Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


"Maaf pak, apa yang ingin anda tanyakan?" Tanya pria itu dengan hati-hati.


"Apa, anda mengenal wanita bernama Mayla Saynia?" Jawab Ardian, Membuat pria itu menatap Ardian bergantian kearah istrinya yang sekarang sedang menatapnya juga. Melihat kedua orang itu hanya diam, membuat Ardian mengambil ponselnya untuk memperlihatkan foto Mayla, karena Ardian berpikir mereka tidak tau nama Mayla.


"Apakah wanita yang anda tanyakan, wanita yang hidup berdua dengan kakak dan juga anaknya?" Tanya istri pria itu, membuat Ardian menghentikan tangan nya yang sedang membuka ponselnya.


"Iya benar." Jawab Ardian membenarkan, karena ia mengingat cerita Jidan yang mengatakan kalau Mayla tinggal bersama dengan kakaknya serta anaknya.


"Apa benar wanita yang mba tanyakan tadi yang ini." Tanya Ardian sambil memperlihatkan sebuah foto Mayla untuk membuktikan kalau orang yang dia cari adalah Mayla.


"Iya benar pak, dia Mayla Saynia." Jawab wanita itu membuat Ardian semakin percaya dengan cerita Jidan.


Ardian kembali mengeluarkan foto Harum untuk memperlihatkan apakah benar Harum, anaknya Mayla atau bukan."Apakah foto gadis kecil ini anaknya." Wanita itu kembali mengangguk yang membuat tubuh Ardian semakin menegang.


"Benar tuan, gadis ini anak dari mba Mayla." Jawab wanita itu membuat dada Ardian berdenyut nyeri. Ternyata benar firasat nya selama ini, yang menyatakan kalau Harum adalah anaknya. Sebab wajah mereka sangat persis, bukan saja wajah nya. Tapi rasa nyaman itu membuat hati Ardian tenang saat melihat kehadiran Harum.


Tapi yang membuat Ardian bertanya-tanya. Jika Harum benar putrinya, lalu kenapa hasil tes kemarin negatif? Apakah ada yang manipulasi tes DNA itu atau tes DNA itu tidak sengaja tertukar? Memikirkan itu membuat kepala Ardian semakin sakit.


"Mas dan mba, tau keberadaan mereka sekarang berada dimana?"


"Kami tidak tau, pak. Soalnya beberapa bulan yang lalu mereka pindah ke kota B, karena di usir oleh pemilik kontrakan, akibat tidak membayar sewa kontrakan mereka selama beberapa bulan." Jawab pria itu. Ardian yang mendengar jawaban dari pria itu, teringat akan pertemuan pertamanya dengan Harum saat berada di kota B. Setelah pertemuan mereka kota B, Ardian kembali bertemu dengan Harum di acara keluarga Fazar yang saat itu Harum sudah di angkat menjadi anggota keluarga Roshan.


"Apa benar Mayla sudah meninggal? Jika itu benar, aku benar-benar merasa bersalah. Karena telah menyakiti Mayla, bahkan menceraikan nya tanpa mengetahui kondisi nya waktu itu." Batin Ardian yang begitu sangat merasa bersalah saat mengingat informasi yang ia dapatkan dan juga cerita dari Jidan. Kalau ternyata mantan istrinya telah meninggal.


"Ma, pa. Ayo kita pulang, Rani sudah ngantuk." Rengek putri pria itu membuat Ardian melihat kearah nya.


"Maaf pak, sepertinya kami harus pulang karena putri saya sudah mengantuk." Ijin pria itu dengan sopan.


"Tidak apa-apa mas. Saya seharusnya minta maaf karena menggangu waktu anda tadi." Pria itu menanggapi ucapan Ardian dengan tersenyum.


"Tidak apa-apa, pak. Kami senang bisa membantu."


"Maaf, mas dan mba, kalau boleh tau tinggal dimana? Apakah saya boleh meminta alamat kalian?" Kedua orang itu saling menatap saat mendengar pertanyaan Ardian.


"Boleh pak. Kami tinggal dijalan anggur, tidak jauh dari taman S." Jawab pria itu.


"Baik mas, terimakasih."


"Iya sama-sam, pak. Kalau begitu kami pamit dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan."


Ardian sengaja meminta alamat pria itu, karena ingin mendengar langsung cerita dari orang-orang yang mengenal Mayla, seperti apa kehidupan Mayla selama ini.


.

__ADS_1


.


"Maafkan aku Mayla, karena aku tidak peka dengan kondisi mu waktu itu. Maafkan aku Mayla." Ucap Ardian menatap langit-langit kamarnya. Karena sekarang ia sudah pulang kerumahnya.


Ardian menyalahkan dirinya sendiri, karena sudah menyakiti Mayla, bukan saja secara fisik tapi juga batin nya. Bahkan dia membiarkan wanita itu pergi disaat sedang mengandung dan kejamnya ia, ia membiarkan nya begitu saja.


Oh, tuhan dirinya adalah penjahat paling kejam di dunia. Rasanya Ardian ingin menghukum dirinya sendiri karena kesalahpahaman.


Air mata Ardian berjatuhan saat ingatannya kembali tertuju pada wajah cantik Mayla. "Apakah kamu ingin menyiksaku Mayla, sehingga kamu menghantui ku dengan bayang-bayang mu selama ini. Karena kamu ingin memberitahukan ku, kalau Harum ternyata putri kita sampai aku teringat akan wajahnya." lirih Ardian terus menatap kearah langit-langit kamarnya. Air mata Ardian terus menetes membasahi bantal itu.


Ardian bangun dari tidur nya, untuk menenangkan pikirannya. Karena sekarang kepalanya terasa begitu sangat sakit."Aku benci. Aku sangat benci diriku sendiri." Ardian mulai menjambak rambutnya bahkan memukul diri nya sendiri. Wajah penuh rasa bersalah itu membuktikan kalau Ardian benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi pada Mayla.


"Astaghfirullah, tuan apa yang anda lakukan!!" Dengan langkah yang cepat, Jidan mendekati tuannya itu, karena Ardian sedang menyakiti dirinya sendiri. Jidan takut kalau Ardian akan mengamuk seperti waktu itu jika tidak segera di hentikan.


"Jangan seperti ini tuan, tenanglah!" Ucap Jidan sambil memegang tangan Ardian dan mencoba mengehentikan Ardian untuk menyakiti dirinya sendiri.


"Tidak Jidan, jangan hentikan aku. Aku benci dengan tubuh brengsek ini, karena aku adalah penjahat." Jawab Ardian tidak mau diam terus memberontak ingin menyakiti dirinya kembali.


Karena takut akan melukai dirinya sendiri, Jidan memanggil beberapa bodyguard disana.


"Iya tuan Jidan."


"Ambilkan suntikan penenang yang berada di laci!" Jawab Jidan yang mendapatkan anggukan dari bodyguard itu dan dengan cepat bodyguard itu mengambil benda yang Ardian perintahkan. Sedangkan yang lainnya membantu Jidan untuk menghentikan Ardian sekarang.


"Jidan, apakah kamu tau. Kalau aku orang yang sangat jahat, pantas saja orang-orang menatap ku sebagai penjahat, karena aku memang penjahat. Aku pantas mati Jidan." Lirih Ardian terus memberontak agar ia bisa lepas dari Jidan yang dari tadi menahan nya."Lepaskan aku, aku pantas mati."


"Tidak tuan, apa yang anda katakan tidak benar! Anda bukalah penjahat, anda orang baik!" Jawab Jidan tegas terus menahan Ardian agar tidak menyakiti dirinya lagi.


Mendengar jawaban Ardian membuat Jidan terkejut. Karena ia tidak menyangka kalau bosnya itu akan mengetahui kebenaran sebenarnya sebelum ia memberitahukan nya. Padahal dua hari ini Jidan sengaja menyimpan nya untuk sementara, karena Jidan tau pasti akan seperti ini, jika ia memberitahukan nya langsung. Karena Ardian akan menyalahkan dirinya sendiri.


"Lepaskan aku Jidan, agar aku bisa mengakhiri pendosa ini." Sebelum Ardian kembali memberontak. Bodyguard yang tadi Jidan suruh sudah datang sambil membawa suntikan kecil.


Setelah membutuhkan perjuangan yang panjang, akhirnya Ardian bisa tenang setelah disuntikkan obat penenang itu. Mungkin terlihat berbahaya, tapi mereka sudah sering melakukan nya jika Ardian seperti tadi, makanya mereka tidak takut-takut seperti yang diawal.


"Apakah tadi tuan Ardian minum-minum lagi?"


"Tidak tuan Jidan. Setelah tuan Ardian datang, dia langsung masuk kedalam kamarnya, tanpa memesan bir atau minuman lain." Jelas bodyguard itu.


"Tapi kami tidak tau kenapa tuan Ardian kembali mengamuk, seperti tadi."


Jidan terlihat terdiam setelah mendengar cerita para bodyguard itu."Aku yakin tuan Ardian sudah mengetahui siapa Harum sebenarnya. Tapi, siapa yang memberitahukannya, Sedangkan aku belum memberikan informasi itu?" Batin Jidan menatap Ardian yang kini sudah tenang dan tertidur.


"Setelah besok dia lebih tenang, aku akan menanyakannya langsung."


❄️❄️❄️❄️❄️


Seorang pria sedang duduk sambil bersandar di kursi kerja nya. Kepalanya terangkat keatas menatap langit-langit ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Tuan." Pria itu menoleh kearah pintu saat melihat seseorang masuk.


"Ada apa?"


"Tuan Ardian telah mengetahui, siapkan Harum sebenarnya." Pria itu kembali menegakkan tubuhnya saat mendengar laporan dari anak buahnya.


"Selama berbulan-bulan mencari, akhirnya dia mengetahui yang sebenarnya terjadi." Pria itu tersenyum."Tapi dia terlalu payah. Masa anaknya sendiri dia tidak menyadarinya." Batin pria itu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


"Maaf tuan, apa yang akan kita lakukan selanjutnya."


"Jangan lakukan apapun Zain, biarkan dia mengetahuinya. Karena aku kasian padanya yang selama berbulan-bulan ini mencari tau siapakah Harum sebenarnya."


"Baik tuan."


"Sekarang kamu boleh keluar." Ucap Fazar yang mendapatkan anggukan dari Zain, setelah itu Zain melangkah keluar dari ruangan kerjanya. Tapi baru saja ia membuka pintu, ternyata istri dari tuannya itu berada didepan pintu dan ingin membuka pintu sama sepertinya.


"Selamat malam, nyonya Wiyah." Sapa Zain tersenyum rama pada istri bos nya itu.


"Malam tuan Zain." Jawab Wiyah membalas sapaan sekretaris suaminya itu.


Wiyah melangkah masuk kedalam ruangan kerja suami nya dan mendapati suami itu sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Belum tidur sayang?" Ucap Fazar sambil menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya setelah Wiyah berada dekat dengan tempat kursi Fazar.


"Tadi udah tidur, Abi. Tapi kebangun karena Fauzan terbangun." Jawab Wiyah menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


"Maaf Abi meninggalkan mu sendiri tadi. Karena Abi ada perkejaan yang harus Abi selesaikan." Jawab Fazar memeluk tubuh istrinya itu."Apakah mereka rewel sayang, sampai mengganggu tidurmu?" Wiyah menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Abi. Mereka sangat tenang."


"Alhamdulillah kalau gitu, Abi senang dengarnya." Ucap Fazar memeluk istrinya dan kini kepalanya juga sudah berada di tengkuk istrinya yang tertutup oleh hijabnya. Mungkin karena kebiasaan, istrinya itu tetap memakai hijab, saat keluar dari kamar mereka. Karena katanya, Wiyah takut ketahuan tidak memakai hijab saat berada luar kamar dan dilihat oleh laki-laki yang buka Mahram nya, mengingat sekretaris suaminya itu selalu berkeliaran di rumah mereka.


"Sekarang biarkan, Abi nya lagi yang bermanja-manja. Karena Abi beberapa hari ini selalu di cuekin, setelah kelahiran Beby triple." Ucap Fazar mencium kening istrinya.


Wiyah hanya tersenyum mendengar ucapan suami nya itu."Tapi jangan disini, Bi. Takut anak-anak kita bangun dan kita tidak menyadarinya."


"Baiklah, kita langsung ke kamar." Ucap Fazar dengan tiba-tiba berdiri dari duduknya sambil mengendong tubuh istrinya.


"Astaghfirullah, Abi!" Pekik Wiyah terkejut karena suaminya itu tiba-tiba saja mengendong nya. Padahal tadi mereka masih posisi duduk.


"Maaf sayang."


Mereka tidak melakukan apapun, karena sekarang Wiyah sedang masa nifas. Maka dari itu, Fazar hanya bisa bermanja-manja. Karena beberapa hari ini istrinya itu hanya fokus pada anaknya saja.


...----------------...


Kenapa cerita nya malah ada Wiyah dan Fazar.

__ADS_1


Karena kedua orang itu, akan menjadi pemeran tambahan di cerita ini. Mungkin yang lainnya juga.


Kita akan masuk dalam konflik.


__ADS_2