Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Setelah memastikan Mayla tidur, bik Susi secara diam-diam membuka pintu untuk seseorang yang sudah menunggu di luar sana.


"Kamu sudah memberikan obat tidur itu untuk nya?"


"Sudah tuan." Jawab bik Susi takut sambil menundukkan kepalanya, tidak ingin menatap wajah pria itu.


"Sekarang kamu tunjukkan dimana ruangan kerjanya." Bik Susi mengangguk, lalu mengantarkan pria itu keruangan kerja Ardian.


Bik Susi dan juga pria itu memasuki ruangan kerja Ardian untuk menjalankan rencana yang wanita tadi perintahkan.


"Maafkan, saya tuan Ardian." Batin bik Susi merasa bersalah.


"Kamu tunggu disini, setelah semuanya selesai, saya akan menyuruh mu untuk melakukan rencana berikutnya." Ucap pria itu sambil mengotak-atik komputer yang berada di ruangan itu.


"Baik tuan." Jawab bik Susi, sambil memerhatikan apa saja yang pria itu lakukan terhadap komputer didepannya. Sampai bik Susi mengerti, kalau pria itu menghapus semua rekaman Cctv yang terjadi hari ini. Setelah menghapus nya, pria itu kembali memasangkan rekaman lain didalam rekaman Cctv itu.


Bik Susi tidak tau rekaman apa yang berada di Cctv itu, tapi bik Susi tau kalau ini adalah kabar buruk.


"Sekarang giliran mu melakukan rencana selanjutnya." Ucap pria itu setelah mematikan komputer didepannya.


Bik Susi tidak berani mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan pria itu yang menyuruh nya untuk melakukan rencana selanjutnya.


"Lepaskan semua pakaian dari wanita itu." Bik Susi terkejut, reflek mengangkat kepalanya menatap kearah pria itu."Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu tidak ingin melakukannya?"


"Ti–dak tuan. Bukan seperti itu..."


"Kamu tidak perlu mengetahui nya, karena kamu hanya perlu melakukannya saja. Kamu taukan, apa yang akan terjadi jika sampai kamu menolak?" Ucap pria itu mengingatkan.

__ADS_1


"Maaf tuan. Saya akan melakukannya." Dengan rasa takut, bik Susi mengiyakan ucapan pria itu.


"Pergilah. Saya paling tidak suka ada orang yang membuang-buang waktu saya, walaupun sebentar."


Bik Susi dengan cepat melangkah meninggalkan ruangan kerja Ardian, melangkah ke kamar utama, di mana sekarang Mayla sedang tidur sangat nyenyak, karena efek dari obat tidur yang baik Susi berikan.


Bik Susi hanya bisa berdoa, semoga obat tidur itu tidak mengugurkan kandungan Mayla, mengingat dosis nya sangat tinggi.


"Maafkan saya non Mayla, saya terpaksa melakukannya." Ucap bik Susi terisak sambil menatap wajah Mayla yang sedang terlelap dalam tidurnya. Wajah tenang itu membuat bik Susi tidak ingin menyakiti wanita malang itu, hanya saja ini sudah terlalu jauh dia melakukannya. Jika sampai dia berhenti, itu juga tidak akan ada gunanya, lantaran semuanya sudah terjadi. Maka biarlah ia menjadi egois hari ini, untuk keselamatan kedua pihak yang masuk kedalam rencana orang jahat.


Setelah melepaskan semua pakaian Mayla, bik Susi menatap wajah itu dengan sangat lama. Sampai tangan nya mengusap lembut wajah wanita itu.


"Apapun yang terjadi kedepannya, non Mayla. Saya tau anda adalah wanita kuat. Anda tidak akan lemah, walaupun setitik luka, karena sebelumnya anda sudah merasakan luka yang jauh lebih besar lagi dari ini." Ucap bik Susi, setelah itu ia mencium kening Mayla dengan lembut.


Setelah melakukan tugasnya. Kini bik Susi melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah yang berat. Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari ia berdiri, bik Susi bisa melihat satu pria muda yang sedang mengobrol dengan pria tadi. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya pembicara mereka sangat serius.


"Kamu sudah menyelesaikan tugas mu?"


"Sekarang kamu keluarlah. Diluar ada anak buah saya, yang akan mengantarkan mu pada anakmu."


"Baik, tuan terimakasih."


Sebelum bik Susi melangkah keluar dan meninggalkan kediaman Ardian, bik Susi menoleh sebentar kearah kamar Mayla yang masih tertutup rapat. Rasanya bik Susi ingin berlari dan membangunkan nyonya nya itu, dan memberitahukan kalau sekarang dia sedang dalam bahaya. Tapi itu hanyalah pikiran nya, karena dirinya memang tidak akan bisa melakukannya.


.


.


Di tengah hujan deras di sertai petir dan juga angin kencang, Bik Susi berdiri didepan bangunan tua yang terlihat tidak terawat. Rasanya ia tidak ingin masuk karena takut, ia harus bisa karena didalam sana ada anaknya. Ia kesini untuk menyelamatkan kedua anaknya apapun yang terjadi.

__ADS_1


"Masuklah." Ucap orang yang tadi mengantarkan nya ketempat itu.


"Ba–baik tuan." Jawab bik Susi. Walaupun perasaannya bimbang, tapi bik Susi tetap memasuki bangunan itu dengan kaki yang gemetaran, apalagi bangunan itu sangat gelap sehingga membuat Bik Susi berkali-kali hampir saja terjatuh, tapi tidak dengan orang itu, yang dengan santai berjalan tanpa tersandung sama sekali. Sepertinya orang itu sudah hafal dengan jalan disana.


"Selamat datang, wanita tua." Bangunan yang tadi gelap seketika menjadi terang, bersamaan dengan kemunculan seorang wanita tadi siang, yang kini berdiri tidak jauh dari bik Susi.


Bik Susi menatap sekelilingnya dengan banyak pertanyaan di pikirannya, saat melihat bangunan yang tadi dia kira jelek di luar nya ternyata sangat bagus, bahkan mewah didalam nya.


"Ternyata kamu sangat cepat menyelesaikan misi mu. Saya sangat menyukainya" Ucap wanita itu sambil tersenyum miring."Oh iya, satu lagi. Atas tanda terimakasih saya karena kamu sudah selesai dengan tugas yang saya berikan. Maka saya ingin memberikan kamu hadiah."


"Hadiah?" Ulang bik Susi tidak mengerti.


"Iya, hadiah." Jawab wanita itu tersenyum."Perlihatkan hadiah nya!" Teriak wanita itu, membuat beberapa orang disana menganggukkan kepalanya. Lalu mengambil benda berbentuk segi empat yang tidak terlalu besar, tapi tertutup oleh kain hitam. Walaupun tidak terlalu besar, tapi benda itu membutuhkan lima orang untuk membawanya sangking berat nya.


"Saya yakin, kamu pasti menyukai hadiah saya." Ucap wanita itu."Apakah kamu tidak ingin membuka dan melihat hadiah apakah didalam sana?" Tanya wanita itu, membuat bik Susi tidak berani untuk mengangguk karena perasaan nya tiba-tiba saja merasa tidak enak."Baiklah, karena kamu tidak menjawab. Sebaiknya kamu buka sendiri."


Bik Susi membulatkan matanya terkejut saat mendengar ucapan wanita itu, apalagi wanita itu mengatakan kalau dirinya akan membuka nya sendiri.


"Tapi...."


"Tidak ada bantahan, karena ini perintah saya." Potong wanita itu menatap tidak suka kearah bik Susi.


Walaupun tidak ingin melihat hadiah apakah yang wanita itu kasihkan, tapi karena perintah, dengan terpaksa langkahnya mengarah kearah kota itu.


Dengan perasaan cemas, tangannya menarik kain hitam itu. Satu detik, dua detik bik Susi hanya diam menatap isi didalam kotak itu.


Sampai.


"Aldi, Ali."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2