Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


"Heyy! Nayla ada apa denganmu? Tenanglah, ini kak Fazri." Ucap pemuda itu berusaha untuk menenangkan Harum yang terlihat ketakutan saat berada dibawah tempat tidurnya. Padahal Fazri hanya memegang pundaknya, tapi Harum malah ketakutan.


Harum yang mendengar suara itu sangat jelas. Perlahan-lahan membuka matanya, lalu menatap pria didepannya dan benar saja itu adalah Fazri yang sedang berjongkok.


"Kak Fazri.." Lirih Harum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa disana Nayla? Ayo keluar?" Harum hanya menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti suruhan Fazri untuk keluar dari kamar itu."Kenapa kamu dibawah sana, Nay. Apakah kamu takut sama hujan dan juga petir?" Tanya Fazri sambil mengajak Harum untuk duduk di pinggiran kasur. Apalagi melihat wajah pucat dan merasakan dingin di telapak tangan Harum, membuat Fazri yakin kalau Harum sedang ketakutan."Apakah ada sesuatu yang membuatmu takut? Cerita sama kak Fazri." Tanya Fazri lembut. Fazri takut kalau ada bayang-bayang ketakutan yang membuat Harum ketakutan kembali dan membuat mental Harum kembali rusak.


Harum menggelengkan kepalanya."Tidak ada kak. Nayla, hanya takut sama petir saja, tidak ada yang lain." Jawab Harum tidak sepenuhnya berbohong. Karena ia benar-benar takut sama petir. Masalah ingatan menakutkannya tadi, biarlah ia sembunyikan karena Harum tidak ingin menyusahkan Fazri lagi dan juga keluarga ini.


"Nayla, nggak bohong kan sama kak Fazri?" Tanya Fazri menatap mata amber Harum dengan dalam, takut kalau gadis itu akan berbohong dengannya.


"Tidak kak." Jawab Harum, yang langsung mendapatkan pelukan dari Fazri.


"Ternyata, yang kak Fazri takutkan memang benar, Kalau kamu akan takut dengan petir." Ucap Fazri mengusap surai indah itu dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Sedangkan Harum mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Fazri yang jauh lebih tinggi darinya. Sehingga membuat Harum harus mengangkat kepalanya lebih tinggi lagi.


"Maksud kak Fazri?"


"Tadi pas hujan dan ada petir nya. Kak Fazri langsung kesini. Karena kak Fazri punya firasat kalau kamu akan ketakutan. Ternyata benar firasat kakak saat melihat kamu bersembunyi dibawa kasur." Jelas Fazri membuat Harum terdiam mendengar penjelasan pemuda yang sekarang memeluk nya dengan sangat erat.


"Apakah kak Fazri menyayangi, Nayla?" Tanya Harum dengan polosnya. Fazri hanya tersenyum mendengar pertanyaan gadis itu.


"Tentu saja. Kak Fazri sangat-sangat menyayangi Nayla." Jawab Fazri mengusap lembut kepala Harum."Bahkan, aku tidak akan membiarkan seseorang pun menyakitimu, apapun yang terjadi. Karena kamu hanya milikku. Milik Muhammad Fazri Al Fazar." Batin Fazri masih saja menatap mata cantik Harum.


"Kak Fazri, Nayla punya sesuatu untuk kak Fazri." Ucap Harum mengingat sesuatu. Gadis itu cepat-cepat melepaskan tangan Fazri yang memeluk nya lalu melangkah kearah meja belajar nya untuk mengambil sesuatu dari laci meja itu. Sedangkan Fazri hanya menatap pegerakan Harum, tanpa mengucapkan apapun lagi.


"Kak Fazri pejamkan matanya dulu, Nayla ingin memberikan sesuatu." Fazri terlihat mengerutkan keningnya bingung. Tapi pemuda itu hanya menurut lalu memejamkan matanya seperti yang Harum perintahkan.


Dengan ragu, Harum mengeluarkan gelang yang ia sembunyikan. Lalu memasangkan gelang tangan itu di tangan Fazri. Sebenarnya Fazri bisa saja mengintip untuk melihat apa yang Harum berikan. Tapi ia tidak mau curang, dan membuat Harum sedih.



"Sekarang, kak Fazri, buka matanya." Fazri mengikuti permintaan Harum lalu membuka matanya dan menatap beda yang sekarang sudah melingkar di tangannya."Maaf ya, kak Fazri. Hanya itu yang Nayla berikan. Karena Nayla bingung ingin memberikan kak Fazri apa." Jelas Harum merasa tidak enak karena ia memberikan sebuah gelang, sedangkan keluarga itu sudah banyak memberikannya sesuatu.


Fazri menatap gelang pemberian Harum. Ia tersenyum senang."Terimakasih, Nay. Ini adalah gelang yang sangat cantik aku sangat menyukainya. Apalagi ini adalah pemberian sahabat ku."


"Kak Fazri suka?"


"Tentu. Kak Fazri sangat-sangat menyukainya. Kakak akan simpan ini. Kalau boleh kakak akan menerima gelang ini setiap tahunnya darimu, itu juga ngga apa-apa." Jawaban yang Fazri berikan membuat Harum tersenyum senang.


"Baiklah, nanti Nayla akan berikan gelang seperti ini, setiap tahunnya ke kak Fazri. Jika kak Fazri menyukainya."

__ADS_1


"Kakak akan menerimanya Nayla. Mungkin kakak akan menjadikan gelang ini sebagai benda favorit, kak Fazri." Ucap Fazri kembali mengusap lembut surai hitam itu."Terimakasih, sudah mau menjadi sahabat ku."


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam yang dingin kini kembali menjadi hangat berkat cahaya matahari yang sudah mulai meninggi. Tetesan air berjatuhan dari pohon dan juga tanaman saat angin bertiup menggoyangkan tanaman itu. Sepertinya hujan semalam telah meninggalkan banyak jejak, karena banyak dahan yang patah, serta dedaunan yang berjatuhan ketanah.


Kita tinggalkan masalah hujan semalam, kini kita beralih ke kamar berukuran 3m x 5m, yang kini terlihat sangat tenang. Karena kedua manusia sedang mengarungi dunia mimpi yang sangat indah. Sepertinya keduanya mengabaikan suara dari luar, sangking tenangnya.


Sampai salah satu dari mereka telah membuka matanya dan menyadari sesuatu yang asing untuknya.


"Aku dimana?" Gumam Nalda menyadari sesuatu kalau itu bukanlah kamarnya. Sampai ingatan tadi malam mengingatkannya, kalau sekarang ia berada dimana."Astaghfirullah, ini rumah Ardian." Dengan cepat Nalda menoleh kearah sampingnya dan melihat kalau disitu ada Ardian yang sedang tidur dengan tenangnya. Tidak lupa ada selang infus disana.


Ingatannya kembali tertuju pada kejadian tadi malam. Dimana Nalda merawat Ardian saat pria itu terluka. Untung saja lukanya tidak mengenai urat nadinya, kalau tidak. Mungkin hari ini dia sudah tiada. Tapi saat ia ingin pulang, Ardian mencegatnya dengan cara mengengam tangannya sangat erat, bahkan tangannya sampai tidak bisa di lepaskan. Pria itu juga mengalami demam tinggi dan membuat ia harus merawat nya. Untungnya lagi, rumah Ardian terdapat alat-alat kesehatan yang membuat Nalda bisa merawat pria itu di rumah, tanpa harus pergi kerumah sakit'. Tapi Nalda tidak bisa meninggalkan Ardian begitu saja, karena merasa kasian. Apalagi wajah tidak berdaya itu membuat Nalda menjadi iba.


"Sebenarnya, kamu pria yang baik. Tapi hatimu tertutupi oleh luka masalalu mu, yang membuat mu seperti sekarang, Ardian. Aku yakin kalau kamu bisa berubah suatu saat nanti menjadi pria yang normal kembali." Ucap Nalda menatap Ardian yang sekarang masih tidur dan tidak menyadari akan kehadiran Nalda disana."Istirahatlah, aku akan kembali. Karena aku tidak ingin kamu kepedean saat melihat ku berada didalam kamar mu." Ucap Nalda sambil tersenyum. Karena teringat akan kelakuan Ardian selama satu bulan ini.


Nalda turun dari kasurnya dengan perlahan-lahan. Karena kejadian tadi malam, kaki Nalda tidak terlalu sakit lagi, tapi jalannya masih sedikit pincang.


Saat pintu tertutup dengan rapat. Perlahan-lahan mata elang itu terbuka menatap kearah pintu.


Sebenarnya, kamu pria yang baik. Tapi hatimu tertutupi oleh luka masalalu mu, sehingga membuat mu seperti sekarang, Ardian. Aku yakin kalau kamu bisa berubah suatu saat nanti menjadi pria yang normal kembali.


Perkataan Nalda membuat Ardian merasa terharu, karena ada orang yang mengakuinya dan wanita itu mencoba untuk menerima kehadirannya. Tidak seperti wanita lain yang hanya mengejar uangnya saja.


Ya, Ardian mendengar semua perkataan Nalda. Bahkan Ardian sudah bangun sebelum Nalda terbangun tadi. Hanya saja Ardian pura-pura tidur untuk melihat respon Nalda yang ternyata berbeda.


Tapi Ardian yakin, kalau ia telah mengamuk tadi malam. Tapi ia lupa seperti apa. Karena seingatnya, Ia hanya meminum bir dan juga memikirkan masalalu nya, sampai ia lupa setelah itu apa yang terjadi.


"Aku akan bertanya kepada Jidan."


.


.


Nalda melangkah kearah ruangan tengah, yang sekarang terdapat Jidan dan juga bik Ani.


"Nyonya, bagaimana keadaan tuan Ardian sekarang?"


"Alhamdulillah, keadaannya sudah baikan. Hanya saja kalian perlu memastikan kalau Ardian tidak boleh banyak berpikir, apalagi bersangkutan dengan masalalu nya. Pastikan juga Ardian meminum obat yang tadi malam saya resep kan. Kalau ada apa-apa langsung kabari saya." Jelas Nalda membuat bik Ani dan juga Jidan mengangguk mengerti.


"Baik, nyonya Nalda. Terimakasih."


"Iya, sama-sama Jidan. Ini sudah tugas saya sebagai dokter." Jawab Nalda tersenyum rama."Kalau begitu saya ijin pulang kerumah saya, Karena tugas saya sudah selesai."

__ADS_1


"Iya non, Terimakasih." Jawab bik Ani.


"Maaf nyonya. Tapi sebelum nyonya pulang, sebaiknya nyonya menganti baju nyonya terlebih dahulu." Ucap Jidan sambil menyerahkan paper bag.


"Terimakasih Jidan. Saya sampai melupakan itu." Ucap Nalda menerima paper bag itu. Ia merasa sangat malu. Karena ia baru mengingat kalau sekarang ia mengenakan kemeja Ardian yang kebesaran di tubuhnya. Sedangkan pakaian nya semalam sudah basah dan juga terkena darah Ardian, jadi dengan terpaksa ia mengganti nya, karena takut nanti ia bisa sakit karena mengenakan baju yang sedikit basah.


.


.


Nalda melangkah kearah rumahnya dan dari gerbang Nalda bisa melihat mobil seseorang yang sudah terparkir didepan rumahnya. Nalda tentu mengenal mobil siapakah itu.


"Jerry? Apakah dia sudah lama datang kerumah?" Gumam Nalda yang sekarang sedang berdiri didepan pagar rumahnya.


"Nyonya Nalda." Sapa pak Samsir saat melihat kedatangan Nalda.


"Pak. Apakah Jerry sudah datang dari tadi, pak?"


"Sudah lumayan lama nyonya. Karena tuan Jerry datang dari jam enam tadi, hanya saja nyonya Nalda sedang tidak berada di rumah makannya tuan Jerry menunggu didalam." Jelas pak Samsir membuat Nalda merasa bersalah kepada sahabatnya itu.


"Terimakasih pak. Kalau gitu, saya masuk dulu. Permisi."


"iya, sama-sama nyonya." Jawab pak Samsir.


Nalda melangkah kearah rumahnya. Sesampainya didalam, Nalda bisa melihat Jerry sedang duduk sambil fokus dengan laptopnya. Sepertinya pria itu sedang sibuk sekarang.


"Dari mana kamu Nal?" Nalda tentu terkejut saat mengetahui kalau ternyata Jerry menyadari kehadiran nya. Bahkan pria itu sekarang sedang menatap dengan tatapan tajam dan dengan wajah yang sangat datar. Tidak ada senyuman seperti biasanya yang pria itu tunjukkan.


"A-ku habis memeriksa pasien ku Jerry, yang tiba-tiba saja kambuh." Jelas Nalda yang sedikit terbata-bata karena pertanyaan Jerry, seperti seorang pria yang sedang cemburu.


"Di rumah sebelah?" Nalda mengagunkan kepalanya.


"Apakah tidak ada pasien lain, selain pria itu Nal?! Kamu tau kan, kalau pria itu bukanlah pria baik-baik. Dia bisa saja menyakiti mu." Ucap Jerry merasa sangat marah saat mengetahui kalau sahabatnya serta wanita yang begitu sangat ia cintai ternyata merawat pria itu. Pria yang selama berapa hari ini terus mengejar Nalda dengan terang-terangan.


"Tapi Jer. Dia butuh aku, Apalagi gangguan mentalnya sedang kambu. Aku takut kalau dia akan menyakiti dirinya sendiri nanti." Jelas Nalda tidak ingin sahabatnya itu salah paham.


"Tapi disana banyak orang Nal. Bahkan dia memiliki anak buah yang jumlahnya ada banyak."


"Tapi aku seorang dokter dan seorang psikolog, Jer. Kamu tau kalau aku akan menomor satukan pasien ku. Kalau aku tidak ada kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya." Jelas Nalda lagi.


"Apakah kamu tidak takut kalau dia akan menyakiti mu Nal?"


"Aku tidak takut sama sekali. Karena itu tugas seorang dokter dan psikolog." Jawab Nalda dengan yakin tanpa mengetahui kalau ada seseorang yang mengawatirkan nya."Jadi jangan cegat aku untuk menolong pasien ku lagi seperti ini."

__ADS_1


"Tapi Nal. Kamu tau, kalau aku takut kehilanganmu. Apalagi kamu adalah sahabatku dan juga wanita yang aku cintai. Aku takut, kalau terjadi sesuatu dengan mu. Apakah aku salah?"


...----------------...


__ADS_2