Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Jidan dan Nada, mengelilingi tempat itu, hanya untuk mencari Ardian yang entah dimana keberadaannya.


"Jidan, kita dari tadi hanya berputar-putar saja. Emangnya kamu cari apa sih." Keluh Nada yang merasa sangat lelah saat pria itu hanya mengajaknya berkeliling saja, tanpa berniat untuk mampir membeli sesuatu atau mencoba permainan.


Jika hanya untuk berkeliling, untuk apa Jidan mengajaknya?


"Kita mau ngapain sih disini, Jidan. Mau keliling-keliling nggak jelas kayak gini!" Kesal Nada menatap jengkel kearah Jidan. Bahkan gadis itu sekarang sudah menghentikan langkah nya.


Mendengar ucapan Nada, membuat langkah Jidan ikut berhenti. Jidan sampai melupakan kalau dirinya membawa Nada disini, tapi ia malah membiarkan nya begitu saja, karena fokus nya sekarang hanya pada bosnya.


Karena memang tujuan awalnya seperti itu. Membawa Nada hanya untuk permintaan Ardian. Tapi ia juga tidak boleh egois, hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.


"Maaf, Nad. Aku sudah mengabaikan mu tadi. Karena aku hanya fokus mencari seseorang." Ucap Jidan merasa bersalah. Pria itu melangkah mendekati gadis itu yang masih menatapnya dengan jengkel.


"Jika kamu mengajakku hanya untuk berkeliling karena mencari seseorang, mending aku mau pulang saja!" Ketus Nada, melangkah meninggalkan Jidan, tapi dengan cepat Jidan menghentikan gadis itu, dengan menghalangi jalan Nada


"Sekali lagi maaf, Nad. Jangan pergi dulu." Cegat Jidan, menatap gadis berkaca mata itu dengan tatapan memohon.


"Aku mau pulang! Sebaiknya kamu selesaikan urusan mu."


"Urusan ku akan selesai, tapi itu sama kamu Nad." Jelas Jidan."Begini saja. Kamu jangan pulang dulu, karena kita mau lanjut jalan-jalannya. Masalah urusan ku, kita bisa menyelesaikan nya saat kita bertemu dengan orang yang aku cari." Usul Jidan membuat Nada terlihat terdiam."Bagaimana, Nad? Jangan pulang ya." Bujuk Jidan, yang tidak ingin membuat gadis itu marah padanya.


Lama berpikir, akhirnya Nada menganggukkan kepalanya setuju."Baiklah, aku mau. Tapi dengan satu syarat, kalau kamu mau mengajakku jalan-jalan untuk menikmati tempat ini ." Jawaban Nada, membuat Jidan menganggukkan kepalanya.


"Baik, Nad. Terimakasih sudah mau ikut, dan Maaf sudah membawa mu secara paksa tadi, Bahkan aku sampai mengabaikan mu." Ucap Jidan dengan tulus.


"Tidak apa-apa, Jidan. Aku sudah memaafkan mu." Jawab Nada, yang merasakan desiran aneh pada jantung nya saat Jidan menatap nya seperti itu."Baiklah, sebaiknya kita lanjutkan berkeliling. Bukannya kamu mau mengajakku mencoba makanan, serta permainan disini." Ucap Nada berusaha mengalihkan pembicaraan mereka ke hal lain, karena jantung nya tidak aman saat Jidan menatapnya seperti itu.


"Ayo, Kita mulai dari makanan itu dulu." Ucap Jidan, sambil melangkah kearah penjual permen kapas yang tidak jauh darinya. Sedangkan Nada mengikuti langkah pria itu dari belakang.


Perdebatan mereka tadi seakan hilang, saat Jidan mulai mengajak Nada jalan-jalan sambil menikmati makanan yang dijual disana. untung nya lagi, perdebatan keduanya tidak terlalu di perduli kan oleh orang-orang disana. Jadi Jidan maupun Nada tidak terlalu malu karena takut mereka mendapatkan tatapan dari orang-orang.


"Jidan, stop dulu." Jidan mengehentikan langkahnya, saat Nada menyuruh nya berhenti.


"Ada apa, Nad?"


"Aku ingin boneka itu." Ucap Nada tersenyum.


"Baiklah, ayo kita beli." Ajak Jidan lagi-lagi mengikuti permintaan Nada.


"Terimakasih, Jidan." Dengan senang, gadis itu mengikuti langkah Nada.


Kini keduanya sudah berada ditempat penjual boneka yang ditunjuk oleh Nada tadi. Tapi boneka itu tidak bisa langsung didapatkan dengan cara memberikan uang, tapi mereka harus memainkan satu permainan, jika mereka berhasil menyelesaikan tantangan. Maka Jidan akan mendapatkan boneka sesuai dengan berapa kali dia memasuki bola itu dalam keranjang.


"Semangat Jidan, kamu pasti bisa!" Sorak Nada menyemangati Jidan, yang kini sedang memegang bola kecil yang dia lemparkan kedalam keranjang.


Jidan yang mendengar sorakan Nada yang menyemangati nya, hanya tersenyum. Lalu dengan fokus dia melempar bola itu kedalam keranjang yang terus bergerak. Satu kali percobaan gagal, sampai yang terakhir.

__ADS_1


"Yaa." Melihat ekspresi kecewa dari Nada, membuat Jidan tidak tega.


"Kita coba lagi, semoga kali ini bisa." Ucap Jidan kembali mengulang permainan nya, sedangkan Nada hanya menganggukkan kepalanya setuju, dan dengan semangat, Nada menyemangati Jidan.


Satu kali percobaan Jidan tidak berhasil, tapi percobaan kedua dan yang terakhir Jidan berhasil memenuhi keranjang itu dengan bola.


"Yeeee! Kamu berhasil, Jidan!" Sorak Nada kesenangan, dan sampai melupakan kalau dia berada di tempat umum sekarang. Sehingga gadis berkacamata itu mendapatkan tatapan dari orang-orang di sana. Termasuk Jidan yang hanya bisa geleng-geleng mendengar teriakan kegirangan Nada.


"Upsss. Aku kelepasan." Ucap Nada menutup mulutnya dengan malu, menatap kearah Jidan.


"Walaupun bola nya tidak masuk semuanya, tapi mas dan mba, tetap mendapatkan boneka." Ucap mas-mas pemilik permainan itu, sambil memberikan satu boneka kucing kearah Nada.



"Wah!! Terimakasih mas!" Ucap Nada terlihat begitu sangat senang menerima boneka kucing itu."Boneka nya sangat lucu. Terimakasih Jidan." Lagi-lagi Jidan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Kini keduanya melanjutkan langkahnya kembali. Tapi langkah itu harus berhenti saat melihat seseorang disana yang sedang duduk sambil bercengkrama dengan sangat bahagianya, seperti tidak ada beban.


"Kenapa berhenti, Jidan?"


"Sepertinya kita tidak bisa mengganggu mereka." Ucap Jidan melirik kearah Nada.


"Tidak bisa menggangu mereka? Siapa?" Lanjut Nada tidak mengerti.


"Pria itu bosku." Jelas Jidan, membuat gadis itu mengikuti pandangan Jidan yang sekarang sedang menatap kesatu tempat.


"Apakah mereka suami, istri? Mereka terlihat sangat serasi." Ucap Nada yang tidak mengerti apa-apa, tapi ia tetap memberikan pendapat sesuai apa yang dia lihat.


"Ummm, aku ingin mencoba bianglala, Jidan." Jawab Nada.


"Baiklah, ayo!"


Nada kembali mengikuti langkah Jidan yang mengarahkan mereka ketempat bianglala.


Sedangkan Ardian dan Nalda sedang duduk bersantai, karena keduanya merasa pusing habis menaiki Komidi putar.


"Kepalaku masih pusing, Nal. Untung nya aku tidak muntah." Ucap Ardian sambil memejamkan matanya.


"Hahaha, dasar lemah." Ucap Nalda sambil tertawa.


"Jangan mengejek ku, Nalda!"


"Iya-iya, maaf." Jawab Nalda mengehentikan tawah nya."Minumlah." Ardian meraih botol minuman yang Nalda berikan. Lalu meminumnya hingga setengah.


"Makanan disini sangat enak, Nal"


"Kamu belum coba semua nya. Makanya sebelum kita pulang, kamu harus mencoba makanan disini dulu."


"Lama-lama kamu gendut, karena terlalu banyak nyemil."

__ADS_1


"Kamu mengataiku, Ardian!" Ucap Nalda dengan mata yang melotot.


"Hahaha, tidak-tidak. Aku hanya bercanda. Ayo kita jalan-jalan lagi sebelum kita pulang." Dengan cepat Ardian berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Nalda yang sedang memasang wajah kesalnya."Kita coba Eskrim dulu." Ardian menarik tangan Nalda pergi kearah penjual eskrim disana.


"Dasar menyebalkan." Umpat Nalda tapi masih bisa didengar oleh Ardian.


"Dua ya pak, rasa stroberi dan vanilla."


"Baik, mas. Di tunggu ya." Jawab penjual itu sambil melayani pembeli lain nya.


Keduanya hanya diam dan berada dalam dipikiran mereka masing-masing. Sampai ada suara merdu yang memanggil Nalda.


"Dokter!" Nalda berbalik untuk mencari suara yang memanggil nya. Sedangkan Ardian mengambil ponselnya untuk membuka pesan dari sekretaris nya Jidan.


^^^"Tuan, saya sudah berada di pasar malam bersama dengan teman saya. Tuan lanjut saja jalan-jalannya."^^^


Ardian hanya tersenyum mendengar pesan dari sekertaris nya itu. Tanpa menjawab, Ardian memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


"Dokter!" Dengan tersenyum ceria, gadis muda yang mungkin masih berusia sepuluh tahun, berlari kearah Nalda. Sedangkan dibelakang gadis itu terdapat wanita berhijab dan juga pria yang sedang mengandeng wanita itu dengan posesif.


"Dokter, dokter juga ada disini?" Tanya gadis berhijab itu.


"Iya rum, dokter kesini buat jalan-jalan. Kalau Harum?"


"Kalau Harum, mau temani kak Fina. Katanya, kak Fina lagi pengen jalan-jalan karena dedek bayinya yang minta." Jelas Harum sambil menoleh kearah Fina dan juga Fadil yang kini sedang berdiri dibelakang Harum.


Ya, orang yang memanggil Nalda, tidak lain adalah Harum, sedangkan wanita dan juga pria itu, tidak lain adalah Fadil dan Fina. Karena keduanya sedang mengajak Fina untuk jalan-jalan, karena wanita yang sedang mengandung itu sedang mengidam.


"Assalamualaikum, dokter Melisenda." Sapa Fadil dan juga Fina sambil tersenyum.


"Waalaikumsalam. Saya ngga nyangka kalau kita akan bertemu disini." Ucap Nalda."Bagaimana dengan Wiyah, dan juga Beby triple? Saya sudah lama tidak berjumpa dengan mereka."


"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja dokter, dan sih triple semakin aktif." Jawab Fadil sambil terkekeh, mengingat ketiga anak keponakan nya.


"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya. Bagaimana dengan mbak Fina, sudah berapa bulan."


"Alhamdulillah, sudah lima bulan dokter."


"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya."


"Dokter, apakah dokter tau? Kalau dedeknya perempuan." Ucap Harum antusias, membuat Nalda tersenyum.


"Benarkah! Artinya Harum akan memiliki teman nanti."


"Iya dok, Harum jadi ngga sabar." Ketiga orang itu hanya tersenyum mendengar ucapan Harum yang begitu sangat antusias menanti kelahiran adiknya. Saat mereka sedang asik dengan obrolan mereka. Nalda sampai melupakan kalau ada Ardian disana.


"Nal, ini pesanan mu." Ardian yang belum sadar kalau disana tidak hanya ada Nalda sendiri, tapi ada Fadil, Fina dan juga putrinya Harum.


"Tuan Ardian, anda disini juga." Ucap Fadil, membuat Ardian menatap keduanya termasuk kearah Nalda, sampai pandangannya tertuju pada seorang gadis kecil yang begitu sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Harum."


...----------------...


__ADS_2