Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Ardian menatap rumah sakit, dimana Nalda sekarang sedang bertugas. Rumah sakit yang di bangun oleh Fazar, dan di beri nama rumah sakit Alros.


"Tuan, saya ijin menemui teman saya sebentar. Kebetulan dia di rawat disini."


"Pergilah. Tapi jangan lama, karena pekerjaan mu belum sepenuhnya selesai." Jawab Ardian menoleh kearah sekretarisnya itu.


"Baik, tuan. Terimakasih." Jawab Jidan mengangguk mengerti.


Ardian melangkah kearah koridor yang mengarah ke ruangan Nalda. Sedangkan Jidan melangkah kearah ruangan rawat, dimana teman nya sekarang sedang di rawat di rumah sakit itu juga.


.


.


Ardian menatap ruangan yang bertuliskan nama Nalda. Sebelum masuk, Ardian mengetuk pintu itu terlebih dahulu. Setelah mendapatkan jawaban dari dalam, Ardian melangkah masuk.


"Selamat siang, dokter Melisenda." Nalda yang sedang sibuk dengan kertas di tangan nya mengangkat kepalanya menatap kearah Ardian.


"Ardian, kamu ternyata." Jawab Nalda tersenyum."Duduklah. Bukannya hari ini kamu melakukan terapi."


"Iya, dokter Melisenda. Ini pertemuan kita yang kelima." Jawab Ardian.


Ya, selama beberapa hari ini. Ardian selalu rutin konsultasi dengan Nalda. Ardian juga sudah mau melakukan beberapa terapi untuk menyembuhkan gangguan mental nya, dan mengurangi dosis obat penenang nya. Seperti obat tidur contohnya.


Walaupun baru lima kali pertemuan, tapi Ardian sudah merasa lebih baik, lantaran emosi nya tidak seperti kemarin saat suasana hatinya sedang kacau. Bahkan dia sudah bisa menenangkan pikirannya, tanpa minuman seperti alkohol.


"Bagaimana? Apakah kamu merasakan sesuatu?"


"Sedikit. Tapi lebih baik dari sebelumnya." Jelas Ardian sambil menceritakan apa saja berubah selama ia melakukan konsultasi dengan Nalda.


"Syukurlah, saya senang mendengarnya." Jawab Nalda sambil tersenyum."Untuk hari ini kita akan melakukan terapi hipnotis seperti kemarin. Tapi dengan jangka waktu yang lama." Jelas Nalda, membuat Ardian mengangguk-angguk mengerti.


Terapi Hipnotis.


Terapi hipnotis atau hipnoterapi adalah tindakan yang dapat dilakukan seorang psikolog untuk menangani atau mengatasi masalah kesehatan mental untuk mengontrol masalah kecemasan, fobia atau masalah suasana hati. Dan Nalda sengaja melakukan terapi hipnotis untuk menenangkan alam kesadaran Ardian, lantaran memiliki kecemasan dan juga suasana hati yang cepat berubah-ubah. Bahkan dalam keadaan tidak sadar juga pria itu bisa saja menyakiti dirinya sendiri dan juga orang di sekitarnya.


"Baiklah. Tapi setelah itu, kita makan siang bersama. Apa boleh?" Nalda tersenyum mendengar pertanyaannya pasien nya itu.


"Tentu." Jawab Nalda."Baiklah. Sekarang kamu duduk di kursi itu." Ardian hanya mengangguk mendengar arahan dari wanita yang berprofesi sebagai dokter psikologi.


.


.


Di ruangan lain. Tepatnya di ruangan kelas bawah.


Jidan memasuki satu ruangan, dan menatap satu persatu pasien yang berada disana. Ruangan itu terdapat lima pasien dengan pasien yang berbeda-beda. Sampai Jidan tertuju pada satu ranjang, yang terdapat pasien yang ia cari.


Pria itu melangkah mendekati pasien itu, lalu berdiri didekat nya. Tapi pasien yang tadi dia cari malah tidak menyadari kehadiran nya, dan malah fokus dengan benda ditangannya. Melihat itu, Jidan hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Karena disaat seperti ini, gadis itu masih saja membawa buku.


"Disaat seperti apa nih, kamu masih saja membawa benda ini." Ucap Jidan, sambil merebut buku itu dari tangan gadis yang masih terbaring dengan cepat.


"Jidan!" Gadis itu menatap Jidan dengan tatapan tajam, karena mengambil bukunya tanpa ijin."Apa yang kamu lakukan? Kembalikan!" Rengek gadis itu mencoba merebut bukunya dari tangan Jidan, yang sekarang sudah menyembunyikan bukunya dibalik punggung pria itu.


"Tidak! Karena kamu butuh istirahat." Jawab Jidan sambil duduk di kursi yang berada sebelah ranjang."Bagaimana kondisi mu sekarang, Nada?"

__ADS_1


"Sudah lebih baik, dari sebelumnya." Jawab Nada sambil tersenyum.


Ya, gadis itu tidak lain adalah Nada. Gadis yang baru Jidan kenal selama beberapa bulan terakhir. Hanya saja mereka sudah sangat akrab, karena mereka sering bertemu secara tidak sengaja, sehingga membuat keduanya bisa sangat akrab seperti sekarang. Bukan karena sering bertemu, tapi karena Nada adalah gadis yang periang, dan juga baik. Sehingga membuat Jidan sangat senang mengenal Nada, lantaran gadis itu cepat sekali akrab dengan orang lain.


"Alhamdulillah, aku senang dengar nya Nad." Ucap Jidan."Apakah tidak ada keluarga mu yang menemanimu, Nad? Karena setiap aku masuk, aku hanya melihat mu sendiri saja disini?" Tanya Jidan yang merasa bingung, lantaran selama dua hari ia datang menjenguk Nada. Ia tidak pernah melihat kehadiran keluarga dari gadis itu.


"Tidak ada. Mereka sedang sibuk." Jawab Nada dengan wajah sedihnya."Biarkan saja. Mereka juga tidak akan perduli dengan ku, walaupun aku mati sekalipun." Batin Nada merasa sedih saat Jidan membahas keluarganya.


"Sesibuk itukah?"


"Iya, Jidan. Kamu taukan kalau orang susah seperti kami akan kesusahan saat salah satu dari orang tua kami tidak berkerja?"


"Aku tau itu. Tapi tidak adakah waktu sebentar?"


"Sudahlah tidak usah membahas mereka. Sebaiknya kamu kembalikan bukuku sekarang!" Ucap Nada mengalihkan pembicaraan mereka, agar Jidan tidak membahas keluarganya terus.


"Kamu ini, biarpun sedang sakit tapi masih saja membawa benda ini. Apakah kamu ngga capek baca terus?" Tanya Jidan heran dengan karakter Nada, yang begitu sangat menyukai buku. Sampai-sampai keadaan sakit seperti ini pun dia tetap membawa bukunya.


"Aku tidak akan cepek membacanya. Kalaupun aku di kurung di perpustakaan satu malam, aku tidak akan masalah. Yang penting aku bisa baca." Jawab Nada dengan wajah senangnya, yang membuat Jidan hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban gadis didepannya itu.


"Kalau boleh tau? Sebenarnya kamu sakit apa sih, Nad, Sampai kamu harus di opnama?" Tanya Jidan penasaran, lantaran sebelum ia menjenguk Nada dua hari yang lalu. Ia tidak sengaja mendengar ucapan dokter, kalau Nada harus di opname selama beberapa hari lagi.


"Hanya lambung." Jawab Nada terdengar biasa saja di telinga Jidan.


"Asam lambung? Sampai berhari-hari?" Tanya Jidan tidak percaya. Lantaran, ia sudah bertanya ke pihak rumah sakit. Sudah berapa hari Nada di rawat, dan perawat disana mengatakan kalau Nada sudah satu minggu di rawat, karena memiliki penyakit yang perawat itu tidak bisa jelaskan. Sebab pasiennya ( Nada) meminta untuk di privasi.


"Iya, karena penyakit lambung ku sangat parah, Jidan." Jelas Nada."Tapi besok aku sudah bisa pulang koh. Jadi kamu ngga usah Tanya-tanya!" Lanjut Nada sambil tersenyum.


Mendengar penjelasan Nada, bukannya membuat Jidan percaya. Tapi pria itu sepertinya curiga dengan Nada.


"Jika benar hanya lambung. Lalu kenapa di privasi." Batin Jidan menatap kearah Nada yang kini menatapnya.


"Kenapa?"


"Aku mau makan. Tapi pengennya eskrim kayak kemarin. Apakah kamu mau membelikan nya untukku?"


"Kamu kayak anak kecil saja, maunya eskrim." Nada memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Jidan yang mengatai nya seperti anak kecil."Tapi setelah kamu sembuh, kita beli eskrim nya. Bagaimana?" Tawar Jidan, yang mendapatkan anggukan kesenangan dari Nada.


"Boleh. Tapi aku mau tiga rasa?"


"Iya, nanti lima sekaligus." Jawab Jidan semakin membuat Nada kesenangan mendengar nya.


"Asyik, Terim Jidan." Ucap Nada yang terlihat sangat senang. Sangking senangnya, gadis itu sampai memperlihatkan senyuman kesenangan di wajah nya.


.


.


Setelah melihat kondisi Nada yang sudah lebih baik dari sebelumnya. Jidan memutuskan untuk kembali ke kantor, karena waktu jam istirahat nya sudah mulai habis.


Sedangkan Ardian memutuskan untuk tidak kembali ke kantor, karena Ardian akan makan siang bersama dengan Nalda. Apalagi hari ini Ardian sedang tidak memiliki pertemuan, dan juga terlalu sibuk, sehingga membuat pria itu bisa bersantai sebelum dia kembali ke kota B, untuk melihat kantor cabangnya yang selama berbulan-bulan ini ia pantau dari jarak jauh.


Jidan melewati koridor yang mengarahkan nya ke pintu keluar, sampai ia tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang sudah lama ia tidak jumpai.


"Jidan." Sapa nya sambil tersenyum. Entahlah senyuman apakah itu, tapi terlihat kalau gadis itu sepertinya biasa-biasa saja saat bertemu dengannya. Berbeda dengan beberapa bulan yang lalu.


"Selamat siang, nona Yaya." Jawab Jidan.

__ADS_1


Ya, orang itu tidak lain adalah Yaya. Gadis yang mungkin hampir Jidan lupakan kehadirannya, karena sudah lama tidak bertemu. Tapi sekarang mereka malah bertemu lagi. Tapi tenang saja, Jidan sudah tidak memiliki rasa seperti dulu. Walaupun jujur, ia masih merasakan desiran aneh saat bertemu dengan gadis bernama Yana Yakira.


"Apa kabar mu, Jidan? Sudah sangat lama kita tidak bertemu." Ucap Yaya berbasa-basi.


"Seperti yang kamu lihat. Artinya aku baik-baik saja." Jawab Jidan terdengar cuek."Lalu, kenapa kamu bisa berada disini?"


"Aku sedang..."


"Yana, kau disini ternyata." Perkataan Yaya terhenti saat kedatangan seorang pria yang sedang melangkah kearahnya. Sedangkan Jidan, melihat kearah pria itu."Maaf membuat mu menunggu, Yana. Aku baru saja membawa baju ganti untuk Daddy yang tadi ketinggalan didalam mobil."


"Tidak apa, Enzo." Jawab Yaya sambil tersenyum.


Enzo menatap kearah Jidan yang sekarang sedang menatapnya."Yana, apakah kamu mengenal nya?"


"Ah, aku sampai lupa mengenalkan kalian, Enzo. Perkenalkan dia Jidan, sekertaris dari tuan Ardian." Jelas Yaya memperkenalkan kedua nya.


Enzo mengulurkan tangan nya."Enzo, calon suami, Yana." Yaya yang mendengar ucapan pria itu langsung menatap kearah Enzo yang dengan terang-terangan mengakui dirinya sebagai calon istri. Padahal mereka belum bertunangan, dan dirinya juga belum memberitahukan apakah ia setuju atau tidak.


"Jidan." Jawab Jidan menerima uluran tangan pria itu.


"Karena kami ada urusan, kami duluan ya." Jidan hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil mendengar ucapan ucapan pria itu.


"Mari Jidan." Ucap Yaya sebelum meninggalkan Jidan.


Jidan menatap punggung Yaya dan pria yang bernama Enzo yang kini sudah berlalu pergi meninggalkan nya. Perlahan-lahan punggung itu hilang di telan oleh lorong panjang rumah sakit.


"Aku ikut senang Yaya, karena kamu sudah memiliki kehidupan baru." Gumam Jidan yang masih menatap koridor itu, walaupun ia tidak melihat punggung keduanya."Semoga ini yang terbaik untukmu dan untukku."


Walaupun Jidan sudah melupakan perasaan nya. Tapi itu tidak sepenuhnya, lantaran perasaan itu masih ada saat mendengar, kalau gadis yang pernah ia cintai, ternyata sudah memiliki calon suaminya.


Huuuu


Hembusan nafas Jidan yang terdengar berat, berputar-putar di koridor itu, sampai pada akhirnya kaki itu memutuskan untuk melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


Sedangkan di ujung lorong. Yaya sedang melangkah mengikuti langkah Enzo yang mengarah ke ruangan rawat mommy nya Enzo. Gadis itu sedang melamun, mengingat pertemuan mereka. Jujur perasaan nya masih ada, walaupun mereka sudah lama tidak bertemu. Tapi melihat tatapan pria itu, membuat Yaya tidak yakin. Apakah Jidan masih memiliki perasaan pada nya atau tidak.


Apalagi tatapan pria itu sedikit berbeda, tidak seperti dulu yang menatapnya dengan tatapan kerinduan.


"Apakah secepat itu, kamu melupakan ku, Jidan." Lirih Yaya dalam hatinya saat mengingat tatapan pria, yang namanya masih tersusun rapi dalam kalbu. Nama yang sangat susah ia lupakan dan mengisi nama yang baru. Walaupun nama mereka tidak akan tertulis dalam suratan cinta takdir yang indah, karena perbedaan mereka yang sangat banyak yang membuat keduanya menutup hati mereka atas nama tuhan. Jangan sampai karena cinta, mereka sampai melupakan sebuah kebenaran. Kalau takdir mereka adalah berpisah, bukan bersama.


"Yana, kamu tidak apa-apa? Tanya Enzo saat menyadari kalau gadis itu hanya diam. Karena tidak mendapatkan respon, Enzo memegang pundak gadis itu."Kamu baik-baik saja, Yana?"


"Ah, iya Enzo. Ada apa?"


"Kamu melamun?" Tanya Enzo saat menyadari kalau ternyata Yaya sedang melamun dan tidak mendengar ucapannya. Padahal dari tadi ia bercerita panjang lebar."Apakah ada masalah?"


"Tidak, aku tidak melamun Enzo. Aku baik-baik saja." Jawab Yaya berbohong. Mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, kalau dari tadi ia memikirkan Jidan.


"Benarkah, kamu sedang tidak berbohong kan?" Tanya Enzo tidak percaya, Sehun menatap wajah Yaya dengan intens.


"Iy–iya." Karena gugup Yaya mengalihkan tatapannya kearah lain.


"Baiklah, baiklah. Aku percaya." Ucap Enzo terkekeh lucu dengan wajah gugup gadis didepannya."Sebaiknya kita harus cepat, karena kasian Daddy kalau dia ngga ganti baju." Ucap Enzo mengalihkan pembicaraan mereka, agar Yaya tidak terlalu gugup.


Sedangkan Yaya hanya menganggukkan kepalanya mengerti, mendengar ucapan Enzo. Jujur, dirinya masih gugup jika berdekatan dengan Enzo seperti sekarang. Tapi ia harus bersikap biasa-biasa saja, karena tidak ingin membuat pria itu merasa tidak nyaman padanya.


"Kamu menyembunyikan apa dariku, Yana." Batin Enzo yang merasa curiga dengan tingkah Yaya tadi. Karena gadis itu selalu saja menghindari nya, padahal mereka sudah lama saling mengenal. Seperti sekarang, gadis itu kembali menyembunyikan sesuatu, padahal tadi dia sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2