Harum tidak mau, hanya karena dirinya dokter dan juga papa nya membatalkan rencananya untuk bersenang-senang di mall.
"Baiklah, kita pergi. Tapi Harum yakin baik-baik saja." Harum menganggukkan kepalanya dengan cepat, menandakan kalau dia benar-benar baik-baik saja."Baiklah, ayo kita pergi." Ardian tidak mengengam tangan Harum seperti tadi, ia hanya bisa berjalan disamping putri nya, berbeda dengan Nalda yang bisa menggenggam tangan gadis kecil itu.
.
.
Setelah membeli beberapa buku yang Harum cari, Ardian, Nalda, dan juga Harum memutuskan untuk berbelanja. Sebenarnya yang belanja hanyalah Nalda dan juga Harum. Karena Ardian tidak, pria itu hanya sibuk mencari baju untuk putri nya.
Setelah berbelanja, mereka mencoba semua permainan disana, termasuk boneka capit. Mungkin boneka capit adalah permainan tersusah, tapi Ardian berhasil mendapatkan boneka, walau ia harus sabar karena beberapa kali gagal. Setelah berbelanja dan bermain permainan di mall.
Kini Ardian mengajak Harum dan Nalda ke bioskop untuk nonton film kartun dua bocah yang memiliki kepala botak, hanya saja di jadikan demuvi.
__ADS_1
Sebenarnya Ardian tidak tertarik pada film kartun anak-anak, karena dia lebih senang berkerja. Tapi demi sang anak, dia mau menonton film itu.
...----------------...