Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian.


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Hari kembali menjadi malam. Waktu yang begitu ditunggu oleh orang-orang, karena malam hari adalah waktunya mereka untuk beristirahat dari penatnya berkerja selama satu hari penuh.


Tapi berbeda dengan pria berusia tiga puluh satu tahun, yang sedang bersiap-siap ingin keluar, karena dia memiliki janji dengan seseorang. Kebetulan orang yang membuat janji dengan nya mau ikut bersamanya. Maka dari itu, Ardian tidak mau membuang kesempatan yang berharga ini.


"Walaupun usiaku sudah kepala tiga, ternyata aku masih terlihat muda." Ucap Ardian memuji dirinya sendiri saat menatap dirinya di pantulan cermin, yang kini terlihat tampan.


Penampilan nya terlihat seperti anak muda, saat mengenakan baju kaos warna putih, yang dipadukan dengan jaket jeans berwarna biru. Celana hitam dan juga sepatu berwarna abu-abu itu membuat Ardian terlihat seperti pemuda berusia dua puluhan.


Ardian memasang wajah bahagianya dengan tersenyum untuk membuktikan betapa bahagianya ia malam ini.


Senandung merdu keluar dari bibirnya, saat kaki panjang itu menuruni anak tangga. Para pekerja yang memang masih berada disana menatap Ardian dengan tatapan bingung. Bahkan ada juga orang yang menatap Ardian dengan tatapan terkejut. Karena, baru kali ini mereka melihat Ardian tersenyum dan juga bersenandung merdu seperti malam ini.


"Dia benar-benar tuan kita kan?" Bisik salah satu bodyguard pada bodyguard disebelahnya.


"Aku juga tidak tau. Tapi melihat dari wajahnya, dia memang bos kita. Tapi kalau melihat dari gerakan dan tingkah nya, sepertinya dia bukan bos kita." Jawabnya dengan mata yang tertuju kearah Ardian tanpa berkedip.


"Sepertinya bos kita sedang kena sindrom JT."


"Sindrom JT? Maksudnya?"


"Sindrom jatuh cinta. Orang kalau lagi jatuh cinta memang kelakuannya seperti bos kita sekarang. Senyum-senyum sendiri." Jelas pria itu.


"Artinya bos kita lagi jatuh cinta?"


"Sepertinya begitu."


Saat kedua pria itu masih berbicara dengan berbisik-bisik. Suara deheman Ardian membuat keduanya mengehentikan perbincangan mereka, dan kini menatap kearah Ardian dengan serius.


"Jangan membicarakan saya secara diam-diam, Jika kalian tidak ingin kehilangan nyawa kalian." Kedua pria itu menelan saliva mereka sendiri saat mendengar ancaman Ardian. Mereka tidak tau, kalau obrolan mereka ternyata didengar oleh Ardian, padahal keduanya berbicara dengan berbisik-bisik.


"Ma_Maaf tuan." Ucap keduanya menundukkan kepalanya takut. Walaupun Ardian sedang bahagia sekarang, tapi dia tetap terlihat menakutkan saat sedang mengancam orang.


"Untuk kali ini saya maafkan kalian, tapi tidak untuk nanti." Keduanya hanya menganggukkan kepalanya mengerti, karena mereka masih mendapatkan maaf, dan masih selamat dari hukuman Ardian.


Setelah menegur kedua bodyguardnya. Ardian melangkah keluar, melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

__ADS_1


Ardian menatap mobil yang sudah terparkir didepan. Bahkan disana sudah ada sekretarisnya yang sedang berdiri dengan setia. Tidak tau berapa lama pria itu berdiri disana, tapi Ardian yakin kalau pria itu pasti belum lama.


"Selamat malam tuan." Sapa Jidan sambil tersenyum saat melihat kedatangan Ardian.


"Malam." Jawab Ardian membalas senyuman Jidan."Bagaimana penampilanku Jidan, apakah ada yang kurang?" Tanya Ardian, membuat Jidan mengerutkan keningnya bingung, saat mendengar pertanyaan tuannya itu. Karena jarang-jarang Ardian menanyakan soal penampilan nya seperti sekarang.


Bagaimana tidak berpikir seperti itu, jika Ardian terlihat tampan dan juga berkarisma saat jas melekat ditubuhnya. Bahkan tidak ada yang kurang dari pria itu. Jadi apa yang harus Ardian tanyakan lagi soal penampilannya? Jika berpenampilan biasa saja, banyak perempuan yang mengantri.


"Jidan, kenapa kamu diam?" Tanya Ardian saat melihat sekertaris nya itu hanya diam sambil menatapnya.


"Ah, maaf tuan." Jidan tersadar dari lamunannya saat mendengar pertanyaan tuannya itu.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku Jidan. Bagaimana penampilanku malam ini?"


Ardian menatap Ardian dari atas sampai kebawah. Penampilan pria berusia tiga puluh satu tahun itu terlihat berbeda dengan penampilan biasanya. Karena Ardian berpenampilan seperti anak muda.


"Ada terlihat tampan tuan, dengan penampilan anda sekarang." Jawab Jidan jujur, membuat Ardian semakin mengukir senyumannya.


"Apakah dia akan menyukai penampilan ku malam ini, Jidan?"


"Tentu tuan. Anda terlihat tampan malam ini, dan juga terlihat seperti anak muda. Pasti nyonya Nalda akan bisa paling saat melihat anda." Jawab Jidan, tidak berbohong sama sekali. Karena penampilan Ardian malam sangat berbeda.


Ya, malam ini Ardian dan juga Nalda, akan jalan bersama. Mungkin hubungan keduanya hanya sebatas teman, karena Jidan tidak berani mengungkapkan perasaannya. Kalau dia sudah mulai menyukai Nalda selama pria itu mengenalnya.


Bukan karena Ardian takut, tapi Ardian berpikir kalau dia sangat tidak pantas dengan Nalda, yang notabenya adalah wanita baik-baik. Sedangkan dirinya, hanyalah pria brengsek yang penuh dengan dosa.


.


.


Sekuriti yang berjaga di rumah Nalda, membuka pagar saat melihat mobil Ardian berhenti didepannya.


"Selamat malam pak, apakah ada nyonya Nalda?" Tanya Jidan sopan.


"Ada tuan. Tapi kata nyonya Nalda tunggu sebentar. Karena ada sesuatu yang ketinggalan." Jawab sekuriti itu membuat Jidan mengagunkan kepalanya.


"Baik pak, terimakasih." Jawab Jidan tersenyum.

__ADS_1


Jidan kembali menegakkan tubuhnya setelah mendengar jawaban dari sekuriti itu. Karena merasa kalau tuan nya itu hanya diam saja, Jidan melihat kearah belakang melalui kaca spion untuk mengecek apa yang sedang Ardian kerjakan.


Dari spion Jidan bisa melihat kalau Ardian sedang memangku laptopnya, sedangkan tangannya dengan lihai mengetik di atas ketikan laptop, bahkan wajah itu berubah menjadi serius sekarang.


Walaupun pria itu sedang keluar, tapi dia akan tetap membawa pekerjaannya, bahkan tidak ada hari minggu atau hari istirahat untuk pria gila kerja seperti Ardian. Karena hari weekend sama saja seperti hari kerja. Mau sakit saja, Ardian tetap memikirkan pekerjaannya.


"Jidan, apakah kamu tidak berniat membawa gadis itu untuk jalan bersama mu?" Tanya sambil mengangkat kepalanya, membalas tatapan Jidan yang masih menatapnya lewat kaca spion.


Menyadari tatapan Ardian, Jidan mengalihkan tatapannya kearah lain."Maksud tuan?" Bukannya menjawab, Jidan malah balik bertanya karena tidak mengerti.


"Aku tau Jidan, kalau kamu sedang dekat dengan seorang gadis sekarang." Jelas Ardian membuat Jidan terdiam."Kenapa kamu tidak membawa nya saja? Anggaplah sebagai teman mu nanti, saat kita sedang berjalan-jalan, dan mungkin kamu bisa mencoba membuka hati pada gadis itu, agar bisa move on."


Walaupun tidak tau ada hubungan apa antara Jidan dan juga gadis yang pernah ia lihat di kafe itu. Tapi Ardian yakin kalau mereka pasti memiliki hubungan dekat, walau itu hanya sekedar teman saja.


Masalah hati, Ardian tidak tau. Karena selama Jidan tidak pernah berhubungan lagi dengan Yaya, anak dari rekan kerjanya. Ardian tidak pernah melihat Jidan dekat dengan gadis lain selain gadis itu. Makanya Ardian mendukung Jidan jika memiliki hubungan dengan gadis itu. Mengingat Jidan dan Yaya tidak akan pernah bisa bersama, karena perbedaan mereka. Apalagi sebentar lagi Yaya akan menikah.


"Dia hanya teman ku, tuan. Kami tidak memiliki hubungan apapun, sebab kami baru saja berteman." Jelas Jidan, yang pada akhirnya membuka suara saat lama terdiam."Aku sedang berusaha untuk move on, tuan, untuk menerima nya." Batin Jidan, karena ia tidak berani untuk mengatakannya secara langsung.


"Jidan, sebelum kita pergi. Aku memiliki tugas untukmu." Ucap Ardian terdengar serius di kuping Jidan.


"Tugas apa itu tuan?" Tanya Jidan penasaran, karena disaat seperti ini, tuan nya itu masih saja memberikan nya tugas. Padahal ini sudah waktunya ia untuk beristirahat dari tugas-tugas Ardian. Apalagi tugas waktu itu, sengaja Jidan sembunyikan, mengingat emosi tuannya itu belum sepenuhnya stabil. Jika sudah stabil, maka Jidan akan memberikannya.


"Bawah gadis itu untuk ikut bersamamu. Anggaplah ini tugas dari ku. Jadi jangan membantah." Jidan tampak tercengang saat mendengar tugas yang Ardian berikan.


"Tapi tuan...."


"Tidak ada tapi-tapian, jika gajimu tidak ingin dipotong setengah persen nya." Potong Ardian semakin membuat Jidan terkejut.


Ini adalah tugas konyol pertama yang Jidan terima. Karena Ardian baru kali ini meminta nya.


"Baik tuan, saya akan memintanya untuk ikut." Jika saja Ardian tidak membawa-bawa masalah gaji, mungkin Jidan tidak akan menerima suruhan Ardian.


"Ini permintaan konyol. Tapi jika tidak di turuti maka akan berdampak rugi untukku." Batin Jidan, sambil mengambil ponselnya untuk mengabari Nada, untuk mengajaknya jalan malam ini.


"Semoga dengan ini, kamu bisa move on Jidan, dan bisa melupakan Yaya. Sebenarnya Yaya, gadis yang baik, hanya saja kalian memiliki banyak perbedaan yang membuat hubungan kalian tidak bisa bersama." Batin Ardian menatap Jidan yang sedang fokus pada ponselnya.


Ardian tidak bermaksud untuk ikut campur dalam hubungan Jidan. Hanya saja Ardian merasa kasian pada pria muda itu, karena Jidan memiliki kisah cinta yang rumit setelah kesekian kisah cinta nya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2