
Cinta kedua untuk Ardian.
Nalda melangkah dengan sedikit terburu-buru melewati tangga rumahnya. Walaupun kakinya terasa sakit, tapi ia mengabaikannya.
Rumah Nalda terlihat sangat sunyi, karena para art nya sudah beristirahat dikamar mereka masing-masing. Mungkin hanya Nalda yang bangun saat ini.
Dengan langkah sedikit terpincang-pincang, Nalda keluar dari rumahnya sambil membawa payung yang tadi ia ambil ditempat penyimpanan.
"Nyonya Nalda. Anda mau kemana, hujan-hujanan seperti ini?" Tanya satpam yang berjaga, saat melihat Nalda ingin keluar.
"Saya mau ke sebelah pak, Karena ada pasien yang membutuhkan saya."
"Biar saya antar nyonya, saya lihat nyonya sanga kesulitan berjalan." Tawar satpam itu karena merasa kasian melihat jalan nyonya nya itu.
"Nggak usah, pak. Saya masih bisa sendiri. Bapak istirahat saja." Tolak Nalda, setelah itu melangkahkan kakinya keluar dari pagar.
Satpam yang melihat kepergian nyonya itu, merasa kasian. Karena saat hujan seperti ini, Nalda tetap saja pergi menjalankan pekerjaannya tanpa memikirkan kesehatannya.
"Nyonya Nalda wanita yang sangat baik. Semoga nyonya Nalda selalu diberikan kesehatan." Gumam satpam itu.
.
.
Setelah menembus hujan yang begitu sangat deras disertai petir dan juga angin. Akhirnya Nalda sampai didepan rumah besar bercat putih. Rumah yang sudah sebulan ini menjadi tetangganya.
Tingtong
Nalda memencet bel disamping pintu. Sambil menunggu, Nalda mengusap lengannya yang terasa sangat dingin saat angin bertiup mengenai lengannya.
Tidak berapa lama pintu terbuka dan membukanya, seorang wanita paruh baya yang kini terlihat cemas menatap kearahnya.
"Akhirnya, Nona Nalda datang juga."
"Sebenarnya, ada apa bik?" Tanya Nalda penasaran saat melihat raut cemas bik Ani.
"Itu non. Tuan Ardian ngamuk-ngamuk lagi didalam kamarnya."
"Ngamuk? Kenapa bisa bik?"
"Nggak tau kenapa, non. Tiba-tiba saja tuan Ardian ngamuk-ngamuk dikamar nya dan juga menghancurkan barang-barang disana. Kami sudah mencoba untuk menenangkannya non. Tapi para bodyguard banyak yang terluka akibat lemparan tuan Ardian." Jelas bik Ani yang begitu ketakutan saat melihat Ardian mengamuk tanpa sebab.
"Apakah Bik Ani, sudah mengabari sekretaris Jidan?"
"Sudah, non. Tapi tuan Jidan tidak bisa sampai kesini sekarang. Karena jalan yang tuan Jidan lewati sedang banjir dan juga ada pohon tumbang yang menghalangi jalannya." Jelas bik Ani kembali.
"KELUAR!! SAYA MENYURUH KALIAN UNTUK MENJAUH SEBELUM KALIAN MATI DITANGAN KU!!"
Suara teriakan berasal dari lantai atas, membuat Nalda maupun bik Ani terkejut, karena teriakan Ardian.
"Sepertinya dia tidak baik-baik saja bik. Kita harus membantunya, sebelum Ardian banyak menyakiti orang lain lagi termasuk dirinya sendiri." Nalda khawatir, jika Ardian terus mengamuk seperti itu maka dia akan menyakiti orang lain bahkan menyakiti dirinya sendiri seperti satu bulan yang lalu jika tidak segera dihentikan.
Ya. Satu bulan yang lalu, Ardian pernah mengamuk seperti sekarang. Bahkan pria itu telah melukai bodyguard nya dan juga pelayan yang ingin menenangkan pria itu.
Bukan saja melukai para pekerjanya, tapi Ardian juga melukai dirinya sendiri. Beruntung waktu itu Nalda segera datang sebelum pria itu menusuk dirinya sendiri mengunakan serpihan kaca. Waktu itu Jidan juga tidak berada disana karena Jidan sedang berada di kota B, jadi Jidan tidak bisa membantu Ardian yang sedang mengamuk untuk tenang kembali.
"Jangan non! Saya takut tuan Ardian akan menyakiti nona." Cegah bik Ani tidak ingin terjadi sesuatu dengan Nalda. Apalagi satu bulan yang lalu Ardian pernah mencekik wanita itu sebelum Ardian benar-benar tenang kembali.
__ADS_1
"Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja bik. Ardian tidak akan menyakiti saya." Jawab Nalda menggenggam tangan wanita paruh baya itu."Tapi bik Ani perlu membantu saya."
"Membantu apa non?"
"Tolong bik Ani siapkan teh jahe dan juga kotak P3K. Saya yakin kalau Ardian pasti sudah melukai dirinya sendiri saat ini." Jawab Nalda mengangkat kepalanya menatap kearah lantai atas.
"Saya akan menyiapkannya, nona. Apakah ada lagi?"
"Sudah tidak ada lagi bik. Saya juga mau naik kelantai atas untuk melihat kondisi Ardian sekarang."
"Non, hati-hati." Nalda tersenyum saat melihat wajah khawatir bik Ani.
"Iya bik."
Nalda melepaskan tangannya, lalu dengan perlahan-lahan kaki nya melangkah kearah tangga. Sebelum menaiki tangga, ia menarik nafasnya terlebih dahulu. Nalda tidak merasa ragu saat ia akan naik kelantai atas, Karena sebagai ahli psikolog, Nalda tau apa yang harus Nalda lakukan. Apalagi menghadapi Ardian yang mengalami Borderline personality disorder (BPD) dan PTSD.
Ya, selama ini Ardian mengalami gangguan mental sama seperti putrinya Harum. Hanya saja, Harum sudah mulai membaik karena selalu melakukan terapi. Berbeda dengan Ardian, yang tidak mau melakukan terapi sama sekali.
Karena Ardian tidak mau menceritakan masalalu nya kepada orang lain dan memilih memendamnya sendiri, sehingga mentalnya semakin rusak ditambah ia suka minum-minum untuk melupakan masalalu nya.
Bukannya hilang, pria itu malah tidak sadar telah menyakiti dirinya sendiri dan juga orang lain. Bahkan Ardian harus mendapatkan gangguan kesehatan, karena kebiasaan buruknya, hingga ia harus mengalami Blackout Amnesia akibat kebiasaan nya yang suka sekali minum-minum dengan kadar alkohol tinggi.
"SIAPA YANG MENYURUH KALIAN KESINI HAH!! APAKAH KALIAN INGIN MENERTAWAKAN KU!! MENERTAWAKAN NASIB INI!!" Teriak Ardian didalam kamarnya, membuat Nalda mengehentikan tangannya yang ingin membuka pintu bercat hitam itu.
"Nyonya, sebaiknya nyonya jangan masuk kedalam. Karena tuan Ardian tidak bisa mengontrol dirinya sekarang. Kami takut, tuan Ardian akan menyakiti nyonya juga nanti." Cegah bodyguard saat melihat Nalda akan masuk kedalam.
"Tidak, saya harus masuk."
"Tidak bisa nyonya, biarkan kami saja. Kami akan menanganinya agar tuan Ardian baik-baik." Jawab bodyguard itu terus saja meyakinkan Nalda.
"Untuk ini, biarkan saya masuk. Saya psikolog yang menangani nya, Sebaiknya kalian tunggu disini, nanti saya akan memanggil kalian jika tuan Ardian menyakiti saya." Nalda mengabaikan ucapan bodyguard itu dan tetap kukuh untuk masuk kedalam.
Didalam kamar. Nalda menatap kamar itu yang terlihat sangat berantakan. Terlihat semua beda yang berada didalam kamar itu pecah, bahkan serpihan kaca berceceran kemana-mana. Kamar itu tidak seperti kamar lagi, karena begitu sangat hancur seperti baru di guncangan oleh gempa.
Nalda menatap ke seluruh kamar itu untuk mencari dimanakah Ardian sekarang. Sampai netra nya tertuju pada punggung seseorang yang sedang meringkuk di pojok.
Dengan perlahan-lahan kaki itu mengarah kearah Ardian, tapi tanpa Nalda sadari. Kalau kakinya telah menginjak sebuah serpihan kaca.
Shssssttt
Nalda memejamkan matanya saat merasakan rasa sakit pada kakinya. Tapi ia tidak boleh bersuara, takut ia akan menggangu Ardian yang sedang diam dan hanya terdengar isakan kecil saja.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?!" Sepertinya Ardian menyadari kehadiran Nalda, sehingga membuat Ardian menatap Nalda dengan tatapan tajam menusuk seperti pisau."AKU MENYURUH KALIAN UNTUK KELUAR!!"
Bentakan Ardian membuat Nalda memejamkan matanya, bukan karena Nalda takut, hanya saja Nalda bisa merasakan amarah yang tidak tersampaikan oleh pria didepannya. Ia tau kalau Ardian pasti terlalu lama mendam luka nya hingga membuat nya seperti sekarang.
"Tenang lah Adian. Aku kesini hanya ingin mengobati mu." Lirih Nalda berusaha untuk menenangkan pria itu.
"Aku tidak mau. Sekarang kamu keluar, jangan menganggu ku!"
"Tapi luka mu sangat parah, lihatlah banyak darah yang menetes tidak berhenti." Jawab Nalda berusaha untuk menyakinkan Ardian. Melihat luka ditangan pria itu sangat parah, apalagi di tangan nya terus menetes darah. Bahkan sekarang lantai itu bercecer darah nya.
"If you manage to heal my wound, will other wounds heal too." Ucap Ardian terkekeh.
"I can heal it even though it won't be completely healed." Jawab Nalda yang entah sejak kapan wanita itu duduk disamping Ardian. Tapi wanita itu kini sudah duduk disamping Ardian dan dengan lembut Nalda meraih tangan Ardian yang luka.
Nalda bisa melihat luka itu begitu sangat besar, bahkan darah nya terus saja menetes."Kau tau, setiap luka itu pasti perih."
__ADS_1
"Aku tau itu."
"Dan kamu tau, setiap luka pasti akan semakin terluka...."
"If I scratch it even more without giving it medicine." Jawab Ardian menatap kearah Nalda yang kini sedang berusaha untuk menghentikan pendarahan ditangannya.
"But the wound will still heal if you treat it."
"Tapi rasanya akan tetap sama. Walaupun kamu mengobatinya. Rasanya akan tetap terasah saat kamu mengingat bagaimana kamu membuat luka itu." Ucap Ardian lirih, tanpa sadar kepala itu bersandar di bahu Nalda."Even though the wound is very old. But the wound won't heal if you don't get medicine soon. The wound that I feel has long been infected because I ignored it for so many years. And maybe the wound will get worse when I know another truth."
( βMeskipun lukanya sudah sangat tua. Tapi lukanya tidak akan sembuh jika tidak segera diberi obat. Luka yang saya rasakan sudah lama terinfeksi karena saya mengabaikannya selama bertahun-tahun. Dan mungkin lukanya akan semakin parah. ketika saya tahu kebenaran lain.)
Mendengar ucapan Ardian, Nalda mengerti. Kalau Ardian sudah tidak sanggup menanggung beban pikirannya sendiri yang selama ini ia tutupi tanpa bercerita ke orang lain. Tapi semakin ia menutupinya, maka ia akan merasa tersakiti sendiri.
"That's why I came here to treat him." Jawab Nalda mengangkat tangan satunya lalu mengusap lembut kepala pria itu."It will feel the same if you go back to make the wound come back." Tidak ada sahutan dari Ardian, membuat Nalda menoleh kearah sampingnya.
Ternyata pria itu sudah memejamkan matanya. Sepertinya Ardian sudah tidak sadar lagi."You look more handsome when you're calm like that, Ardian."
.
.
"Bagaimana kondisinya sekarang nyonya Nalda? Apakah tuan Ardian baik-baik saja?" Tanya Jidan yang baru saja datang. Bahkan pekainan nya sedikit basah.
"Kondisinya baik-baik untuk sekarang." Jawab Nalda."Sepertinya ada yang membuat pikiran kacau sehingga mental nya harus ikut terguncang. Apakah beberapa hari ini Ardian sedang memikirkan sesuatu?"
"Iya nyonya Nalda, beberapa hari ini tuan Ardian sedang memikirkan sesuatu sehingga pikirannya kacau."
"Memikirkan apa? Apakah berhubungan dengan masalalu nya?" Walaupun belum mengetahui semua cerita masalalu Ardian, karena Ardian maupun Jidan sama-sama diam untuk menceritakan masalalu nya itu.
"Iya, mungkin seperti itu nyonya. Tuan Ardian memikirkan masalalu nya kembali, setelah dia menemukan sesuatu yang berhubungan dengan masalalu nya sepuluh tahun yang lalu." Jidan mulai menceritakan dimana Ardian menemukan satu foto ibu nya harum dan kebenaran soal mantan istrinya.
"Apakah mereka sama, Jidan? Ibunya Harum dan mantan istrinya?" Tanya Nalda terkejut saat mendengar cerita Jidan."Apa jangan-jangan. Mayla yang sering menganggu Ardian itu Mayla yang sama seperti yang Ardian ucapakan waktu itu?" Batin Nalda teringat akan ucapan Ardian beberapa waktu lalu saat Ardian tidak sadarkan diri seperti sekarang.
"Mungkin seperti itu, nyonya Nalda. Tapi saya masih menyelidikinya." Jawab Jidan membuat Nalda tampak berpikir.
"Apakah nama mantan istrinya, Ardian. Mayla Saynia?" Jidan mengagunkan kepalanya.
"Iya nyonya, itu nama mantan istrinya." Jawab Jidan menganggukan kepalanya."Tapi kenapa nyonya mengetahuinya? Apakah nyonya Nalda mengetahui sesuatu?"
"Tidak, saya tidak mengetahui apa-apa. Saya hanya mendengar ucapan Ardian tadi, yang menyebut nama itu." Kila Nalda."Aku harus menyelidik nya. Apakah Mayla Saynia mantan istrinya Ardian dan juga ibunya Harum adalah orang yang sama atau bukan." Batin Nalda.
πππππ
Suara petir, membuat seorang gadis kecil bersembunyi di bawah tempat tidurnya karena ketakutan.
"Mama, Harum takut." Lirih gadis berusia sepuluh tahun itu ketakutan.
Saat ia sedang membekap kupingnya karena ketakutan. Suara pintu yang terbuka dan suara langkah kaki, berhasil membuat tubuh gadis itu menegang karena takut. Sampai-sampai Harum harus menutup mulutnya.
"Nayla, kamu dimana!" Teriak orang itu sambil mengelilingi kamarnya. Harum yang mendengar suara orang itu bukannya keluar, tapi Harum semakin menyembunyikan dirinya. Karena Harum masih mengingat dulu saat ia masih bersama dengan Nadila.
Saat hujan petir seperti malam ini, wanita jahat itu menyakiti nya. Bahkan menyiksanya tanpa mendengar tangisannya yang sudah menyatu dengan suara derasnya hujan dan juga petir yang memberontak di langit. Harum masih mengingat bagaimana sakitnya cambukan itu. Harum masih mengingat bagaimana dia di usir hingga tidur di luar di tengah hujan di sertai petir. Harum masih mengingat dimana malam itu, para bodyguard nya Nadila hampir melecehkannya. Harum masih mengingat bagaimana ia harus tidur di kadang anjing karena bersembunyi dari kejaran para bodyguard biadab itu. Harum masih mengingat akan hal menyakitkan itu.
"Nayla apa yang kamu lakukan disana?" Harum yang tadi melamun saat mengingat kekerasan di masalalu nya, membuat ia langsung berteriak dan memberontak saat tangan itu menggenggamnya.
"LEPASKAN-LEPASKAN!! JANGAN SAKITI AKU!!"
__ADS_1
...----------------...