Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


"Jerry, kamu kemari." Ucap Nalda terlihat senang saat melihat kedatangan sahabatnya itu.


Ya, yang datang bertamu tidak lain adalah Jerry. Sahabat Nalda serta pria yang mencintai Nalda. Walaupun Jerry mencintai Nalda, tapi Nalda tetap menerima Jerry dan bersikap biasa-biasa saja, agar persahabatan mereka tidak rusak hanya karena perasaan mereka masing-masing.


Jerry tau, kalau mendendam perasaannya itu akan sulit, tapi demi kedua sahabatnya, Jerry rela bersikap biasa-biasa saja didepan kedua sahabatnya. Walaupun nanti ia akan mengungkit perasaannya kembali, tapi yang terutama sekarang ia bisa dekat dengan sahabatnya serta wanita yang begitu sangat ia cintai.


"Tentu aku datang kemari, saat mendengar sahabat ku sedang tidak sehat." Jawab Jerry melangkah kearah meja makan. Bahkan pria itu mengabaikan Ardian disana karena belum sadar akan sosok pria didepan Nalda, karena pandangannya hanya tertuju pada Nalda saja."Apa kamu masih sakit, Nal?"


"Alhamdulillah sudah tidak lagi Jer, bengkak nya juga sudah mulai berkurang." Jawab Nalda, membuat Jerry tersenyum.


"Syukurlah aku senang mendengarnya." Ucap Jerry. Jerry yang memang berdiri di sisi kursi Ardian, tapi dia sadar akan sosok Ardian disebelahnya.


"Dia tidak menyadari kehadiran ku." Gerutu Ardian dengan suara kesalnya karena di abaikan."Lihatlah tatapannya pada Nalda sangat lain." Decak Ardian tidak suka.


Rasanya Ardian ingin mengusir pria yang menatap Nalda dengan tatapan lain. Tapi Ardian tidak bisa melakukan itu, mengingat ini bukan rumahnya dan pria itu juga sahabatnya Nalda. Jadi ia tidak ada hak mengusir, karena Ardian bukan siapa-siapa nya Nalda.


"Apakah kamu tidak berniat untuk duduk?" Mendengar suara yang tidak asing ditelinga nya membuat Jerry menoleh kearah samping.


"Ssss.... Brengsek! Kenapa pria ini berada disini? Apa yang ingin dia lakukan?" Batin Jerry menatap kearah Ardian dengan tatapan tidak suka, bahkan tatapan hangatnya tadi berubah menjadi sinis saat melihat kehadiran Ardian.


"Apa yang kamu bawa, Jerry?" Tanya Nalda memecahkan suasana tegang di ruangan itu. Karena Nalda bisa merasakan bersih tegang di antara kedua pria itu.


Mendengar pertanyaan Nalda membuat Jerry tersenyum hangat dan menoleh kearah Nalda."Aku membawa buah-buahan untukmu, karena aku tau kalau pagi-pagi seperti ini kamu hanya bisa makan buah, bukan makanan berat." Jawab Jerry sambil memperhatikan paper bag yang terbuat dari kain itu, yang ternyata berisi buah-buahan."Sepertinya aku melihat perubahan hari ini, karena kamu makan berat, tidak seperti hari biasanya." Ucap Jerry menatap piring nasi didepan Nalda.


"Karena aku ingin makan saja, kebetulan Ardian membawakannya." Jawab Nalda menoleh kearah Ardian yang kini hanya diam dengan tatapan datar diwajahnya."Apakah Ardian marah yah, karena ucapan Jerry barusan?" Batin Nalda merasa tidak enak pada Ardian."Tapi untuk apa aku memikirkan nya. Seharusnya aku bersikap biasa saja." Batin Nalda kembali menghilangkan perasaan bersalahnya.


"Aku sampai melupakan satu hal dari Nalda. Kalau dia tidak bisa makan berat saat pagi hari." Batin Ardian yang menyadari kesalahannya. Padahal waktu itu tertera di kertas informasi tentang Nalda. Apa yang dia suka dan tidak suka. Tapi Ardian tetap senang karena Nalda begitu sangat menghargai nya sehingga makanan yang dia bawa mau Nalda makan, padahal wanita itu tau kalau ia tidak pernah sarapan pagi dengan makanan berat.


.


.


Setelah mengantarkan makanan pada Nalda, kini Ardian pergi ke kantor nya. Kebetulan hari ini jadwalnya tidak ada membuat pria itu sedikit bersantai di ruangannya.


"Tuan, bagaimana? Apakah nyonya Nalda menyukai masakan anda?" Ardian menoleh kearah Jidan saat mendengar pertanyaan pria itu.


"Aku tidak tau, Jidan. Apakah dia menyukainya atau tidak. Karena tadi dia mengatakan kalau masakan ku lumayan. Padahal tadi kata bik Ani kalau masakan yang aku masak sangat enak." Curhat Ardian dengan wajah yang terlihat murung. Sepertinya pria itu sedang galau."Bahkan aku sampai lupa kalau dia tidak bisa makan berat saat pagi-pagi."


Mendengar curhatan tuannya itu ,membuat Jidan tersenyum seperti nya tuannya itu sedang galau."Tapi tidak apa-apa tuan. Walaupun nyonya Nalda mengatakan kalau rasa makanannya biasa saja, tapi nyonya Nalda tetap memakannya. Padahal nyonya Nalda juga tau kalau dia tidak bisa sarapan pagi. Tapi karena nyonya Nalda menghargai anda, nyonya Nalda tetap memakannya tanpa protes." Jelas Jidan mencoba menghibur tuannya itu yang terlihat murung.


"Tapi, tidak ada yang sepesial, Jidan."


"Ada tuan, hanya saja nyonya Nalda tidak menyadarinya."


"Benarkah? Lalu apakah itu?" Tanya Ardian penasaran.


"Dia menghargai anda tuan. Bahkan mau menerima anda, yang berarti anda memiliki kesempatan untuk mendekati nya." Jelas Jidan kembali yang tetap meyakinkan tuannya itu.

__ADS_1


"Benarkah?" Jidan hanya mengangguk, yang membuat sudut bibir Ardian terangkat. Tapi sedetik kemudian sudut bibir turun kembali."Tapi menurutku, aku tidak pantas untuknya, Jidan. Kamu tau, kalau aku adalah sang Casanova. Bahkan para wanita banyak yang mengenal ku sebagai pria yang pernah menyewa malam mereka." Ucap Ardian yang teringat akan kelakuan nya selama ini, bahkan kelakuannya sangat sulit untuk dia tinggalkan karena ia sudah sangat candu untuk melakukan itu. Apalagi satu bulan yang lalu dia baru saja melakukan hal gila kembali."Aku seorang pendosa, sedangkan dia wanita baik-baik, Tentu saja sangat tidak pantas aku kejar, Jidan. Apalagi kamu tau kalau aku memiliki kelainan se**sual."


Ardian begitu sangat ingin meninggalkan kebiasaan buruknya, tapi karena kelakuan nya yang tidak bisa berubah membuat pria itu sangat sulit meninggalkan kebiasaan buruknya selama ini.


Sedangkan Jidan yang mendengarkan curhatan dari tuannya hanya bisa merasakan kasian. Jidan tau, bagaimana berada di posisi Ardian sekarang yang selalu saja terikat dalam masa lalunya, walaupun pria itu ingin melupakannya, tapi karena trauma membuat masa lalu itu berubah menjadi trauma yang tidak terlupakan untuk selamanya.


Jidan tersenyum saat mendengar cerita tuannya, yang ternyata masih menyadari kalau apa yang dia lakukan salah. Tapi tuannya itu tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya.


"Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa di masalalunya, tuan. Tapi mereka ingin berubah menjadi yang lebih baik lagi, makanya mereka meninggalkan kebiasaan buruk mereka untuk berubah." Jawab Jidan, membuat Ardian terdiam mendengar ucapan sekertaris nya itu. Tapi Ardian ragu, apakah nanti ia bisa berubah atau tidak.


"Untuk masalah nyonya Nalda, apakah menerima tuan atau tidak. Itu semua ada pada perasaan nyonya Nalda. Karena tuan hanya perlu berjuang untuk mendapatkan hatinya."


"Tapi Jidan, apakah Nalda mau menerima masa laluku yang terlalu kelam ini, atau tidak?" Tanya Ardian melihat kearah Jidan.


"Semua tergantung perasaannya tuan. Jika nyonya Nalda benar-benar tulus mencintai anda maka nyonya Nalda akan menerima semua masalalu anda. Bahkan nyonya Nalda tidak akan mempermasalahkan masalalu anda, jika dia benar-benar tulus mencintai anda dan anda juga berniat untuk berubah." Ucap Jidan kembali, yang semakin membuat Ardian terlihat terdiam memikirkan perkataan Jidan yang memang benar. Tapi, pertanyaannya. Apakah ia bisa berubah atau tidak?


"Aku tidak tau Jidan. Aku hanya mengikuti bagaimana alur selanjutnya." Jelas Ardian mengalihkan tatapannya yang tadi mantap kearah Jidan kearah langit-langit ruangan kerjanya.


Jidan mengerti apa yang Ardian rasakan sekarang, hanya saja Ardian bingung akan melakukan apa.


"Tuan bagaimana kalau kita makan siang. Sepertinya ini sudah memasuki waktunya makan siang." Ucap Jidan mengalihkan pembicaraan mereka agar tuannya itu tidak dalam keadaan bingung seperti sekarang.


"Kita makan siang dimana?"


"Saya akan mengantarkan tuan ke suatu tempat yang istimewa." Jawab Jidan sambil membuka ponselnya. Terlihat kalau Jidan tersenyum saat membaca pesan itu.


"Dimana?"


Setelah perbincangan ringan tadi yang terdengar serius. Kini kedua pria dengan status yang berbeda itu, melangkah keluar secara bersamaan. Tidak ada yang berbincang karena keduanya sama-sama diam dan berada didalam pikiran mereka masing-masing.


.


.


"Kenapa kita berada disini?" Tanya Ardian saat melihat bangunan didepannya. Bukan restoran seperti yang Jidan katakan, melainkan sebuah bangunan sekolah dasar.


"Anda akan tau, nanti." Jawab Jidan tersenyum."Tuan, mau ikut masuk kedalam atau tidak?" Tanya Jidan sebelum ia keluar dari mobil.


"Aku ikut saja, Jidan. Kebetulan aku penasaran kamu ngapain disini?"


Kini kedua pria itu keluar dari mobil melangkah memasuk kedalam. Dari halaman sekolah, kini sudah ramai dengan anak-anak yang baru saja pulang sekolah.


"Om, Jabir!!" Mendengar namanya dipanggil Jidan membalikkan tubuhnya. Bukan saja Jidan. Ardian juga ikut berbalik untuk melihat siapakah orang yang memanggil sekertaris nya itu.


"Rafa, Rafi, Azra, Harum." Ucap Jidan tersenyum saat melihat ketiga anak keponakan dan juga adiknya. Sedangkan Ardian yang berada disana langsung terdiam terpaku saat melihat gadis belia yang selama ini membuatnya penasaran. Hanya saja ia tidak mendapatkan informasi apapun yang ia cari, karena semua informasi gadis itu sudah Fazar sembunyikan. Mengenai siapakah gadis kecil yang memiliki wajah sama sepertinya.


Entah apa yang Fazar sembunyikan. Tapi ia yakin kalau ada sangkut pautnya dengan dirinya. Sehingga berbulan-bulan ini ia tidak tidak mendapatkan informasi apapun.


Sama seperti Ardian saat melihat kehadiran Harum disana. Harum juga merasakan hal yang sama, dimana ia kembali dipertemukan dengan papa kandung nya yang tidak bisa ia akui kerena suatu alasan.

__ADS_1


"Papa." Gumam Harum hampir tidak terdengar sama sekali.


"Harum, kenapa kamu diam disitu?" Rafa saat melihat sahabatnya itu hanya diam didepannya.


Harum yang dipanggil tersadar dari keterdiamannya. Dengan sikap yang biasa-biasa saja. Harum mendekati ketiganya.


"Assalamualaikum, Om Jidan, om Ardian." Sapa keempatnya. Termasuk Harum yang mencoba untuk bersikap biasa saja saat bertemu dengan Ardian, walaupun rasa rindu nya lebih besar. Ada keinginan untuk memeluk tubuh papa nya itu, walaupun sekali saja. Tapi Harum tidak berani meminta nya.


"Waalaikumsalam semuanya." Jawab Jidan sambil tersenyum, tapi tidak dengan Ardian yang hanya diam menatap kearah Harum.


"Om, Jidan. Tumben jemput kami. Biasanya ayah?" Tanya Rafa.


"Ayah kalian sedang ada urusan, makanya tadi ayah kalian menyuruh om Jidan menjemput kalian." Jawab Jidan.


"Bagaimana dengan Om tampan, dan juga kakak Fadil?" Tanya Harum, membuat Jidan semakin tersenyum mendengarnya. Akhirnya dari sekian lama gadis itu tinggal di rumah adiknya Wiyah. Baru kali ini Harum berani berbicara dengannya tanpa takut seperti waktu itu.


"Mereka sedang berada di rumah sakit, karena kak Wiyah akan melahirkan."


"Benarkah? Kak Wiyah akan melahirkan?" Tanya ketiganya yang terlihat penasaran. Berbeda dengan Azra yang hanya menyimak dan terlihat biasa-biasa saja. Sepertinya Azra tidak tertarik sama sekali dengan cerita Jidan.


"Iya, kalian doa'in yang terbaik untuk kak Wiyah. Semoga kak Wiyah dan bayinya baik-baik saja."


"Amminn, semoga kak Wiyah bersama dengan dedek bayi baik-baik saja." Ucap ketiga nya.


"Ayo, kita masuk kedalam mobil. Karena matahari semakin panas." Ajak Jidan saat merasakan panas mengenai kulitnya. Keempatnya langsung menganggukkan kepalanya, karena mereka juga merasakan hal yang sama.


.


.


"Harum ayo masuk." Suruh Jidan saat melihat anak keponakannya itu yang terlihat sedang memeriksa tasnya.


"Om Jidan. Sepertinya gelang buatan Harum ketinggalan didalam kelas." Jawab Harum yang terus memeriksa tasnya.


"Kalau gitu besok aja kita ambil."


"Tidak om Jidan. Harum harus ambil sekarang, takutnya nanti diambil sama murid lain." Jawab Harum tidak setuju."Om tunggu disini, Harum mau ambil gelang nya dulu."


"Tapi Harum__" Harum seperti mengabaikan ucapan Jidan, dan memilih untuk masuk kembali kedalam.


"Biar Rafa yang susul om." Sambung Rafa ikut turun dari mobil itu.


"Rafi juga." Kini didalam mobil itu hanya tinggal Azra sendiri disana yang terlihat tidak suka dengan apa yang Harum lakukan.


"Dasar drama." Desak Azra didalam hatinya.


Sedangkan Ardian hanya menatap Harum, Rafa dan Rafi. Sampai pandangannya tertuju pada satu benda yang tergeletak di tanah dekat dengan bang mobilnya. Ardian membukukan tubuhnya untuk mengambil benda itu yang ternyata sebuah dompet kecil dengan gambar kelinci yang menghiasi dompet itu.


Karena penasaran dompet siapakah itu. Ardian membukanya dan bertapa terkejutnya ia saat melihat isi dompet itu. Bukan karena isi didalamnya, melainkan sebuah gambar yang begitu sangat familiar dimatanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2