
Cinta kedua untuk Ardian.
Pria itu terkejut saat mendengar ucapan Nalda."Apa maksud mu Nal? Kamu menuduh ku yang tidak-tidak?" Ucap pria itu tidak terima dengan tuduhan Nalda."Apa jangan-jangan kamu terhasut oleh pria itu, sampai kemu menuduhku yang tidak-tidak?" Lanjutnya, membuat Nalda memutar matanya malas.
"Semuanya ini tidak ada kaitannya dengan Ardian!" Tegas Nalda tidak terima saat pria itu membawa-bawa nama Ardian, karena Ardian tidak tau apa-apa mengenai permasalahannya dengan pria didepannya itu."Aku menemukan bukti ini sendiri, Jerry Laudza Konstantino."
Ya, pria yang Nalda temui tidak lain adalah Jerry, sahabatnya baik nya dari kecil. Tapi hubungan mereka seakan renggang saat Nalda mulai dekat dengan Ardian, lantaran Jery begitu sangat positif, bahkan dengan terang-terangan menolak kehadiran Ardian.
"Apa maksud mu, Nal? Jangan menuduhku yang tidak-tidak, karena kamu mengenal ku dari kecil, kalau aku tidak seh brengsek pria itu!" Tegas Jery tidak terima dengan tuduhan Nalda.
"Walaupun aku mengenal mu dari kecil, tapi aku sangat bodoh, karena tidak mengetahui sifat mu, yang ternyata sama brengsek nya seperti pria itu."
"Kamu menyamakan ku dengan dia!" Jery berdiri dari duduknya saat mendengar ucapan Nalda. Pria itu masih tidak terima dengan tuduhan Nalda.
"Aku menyamakan kalian, karena kalian sama Jer. Bahkan kamu jauh lebih brengsek dari Ardian." Jawab Nalda dengan lirih. Sebenarnya Nalda tidak ingin bertengkar dengan sahabatnya itu, tapi mendengar kebenaran mengenai sahabatnya, membuat Nalda emosi dan juga sedih.
Karena pria yang Nalda dan Annchi anggap adalah pria baik-baik, ternyata sama brengsek nya seperti pria yang pernah Nalda hindari. Lebih parahnya lagi, saat Nalda mengetahui kebenaran sebenarnya. Kalau sahabatnya itu adalah pria yang jauh lebih brengsek lagi dibandingkan dengan Ardian.
Melihat mata Nalda yang mulai mengembun, membuat Jery merasa bersalah, karena telah membentak sahabat sekaligus wanita yang dia cintai.
"Maaf Nal, aku tidak bermaksud membentak mu." Ucap Jery mendekati Nalda. Tapi dengan cepat Nalda mencegah Jery untuk mendekat.
"Kenapa kamu melakukan ini Jery? Kenapa? Aku kira sahabat yang selalu melindungi kami adalah pria baik-baik, yang tidak akan menyakiti wanita lain. Tapi nyatanya itu salah, karena dia mau menyakiti wanita lain, bahkan tidak mau bertanggung jawab." Lirih Nalda yang kini sudah menangis, mengingat seberapa brengsek nya sahabatnya, lantaran banyak menyakiti wanita lain di luar sana.
"Nal, apa yang kamu katakan. Aku tidak–" Perkataan Jery langsung berhenti saat Nalda memperlihatkan satu map kecil kearahnya.
__ADS_1
"Bacalah, agar kamu tidak mengelak lagi Jer." Ucap Nalda mengusap sudut matanya yang basah.
Jery mengambil map itu, lalu membuka kertas itu satu persatu. Melihat bukti ditangannya, membuat Jery menelan saliva nya dengan susah payah.
"Bagaimana bisa, Nalda mengetahuinya." Batin Jery terkejut saat mengetahui, kalau Nalda ternyata sudah mengetahui siapa dirinya.
"Masih mau menyangkal, Jer, dengan bukti yang aku bawakan?" Jery mengalihkan tatapannya dari map di tangan nya kearah wanita yang dia cintai.
"Aku bisa jelaskan, Nal."
"Apa yang harus kamu jelaskan, Jerry?! Kalau kamu pria yang merebut istri orang?! Atau pria jahat, yang tega membunuh anaknya sendiri saat mengetahui kalau wanita itu sedang mengandung!" Ucap Nalda melupakan kekecewaan nya.
Ya, Nalda baru saja mengetahui satu fakta mengenai sahabatnya. Kalau ternyata Jerry adalah pria yang suka bermain wanita, sama seperti Ardian. Beda nya, Ardian memilih wanita malam diluar sana, tapi tidak dengan Jerry yang merebut istri orang. Bukan saja itu, setelah para wanita itu bercerai dengan suami mereka, Jerry langsung meninggalkan mereka begitu saja, tanpa pertanggung jawaban. Dan lebih kejam nya, Jerry juga dengan tega membunuh anaknya yang masih berada dalam kandungan.
Mengetahui kebenaran mengenai sahabatnya, membuat Nalda sangat kecewa, marah dan sedih. Rasa kekecewaan nya menyatu menjadi satu dengan perasaan lain, saat Ia tidak mengetahui rahasia besar sahabatnya. Nalda tidak pernah berpikir apa mengenai sahabatnya yang ternyata sekejam itu.
"Untuk apa kamu meminta maaf padaku Jerry, sedangkan kamu berbuat jahat ke orang lain, bukan aku." Jerry hanya diam menatap wanita itu yang begitu sangat marah besar, karena kelakuan nya yang sengaja ia rahasiakan.
Sedangkan orang-orang diluar tidak mengetahui keributan didalam, karena ruangan VIP itu kedap suara, jadi suara ribut dari dalam tidak akan keluar sampai diluar.
"Mereka pantas mendapatkan nya, Nal." Nalda mengerutkan keningnya bingung saat mendengar ucapan Jerry yang tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan Nalda bisa menangkap raut tenang disana.
"Apa maksudmu Jerry?" Tanya Nalda bingung.
"Mereka pantas mendapatkan nya, Nal, lantaran mereka tidak bisa setia dengan suami mereka, dan malah tertarik dengan pria diluar sana." Jawab Jerry dengan santai nya sambil menatap wajah Nalda yang terlihat terkejut dengan jawabannya."Aku tidak menyesal karena membuat para wanita itu bercerai dengan suami mereka, karena itu pantas, Nal. Mereka wanita jahat, yang tidak pantas mendapatkan pria baik, yang hanya di jadikan sebagai alat mereka saja. Mereka sama seperti dia. Wanita yang tega meninggalkan suaminya serta anaknya hanya untuk bersama dengan pria lain. Bahkan mereka tega membuat anak lain harus kehilangan sosok ayahnya, dan membuat ibu lain menderita, hanya karena keegoisan mereka masing-masing." Jelas Jerry dengan wajah penuh dendam di sana, dan Nalda tentu bisa merasakannya.
__ADS_1
Apalagi mendengar cerita Jerry mengingatkan Nalda pada kedua orang tua Jerry yang sudah lama bercerai.
"Tapi itu semua berbeda, Jerry! Para wanita itu sengaja kamu jebak, sedangkan mereka adalah pasangan yang memang saling mencintai!" Ucap Nalda berusaha untuk menyadarkan Jerry dari dendam nya selama ini.
Ya, tentu Nalda mengerti, kanapa sahabatnya seperti ini. Pasti Jerry trauma karena perceraian kedua orang tuanya. Apalagi ayah Jerry di rebut oleh pelakor, padahal saat itu wanita itu juga sudah memiliki suami dan juga anak.
"Mereka sama, Nal! Jika mereka berbeda, tentu mereka tidak akan tergoda padaku." Ucap Jerry tidak terima sehingga membuat pria itu kembali meninggikan suaranya.
"Aku bingung ingin menjelaskan kamu seperti apa lagi, Jerry. Tapi yakinlah, kalau dendam mu sekarang banyak membuat orang terluka, sama seperti Suci sekarang. Kamu bukan saja membuat dia bercerai, tapi kamu juga membuat dia kehilangan anaknya."
"Dia pantas mendapatkan nya Nal. Karena dia sama saja seperti ******."
"Jerry!" Bentak Nalda membuat Jerry terkekeh sinis.
"Kamu gila Jerry!"
"Ya, aku memang gila Nalda! Aku gila karena selama ini hidup dari bayang-bayang wanita menjijikkan itu!" Jawab Jerry menatap tajam Nalda. Tatapan yang biasa nya lembut seakan hilang, saat pria itu sedang terbawa oleh emosi."Bagaimana mereka tertawa di atas kesedihan dan penderitaan bunda dan juga aku. Bagaimana mereka bahagia, sedangkan bunda depresi dan hampir bunuh diri, karena menyaksikan kebahagiaan mantan suaminya!" Ucap Jerry memberitahukan rasa sakitnya selama ini, yang tidak pernah dia perlihatkan pada orang lain termasuk pada kedua sahabatnya.
"Sampai kamu membuat rencana untuk menghancurkan rumah tangganya?" Sebenarnya Nalda tidak ingin mengatakan hal lain lagi, karena tidak ingin membuat sahabatnya semakin marah dan bersedih. Tapi ia juga tidak bisa diam saja dengan kegilaan sahabatnya itu.
Mendengar pertanyaan Nalda, Jerry mengerutkan keningnya bingung."Aku banyak menghancurkan rumah tangga orang lain, Nal. Maka bicara lah yang jelas!" Bentak Jerry sambil terkekeh. Persetan kalau didepannya adalah sahabat serta wanita yang dia cintai, lantaran wanita itu sudah berani mengusik masalalu nya.
Nalda semakin dibuat bingung saat melihat sahabatnya itu tidak merasa bersalah sama sekali saat mengatakan hal yang memalukan itu pada nya. Padahal jelas-jelas, apa yang Jerry lakukan sangat salah.
"Rumah tangga Ardian sebelas tahun yang lalu." Jerry terlihat terdiam, setelah itu ia kembali tersenyum seperti orang jahat.
__ADS_1
"Ternyata kamu mengetahuinya juga, Nal. Padahal aku sudah lama menyembunyikan nya. Apakah Ardian memberitahukan mu, kalau aku lah yang tidur bersama istrinya sebelas tahun yang lalu?"
...----------------...